Dunia fantasy dengan sistem yang digolongkan dari g hingga ssssr(tingkat tertinggi yang jarang ada). Guild SSAWF adalah salah satu aktivitas petualang tebesar di wilayah barat, sementara altar jiwa muda adalah tempat kelahiran Pattisiwiana Klobahrgeevinik sebuah lokasi yang dipercaya memiliki hubungan dengan sumber energi dunia namun belum pernah terungkap secara jelas.
Pattisiwiana (sering dipanggil Patti) adalah pemuda yang sejak kecil mendambakan menjadi petualang. Karna tidak memiliki bakat tempur atau sihir yang terlihat, ia hanya bisa bergabung ke regu scarlet Blades sebagai pembantu penghasil hasil buruan monster. Anggota regunya selalu merendahkannya, menyebutnya "bodoh dan tidak berguna" karena tidak mengerti taktik atau kesulitan mengikuti instruksi pada misi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon djase, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PERMINTAAN BARU, TANTANGAN YANG LEBIH BESAR (PART 2)
Perjalanan menuju perbatasan Gurun Pasir yang Tak Berujung memakan waktu tiga hari penuh dengan berjalan kaki. Patti bersama regu Scarlet Blades menjaga kecepatan yang stabil agar tidak menghabiskan energi dengan sia-sia, sering berhenti di desa-desa kecil yang ada di sepanjang jalan untuk mengisi ulang persediaan air dan makanan. Di salah satu desa kecil tersebut, mereka bertemu dengan seorang tua yang pernah tinggal di daerah dekat gurun dan bersedia memberikan nasihat berharga tentang cara menghadapi kondisi ekstrem di sana.
“Gurun Pasir yang Tak Berujung bukanlah tempat yang bisa dianggap remeh,” ucap tua tersebut dengan suara yang penuh dengan pengalaman. “Cuacanya bisa berubah dengan sangat cepat dari panas yang menyengat di siang hari hingga dingin yang menusuk tulang di malam hari. Selain itu, ada makhluk-makhluk yang hidup di sana yang bisa menjadi sangat berbahaya jika kamu tidak tahu cara menghadapinya. Jangan pernah berjalan sendirian dan selalu pastikan bahwa kamu memiliki cukup air dan tempat berteduh jika cuaca menjadi buruk.”
Menerima nasihat tersebut dengan hati yang lapang, mereka melanjutkan perjalanan hingga akhirnya mencapai perbatasan gurun pada hari keempat. Pandangan yang menyambut mereka adalah hamparan pasir yang luas tanpa batasan yang terlihat, dengan bukit-bukit pasir yang bergeser seiring dengan hembusan angin. Udara terasa sangat panas bahkan pada pagi hari, dan sinar matahari sudah mulai menyengat dengan kuat.
Pattiwisiana Klobahrgeevinik segera mengambil ramuan pelindung dari Elenarianna Faelenathyr Moonveil dan memberikannya kepada semua anggota regu Scarlet Blades. “Ramuan ini akan membantu tubuh kita tetap terhidrasi dan melindungi kulit kita dari sengatan matahari yang kuat,” jelasnya sambil mengoleskan ramuan ke wajah dan lengan nya. “Kita juga harus mengenakan segala perlengkapan pelindung yang kita miliki topi lebar, syal untuk menutupi wajah, dan alas kaki yang kuat untuk melindungi kaki kita dari pasir yang panas.”
Khaertholomeus Zyntheriath von Quorvain mengambil peta yang diberikan oleh Aetherlynn Morvayn Kaelthasar dan menentukan arah yang harus ditempuh. “Jalur terpendek untuk mencapai desa Florentina adalah melalui jalur tengah gurun,” katanya sambil menunjukkan lokasi pada peta. “Namun jalur tersebut juga merupakan jalur yang paling berbahaya karena sering dilintasi oleh badai pasir dan makhluk-makhluk berbahaya. Kita harus berhati-hati dan selalu menjaga komunikasi satu sama lain.”
Mereka mulai memasuki gurun dengan langkah yang hati-hati. Thranduilion Barakhiel Dragomirskyi yang memiliki tubuh yang kuat dan kokoh mengambil peran sebagai pemburu depan, membersihkan jalur dari batu-batu besar dan pasir yang longgar. Lytherianna Morthwainn Ghaladrielle berdiri di posisi belakang untuk mengawasi area sekitar dan memberikan peringatan jika ada bahaya yang mendekat dari belakang. Elenorwynne Faelenathyr Silvervein berada di tengah kelompok, siap memberikan dukungan sihir jika ada anggota yang membutuhkan bantuan.
