NovelToon NovelToon
Jiwa Pembunuh Di Tubuh Gadis SMA

Jiwa Pembunuh Di Tubuh Gadis SMA

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Perjodohan / Balas Dendam
Popularitas:19k
Nilai: 5
Nama Author: eka zeya257

Aurelia adalah tentara bayaran yang hidup di dunia penuh darah dan pengkhianatan. Dalam sebuah misi terakhir, dia mati setelah dikhianati oleh orang yang paling dia percaya.

Namun kematian bukanlah akhir.

Ketika membuka mata, Aurelia justru terbangun di tubuh seorang gadis SMA lemah bernama Aria, seorang tunangan dari pria paling berbahaya di dunia bawah tanah.

Sayangnya, pertunangan itu hanyalah perjanjian tanpa perasaan. Ravian bersikap dingin, acuh, dan sama sekali tidak peduli pada gadis yang seharusnya menjadi calon istrinya.

Namun mereka tidak tahu satu hal. Gadis lemah itu sudah tidak ada lagi. Di dalam tubuhnya kini hidup jiwa seorang pembunuh yang terbiasa menghadapi peluru, pengkhianatan, dan kematian.

Saat musuh mulai datang dari segala arah, rahasia masa lalu terbongkar, dan perang dunia bawah tanah tak terhindarkan…

Akankah seorang gadis SMA yang dihina mampu bertahan di sisi sang raja dunia gelap?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eka zeya257, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24

Motor Aleta melaju dengan kecepatan sedang menyusuri kota, dia melirik ke arah jam di pergelangan tangannya yang sudah menunjukkan pukul lima sore. Rupanya memilih pakaian membutuhkan waktu selama itu, padahal dia tidak berniat terkurung bersama Ravian terlalu lama.

Jalanan mulai sedikit padat, banyak mobil yang baru keluar dari gedung perkantoran. Aleta mengamati sekitarnya, sejak tadi dia merasa di awasi tapi dia tidak tahu siapa orang itu.

Saat tiba di persimpangan jalan, Aleta dengan sengaja membelokan motornya menuju jalan sepi yang menjadi jalan alternatif tercepat menuju rumahnya. Namun, begitu berada di pertengahan jalan sebuah mobil melaju dari arah berlawanan.

Aleta pikir mobil itu hanya pengendara yang lewat, tapi ternyata mobil itu berhenti di depannya dan memblokir jalan yang harus dia lalui.

"Ck, siapa lagi mereka?" Gumam Aleta.

Mata tajamnya menelisik orang-orang yang baru saja keluar dari mobil van hitam tersebut, mereka membawa tongkat bisbol dan juga rantai besi. Pakaian mereka mirip boduguard lengkap dengan dasi yang mengikat di kerah baju mereka.

"Kau, Aleta?" Tanya salah satu pria itu.

Tanpa membuka helm Aleta menjawab. "Ada urusan apa denganku?"

"Jadi benar, kau gadis yang di gadang-gadang akan menjadi pendamping Ravian."

Aleta menaikan sebelah alisnya di balik helm full face yang dia kenakan, kini dia bisa menyimpulkan siapa orang-orang itu. Rupanya peringatan Ravian bukan sekedar omong kosong semata.

"Iya." Sahut Aleta santai.

Angin sore berhembus pelan, tapi suasana di jalan sempit itu terasa jauh dari kata tenang. Beberapa pria itu saling bertukar pandang, lalu tersenyum tipis senyum yang jelas tidak bersahabat.

Aleta sadar jika saat ini dirinya dalam bahaya, tapi untungnya pengalaman di jalanan seperti ini sudah menjadi makanan sehari-hari untuknya di kehidupan yang dulu.

"Berani juga kau mengakuinya," ujar pria yang tadi bicara, memutar tongkat bisbol di tangannya. "Biasanya orang akan menyangkal dulu sebelum menangis."

Aleta masih duduk di atas motornya, kedua tangannya tetap di setang. Sikapnya santai, untuk seseorang yang sedang dikepung.

"Kalau hanya untuk itu, kalian buang-buang waktu dengan membawa banyak orang seperti ini," balasnya dingin.

