NovelToon NovelToon
Long Hand

Long Hand

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Action / Fantasi
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Kaelits

Iago Verbal tiba di Citywon, ibu kota Cirland, dengan niat sederhana: mencari pekerjaan dan memulai hidup baru. Namun, kota megah yang awalnya menjanjikan ketenangan itu justru menyimpan bayang-bayang masa lalunya yang hilang.

Secara bertahap, kilasan ingatan yang terpecah-pecah kembali menghantuinya, diikuti kehadiran orang-orang misterius yang mengaku mengenalnya, termasuk putri kerajaan yang penuh curiga dan organisasi bawah tanah yang mengerikan.

Iago pun terseret dalam pusaran konspirasi dan kekerasan, memaksanya menyadari satu
kebenaran yang mengerikan: identitas aslinya bukanlah pemuda desa yang polos, dan kedatangannya ke kota ini mungkin bukanlah sebuah kebetulan, melainkan tahap terakhir dari rencana gelap yang bahkan ia sendiri sudah lupa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kaelits, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pusaran

Waktu bergulir tanpa ampun, dan gemerlap festival musim dingin pun akhirnya meredup menjadi kenangan. Lapisan-lapisan sisa kegembiraan yang tertinggal—pita-pita usang yang tersangkut di jeruji jendela, potongan kertas warna-warni yang tertiup angin ke selokan kotor—perlahan-lahan ditelan oleh rutinitas harian.

Begitu matahari mulai merayap turun dengan malas ke balik puncak-puncak atap yang menjulang, kota seperti kehabisan napas dalam sekejap. Jalanan yang tadi ramai menjadi cepat lengang dan ditinggalkan.

Bangunan putih di pusat kota itu tampak semakin agung dan megah saat langit di belakangnya berubah menjadi kelabu suram. Cahaya temaram dari jendela-jendela kaca patri menjulang tinggi. Mereka yang memanggilnya dengan penuh hormat Gereja Cahaya, yang berjalan masuk dengan kepala tertunduk dan hati penuh kagum, mungkin hanyalah manusia-manusia polos.

Di dalam bangunan yang dielu-elukan sebagai rumah suci itu, para pelayan rendahan dengan wajah tanpa ekspresi dan mata sayu sedang membersihkan lantai marmer dengan sikat kasar. Di sayap barat bangunan, para prajurit elit yang katanya menjaga kesucian sedang bersantai di barak mereka yang hangat dan nyaman.

Suara tawa kasar, denting gelas bir, dan aroma alkohol murah memenuhi udara pengap, bercampur menjadi satu kesatuan yang buruk. Mereka bergurau tentang wanita-wanita di pasar, tentang pertarungan tadi siang yang tak seimbang, tentang betapa membosankan dan sia-sianya tugas jaga malam yang hanya diisi dengan mengawasi bayangan.

Dan jauh di atas segala hiruk-pikuk itu, di bagian tertinggi menara utama yang menjulang seperti tusukan ke langit, terletak Ruang Kedua Belas Penasihat. Sebuah ruangan bundar dengan langit-langit kubah tinggi. Saat ini, ruangan itu hampir kosong dan sunyi.

"Dia datang, Eldras," ucap salah satu dari dua penasihat yang hadir. Rambutnya putih bersih, terpangkas rapi dan beraturan meski usia lanjut telah membuatnya semakin menipis.

Dia berbicara kepada satu-satunya orang lain di ruangan itu—mungkin pemimpin tertinggi yang sesungguhnya sekaligus yang tertua di antara mereka semua. Eldras. Kepalanya botak sempurna, sementara janggut putihnya lebat dan panjang terjurai hingga ke dadanya.

"Siapa maksudmu, Lyrian?" tanya Eldras, tanpa sedikit pun menoleh dari jendela tinggi yang membingkai pemandangan kota yang mulai diterangi oleh titik-titik lampu minyak di kejauhan.

"Anak muda itu. Si pemuda bertopeng kelinci," jawab Lyrian dengan mata abu-abunya yang menyipit.

"Oh. Dia akhirnya datang."

