Di dunia di mana kekuatan energi adalah segalanya, Zian lahir sebagai lelucon. Saluran energinya cacat total. Meski berstatus sebagai pewaris Keluarga Zian, semua orang di kota diam-diam memanggilnya "Tuan Muda Sampah".
Puncak kehinaannya terjadi di siang bolong. Tunangannya yang merupakan jenius dari Sekte Bintang Es datang membatalkan perjodohan secara sepihak. Saat Zian menolak harga diri keluarganya diinjak-injak, pengawal sang tunangan menghajarnya sampai nyaris mati, mematahkan tulang-tulangnya di depan tatapan meremehkan semua orang.
"Kodok bopeng tidak pantas memakan daging angsa," cibir mereka.
Namun, mereka tidak tahu bahwa darah Zian yang menetes di altar kuil malam itu justru membangunkan sesuatu yang sudah lama tertidur. Sebuah kekuatan kuno dari leluhur pertamanya: Warisan Tulang Asura.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mukaram Umamit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pemanasan Purba
Beruang Zirah Purba merobek sisa dinding brankas hingga hancur lebur. Tubuhnya ditutupi pelat tulang alami yang setebal perisai baja.
"Itu Beruang Zirah Purba!" teriak Bai Chen. Kipas peraknya langsung menebas udara.
Tiga bilah angin seukuran manusia melesat kencang membelah ruangan. Serangan tingkat Kaisar itu mengincar langsung ke arah mata sang monster.
Trang! Trang! Trang!
Bilah angin mematikan itu hancur berkeping-keping begitu menyentuh bulu dan kulit wajah beruang tersebut. Tidak ada luka sama sekali. Beruang itu bahkan tidak berkedip.
"Sihir elemen tidak mempan padanya! Lari, Zian!" perintah Bai Chen sambil menarik kerah baju Jian ke belakang.
Tapi peringatan itu terlambat. Beruang raksasa itu menjejakkan kaki depannya ke lantai.
Bum!
Gravitasi di dalam ruangan tiba-tiba melonjak gila-gilaan. Beratnya puluhan kali lipat dari tarikan normal Kota Baja. Meja kayu dan kursi kulit di sekitarnya langsung hancur rata dengan tanah hanya karena tekanan udara.
Zian tersenyum liar. Dia menyukai tekanan berat ini.
"Samsak yang bagus," gumam Zian pelan.
Beruang Zirah Purba itu melesat maju seperti tank baja yang lepas kendali. Mulutnya terbuka lebar, memperlihatkan taring kuning yang berbau busuk. Cakar kanannya menebas lurus ke arah dada Zian.
Zian tidak menghindar. Dia mengangkat lengan kanannya yang baru berevolusi.
Trang! KRAK!
Cakar beruang seukuran batu karang itu membentur lengan kanan Zian. Ledakan udara kembali menyapu markas besar Kaelen hingga atapnya beterbangan.
Zian berdiri kokoh di tempatnya. Sepatunya amblas menembus lantai batu, tapi tubuhnya tidak mundur satu inci pun. Lengan kanannya menahan cakar raksasa itu dengan sangat mudah.
"Tenagamu lumayan," ejek Zian.
Pemuda itu memutar pinggangnya dan melepaskan tinju kanannya ke arah rahang beruang tersebut.
Bugh!
Tinju sonik Zian bersarang telak. Rahang bawah beruang raksasa itu bergeser keras. Monster itu meraung kesakitan dan terhuyung mundur dua langkah.
Jian yang melihat dari sudut ruangan tertawa terbahak-bahak.
"Hajar terus, Bos! Buat dia jadi karpet!" teriak Jian kegirangan.
Tapi beruang purba itu bukanlah preman bodoh seperti anak buah Kaelen. Insting bertarungnya sangat mematikan.