Selama perjalanan di siang hari yang panas menyengat, Patti sering mengingatkan semua orang untuk minum air secara teratur dan tidak terlalu banyak menggunakan energi. Dia juga menunjukkan cara menemukan sumber air tersembunyi di gurun seperti mencari tanaman tertentu yang tumbuh di dekat sumber air bawah tanah atau mencari cekungan di batu yang bisa menampung air hujan. Berkat pengetahuannya, mereka bisa mengisi ulang wadah air mereka tanpa harus menggunakan persediaan yang terbatas.
Pada hari kedua di dalam gurun, mereka hampir terkena serangan dari sekelompok makhluk mirip kadal raksasa dengan kulit yang berwarna pasir sehingga sulit dikenali. Makhluk-makhluk tersebut menyerang dengan cepat dari balik bukit pasir, mencoba menyerang anggota kelompok yang terlambat bereaksi. Namun berkat peringatan awal dari Lytherianna dan kecepatan reaksi dari Patti serta anggota regu lainnya, mereka bisa mengusir makhluk-makhluk tersebut tanpa harus melakukan pertempuran yang berat.
“Kamu benar-benar memiliki kepekaan yang luar biasa terhadap bahaya, Lytherianna,” ucap Patti dengan suara yang penuh dengan kagum. “Kemampuanmu untuk mengawasi area sekitar sangat berharga bagi kita dalam perjalanan seperti ini.”
Lytherianna memberikan senyum kecil sebagai balasan. “Saya telah belajar banyak dari pengalamanmu dan dari kesalahan yang pernah kita lakukan di masa lalu, Pattiwisiana. Sekarang saya tahu bahwa menjadi seorang petualang tidak hanya tentang kemampuan bertarung, tapi juga tentang kepekaan dan kemampuan untuk mengantisipasi bahaya.”
Ketika malam mulai menjelma, suhu di gurun turun dengan sangat cepat. Mereka segera mencari tempat yang aman untuk bermalam sebuah lembah kecil yang terlindungi dari angin kencang oleh bukit pasir dan batu besar. Patti menunjukkan cara membuat tempat berteduh sederhana menggunakan kain dan kayu yang mereka bawa, serta cara membuat api kecil menggunakan bahan-bahan yang ditemukan di gurun. Caelthasarian Lorthwainn Thalassar telah memberikan makanan kalengan khusus yang tetap hangat meskipun tidak dipanaskan, namun mereka tetap memanaskannya sedikit di atas api untuk memberikan rasa hangat pada tubuh yang sudah mulai kedinginan.
Selama makan malam, Elenorwynne mulai memberikan ramuan penyembuh kepada anggota kelompok yang memiliki masalah kecil seperti lecet atau kulit yang terbakar akibat sengatan matahari. “Ramuan yang diberikan oleh Nyonya Elenarianna sungguh luar biasa,” ucapnya dengan suara yang penuh dengan kagum. “Mereka tidak hanya efektif untuk menyembuhkan luka, tapi juga membantu tubuh kita tetap sehat meskipun berada dalam kondisi yang sulit.”
Pada hari ketiga di dalam gurun, mereka dihadapkan dengan tantangan terbesar sejak memasuki gurun sebuah badai pasir yang besar yang tampak datang dari kejauhan. Angin mulai bertiup dengan sangat kencang, membawa pasir halus yang bisa menyakitkan jika mengenai kulit secara langsung. Patti segera memerintahkan semua orang untuk mencari perlindungan di balik sekelompok batu besar yang ada di dekat jalur mereka.
“Semua orang bersembunyi di balik batu ini dan tutupi wajah serta mulut kalian dengan syal!” teriak Patti dengan suara yang harus bersaing dengan suara angin yang kencang. “Jangan keluar sebelum badai pasir benar-benar berlalu pasir yang terbang bisa menyebabkan masalah pernapasan dan bahkan bisa menyembunyikan arah yang benar.”