"Ya." Lyrian berhenti sejenak. "Dia membutuhkan waktu kurang lebih seminggu untuk akhirnya menerima tawaran kita. Itu waktu yang cukup lama, Eldras. Terlalu lama untuk sebuah keputusan yang seharusnya sangat menguntungkan dirinya. Apakah kau yakin ingin merekrut orang seperti itu?"

"Langsung saja ke inti permasalahan, Lyrian. Kita berdua ini sudah terlalu tua untuk basa-basi."

"Baiklah." Lyrian menghela napas tipis. "Maksudku, bukankah dia bisa saja seorang mata-mata? Seorang penyusup profesional yang dikirim oleh musuh-musuh kita?"

Pertanyaan tajam itu menggantung berat di udara ruangan yang dingin. Ruangan yang biasanya dipenuhi oleh keriuhan debat kedua belas penasihat yang saling berseteru, kini hanya menyisakan gema-gema hampa dari masa lalu.

"Apa kita harus menggunakan sihir itu, Eldras?" lanjut Lyrian. "Sihir pendeteksi niat jahat sepertinya sangat tepat untuk situasi seperti ini."

"Kau tahu betul, Lyrian," ucap Eldras akhirnya berbalik dari jendela. Dia berjalan pelan menuju meja panjang di tengah ruangan, lalu menjatuhkan dirinya dengan berat ke kursi kayu berukir, disertai desahan yang panjang. "Itu semua tidak penting untuk saat ini."

Mata tajam Lyrian melebar sejenak. "Kenapa tidak? Bukankah itu terlalu berisiko? Memasukkan orang asing ke dalam barisan kita tanpa memastikan kesetiaannya terlebih dahulu?"

"Sihir pendeteksi niat itu terlalu... merepotkan dan memakan banyak sumber daya," ujar Eldras. Tangannya yang keriput membuka laci meja, mengeluarkan selembar kertas. "Kita membutuhkan setidaknya beberapa kristal untuk satu kali ritual yang utuh." Dia berhenti sejenak, meletakkan kertas itu dengan hati-hati di atas meja. "Kau tahu sendiri, persediaan kristal energi kita sudah sekarat."

"Itu... benar juga," akui Lyrian dengan nada enggan.

"Aku sangat menghargai kewaspadaanmu, Lyrian. Tapi kita harus menggunakan sumber daya yang sangat berharga itu hanya untuk target-target yang benar-benar mencurigakan."

"Tapi, justru orang yang terlihat biasa-biasa saja yang paling mencurigakan. Mereka punya banyak waktu untuk menyusun rencana."

Melihat keteguhan kepala teman lamanya itu, Eldras hanya bisa mengangkat tangan dan menepuk dahinya sendiri. Dia menutup matanya sejenak. "Lyrian, coba bayangkan: kita harus repot-repot memanggil semua penasihat yang lain. Mengadakan ritual panjang selama berjam-jam, menghabiskan persediaan kristal terakhir kita... dan kemudian hasilnya nol."

"Menurutku, tindakan pencegahan seperti itu justru jauh lebih baik daripada menyesali risiko yang bisa kita hindari,"

"Mungkin saja kau benar. Mungkin. Tapi masalah yang kita hadapi saat ini tidak hanya itu, Lyrian."

"Huh?" Alis putih Lyrian terangkat tinggi, nyaris mencapai garis rambutnya yang tipis. Dia mendekat, lalu duduk di kursi di samping Eldras. "Apa maksudmu? Ada masalah lain yang lebih besar?"

Sebagai jawaban, Eldras hanya mendorong lembaran kertas perkamen yang ada di atas meja itu ke arah Lyrian dengan satu jarinya yang keriput. "Baca sendiri."

Tanpa banyak bertanya lagi, Lyrian mengambil kertas itu, meratakannya di atas meja. Matanya menyapu cepat tulisan di sana. Hanya satu baris pendek, ditulis dengan tinta hitam pekat yang mengilap, huruf-hurufnya miring dan terkesan terburu-buru:

"Monster telah datang. Namun pada akhirnya ia akan membawa cahaya."

Dia membacanya sekali, lalu dua kali, matanya mengerjap-ngerjap. Lalu dia menatap Eldras. "Apa maksud dari pesan ini? Dari siapa asalnya?"

