Cikal Bakal Tim Divisi Kasus Dingin
Ini GD setelah GD 1 sebelum GD 2 ( Shea n the gank ). Makanya aku kasih judul Ghost Detective Season 1.5.
Isinya awal tim gabut dibentuk. Masih the o.g tim ( bang Dean, mas Rayyan, mbak Nana, mbak Tikah dan pak Jarot ). Jangan cari mbak Lilis karena belum ada tapi ada awal mula mbak Susi ikutan. Ada mbak Nita juga, ada anomali lainnya ( belum musim Saja Boys versi tuyul ). Masih ada Hoshi dan Bima. Ini masih bersama L, Nyes dan Dendeng.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hana Reeves, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hukum Tabur Tuai Itu Nyata
Iptu Nana bersama Iptu Atikah dan Dewi Mentari datang ke rumah sakit dimana Tegar dirawat dengan membawa buah dan roti. Di belakang ketiga wanita itu, ada Mbak Susi yang terkejut karena tiba-tiba tiga arwah senior muncul.
Dewi Mentari yang merasa bahwa ada yang datang, menoleh ke belakang. Betapa terkejutnya saat melihat Longga, Pak Sakera dan Jaap bersama dengan mbak Susi.
"Kalian ngapain?" bisik Dewi Mentari.
"Kami gabut dan kepo," jawab Jaap.
Dewi Mentari mendelik. "Macam mana meneer Belanda tahu gabut dan kepo? Kan nggak ada di kamus bahasa Belanda." bisiknya.
"Dewi Mentari, tentu saja ada hanya kepanjangan. Gabut itu geen werk, kepo itu wil het weten. Kepanjangan kan? Bahasa Indonesia dan bahasa Jawa itu praktis. Tidak perlu panjang lebar, orang sudah paham," senyum Jaap.
"Iya kan? Bahasa Jawa paling praktis," gumam Pak Sakera.
"Nyoh ( ini ), mbuh, Ndang, iwak berbagai daging," gumam Longga.
Nyaris Dewi Mentari tertawa agak keras jika tidak ingat dirinya sedang berada di mana. Gadis itu hanya tersenyum smirk. Namun setelahnya dia waspada lagi karena banyaknya arwah yang berada disana. Jujur, Dewi Mentari cukup takut juga dengan suasananya.
"Jangan khawatir mbak Dewi, kami akan menjaga kamu," ucap Longga.
"Terima kasih pak Longga," bisik Dewi Mentari.
Iptu Nana dan Iptu Atikah melirik ke arah Dewi Mentari yang berbicara sendiri. Mereka tahu dari raut wajah kekasih Raiden Park jika dia melihat banyak arwah.
"Mbak Dewi, kamu kapan menikah dengan mas Raiden?" tanya Iptu Nana berusaha mengalihkan Dewi Mentari dari para arwah.
"Masih nanti. Aku sama Dendeng masih muda, Tante. Kami masih dua puluh satu mau dua puluh dua. Memang soal finansial, kami aman. Tapi soal emosi dan pola pikir harus matang. Memang age is just a number tapi aku sama Dendeng realistis. Tidak perlu terburu-buru menikah karena kami masih mau menikmati masa muda. Kalau kita menikah muda terus langsung punya anak ... Pasti akan pusing apalagi kalau masih naik turun moodnya. Apalagi aku sama Dendeng kan sama-sama anak bontot pasti ada rasa ego the bontot," jawab Dewi Mentari.
"Kamu sangat dewasa, Dewi," puji Iptu Atikah. "Aku dan mas Aji juga pacaran dari SMA dan menikah baru usia 24 dan 25 tahun. Buat kami, butuh waktu memantapkan diri meskipun sudah pacaran lama."
"Benar. Aku dan mas Rommy menikah sama usianya ma Tikah. Langsung punya Yoga. Wah, itu perjuangan apalagi kami baru naik kariernya," timpal Iptu Nana.
Mereka pun tiba di kamar rawat inap Tegar. Tampak ayah Tegar, ajudan Kapolda, uring-uringan karena tidak ada yang bisa disalahkan dari kecelakaan itu kecuali Tegar sendiri.
Kepala satlantas berada disana dan dia pun tampak jengkel karena ajudan Kapolda itu tetap ngeyel harus ada mobil yang disalahkan di tol.
"Pantas si Tegar seenaknya saja karena babehnya begono!" bisik Iptu Nana.
"Bisa-bisanya cari kambing hitam!" geram Mbak Susi. "Pak Longga, kita punya arwah kambing nggak ya?"
Dewi Mentari menoleh ke Kunti ayu itu ( ayu kalau mode benar. Mode horor ... Kagak ada ayu-ayunya ). Seriously? Arwah kambing mentang-mentang soal kambing hitam?
"Tidak bisa pak Suroso! Semua CCTV memperlihatkan bahwa Tegar itu kecelakaan tunggal! Jalannya juga kosong karena itu jam dua malam! Intinya, anda tidak bisa merekayasa kecelakaan itu jadi salah mobil itu!" hardik Kepala Satlantas.
"Tolonglah Ndan Edi. Cari atau ...."
