tiba-tiba terbangun di tubuh Lady Genevieve, seorang bangsawan wanita yang sedang diasingkan di sebuah kastil tua karena fitnah kejam di ibukota. Suaminya sendiri, Duke of Blackwood, mengabaikannya. Saat dia bangun, sebuah "Sistem" muncul dan memberitahunya bahwa ada pelayan di kastil ini yang pelan-pelan meracuninya setiap malam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irzad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hukum Para Buangan
Udara di Distrik Karat tidak pernah benar-benar diam. Di lorong-lorong sempit yang diapit oleh tumpukan rongsokan logam dan dinding batu yang basah, selalu ada suara yang menggerogoti keheningan. Bunyi tetesan air kotor, batuk berdahak dari para pemulung yang paru-parunya digerogoti debu batu bara, dan dengungan mesin uap yang rusak di kejauhan. Namun, malam ini, sebuah keheningan yang berbeda merayap turun menyelimuti area di sekitar gudang Jaxon.
Keheningan karena ketakutan.
Genevieve menyandarkan punggungnya pada dinding pelat besi yang dingin, menyatu sempurna dengan bayang-bayang di sebuah gang buntu yang mengarah ke pelataran utama distrik. Ia telah menarik tudung compang-camping dari sisa mantel serigalanya hingga menutupi sebagian besar wajahnya. Di tangan kanannya yang tersembunyi di balik lipatan kain, belati meteorit *Nightfang* tergenggam erat, bilah hitam kebiruannya sama sekali tidak memantulkan cahaya lampu minyak yang berkedip di ujung jalan.
"Sistem," perintahnya tanpa suara. "Aktifkan *Aura of the Predator* pada radius minimum. Aku hanya ingin memanipulasi insting dasar mereka, bukan membuat seluruh distrik melarikan diri."
**[Mengkalibrasi 'Aura of the Predator' ke Tingkat 1. Efek: Menekan keberadaan Tuan Rumah dari deteksi visual kasual dan memancarkan gelombang intimidasi bawah sadar (Memicu rasa cemas pada target bermental lemah).]**
Tidak lama setelah teks biru itu memudar dari pandangannya, suara langkah sepatu bot berat yang sengaja dihentakkan dengan kasar mulai terdengar mendekat. Tiga sosok pria muncul dari balik tikungan lorong, berjalan dengan arogansi para penguasa absolut di atas tanah berlumpur ini.
Tikus Tanah.
Pria yang berjalan paling depan jelas adalah Krell. Tubuhnya besar dan berotot gempal, dibalut oleh rompi kulit tebal yang dipenuhi noda pelumas dan darah lama. Di bahu kanannya, bertengger sebuah gada besi berduri yang terlihat sangat mematikan. Wajahnya kasar, dihiasi bekas luka bakar di sekitar rahang, dan matanya memancarkan kekejaman yang murni dari seseorang yang menikmati penderitaan orang lain. Di belakangnya, dua orang pengawal bertubuh lebih kurus namun bersenjatakan parang panjang mengikuti, masing-masing membawa karung goni kosong untuk mengumpulkan 'upeti'.
Mereka berhenti tepat di tengah pelataran, tidak jauh dari gang tempat Genevieve bersembunyi.
"Keluarkan barang-barang kalian, tikus-tikus tua!" teriak Krell. Suaranya serak dan menggema keras, memecah kesunyian malam buangan itu. Ia menghantamkan gada besinya ke sebuah tong air dari seng di dekatnya, menghasilkan suara dentuman yang memekakkan telinga. "Waktu pembayaran! Siapa pun yang menyembunyikan batu bara atau lumut obat dari mataku, aku akan mematahkan jari-jarinya dan melemparkannya ke lubang limbah!"
Pintu-pintu gubuk yang reyot mulai terbuka perlahan. Beberapa pemulung dengan wajah pucat pasi dan gemetar keluar, menyodorkan mangkuk-mangkuk berisi sisa koin tembaga, potongan logam yang bisa didaur ulang, dan jamur-jamur gua yang bisa dimakan.