"Entahlah, Lyrian. Aku benar-benar tidak tahu," jawab Eldras. "Yang jelas, penulisnya dengan sengaja ingin mengirimkan pesan ini kepada seseorang—mungkin kepada kita. Dan aku ingin kau yang bertugas mencari tahu siapa orang itu."

Lyrian kembali menatap kertas itu, memeriksa setiap sudut, seolah-olah mengharapkan ada tulisan tersembunyi atau kode rahasia yang terlewat oleh mata telanjang. Namun tidak ada apa pun selain satu kalimat itu.

"Kemungkinan besar," lanjut Eldras, "itu berasal dari Sang Bayangan. Pencuri legenda itu."

"Pencuri sialan itu?!" desisnya dengan suara penuh amarah yang mendesis. "Kupikir dia sudah puas dengan aksinya!" Tangannya yang keriput mengepal dengan kuat, meremukkan kertas itu tanpa sadar menjadi bola kecil. Alisnya berkerut sangat dalam. "Berdasarkan apa kau bisa menduga itu darinya?"

"Berdasarkan di mana pesan ini pertama kali ditemukan," jawab Eldras. "Seorang ibu tua menemukannya. Katanya, kertas ini terpaku dengan paku berkarat di dinding losmen yang terbengkalai itu—losmen tua tempat pembantaian mengerikan itu terjadi."

Lyrian membeku, napasnya terhenti sejenak. "Losmen yang... pemiliknya dan semua tamunya dibantai habis dalam satu malam? Yang membuat warga berteriak-teriak histeris tentang kemunculan 'pencuri hantu' itu?"

"Benar sekali. Ibu itu bilang dia melewati jalan itu setiap sore menjelang malam, dalam perjalanan pulang dari pasar."

"Bisa saja itu ulah iseng anak-anak nakal. Atau orang gila yang ingin menakut-nakuti warga dengan cara konyol."

"Tidak mungkin," sanggah Eldras dengan cepat. Tiba-tiba, tanpa peringatan, tangannya mulai bergetar halus di atas meja. Matanya yang sayu menyipit, giginya yang tersisa terkunci keras. Suaranya turun menjadi bisikan yang hampir tak terdengar. "Kau lihat, Lyrian... Pada akhirnya, kita harus mengakui kebenaran pahit ini... bahwa kita adalah orang-orang jahat."

"Eldras?" Lyrian memandangnya dengan tatapan penuh kekhawatiran. "Ada apa denganmu? Kau tidak terlihat baik. Tenanglah."

"Tidak mungkin... tidak mungkin kita tidak punya musuh di luar sana, Lyrian." gumam Eldras, seolah-olah dia sedang berbicara kepada dirinya sendiri. "Meskipun kita bersembunyi. Meskipun kita mengira telah mengubur semua bukti dengan rapi... Cepat atau lambat, kebenaran akan menemukan jalannya untuk terungkap. Dan mereka akan datang. Untuk menagih semua hutang darah kita."

"Eldras! Sadarlah!" Lyrian membentak lebih keras, lalu dengan cepat meraih bahu temannya dan menggoyangkannya. "Bukankah kau sendiri yang selalu mengajarkan kita selama ini? Kita tidak boleh panik! Tidak boleh terburu-buru mengambil kesimpulan! Itu adalah kelemahan terbesar seorang pemimpin!"

"Orang tua dari kakak beradik itu..." desis Eldras dengan suara serak, matanya terpejam rapat-rapat. "Kitalah... kita sendiri yang dengan sadar memerintahkan pembunuhan mereka bertahun-tahun lalu. Hanya demi perluasan wilayah gereja."

"Tapi ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan Sang Bayangan atau kertas ini, Eldras! Itu semua sudah terjadi sangat lama! Dua anak malang itu bahkan mungkin sudah mati kelaparan di jalanan! Tidak ada yang peduli! Tenanglah, kawan. Kita aman. Lihatlah ke luar sana!" Lyrian merentangkan kedua tangannya lebar-lebar ke arah jendela besar. "Para warga masih dengan patuh menyembah kita. Masih memuji-muji Gereja Cahaya sebagai pelindung mereka. Mereka semua takut pada kita. Kita adalah penguasa di negeri ini!"

