Arlo Valerius muak menjadi pangeran. Baginya, mahkota adalah beban dan perjodohannya dengan Putri Helena adalah penjara. Namun, di Sayap Utara istana yang berdebu, ia menemukan dunianya: Kalea Elara, gadis tukang cat yang bicaranya setajam silet.
Di antara debu kapur dan rahasia istana, Arlo belajar tentang kejujuran yang tak pernah ada di balik gaun sutra. Namun, saat Helena mulai mengancam nyawa Kalea, Arlo harus memilih: Tetap menjadi pangeran yang sempurna, atau meruntuhkan tahtanya demi gadis yang ia cintai.
Satu menit sebelum penobatan, Arlo memilih untuk kehilangan segalanya demi satu detik kenyataan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ike Diva, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 34
Pahat baja di tangan Arlo bergetar setiap kali palu kayu menghantam pangkalnya. Suara tak-tak-tak itu bergema di antara tumpukan balok jati yang disusun setinggi langit-langit di bengkel bawah tanah Silas. Arlo tidak berani menyeka keringat yang menetes dari ujung hidungnya ke atas kayu cedar yang sedang ia kerjakan. Fokusnya terkunci pada sudut sambungan "ekor burung dara" yang harus presisi. Sedikit saja meleset, kotak amunisi ini tidak akan terkunci rapat, dan itu artinya ia gagal memberikan kontribusi pertama di tempat persembunyian ini.
Bahu Arlo terasa seperti ditarik-tarik oleh beban yang tidak kasat mata. Otot-ototnya yang baru mulai terbentuk karena kerja keras di galangan kini dipaksa bekerja lebih keras di ruangan yang sirkulasi udaranya hanya mengandalkan celah sempit di langit-langit. Bau oli mesin tua dan kayu lembap di sini jauh lebih pekat daripada di galangan luar. Arlo menekan pahatnya lebih dalam, mengangkat serpihan kayu tipis yang aromanya sangat tajam memenuhi hidungnya. Ia merasa seperti sedang bertarung dengan kayu ini, mencoba membuktikan bahwa tangannya bukan lagi tangan seorang pangeran yang hanya bisa memegang gelas kristal.
"Kau menahan napas terlalu lama, Nak. Kau mau pingsan sebelum kotaknya selesai?"
Suara berat Silas memecah keheningan yang tegang. Arlo tersentak, bahunya sedikit merosot saat ia akhirnya mengembuskan napas panjang. Ia menoleh dan melihat Silas sedang berdiri di bayang-bayang, satu matanya yang sehat menatap tajam ke arah hasil kerja Arlo. Pria tua itu memegang sebatang pipa kayu yang tidak dinyalakan, hanya digigit di sudut bibirnya yang pecah-pecah.
Arlo menyeka keningnya dengan lengan kemeja raminya yang sudah basah kuyup. "Kayu ini lebih keras dari yang terlihat, Silas. Seratnya tidak mau berkompromi."
"Kayu itu seperti orang-orang di Distrik Merah. Mereka tidak suka dipaksa," Silas melangkah maju, tangannya yang kasar dan penuh bekas luka bakar menyentuh permukaan cedar Arlo. "Kau harus mengajaknya bicara, bukan meneriakinya dengan pahatmu. Lihat ini, sambunganmu sudah mulai rapat, tapi kau terlalu banyak membuang tenaga di bagian tengah. Santai sedikit."
Silas mengambil alih pahat Arlo dengan gerakan yang sangat halus. Hanya dengan dua ketukan ringan, sepotong kayu kecil yang tadi mengganjal Arlo terlepas dengan sempurna. Arlo memperhatikan dengan mata melebar. Kecepatan dan ketepatan Silas adalah sesuatu yang belum pernah ia lihat, bahkan pada Master Bram sekalipun. Ada kekasaran yang efisien dalam setiap gerakan pria tua ini.
"Lanjutkan," Silas menyerahkan kembali pahat itu. "Aku harus ke atas. Kalea baru saja kembali dan dia terlihat seperti baru saja melihat hantu."
Jantung Arlo seolah berhenti berdetak mendengar nama Kalea. Ia segera meletakkan pahatnya di atas meja kerja, tidak peduli lagi pada kotak amunisinya. "Dia kenapa? Apa dia dikejar?"
"Jangan lari seperti orang bodoh!" Silas menahan bahu Arlo dengan kekuatan yang mengejutkan. "Tunggu di sini sampai aku memberimu kode. Kau ingin pengawal ungu itu melihat wajahmu dari lubang jendela atas? Tenang sedikit, Pangeran."
Arlo mengepalkan tangannya di samping tubuh, merasakan denyut nadi di telapak tangannya yang kapalan. Ia terpaksa duduk kembali di bangku kayu yang miring, mendengarkan langkah kaki Silas yang berat menaiki tangga kayu yang berderit. Kesunyian di bawah tanah itu kini terasa mencekam. Arlo menatap pintu kayu di atas sana, telinganya mencoba menangkap suara apa pun dari lantai atas.