Genevieve mengamati dari bayang-bayang. Instingnya menghitung setiap variabel. Jika ia menyerang Krell secara frontal di tengah pelataran, kedua pengawalnya akan berteriak. Alarm akan berbunyi, dan puluhan anggota Tikus Tanah lainnya akan berdatangan dari distrik sebelah. Ia tidak memiliki energi vital maupun kekuatan fisik untuk pertarungan skala besar. Ia harus memisahkan mereka.
"Kau," Krell menunjuk salah satu pengawalnya yang berwajah bopeng. "Pergi periksa gudang si tua Jaxon. Tua bangka itu selalu berpura-pura sakit saat penagihan. Seret dia keluar, dan jika dia melawan, potong satu telinganya sebagai peringatan untuk yang lain."
Pengawal berbopeng itu menyeringai jahat, mengangguk, lalu berjalan memisahkan diri dari kelompoknya, mengarah lurus ke lorong gelap tempat Genevieve sedang menunggu.
Genevieve tersenyum tipis. Sebuah kesalahan fatal dari seorang pemimpin yang terlalu percaya diri.
Ia memundurkan langkahnya lebih dalam ke dalam kegelapan gang, sengaja menendang sebuah kaleng berkarat hingga menghasilkan bunyi gemerincing pelan.
Pengawal itu menghentikan langkahnya tepat di mulut gang. Ia mengangkat parangnya, menyipitkan mata mencoba menembus kegelapan. "Jaxon? Keluar kau, tua bangka sialan. Jangan membuatku harus mencarimu ke dalam sana."
Pria itu melangkah masuk. Satu langkah. Dua langkah. Ia kini sepenuhnya berada di luar garis pandang Krell dan pengawal lainnya. Udara di dalam gang itu tiba-tiba terasa sangat membekukan. *Aura of the Predator* Genevieve menyentuh saraf pria itu, membuat bulu kuduknya meremang hebat tanpa alasan yang logis. Ia menelan ludah, sebuah rasa takut primitif tiba-tiba mencengkeram dadanya.
"Siapa di sana?" bisiknya, suaranya kehilangan nada arogansinya.
Itu adalah kata-kata terakhirnya.
Dari kegelapan absolut di atas tumpukan peti di sisi kiri pria itu, Genevieve turun tanpa suara layaknya kabut hitam. Ia tidak mendarat di tanah. Ia menggunakan lengannya untuk berayun dan menjatuhkan dirinya tepat di punggung pria tersebut.
Sebelum pengawal itu bisa bereaksi, tangan kiri Genevieve melesat membekap mulut pria itu dari belakang. Bersamaan dengan itu, ia mengaktifkan *Shadow Stitch*. Dua benang bayangan hitam pekat meluncur dari ujung jarinya, melilit rahang dan tenggorokan pria itu dengan kekuatan sekeras kawat baja, mengunci pita suaranya secara absolut. Tidak ada satu pun jeritan yang bisa keluar.
Di detik yang sama, tangan kanan Genevieve yang memegang *Nightfang* menusuk tajam dari sisi leher, memotong arteri karotis dengan presisi bedah yang mengerikan.
Pria itu kejang seketika. Darahnya menyembur, namun Genevieve menahan tubuhnya agar tidak jatuh berdebum ke tanah berlumpur, menurunkan mayat itu dengan sangat perlahan hingga berbaring tanpa suara di balik tumpukan sampah.
Ia memutus aliran *Shadow Stitch*-nya untuk menghemat energi. Napasnya sedikit terengah, namun ia mengabaikannya. Satu target tumbang. Tidak ada suara. Waktu eksekusi: kurang dari tiga detik.
Genevieve mengintip kembali ke pelataran. Krell sedang menendang seorang pemulung wanita yang tidak bisa membayar cukup, sementara pengawal keduanya tertawa menonton.
"Hei, Brunt!" teriak Krell tanpa menoleh ke lorong. "Berapa lama kau harus menyeret si tua Jaxon? Cepat bawa pantatmu ke mari!"