Salah satu pria di belakangnya terkekeh. "Lihat? Mulutnya juga tajam sama persis dengan bajingan itu."

"Tenang saja," sambung pria lain sambil melangkah maju. "Kami hanya ingin menguji sesuatu."

"Menguji?" ulang Aleta.

"Iya," jawab pria itu, kali ini suaranya berubah lebih rendah. "Apa kau benar-benar pantas berdiri di sisi Ravian… atau hanya beban yang harus disingkirkan."

Detik berikutnya perkelahian pun tak bisa di hindari.

PRANG!

Tongkat bisbol itu diayunkan langsung ke arah Aleta tanpa peringatan. Namun...

BRAK!

Aleta dengan sigap mengangkat tangan kirinya, menahan serangan itu menggunakan lengan yang masih dilindungi jaket tebalnya. Benturan keras terdengar, tapi dia tidak bergeming.

Semua orang terdiam sesaat. Refleks Aleta terlalu cepat untuk seorang gadis yang masih remaja.

"Aku tidak suka diserang tiba-tiba," ucapnya pelan.

Belum sempat pria itu menarik tongkatnya kembali, Aleta kembali menendang keras bagian perutnya dari posisi duduk di motor. Pria itu terpental mundur beberapa langkah, terbatuk keras.

"Apa..."

"Serang dia!"

Sekejap, suasana berubah kacau. Dua pria maju bersamaan, satu mengayunkan rantai besi, satu lagi berusaha menarik Aleta dari motor.

Aleta langsung turun dari motor dengan gerakan cepat.

CRANG!

Rantai besi itu berayun ke arahnya namun Aleta menunduk, menghindar hanya beberapa senti. Tanpa menunggu, dia menangkap lengan pria itu.

Dia memutar tubuhnya, menarik tangan lawannya dan membanting pria itu ke aspal dengan keras.

Belum selesai dengan itu semua, satu pukulan mendarat di sisi wajah Aleta dari arah kanan. Kepalanya sedikit terdorong, namun dia tidak jatuh.

Aleta mengusap sudut bibirnya yang mulai terasa perih, lalu menatap pria itu dengan sorot dingin.

"Wow, kalian curang juga."

Pria itu menyeringai. "Kau memang beda dari gadis kebanyakan."

"Sayangnya, pujian itu tidak akan menyelamatkanmu."

Tiga orang langsung menyerbu sekaligus. Aleta mundur satu langkah, lalu dia menghantam dagu salah satu dari mereka dengan siku. Tubuh pria itu limbung ke samping kiri.

Aleta kembali menyerang, kali ini dia menendang pria itu dengan gerakan berputar. Aleta mengenai sisi kepala pria kedua, membuatnya jatuh tersungkur.

Namun, rantai besi mendadak melilit pergelangan tangannya dari belakang. Dia terkecoh sejenak, Aleta langsung menyadari kesalahannya.

"Ketangkap."

Pria di belakangnya menarik rantai itu kuat-kuat, mencoba membatasi gerakan Aleta.

Salah satu dari mereka tersenyum puas. "Sekarang kau tidak bisa..."

Kalimatnya terhenti, karena Aleta justru melangkah maju, bukan mundur. Tarikan rantai itu tidak membuatnya panik, justru dia memanfaatkannya. Dia menarik balik rantai itu dengan tenaga penuh.

"Apa?!"

Dengan satu gerakan cepat, tanpa memberikan celah Aleta memutar tubuhnya dan menendang keras dada pria itu hingga terhempas ke mobil.

BRAK!

Suara benturan keras menggema. Namun jumlah mereka masih lebih banyak. Satu pria kembali mengayunkan tongkat ke arah kepala Aleta.

BUK!

Pukulan itu mengenai bahunya. Aleta meringis kecil, tubuhnya sedikit goyah. Kesempatan itu langsung dimanfaatkan, dua orang menahannya dari belakang, satu lagi bersiap menghantam wajahnya.

"Berakhir sudah masa remajamu, Nona," ucap pria itu.

Namun, Aleta malah tersenyum tipis.

"Ah, kalian terlalu meremehkanku."

Kepalanya menunduk sedikit, lalu dia menghantam kepala pria di depannya dengan helm yang masih dia kenakan.