Badai pasir berlangsung selama hampir dua jam, membuat seluruh area sekitar menjadi sangat gelap dan sulit dilihat. Setelah badai akhirnya berlalu, mereka keluar dari tempat persembunyiannya dan melihat bahwa bukit pasir di sekitar mereka telah bergeser dengan sangat banyak membuat peta yang mereka bawa hampir tidak bisa digunakan lagi karena banyak fitur alam yang telah berubah bentuk.
Khaertholomeus melihat sekeliling dengan ekspresi yang sedikit khawatir. “Kita telah tersesat,” katanya dengan suara yang rendah. “Bukit pasir yang menjadi penanda jalur kita telah bergeser, dan saya tidak bisa lagi menentukan di mana kita berada sekarang.”
Patti tetap tenang dan mulai memeriksa lingkungan sekitar dengan cermat. Dia melihat ke arah langit untuk menentukan posisi matahari, lalu melihat ke arah tanaman dan batu yang ada di sekitarnya. Setelah beberapa saat, dia menemukan sebuah batu besar dengan ukiran kecil yang tampak dibuat oleh tangan manusia sebuah penanda yang tidak tergeser oleh badai pasir karena ukurannya yang besar.
“Lihatlah batu ini,” ucap Patti dengan suara yang penuh dengan keyakinan. “Ini adalah penanda yang dibuat oleh petualang terdahulu untuk menunjukkan jalur yang benar melalui gurun. Jika kita mengikuti arah yang ditunjukkan oleh ukiran pada batu ini, kita akan kembali ke jalur yang benar dan bisa mencapai perbatasan gurun dalam waktu satu hari lagi.”
Semua orang merasa lega mendengar kata-kata tersebut dan segera mengikuti arah yang ditunjukkan oleh Patti. Berkat keahliannya dalam membaca tanda-tanda alam, mereka berhasil menemukan jalur yang benar kembali dan melanjutkan perjalanan dengan semangat yang baru tumbuh. Pada sore hari yang sama, mereka melihat puncak bukit pasir yang menunjukkan bahwa mereka sudah hampir mencapai perbatasan gurun dan akan segera memasuki Hutan Hujan Tropis yang Gelap.
Ketika akhirnya keluar dari gurun dan memasuki area awal hutan hujan, semua orang merasa lega melihat pepohonan yang rimbun dan udara yang lebih sejuk. Mereka segera mencari sumber air yang jernih untuk membersihkan tubuh mereka dari pasir yang menempel di mana-mana dan mengisi ulang wadah air mereka hingga penuh. Patti mengambil ramuan khusus dari Elenarianna untuk membantu membersihkan paru-paru mereka dari pasir yang mungkin tertelan selama badai pasir, serta ramuan untuk membantu tubuh mereka beradaptasi dengan kondisi hutan hujan yang lebih lembab dan hangat.
Sebelum memasuki hutan hujan secara penuh, mereka beristirahat sejenak dan mempersiapkan diri untuk tantangan selanjutnya. Lytherianna memeriksa senapan busurnya dan anak panahnya untuk memastikan bahwa semua dalam kondisi baik. Thranduilion memeriksa perisai dan pedangnya, siap menghadapi segala macam ancaman yang mungkin ada di dalam hutan. Elenorwynne mempersiapkan ramuan penyembuh dan sihir dukungan yang mungkin dibutuhkan. Khaertholomeus mengambil peta lagi dan menentukan jalur yang akan ditempuh melalui hutan untuk mencapai desa Florentina.
Patti melihat ke arah hutan hujan yang gelap dan lebat dengan tekad yang semakin kuat. Dia tahu bahwa tantangan yang lebih besar masih menantinya di depan hutan hujan yang penuh dengan misteri dan makhluk monster yang menyerang desa Florentina. Namun dengan persiapan yang matang, kerja sama yang baik dengan regu Scarlet Blades, dan dukungan dari semua orang yang telah membantunya, dia yakin bahwa mereka akan bisa menyelesaikan misi ini dengan sukses dan membawa keamanan kembali ke desa yang sedang dalam kesusahan.
Dengan langkah yang mantap dan hati yang penuh dengan keyakinan, mereka mulai memasuki Hutan Hujan Tropis yang Gelap satu langkah lebih dekat untuk mencapai tujuan mereka dan membantu orang-orang yang sangat membutuhkan bantuan mereka.