Sepuluh menit berlalu seperti sepuluh jam. Arlo mulai gelisah, jarinya mengetuk-ngetuk permukaan meja kerja. Ia mencoba memikirkan kemungkinan terburuk. Apakah Helena sudah menyebar orang di pasar bawah? Apakah mereka mengenali tanda cat di baju Kalea? Pikirannya terus berputar sampai akhirnya pintu di atas terbuka.
Kalea menuruni tangga dengan terburu-buru. Wajahnya yang biasanya tegas kini tampak pucat, dan napasnya pendek-pendek. Ia masih mengenakan jubah nelayan yang kusam, namun tali biru di pergelangan tangannya terlihat sedikit longgar. Begitu melihat Arlo, ia langsung menghampiri dan mencengkeram lengan kemeja Arlo dengan kuat.
"Mereka ada di sana, Arlo," bisik Kalea, suaranya bergetar karena rasa takut yang coba ia tekan. "Di pasar bawah. Aku melihat perwira dengan lencana emas di dadanya. Dia memegang gambar... gambarmu."
Arlo menarik Kalea ke dalam pelukannya, membiarkan gadis itu menyandarkan kepalanya di bahunya yang berkeringat. Ia bisa merasakan detak jantung Kalea yang liar melalui dadanya. "Tenang, Kalea. Kau tidak diikuti, kan?"
"Aku memutar lewat pelabuhan ikan dan masuk ke gorong-gorong pembuangan seperti yang dibilang Silas," Kalea melepaskan pelukannya, menatap mata Arlo dengan serius. "Tapi mereka menawarkan imbalan besar, Arlo. Sepuluh keping emas bagi siapa saja yang tahu keberadaanmu. Orang-orang di Distrik Merah mungkin setia, tapi emas bisa mengubah siapa saja menjadi pengkhianat."
Arlo terdiam. Sepuluh keping emas adalah jumlah yang bisa menghidupi satu keluarga di Solandis selama bertahun-tahun. Ia menoleh ke arah tumpukan kayu jati di sekelilingnya, menyadari bahwa dinding kayu ini tidak akan cukup kuat menahan keserakahan manusia. Ia meraba koin perunggu di sakunya, satu-satunya kekayaan yang ia hasilkan sendiri, dan tiba-tiba koin itu terasa sangat ringan dibandingkan beban yang kini ia bawa.
"Aku akan bicara dengan Silas," ucap Arlo, suaranya kini lebih berat. "Kita harus mencari cara untuk menutupi jejak kita lebih dalam lagi. Atau aku harus benar-benar menghilang dari galangan Master Bram untuk sementara."
"Master Bram sudah tahu," Kalea menyela. "Tadi aku sempat berpapasan dengan Jono di dekat kedai kopi. Dia bilang Master Bram menutup Galangan D hari ini karena 'pemeriksaan rayap'. Itu kode agar kau tidak perlu datang hari ini."
Arlo menghela napas lega sekaligus cemas. Ia merasa berhutang budi pada begitu banyak orang. Master Bram, Jono, Silas... mereka semua mempertaruhkan nyawa dan mata pencaharian mereka hanya untuk seorang pangeran yang bahkan tidak mereka kenal secara mendalam. Rasa bersalah mulai menggerogoti ulu hatinya, namun ia segera menepisnya saat teringat tamparan Kalea semalam. Ia tidak boleh menyerah. Menyerah berarti mengkhianati semua pengorbanan ini.
Silas kembali menuruni tangga, membawa sebuah kotak besi kecil. Ia meletakkannya di atas meja kerja Arlo dengan bunyi dentang yang keras. "Jika kalian mau tetap hidup, berhenti saling menatap seperti sepasang kekasih yang sedang piknik. Kalea, bantu Ayahmu bersiap di loteng belakang. Arlo, kau ikut aku. Kita punya pekerjaan di 'Gudang Hitam'."
"Gudang Hitam?" Arlo mengernyit.
"Tempat di mana identitasmu akan benar-benar dikubur," Silas menyeringai, memperlihatkan satu giginya yang terbuat dari perak. "Aku akan mengubahmu menjadi orang yang bahkan ayahmu sendiri tidak akan mengenalinya."
Arlo mengikuti Silas menyusuri lorong rahasia di belakang rak kayu jati. Jalurnya sempit, pengap, dan hanya diterangi oleh lampu minyak kecil yang dibawa Silas. Mereka masuk ke sebuah ruangan yang dipenuhi oleh berbagai macam zat kimia, bubuk pewarna, dan alat-alat cukur tua. Bau alkohol dan amonia yang tajam menusuk hidung Arlo, membuatnya tersedak kecil.
Silas menunjuk ke arah kursi kayu di tengah ruangan. "Duduk."