Keheningan adalah satu-satunya jawaban dari lorong tersebut.
Krell mengerutkan kening. Arogansinya mulai tergores oleh kecurigaan. Ia menoleh ke arah pengawal keduanya. "Pergi periksa apa yang dilakukan si idiot itu. Kalau dia ketiduran atau mabuk jamur, pukul kepalanya."
Pengawal kedua mengangguk, raut wajahnya terlihat kesal. Ia berjalan menuju lorong yang sama, memegang parangnya lebih erat. "Brunt! Berhenti main-main!" panggilnya kesal saat ia memasuki mulut gang.
Kali ini, Genevieve tidak menggunakan taktik menyergap dari atas. Ia duduk berjongkok di balik tong besi di tengah gang, mengenakan tudung compang-campingnya. Saat pengawal kedua melangkah mendekat dan melihat siluetnya di keremangan, pria itu mengangkat parangnya tinggi-tinggi.
"Nah, siapa kau? Di mana Brunt?" bentak pria itu.
Genevieve mengangkat kepalanya perlahan. Ia membiarkan *Aura of the Predator*-nya meledak secara terfokus langsung ke wajah pria tersebut.
Untuk sesaat, mata biru kristal Genevieve memancarkan pendaran ungu yang sangat kelam di dalam kegelapan. Udara di sekitar mereka seolah tersedot ke dalam ruang hampa. Pengawal itu tersentak, parangnya tertahan di udara. Ia merasa seolah-olah bukan seorang pengemis yang sedang berjongkok di depannya, melainkan seekor naga kuno yang sedang membuka rahangnya. Rasa teror absolut melumpuhkan sistem saraf motoriknya selama satu detik yang sangat krusial.
Satu detik adalah semua yang dibutuhkan oleh Genevieve.
Ia menerjang maju. Tidak ada gerakan berlebihan. *Nightfang* melesat ke depan, menembus tepat ke bagian bawah dagu pria itu, menembus lurus ke otak. Pria itu mati bahkan sebelum rasa sakit itu sempat didaftarkan oleh otaknya. Genevieve menangkap tubuhnya yang lemas, membaringkannya di sebelah rekannya yang pertama dengan keheningan yang mematikan.
Dua target tumbang. Energi Vital tersisa: 36 Poin. Masih cukup.
Di luar gang, suasana menjadi tegang. Krell tidak lagi berteriak. Kesunyian dari gang sempit itu kini terasa seperti ancaman fisik. Pemulung-pemulung di pelataran mulai merayap mundur ke dalam gubuk mereka, mencium bau kematian di udara.
Krell mencengkeram gada besinya dengan kedua tangan. "Siapa pun yang bersembunyi di sana," geramnya, suaranya kini dipenuhi oleh kehati-hatian seekor serigala yang menyadari ada harimau di wilayahnya. "Keluarlah. Kalian berurusan dengan Tikus Tanah. Boros akan menguliti kalian hidup-hidup."
Sebuah tawa pelan, dingin, dan sangat anggun mengalun dari dalam kegelapan gang. Suara itu sama sekali tidak cocok dengan kekotoran Distrik Karat. Suara itu adalah suara seorang bangsawan kelas atas yang sedang menertawakan lelucon murahan.
"Boros akan terlalu sibuk mencari mayatmu untuk memikirkan soal mengulitiku, Krell."
Genevieve melangkah keluar dari kegelapan gang. Ia telah menurunkan tudungnya. Wajahnya yang pucat pasi, dihiasi noda debu hitam, kini terlihat jelas di bawah cahaya lampu minyak pelataran. Rambut peraknya berkilau dingin. Ia melangkah dengan postur punggung tegak yang memancarkan dominasi mutlak, sebuah kontras yang mengerikan dengan pakaiannya yang compang-camping. *Nightfang* tergenggam santai di tangan kanannya, darah segar menetes pelan dari bilah hitamnya.
Mata Krell membelalak. Ia melihat darah di belati itu, dan ia menyadari bahwa kedua pengawalnya telah dihabisi tanpa suara. Keringat dingin mengucur di lehernya yang berotot. Ia mengayunkan gada besinya ke depan sebagai ancaman.
