Bagi Hana Syafina, Ibu Inggit adalah mentor dan kakak yang sangat ia cintai. Namun, takdir berubah menjadi mimpi buruk saat Inggit memberikan wasiat terakhir di ambang kematiannya: "Menikahlah dengan suamiku."
Terjebak dalam amanah di atas kain kafan, Hana terpaksa menerima akad yang justru menghancurkan dunianya. Dalam semalam, mahasiswi berprestasi itu berubah menjadi musuh publik. Label "Pelakor" menyiksa setiap langkahnya di koridor kampus, sementara keluarga almarhumah terus menghujamnya dengan fitnah keji.
Mereka tidak tahu dinginnya pernikahan tanpa cinta yang ia jalani. Mereka tidak tahu rahasia kelam yang disembunyikan Pak Arlan di balik diamnya.
Ini bukan tentang perselingkuhan. Ini tentang seorang wanita yang menjadi tawanan dari janji yang tak sempat ia tolak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ai_Li, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33: Taring di balik Wibawa
Lampu ruangan kantor CEO yang elegan itu berpendar statis, kontras dengan gemuruh yang sedang berkecamuk di benak Arlan. Sejak mengambil alih sebagian besar kendali perusahaan milik Abinya, waktu Arlan nyaris tersita habis. Menyeimbangkan peran sebagai pemimpin korporasi dan dosen di kampus bukanlah perkara mudah, namun sebulan terakhir, ia sengaja memangkas jam kerjanya. Semuanya demi satu tujuan, memastikan Hana tidak terbangun dalam kesunyian yang mencekam di rumah.
Drttt... Drttt...
Ponsel di atas meja jati itu bergetar. Sebuah nama muncul, orang kepercayaan yang ia tugaskan untuk menyisir jejak digital yang telah menghancurkan mental istrinya.
"Ya, bagaimana?" suara Arlan rendah, namun tajam.
"Kami sudah menemukan dalangnya, Pak. Bukan orang jauh. Romi, adik bungsu almarhumah Ibu Inggit. Dia yang pertama kali mengunggah foto-foto itu melalui akun anonim, lengkap dengan narasi yang sengaja digoreng untuk menyudutkan Ibu Hana. Kami juga menemukan bukti bahwa ratusan komentar pedas berasal dari jaringan akun palsu yang ia koordinasikan untuk memperkeruh suasana."
Rahang Arlan mengeras seketika. Urat-urat di lehernya menegang. Romi. Laki-laki yang pernah ditolak mentah-mentah oleh Hana sebelum pernikahan ini terjadi. Arlan tidak menyangka, bahkan setelah kakaknya sendiri tiada, Romi masih tega mengusik ketenangan orang yang paling disayangi Inggit.
"Bawa dia ke kantor polisi sekarang. Jangan beri celah untuk mediasi. Saya segera ke sana," perintah Arlan dingin.
Ia menyambar kunci mobil dan jasnya, melangkah keluar dengan aura intimidasi yang membuat para karyawan di lobi menunduk segan. Saat ia sudah berada di balik kemudi, mencengkeram stir dengan sisa emosi yang meluap, ponselnya kembali berdering. Kali ini dari nomor telepon rumah.
Seketika, tatapan tajam Arlan melunak. Ia menarik napas panjang sebelum menekan tombol terima.
"Halo, Assalamualaikum, Mas..." Suara lembut di seberang sana mengalun, seolah menjadi penawar racun bagi kemarahan Arlan.
"Waalaikumsalam, Hana. Iya, ada apa, Sayang?" Jawab Arlan, suaranya berubah drastis, hangat dan menenangkan.
Seolah pria yang tadi bersiap menghancurkan orang lain itu lenyap seketika.
"Mas... Aku mau minta izin. Hari ini aku ingin ke rumah Dila, boleh?" tanya Hana dengan nada sedikit ragu namun ada semangat di sana.
Arlan tertegun sejenak. Ini adalah sebuah lompatan besar. Setelah berminggu-minggu Hana hanya bersembunyi di balik pagar rumah, akhirnya istrinya itu berani membuka diri pada dunia luar. Ada rasa bangga yang menyelinap di sela kekhawatiran Arlan.
"Tentu saja boleh, Hana. Mau Mas antar sekarang?" tawar Arlan cepat.
"Tidak usah, Mas. Kebetulan tadi Mama mampir sebentar, jadi Hana diantar Mama ke rumah Dila. Tidak apa-apa, kan?"
Arlan tersenyum kecil, ia menyandarkan punggungnya ke jok mobil.
"Baiklah kalau begitu. Hati-hati di jalan, sampaikan salam Mas untuk Mama dan Dila. Tapi pulangnya, Mas tidak menerima penolakan, biar Mas yang jemput."
"Iya, Mas... terima kasih banyak ya. Hana tutup teleponnya, Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Setelah sambungan terputus, Arlan masih menatap layar ponselnya sejenak dengan senyum sisa percakapan tadi. Namun, detik berikutnya, wajahnya kembali bertransformasi menjadi topeng yang keras. Ia menatap jalanan di depannya dengan tatapan predator yang telah menemukan mangsanya.
"Kamu sudah berani menyentuh ketenangan istri saya, Romi. Dan hari ini, kamu akan belajar apa artinya penyesalan," gumam Arlan pelan.
Pedal gas ditekan dalam. Mobil SUV itu melaju membelah jalanan, membawa seorang suami yang sedang membawa api keadilan demi memulihkan harga diri wanita yang selalu ingin dia lindungi.