Keheningan yang sangat berat dan menyesakkan turun di antara mereka berdua, hanya diisi oleh suara napas Eldras yang tersengal-sengal dan tidak beraturan. Perlahan, ketegangan di bahu dan seluruh tubuhnya mulai mengendur sedikit demi sedikit.

Dia menarik napas panjang lalu membuka matanya perlahan. Tatapannya, yang tadi liar dan penuh ketakutan, kini kembali fokus pada wajah Lyrian yang penuh perhatian.

"Kau... kau benar, Lyrian," gumam Eldras, masih terdengar serak dan berat. "Kita aman. Kita... Kita adalah penguasa mutlak negara ini! Gereja Cahaya adalah fondasi yang tak tergoyahkan!" Suaranya semakin lama semakin keras. "TIDAK ADA SATU PUN KEKUATAN DI DUNIA INI YANG BISA MENGHANCURKAN KITA! Benar, kan, Lyrian?!"

Melihat teman sejawatnya itu akhirnya kembali ke alam sadar, meskipun dengan semangat yang sedikit terkesan dipaksakan, bibir Lyrian yang tipis perlahan merekah membentuk senyuman tipis. "Ya, Eldras," katanya. "Tidak ada satu pun yang bisa."

...****************...

Setelah pertemuan yang melelahkan itu, Lyrian segera meninggalkan ruangan tinggi yang pengap dan menusuk. Dia menyusuri koridor-koridor marmer yang panjang dan sunyi, hanya ditemani oleh suara gema langkahnya sendiri.

Akhirnya, dia keluar dari bangunan putih yang megah itu, menyambut hembusan angin malam. Rambut putihnya yang tipis langsung diterbangkan dengan liar oleh angin, begitu pula dengan jubah putihnya yang panjang dan longgar. Pepohonan kering di halaman gereja bergoyang-goyang dengan liar, ranting-rantingnya yang gundul saling berderak dan berdesis.

Dia berjalan tanpa tujuan yang jelas, pikirannya dipenuhi oleh percakapan tadi dan kertas tadi. Hari sudah hampir gelap total. Cahaya matahari terakhir tinggal corengan tipis warna jingga pucat di ufuk barat.

Suara kota yang riuh telah lama lenyap, digantikan oleh lengkingan angin yang sesekali dan lolongan panjang anjing-anjing liar dari kejauhan. Barulah dia menyadari, dengan sedikit terkejut, bahwa kakinya tanpa sadar telah membawanya ke jalan setapak sepi yang berada tepat di depan losmen terbengkalai.

Dia berhenti mendadak, menatap bangunan kayu tua yang suram itu. Tidak ada setitik pun cahaya yang terpancar dari dalam. Tidak ada tanda-tanda kehidupan sama sekali.

Lyrian tiba-tiba teringat dengan jelas perkataan Eldras sebelum dia pergi: ibu tua yang menemukan kertas misterius itu sering lewat di sini setiap sore karena rumahnya tidak jauh dari lokasi ini.

Lyrian mengambil keputusan cepat. Dia akan menunggu. Dia bersembunyi di balik bayangan gelap sebuah tiang lampu minyak yang sudah lama padam dan tak berfungsi. Dari sana, dia mengintai dengan sabar.

Dan keberuntungan tampaknya sedang berpihak padanya. Tidak lama kemudian, sesosok wanita tua yang lemah muncul di ujung jalan yang gelap. Dia berjalan dengan tertatih-tatih, langkahnya lambat, sambil membawa sebuah kantong kain lusuh yang terlihat cukup berat untuk ukuran tubuhnya yang ringkih. Wajahnya keriput dan kuyu.

Lyrian segera melangkah keluar dari persembunyian bayangannya, muncul tiba-tiba di hadapan wanita itu. "Maaf mengganggu, Ibu. Saya ingin bertanya sesuatu yang penting."

Wanita tua itu terkejut bukan main, tubuhnya yang ringkih hampir terjatuh. Matanya yang buram dan rabun membesar seketika saat dia mengenali jubah putih bersih dan lambang gereja yang berkilauan samar di dada Lyrian.

