Sebuah trauma kelam di usia dua belas tahun mengubah hidup Lova sepenuhnya. Sejak kejadian mengerikan itu, ia menderita fobia akut yang membuatnya ketakutan setengah mati, bahkan hanya untuk sekadar berdekatan atau disentuh oleh seorang pria. Baginya, semua pria adalah ancaman.
Sampai akhirnya, takdir mempertemukannya dengan Arnold, seorang psikiater genius dengan reputasi mentereng. Berbeda dengan pria lain, pembawaan Arnold yang sedikit gemulai justru memberikan rasa aman yang tak pernah Lova rasakan sebelumnya. Arnold menjadi satu-satunya pria di dunia ini yang bisa menyentuh kulit Lova tanpa memicu kepanikannya.
Demi menyembuhkan trauma Lova secara total dan sah di mata hukum, Arnold mendesak sebuah keputusan nekat: *Pernikahan Medis*.
Sebuah pernikahan yang menutupi alasan sebenarnya, menikahi wanita penuh trauma bahkan tak dicintai.
Bagaimana kedok psikiater pecinta lagu India ini? Apakah ia berhasil menyembuhkan Lova? Atau ia sendiri terjebak dalam rencana yang ditutup rapa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CovieVy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
14. Istana Kaca
Dada Zarisha Allova naik turun dengan cepat. Semua ucapan dari ibu tiri suaminya masih bergelantungan di sudut langit-langit ruang tamunya yang sempit. Di atas tikar yang menjadi saksi bisu pernikahan kilat mereka, Lova merasa seolah-olah oksigen di sekitarnya baru saja disedot habis.
Arnold bangkit dari berlututnya. Gerakannya tenang, namun jelas ia memikirkan sesuatu yang krusial di dalam kepalanya. Ia menoleh ke arah ibu Lova yang masih mendekap dadanya dengan wajah pucat pasi.
"Ma," suara Arnold terdengar begitu dalam dan penuh wibawa. Setelah mengucapkan ikrar suci, sebuah kesadaran langsung melekat di kepalanya bahwa ibu Lova kini telah resmi menjadi ibunya.
"Wanita itu sudah mengetahui alamat ini. Aku yakin, ia tidak akan berhenti di sini. Besok, atau bahkan beberapa jam lagi, dia bisa saja mengirim orang suruhan atau wartawan untuk mengusik Lova. Demi keamanan jiwa Lova, kita harus memindahkannya sekarang juga."
Ibu Lova tersentak, lalu menatap putrinya yang masih bergetar. "Tapi, Dok ... maksud Mama, Arnold, ke mana Lova akan dibawa?"
"Tentu saja ke tempatku. Apartemen dengan keamanan tingkat tinggi. Tidak sembarang orang bisa masuk tanpa akses khusus," jawab Arnold tanpa keraguan.
Ia melirik Dev yang berdiri di sudut ruangan. "Dev, bantu Mama Mertuaku merapikan barang-barang penting istriku. Cukup bawa pakaian untuk beberapa hari dan obat-obatan rutinnya. Sisanya akan aku urus nanti."
Lova ingin memprotes. Ia ingin mengatakan bahwa ia belum siap meninggalkan rumah masa kecilnya, tempat satu-satunya ia rasa paling aman. Namun, saat tatapannya beradu dengan manik mata Arnold yang dingin, tenggorokannya tercekat. Ia terpaksa menyerahkan seluruh kendali hidupnya pada pria yang baru saja menyandang status sebagai suaminya itu.
Perjalanan sore itu dilewati dalam keheningan yang mencekam. Lova menatap keluar jendela mobil Range Rover hitam milik Arnold, memerhatikan gedung-gedung pencakar langit kota yang perlahan berganti warna keemasan disiram senja. Arnold menyetir dengan satu tangan, sementara tangan kirinya sesekali mengetuk kemudi, tampak sedang menyusun strategi di dalam kepalanya.
Hingga akhirnya, mobil itu memasuki area basemen sebuah gedung kondominium super mewah di kota ini. Private lift membawa mereka langsung naik menuju unit penthouse yang berada di lantai teratas.
Saat pintu lift terbuka, Lova hampir menahan napasnya.
Penthouse itu begitu luas, didominasi oleh dinding kaca raksasa yang menyajikan panorama kota 180 derajat. Interiornya berkonsep minimalis modern dengan sentuhan warna abu-abu arang, hitam, dan marmer putih. Tempat ini tidak terasa seperti sebuah rumah, melainkan sebuah istana kaca yang terisolasi dari dunia luar.
"Mulai hari ini, ini rumahmu," ucap Arnold datar seraya meletakkan tas jinjing Lova di atas meja marmer.
Lova melangkah ragu, memeluk tubuhnya sendiri karena hawa pendingin ruangan yang langsung menusuk kulit kabayanya yang tipis. "Dokter ..."
"Aku ini suami kamu, coba panggil aku 'Kakak," potong Arnold pelan. Ia melonggarkan ikatan dasinya, melepas jas hitamnya, dan menyisakan kemeja putih yang lengannya langsung ia lipat hingga sesiku.