"Permisi. Kami mau besuk," potong Iptu Nana membuat kedua orang itu menoleh. "Oh, aku sudah lihat rekaman CCTV. Tidak ada mobil disaat kecelakaan itu terjadi. Bisa jadi ... Ada arwah penasaran di tol itu? Tahu sendiri kan sana horor."
Iptu Atikah dan Dewi Mentari melirik tajam ke Iptu Nana yang bodo amat yang penting njeplak. Ampun deh!
"Ngapain divisi klenik kemari? Mau apa?" bentak Suroso sementara Edi, kepala satlantas, tersenyum smirk mendengar sindiran Iptu Nana.
"Besuk Ndan. Apa boleh?" senyum Iptu Nana manis.
"Tidak usah! Kalian taruh saja di meja sana!" Suroso mengedikkan dagunya dengan angkuh ke arah meja yang ada di depan ruang rawat inap Tegar.
"Baik Ndan." Iptu Nana dan Iptu Atikah meletakkan buah dan roti diatas meja. Mereka yakin jika bawaan mereka pasti dibuang atau dikasih ke orang lain.
"Bagaimana kondisi mas Tegar?" tanya Iptu Atikah.
"Stress! Dua kakinya diamputasi!" jawab Suroso judes. "Pasti ada yang jahat sama Tegar!"
"Atau mungkin ... Sebaliknya?" timpal Iptu Nana.
Suroso dan Edi mendelik, dengan beda sorot matanya. Suroso merasa marah, Edi merasa kepo.
"Apa maksud kamu, polisi pangkat rendah!" hardik Suroso yang berpangkat AKP.
"Pangkat beda satu saja, sok-sokan! Asal anda tahu ya, Ndan, aku sedang membuka kembali kasus pembullyan yang dilakukan anak kamu ke Lala. Ingat kan? Adik kelasnya yang dibully hingga bunuh diri ... atau dibuat bunuh diri?" Iptu Nana menatap dingin ke Suroso. "Ternyata ... Ada sepuluh orang lagi korban yang juga bunuh diri atau meninggal karena kecelakaan saat hendak memblow up kejahatan anak kamu!"
Edi melirik ke arah Suroso. Semua orang tahu, Suroso bukan orang bersih dan kekayaan dia diluar nurul. Bahkan saat dirinya datang ke lokasi, Edi merasa bahwa suatu mukjizat si Tegar hidup tapi mobil Porsche terbarunya hancur.
Bagaimana seorang AKP punya mobil Porsche terbaru? Dengan gaji segitu? - batin Edi.
"Itu tidak ada hubungannya dengan Tegar!" ucap Suroso gugup karena tahu Iptu Nana punya beking tidak main-main.
"Ohya ... Tenang. Aku akan membuka semuanya. Oh, kalau begitu, kami permisi. Semoga Nak Tegar bisa tegar sesuai dengan namanya. Ingat, Ndan ... Hukum tabur tuai itu nyata! Permisi!" Iptu Nana mengajak Iptu Atikah dan Dewi Mentari pergi.
Suroso menatap tajam ke arah tiga wanita yang pergi meninggalkan dirinya dan Edi. Entah kenapa, dia merasa kelakuan Iptu Nana membuatnya menyimpan dendam ke tim divisi kasus dingin. Apalagi mereka sedang membuka kasus-kasus yang berusaha dia simpan rapat-rapat!
"Kurang ajar!" desisnya sementara Edi melihat ke ketiga wanita itu.
"Apakah seru pindah ke tim kasus dingin? Aku sudah lelah di Satlantas," batin Edi.
Sementara itu, di dalam kamar rawat inap, Tegar tampak melamun. Sungguh dirinya tidak menyangka akan mengalami nasib seperti ini. Dua kakinya harus diamputasi, tidak ada teman yang mau membesuk dia.
"Kasihan ... kakinya hilang ya? Saingan sama aku dong ... Melayang!"
Tegar terkejut. "Si ... Siapa itu ...." Suaranya terdengar gemetar ketakutan.
Tiba-tiba muncul sosok arwah dan dia tidak sendiri.
"Halo Tegar ... itu hukuman yang belum seberapa ... " seringai arwah perempuan itu. "Kamu harus bertanggung jawab ... Kamu dan ayahmu yang sudah membunuh banyak gadis-gadis yang kamu lecehkan dan bully ...."
Mata Tegar terbelalak saat melihat banyaknya arwah wanita yang dia 'hilangkan' muncul seperti saat di mobil. Tidak hanya arwah para wanita tapi juga ada sosok manusia tidak jelas seperti pohon, tentara Belanda dengan luka tusukan di tubuhnya dan sosok arwah orang Madura.
Hanya satu yang dilakukannya ... Berteriak ketakutan minta tolong.
"TOLLLLOOOOOONNNGGGGGG!'
***
Yuhuuu up Pagi Yaaaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu
baru jd ajudan aj udh songgong d gmn lg klo jd kapolri y?
apakah kamu bakal tegar setegar namamu saat diusilin para arwah korbanmu, nggak yakin aku😅😅😅😅
hlang smua???kjam bgt tu orng,ga tkut hkum krma apa y????kl klurganya yg jd krban,dia msih mau mlkukan kjhtn ky gt lg????😠😠😠