Menyadari tangan kanan Zian terlalu keras, monster itu segera mengubah pola serangannya. Beruang itu menjatuhkan tubuhnya ke depan, seolah-olah kehilangan keseimbangan akibat pukulan tadi.
Zian yang bersiap melayangkan pukulan kedua sedikit lengah.
Wush!
Dalam sepersekian detik, beruang itu memutar tubuh besarnya di lantai. Kaki belakangnya yang berlapis zirah tulang mengayun ganas dari arah kiri, tepat menuju titik buta Zian.
Kecepatannya sangat melampaui batas wajar monster bertubuh besar.
Zian melebarkan matanya. Dia refleks menyilangkan tangan kirinya untuk menangkis, tapi gerakannya kalah cepat. Kaki belakang monster itu menghantam telak rusuk kiri Zian.
Brak! KRAAAK!
Suara tulang rusuk yang patah terdengar sangat jelas memecah udara. Rasa sakit yang luar biasa menyengat dada Zian.
Tubuh pemuda itu terlempar ke udara layaknya bola meriam. Dia menabrak pilar batu besar di tengah ruangan hingga pilar itu hancur berkeping-keping menjadi debu.
"Zian!" teriak Bai Chen panik.
Zian berguling di atas lantai batu yang hancur. Dia memuntahkan darah hitam dari mulutnya. Tangan kirinya memegangi rusuknya yang kini terasa cekung ke dalam.
Napas Zian tersengal-sengal. Pandangannya sedikit berputar.
"Kau lihat sekarang, Zian?!" teriak Bai Chen dari kejauhan. "Lengan kananmu memang tidak bisa hancur! Tapi bagian tubuhmu yang lain masih sangat rapuh!"
Zian meludah ke lantai. Dia memaksakan diri untuk berdiri, meski kaki kirinya sedikit gemetar menahan sakit.
"Aku tahu," jawab Zian dengan suara serak. Dia mengusap sisa darah di bibirnya.
Ucapan Bai Chen seratus persen terbukti malam ini. Tulang Asura di tangan kanannya sudah berada di level yang tidak masuk akal, tapi tulang rusuk, kaki, dan lehernya masih tertinggal jauh. Pertarungan murni melawan monster purba ini langsung merobek titik lemah terbesarnya.
Beruang Zirah Purba itu meraung penuh kemenangan melihat mangsanya memuntahkan darah.
Monster itu tidak memberi Zian kesempatan untuk mengatur napas. Beruang raksasa itu berlari kencang menerjang Zian yang masih bersandar di tumpukan reruntuhan pilar.
Hawa membunuh purba mengunci seluruh pergerakan di ruangan itu.
Beruang itu melompat tinggi hingga kepalanya hampir menyentuh langit-langit markas. Gravitasi di sekitar tubuh monster itu dipusatkan ke satu titik dengan sangat padat.
Monster itu menjatuhkan tubuh raksasanya lurus ke bawah. Kedua cakarnya dan seluruh berat badannya yang mencapai puluhan ton diarahkan tepat ke posisi Zian. Ini adalah serangan area yang murni mengandalkan daya hancur fisik.
Zian menatap bayangan raksasa yang menutupi cahaya obor di atasnya.
Kalau dia hanya menggunakan tangan kanannya untuk menahan beban dari atas ini, sisa tekanan gravitasinya akan menghancurkan tulang belakang dan tulang kakinya menjadi debu seketika.
"Sial," umpat Zian pelan.
Zian mengepalkan tangan kanannya kuat-kuat, sementara tangan kirinya masih menekan rusuknya yang patah. Tidak ada ruang baginya untuk melompat menghindar karena tarikan gravitasi monster itu menekan kakinya ke lantai batu.
Bayangan cakar beruang itu turun semakin cepat membelah udara. Ujung kuku tajamnya sudah berjarak kurang dari satu meter di atas kepala Zian, siap meremukkan tubuh rapuhnya menjadi cairan darah di lantai markas.
cuma tinju asal ajaaa