Arlo duduk, membiarkan Silas menyampirkan kain pelindung di pundaknya. Silas mengambil sebilah pisau cukur yang sangat tajam, lalu mulai mengasahnya di atas ikat pinggang kulit. Suara srek-srek-srek itu terasa seperti hitungan mundur bagi kehidupan lama Arlo.
"Rambut pirangmu itu terlalu mencolok di antara debu Solandis," Silas mulai memotong rambut Arlo yang sudah agak panjang. Potongan-potongan rambut pirang jatuh ke lantai seperti kelopak bunga yang layu. "Dan janggut tipismu itu... itu janggut orang manja. Aku akan mewarnainya menjadi cokelat tua, hampir hitam. Dan aku akan memberikan sedikit noda 'permanen' di lehermu agar kau terlihat seperti buruh mesin yang tidak pernah mandi selama sebulan."
Arlo merasakan dinginnya pisau cukur di kulit kepalanya. Ia menutup matanya, membiarkan setiap helai rambut yang jatuh menjadi simbol dari setiap gelar yang pernah ia miliki. Ia melepaskan Arlo Sang Putra Mahkota. Ia melepaskan Arlo Sang Pelarian. Ia sedang bersiap menjadi Arlo Sang Pekerja Gelap.
Proses itu memakan waktu hampir dua jam. Silas mengoleskan ramuan pewarna yang panas dan perih di kulit kepala dan wajah Arlo. Setelah itu, ia menggunakan tinta arang khusus untuk menciptakan noda hitam di tangan dan leher Arlo—noda yang tidak akan hilang hanya dengan sekali basuh. Saat Silas akhirnya memberikan sebuah cermin pecah ke arahnya, Arlo hampir tidak mengenali pria di dalamnya.
Wajahnya tampak lebih keras, matanya yang biru kini terlihat lebih gelap karena kontras dengan rambut cokelat tuanya yang dipotong sangat pendek dan berantakan. Noda hitam di lehernya membuatnya tampak seperti pria yang sudah lama bergulat dengan oli mesin. Ia terlihat lebih tua, lebih kasar, dan jauh lebih berbahaya.
"Bagaimana?" tanya Silas, tampak puas dengan hasil kerjanya.
Arlo meraba wajahnya yang terasa asing. Kulitnya terasa kaku karena pewarna itu. "Sempurna. Bahkan jika Helena berdiri tepat di depanku, dia hanya akan menganggapku sampah pelabuhan."
"Itu tujuannya," Silas merapikan alat-alatnya. "Sekarang kembali ke bawah. Selesaikan kotak amunisimu. Dan Kalea... dia butuh kau untuk tetap tenang. Gadis itu punya api yang besar, tapi api tanpa kendali hanya akan membakar dirinya sendiri."
Arlo kembali ke meja kerjanya dengan langkah yang lebih mantap. Ia tidak lagi merasa seperti buronan yang bersembunyi. Ia merasa seperti senjata yang sedang diasah di kegelapan. Ia mengambil kembali pahatnya, menempelkannya pada kayu cedar, dan memberikan ketukan yang sangat bertenaga.
Tak!
Serpihan kayu terangkat sempurna. Sambungan jatinya mengunci dengan suara yang memuaskan. Arlo tersenyum tipis. Ia sedang membangun bentengnya sendiri, bukan dari dinding istana, melainkan dari kemampuannya untuk beradaptasi dan bertahan hidup.
Sore harinya, saat ia kembali ke lantai atas, Kalea sedang duduk di samping ayahnya yang sedang tertidur. Begitu Arlo masuk, Kalea berdiri dan tertegun. Ia menutup mulutnya dengan tangan, matanya menyisir penampilan baru Arlo dari ujung kepala hingga ujung kaki.
"Arlo?" bisik Kalea, suaranya hampir tidak terdengar.
Arlo melangkah mendekat, ia meraih tangan Kalea dan mencium punggung tangannya yang kasar. "Ini aku, Kalea. Arlo yang baru."
Kalea mengusap rambut pendek Arlo yang berwarna gelap. Ada air mata yang menggenang di sudut matanya, namun ia tersenyum. "Kau terlihat... seperti orang yang bisa melindungiku tanpa perlu bantuan pengawal."
"Memang itu tugasku sekarang," Arlo menarik Kalea ke dalam pelukannya.
Di luar bengkel Silas, suara derap kaki kuda kembali terdengar, namun kali ini Arlo tidak menunduk. Ia berdiri tegak, memeluk gadisnya di tengah kegelapan Distrik Merah. Mereka adalah dua retakan yang kini telah menyatu menjadi satu blok kayu yang tidak bisa dipatahkan oleh tekanan apa pun.
Badai mungkin sedang mengamuk di luar sana, mencari jejak pangeran yang sudah hilang. Tapi di bawah tanah yang berbisik ini, yang ada hanyalah seorang pria dan seorang wanita yang sedang memahat masa depan mereka sendiri, satu sambungan jati demi satu sambungan jati.
Mau lanjut ke bab selanjutnya, non?