"Kamar kamu ada di sebelah sana," Arnold menunjuk sebuah pintu kayu jati besar di koridor kiri. "Itu kamar utama yang sudah saya siapkan. Semua kebutuhanmu ada di dalam."
Lova mengerutkan kening, menatap pintu itu lalu beralih pada Arnold. "Lalu... kamar Dokter, eh maksud saya, kamar Kakak?"
"Kamarku di sebelah kanan, tepat berseberangan dengan kamarmu," jawab Arnold tenang.
"Aku tahu batas ketahanan mentalmu terhadap kedekatan fisik dengan pria. Kita menikah untuk menyembuhkanmu, bukan untuk memperburuk serangan panikmu dengan memaksa tidur di ranjang yang sama. Kamar kita terpisah kok."
Ada sedikit kelegaan yang menyelinap di dada Lova, namun rasa penasaran yang sedari tadi menyiksanya akhirnya tidak bisa lagi ditahan. Kata-kata ketus Tania di ruang tamunya kembali terngiang, berputar-putar seperti kaset rusak yang merusak ketenangannya.
'Wanita normal mana yang sudi menikah dengan laki-laki cacat mental seperti kamu?! Kamu itu tidak normal, Arnold! Kamu tidak suka perempuan!'
Lova meremas ujung kebaya putihnya. "Kak..."
"Ya?" Arnold berbalik, menatap Lova yang berdiri kaku di tengah ruangan megah itu.
"Ucapan orang tadi ..." Lova menelan ludah, suaranya bergetar halus. "Tentang... kamu yang tidak normal. Tentang kamu yang... tidak menyukai perempuan. Apa itu benar?"
Keheningan mendadak merayap di antara mereka. Arnold tidak langsung menjawab. Ia justru melangkah mendekat. Langkah kakinya yang lambat dan berirama membuat jantung Lova berdegup dua kali lebih cepat.
Arnold baru berhenti setelah jarak di antara mereka hanya tersisa satu jengkal. Hawa hangat tubuh pria itu mengepung Lova, menguapkan dinginnya AC ruangan. Arnold merunduk sedikit, menyamakan tinggi tatapan mereka. Netra gelapnya mengunci manik mata Lova dengan intensitas yang nyaris membuat Lova pusing.
"Adik Kecil," bisik Arnold. Suaranya rendah, serak, dan penuh magnet intimidasi yang maskulin. "Kamu tak usah memikirkan Nenek Lampir itu, oke?"
Arnold mengulurkan tangannya perlahan.
"Oh iya, katanya aku tidak suka perempuan, mungkin gara-gara selama tiga puluh sembilan tahun hidup ini aku belum pernah menggandeng atau meniduri wanita mana pun. Mereka tidak tahu aja aku ini orang yang pemilih. Aku tak mau ya, sembarangan aja orang deket-deket aku." Arnold mulai kembali pada gayanya yang santai, persis saat di klinik dulu.
"Kalau aku benar-benar tidak menyukai perempuan, Adik Kecil ... aku tidak akan membuang waktu membawa kamu ke sini, merancang terapi untukmu, dan ... dan ..." Arnold terus mencari alasan ya.
"Apa ya? Anggap aja kita bisa bestian di sini," ucap Arnold, akhirnya.
Penjelasan Arnold terdengar logis, di telinga Lova. Meski terasa sedikit janggal, Lova memilih untuk memercayainya karena ia tidak punya pilihan lain.
"Sekarang, kamu mandi dan ganti pakaianmu dengan yang lebih nyaman," perintah Arnold, kembali ke mode dokternya yang dingin. "Satu jam lagi, temui aku di ruang kerja. Terapi pertamamu dimulai malam ini."
Setelah Lova masuk ke kamarnya dan menutup pintu dengan rapat, Arnold langsung mengacak-acak rambutnya sendiri karena kesal luar biasa.
"Aaah, Nenek Lampir syiyalan!" Arnold meninju dan menendang udara dengan gemas, membayangkan wajah Tania yang ingin ia ucek-ucek saat itu juga.
...****************...
Satu jam kemudian, Lova melangkah keluar dengan mengenakan piama satin panjang berwarna biru pastel yang longgar. Ini bukan pakaiannya, tetapi telah tersedia di dalam lemari dalam kamar. Ia merasa sedikit kurang nyaman dengan pakaian bewarna terang ini. Namun, apa boleh buat dan terpaksa memakainya.
Rambut hitamnya yang basah dibiarkan tergerai. Ia mengetuk pintu ruang kerja Arnold dengan ragu.
"Silakan masuk bestieku ...," terdengar sahutan dari dalam.
*bersambung*
kalau memang kamu udah ga bisa sembuhin lova
lepas aja lah🥹
judulnya terapi cantik ku yg rupawan
itu aja Thor
gemulai mah... terlalu klise😍😍
jadi bayangin
aduuh ternoda dah pikiran aye cyiiin🤣🤣🫣
lova si udah mulai sembuh
ga terlalu perlu lu juga si...
tapi gimana yaaa???
keplak kali palanya biar balik normal🤣🤣
cyiin nya diilangin🫣🤣🤣
geplak lagi ninpake anduk
vote otw ka😍
kyk korban pelecehan
🫣🤣🤣🤣