"Yang Mulia Lyrian?" Wanita itu segera membungkukkan badannya dengan susah payah, suaranya bergetar hebat. "Sungguh... suatu kehormatan yang tak terduga bisa bertemu dengan Yang Mulia lagi."

"Terima kasih, Ibu. Saya akan langsung ke pokok permasalahan agar tidak membuang waktu." Lyrian mengangkat tangannya yang keriput, memperlihatkan kertas lecek yang sudah dia ratakan kembali sebisanya di telapak tangannya. "Apakah Ibu yang menemukan kertas ini beberapa hari yang lalu, di sekitar area ini?"

Wanita itu mendekat dengan langkah hati-hati, matanya yang buram menyipit kuat-kuat berusaha melihat di cahaya senja yang semakin temaram. Butuh waktu beberapa saat yang terasa lama, lalu dia mengangguk pelan. "Iya, Yang Mulia. Saya yang menemukannya."

"Ibu bilang kepada Eldras bahwa kertas ini tertancap paku di dinding losmen itu. Di dinding bagian mana tepatnya, Ibu masih ingat?"

"Ah, ya, benar, Yang Mulia. Tapi..." Wanita itu tiba-tiba ragu, jari-jarinya meremas-remas ujung selendang lusuhnya dengan gelisah. "Sebenarnya, ada satu hal penting yang... yang belum sempat saya beritahukan kepada Yang Mulia Eldras waktu itu."

Lyrian mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan. "Apa itu, Ibu? Katakan saja, tidak perlu takut."

"Sebenarnya... saya tidak menemukan kertas ini sudah tertancap begitu saja di dinding." Wanita itu menurunkan suaranya hingga nyaris berbisik, matanya melirik ke kanan-kiri dengan cemas. "Ada seorang pria tua... yang dengan sengaja memberikannya langsung kepada saya."

Mata Lyrian yang pucat itu langsung membelalak lebar. "Pria tua? Seperti apa ciri-cirinya? Coba Ibu ingat-ingat sejelas mungkin."

Wanita itu memegang dagunya yang keriput dengan satu tangan, menatap ke atas langit yang mulai gelap sambil mengerutkan dahi. "Hmm... pria tua yang sangat menarik. Rambutnya putih, tapi bukan putih kusam seperti orang tua kebanyakan, melainkan... putih bersih. Dan panjang, rambutnya sampai ke bahu."

"Rambut putih yang panjang dan bersih..." Lyrian mengulang pelan.

"Dan juga... waktu itu dia memakai mantel. Warnanya biru. Biru langit cerah."

Kres... Kres... Kres...

Suara langkah kaki berat di atas hamparan salju yang mulai mencair dan becek itu tiba-tiba terdengar sangat jelas. Baik Lyrian maupun wanita tua itu sontak terkejut dan menoleh serempak ke arah sumber suara yang mengganggu itu.

Seorang pria muda yang berbaju sederhana dan lusuh berdiri di sana. Lingkaran hitam yang pekat mengelilingi matanya yang cekung, kelopak matanya terlihat sangat berat. Tatapannya mengambang tanpa tujuan di ruang angkasa, sebelum akhirnya dengan perlahan menatap dan fokus pada sosok Lyrian—pada jubah putihnya yang bersih, pada lambang Gereja Cahaya yang berkilat lemah namun mengancam di dadanya.

"Ada perlu apa, Nak?" tanya Lyrian.

Pria muda itu tidak langsung menjawab. Dia hanya terus menatap dengan tatapan kosong yang semakin dalam. Tatapannya yang awalnya lemas dan kosong, perlahan-lahan mulai berubah secara drastis. Seolah-olah ada sambaran petir di dalam otaknya, sesuatu yang selama ini terpendam akhirnya tersambung, terpicu secara paksa oleh penglihatan akan jubah putih dan lambang gereja itu.

Keheningan di sekitar losmen menjadi semakin berat. Angin malam bertiup jauh lebih kencang, menerbangkan serpihan-serpihan salju kering yang menusuk kulit. Di kejauhan, sekawanan burung gagak hitam terbang rendah dengan suara parau yang mengerikan.

Kemudian, sesuatu yang mengerikan terjadi pada pria muda itu.