"Kau... wanita sialan. Kau menggunakan racun? Sihir?" Krell meludah, mencoba mempertahankan keberaniannya. "Kau tidak terlihat kuat. Aku akan menghancurkan tengkorakmu!"
Krell menerjang maju, mengangkat gada besinya tinggi-tinggi, mengerahkan seluruh kekuatan ototnya untuk menghantam kepala Genevieve. Gada itu meluncur turun dengan kecepatan yang mematikan, menghasilkan suara siulan angin yang mengerikan.
Genevieve tidak mencoba menangkis hantaman yang bisa menghancurkan batu itu. Ia tidak memiliki tenaga untuk adu otot. Alih-alih mundur, ia mengambil langkah serong ke arah kiri dengan kecepatan yang dipacu oleh adrenalin terakhirnya. Gada besi itu menghantam tanah lumpur tepat di sampingnya, menciptakan kawah kecil dan cipratan kotoran ke udara.
Momentum serangan itu membuat postur Krell sedikit terbuka.
"Sistem," perintah Genevieve sedingin es. "Jahit bayangannya."
**[Konsumsi 2 Poin Energi Vital. Shadow Stitch Aktif.]**
Bayangan Krell yang tercetak memanjang di atas tanah lumpur akibat cahaya lampu minyak tiba-tiba hidup. Empat paku bayangan hitam pekat melesat dari lantai dan menusuk langsung ke bayangan pergelangan kaki dan pergelangan tangan pria itu, memakukannya ke tanah.
Sihir ini tidak mengikat fisik Krell secara langsung, melainkan mengikat bayangannya. Di dunia sihir Aethelgard, bayangan terhubung dengan jiwa motorik. Krell seketika mendapati tubuhnya membeku. Ia tidak bisa mengangkat gada besinya. Ia tidak bisa menarik kakinya dari lumpur. Matanya membelalak dipenuhi oleh teror yang sesungguhnya.
"A-apa yang kau lakukan padaku?!" jerit Krell, suaranya melengking panik.
Genevieve melangkah mendekat dengan santai. Ia berdiri tepat di hadapan raksasa yang kini tak berdaya itu. Ia memiringkan kepalanya, menatap pria kasar itu dengan tatapan kosong layaknya menatap serangga yang terjebak di jaring.
"Hukum pertama bagi para buangan, Krell," bisik Genevieve, menyentuhkan ujung dingin *Nightfang* tepat ke urat nadi di leher pria itu yang berdenyut panik. "Jangan pernah menggonggong di wilayah di mana predator yang lebih besar sedang tertidur."
"Tunggu! Ampuni aku! Aku bisa memberimu emas! Aku bisa membawamu ke Boros!" Krell memohon, arogansinya hancur lebur menjadi tangisan pengecut. "Kumohon!"
"Aku tidak butuh emasmu. Dan aku akan mencari Boros dengan caraku sendiri."
Tanpa sedikit pun keraguan, Genevieve menggoreskan belati meteoritnya secara horizontal.
Tubuh Krell tersentak keras sebelum akhirnya bayangan yang mengikatnya memudar. Raksasa itu ambruk ke tanah berlumpur dengan suara debuman berat, tak bernyawa lagi.
Genevieve berdiri di tengah pelataran, napasnya terengah-engah, tubuhnya sedikit gemetar menahan rasa perih di rusuknya akibat gerakan mengelak tadi. Namun, tidak ada satu pun dari para pemulung yang bersembunyi di balik pintu gubuk berani mengeluarkan suara. Mereka telah menyaksikan seorang penguasa tiran dihabisi dalam hitungan detik oleh seorang wanita misterius.
Ia berbalik, mengelap bilah *Nightfang* ke pakaian Krell, lalu berjalan menjauh, kembali menuju gudang seng tempat Jaxon berada. Misi telah selesai. Kini, saatnya ia mendengarkan bisikan rahasia dari Kastil Ravenscroft.