Pria itu langsung terhuyung, hidungnya berdarah. Aleta kembali memutar tubuhnya dengan paksa, melepaskan diri dari cengkeraman dua orang di belakang.

Siku kirinya menghantam perut satu orang.

Sementara kaki kanannya menendang lutut pria lainnya hingga terjatuh. Napasnya mulai sedikit berat, jumlah mereka terlalu banyak untuk dihadapi tanpa cedera.

"Kenapa diam?" ejek Aleta, napasnya sedikit tersengal. "Katanya mau menguji?"

Pria yang tampaknya pemimpin kelompok itu menatapnya dengan serius sekarang. Tidak ada lagi senyum meremehkan.

"Menarik," gumamnya. "Sangat menarik, kau memiliki keahilian sekelas ahli petarung. Sungguh, di mana bajingan itu bisa menemukan gadis langka sepertimu?"

Aleta mendengus sebal. "Banyak omong, kalian mau lanjut atau selesai sampai di sini?"

"Kau menantang kami?"

"Bukan, aku hanya bertanya." Aleta melepas helm full face dari kepalanya, rambut hitam panjang tergerai begitu saja di punggungnya. "Soalnya aku harus cepat pulang, kalau tidak aku bisa di marahi oleh kakekku."

Sejenak semua mata tertuju pada Aleta, wajah gadis itu sangat cantik dan bersih tapi sorot matanya sangat dingin dan tajam seolah tidak memiliki emosi.

"Dalam situasi seperti ini, kau masih sempat memikirkan kakekmu?" Pria itu tertawa mengejek. "Kau bahkan belum tentu bisa pulang dengan selamat, Nona."

Sudut bibir Aleta terangkat sedikit. "Harusnya perkataan seperti itu kau berikan pada dirimu sendiri, karena aku tidak berniat untuk main-main dengan kalian lagi."

1
Muft Smoker
dtggu kelanjutan ny yx kak ,,,
Queen AL
jgn bilang ini di Indonesia yah, tdk lucu tentara pembunuh bayaran dan mafia ada d Indonesia.
Zee✨: Bukan dong, indo gk cocok buat jd latarnya hehe
total 1 replies
ᴊᴜʏ -ᴋɪᴍ
Lanjut thor, dan semangat💪
Muft Smoker
makin kesini ,, selalu ad tekateki ny kak ,,


dtggu kelanjutan ny yx kak
Nur Hayati
seruuu... up yg banyak dong kak👍
Muft Smoker
lanjuut kak ,, lanjuut kak ,,
/Grin//Grin//Grin/
merry
Rick obesi dpt in let,, dia pikir gmpng
Ma Em
Semoga Aleta selalu selamat dari orang2 yg akan mencelakainya , untuk Clara kamu terima saja akibat dari perbuatannya yg selalu mengganggu Aleta .
Muft Smoker
dtggu kelanjutan ny kak ,,
Ma Em
Semangat Aleta tunjukan pada orang yg suka membuly mu dan balas perbuatan mereka , Aleta sekarang tdk bisa ditindas karena Aleta sekarang wanita pemberani , Ravian saja sekarang jadi penasaran sama Aleta
Pa Muhsid
sebentar lagi aroma bucin akan tercium, bukannya aleta tunangan yang dianggap pajangan Sama ravian itu 🤔🤔🤔
Muft Smoker
next kaaak ,,


aduuuh ad aj yg nyarii masalah sama aleta yx ,,
gx takut sama akibat ny tuuuh 🤭🤭🤭🤭😁😁😁
ᴊᴜʏ -ᴋɪᴍ
next
Muft Smoker
next kak ,,


waaaah ravian mulai penasaran niiih🤭🤭🤭🤭😒😒😒😒😒
ᴊᴜʏ -ᴋɪᴍ
Lanjut, dan semangat thor💪
Nur Hayati
up kak, ayooo..💪
azka aldric Pratama
ini masih di tahun yg sAma gk Ama si penghianat Thor 🤔🤔🤔
CaH KangKung,
👣👣
Muft Smoker
next kaaak ,,
ᴊᴜʏ -ᴋɪᴍ
Lanjut thor, dan semangat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!