Mulutnya yang kering dan pecah-pecah terbuka sedikit, lalu tertutup lagi dengan paksa. Seluruh tubuhnya mulai gemetar hebat, seolah-olah seluruh sistem saraf pusatnya sedang dialiri setrum listrik bertegangan tinggi. Otot-otot di wajahnya yang pucat berdenyut-denyut tak terkendali.

"Huh? Ada apa denganmu, Nak?" tanya Lyrian lagi. Wanita tua di sampingnya mundur selangkah dengan ketakutan yang nyata di wajahnya.

Kres...

Pria itu tiba-tiba terjatuh. Lututnya yang lemah menekuk dan menghantam tanah beku yang keras dengan suara memilukan. Kedua tangannya meraih dan menjambak rambut hitamnya sendiri dengan sangat kuat. Kepalanya tertunduk dalam-dalam, bahunya naik turun dengan sangat cepat, tidak beraturan.

Lalu, dari dalam dadanya yang sesak dan bergemuruh, keluarlah sebuah suara.

"AAARRRGGGHHHH!!!!"

Jeritan itu memecah kesunyian malam yang kelam.

Suara itu sama sekali bukan sekadar teriakan kesakitan fisik atau ketakutan biasa. Itu adalah suara primal yang keluar dari dasar jiwa yang paling dalam, yang terkoyak-koyak, sebuah pelepasan yang penuh dengan siksaan batin, dan keputusasaan total yang tiba-tiba meledak tanpa kendali. Suaranya serak dan parah.

Ingatan. Mereka datang seperti ribuan serpihan kaca yang tajam, melesat tanpa ampun dan menusuk-nusuk setiap sudut kesadarannya yang sedang lemah. Ada yang berbeda kali ini. Selain rasa sakit fisik yang luar biasa, dia juga merasakan sesuatu yang lain.

Sesuatu yang jauh lebih gelap, lebih hampa, dan lebih sunyi dari kematian itu sendiri. Sebuah kegelapan pekat yang menyimpan dengan rapat kebenaran paling mengerikan yang selama ini paling dia takuti untuk diketahui.

1
kenzi moretti
saya senang karena membaca novel ini sebagai bacaan pertama di platform ini. novel ini sangat bagus. kalian mau baca novel dari segi apa? plot? character? worldbuilding? action? gaya bahasa yang bagus? semuanya ada di sini.

tapi karena di pf ini didominasi sama novel kultivasi atau fantim, novel ini jadi sepi. sayang sekali, padahal novel ini punya potensi besar.

novel ini saya kasih rating 9/10 lah. paling masalahnya itu pacing di 5 bab pertama. itu cukup lambat dan mungkin para pembaca ada yang langsung gak betah dan kabur.

tapi percayalah, kalau kalian sanggup membaca 5 bab pertama, kalian pasti akan ketagihan.
Kaelits: okay, kenzi. aku lg banyak tugas sekolah. cuma novel ini gak bakal nge gantung kok.
total 3 replies
kenzi moretti
wahh gak expectt...
kenzi moretti
bab ini gelap bgt. tapi bab ini akhirnya memberikan flashback keluarga iago. adegan di pegunungan yang muncul di bab 2 pun dilanjutkan. keren thor👍
Kaelits: makasihh
total 1 replies
kenzi moretti
siapa ini?? salah satu penasihat gereja cahaya kahh? hmm...
kenzi moretti
apakah klo iago menerimanya maka dirinya yang sekarang akan lenyap dan digantikan iago lama?🤔
rinn
pantas aja ayahnya stella gak kelihatan dari awal
rinn
gacorr otto🔥
rinn
gilaa plot twist-nyaaa
rinn
sumpah gelap bgt ceritanya thor/Cry/
rinn
kasian juga eliana
rinn
akhirnya mereka bertemu kembali🔥
rinn
hmm, apakah pria tua ini synel?
rinn
nyesek bgt baca bab ini/Sob/
rinn
huhuu/Cry/
rinn
aww gentle man bgt otto😍
rinn
ahahaha kasian otto
rinn
wah licik bgt gereja cahaya
kenzi moretti
🥶
kenzi moretti
kejam kali bab ini thor😢
kenzi moretti
astaga😔
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!