Di balik kemewahan keluarga Mahendra, tersembunyi sebuah rahasia kelam. Bertahun-tahun lalu, Alisha Pratiwi diculik dan dipisahkan dari orang tua kandungnya, Ragendra dan Helena Mahendra. Sementara itu, kebohongan besar ditanam rapi oleh dalang licik bernama Bram Santoso.
Tanpa menyadari takdir yang terhubung, Alvaro tumbuh sebagai pewaris keluarga Mahendra, sedangkan Alisha hidup dalam kesederhanaan dengan identitas yang bukan miliknya. Ketika kebenaran perlahan terkuak, cinta, pengkhianatan, dan perebutan hak waris tak lagi bisa dihindari.
Siapakah pewaris yang sesungguhnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zanita nuraini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34 — Di Balik Semua Ini
Bab 34 — Di Balik Semua Ini
Kesadaran Alisha kembali perlahan. Kepalanya terasa berat, seperti ditekan dari dalam. Pandangannya masih buram saat ia mencoba membuka mata. Suara mesin mobil terdengar konstan, menandakan kendaraan itu masih melaju.
Ia tidak langsung bergerak. Tubuhnya terasa lemas. Napasnya tidak stabil.
Beberapa detik ia hanya diam, mencoba mengumpulkan kesadaran.
Lalu suara samar mulai terdengar.
“Cepat sedikit. Jangan sampai kita diikuti.”
Alisha memfokuskan pendengarannya.
“Tenang saja, tidak ada yang tahu.”
Jantungnya langsung berdegup lebih cepat.
Ia tahu suara itu.
Ia tahu situasi ini.
Ia sedang diculik.
Untuk kedua kalinya.
Alisha menahan napas sejenak, mencoba tidak menunjukkan bahwa ia sudah sadar. Ia memejamkan mata lagi, mendengarkan dengan lebih hati-hati.
“Apa kita langsung ke tempat biasa?” tanya salah satu pria.
“Tidak. Perintahnya beda kali ini.”
Perintah.
Kata itu membuat pikirannya bekerja cepat.
Ini bukan tindakan sembarangan.
Ada seseorang di balik semua ini.
Alisha membuka mata sedikit. Ia mencoba menggerakkan tangannya perlahan. Pergelangan tangannya terasa sakit. Tidak sepenuhnya terikat, tapi jelas dijaga.
Ia harus mencari kesempatan.
Ia tidak bisa hanya menunggu.
Mobil melaju cukup kencang. Salah satu pria duduk di sampingnya, sesekali melirik ke arahnya. Yang lain fokus menyetir.
Alisha mengatur napas. Ia menunggu momen yang tepat.
Beberapa detik kemudian, mobil sedikit melambat saat melewati tikungan.
Saat itulah Alisha bergerak.
Ia langsung mendorong pria di sampingnya dengan sekuat tenaga. Tubuh pria itu tidak siap. Ia terdorong ke samping.
Alisha memanfaatkan itu untuk meraih gagang pintu.
Klik.
Pintu hampir terbuka.
“Eh!”
Pria itu langsung menariknya kembali dengan kasar. Tubuh Alisha terhempas ke kursi.
“Diam kamu!”
Alisha tidak menyerah. Ia menendang ke arah kaki pria itu. Tendangannya mengenai bagian lutut.
Pria itu mengumpat pelan.
Mobil sedikit oleng.
“Apa yang kamu lakukan!” bentak pengemudi.
Alisha mencoba membuka pintu lagi, tapi kali ini tangannya sudah ditahan kuat.
“Pegang dia!”
Salah satu dari mereka langsung memegang kedua tangannya. Cengkeramannya lebih keras dari sebelumnya.
Alisha meronta. Ia menggerakkan tubuhnya, mencoba melepaskan diri.
“Lepaskan aku!”
Suaranya terdengar serak, tapi tegas.
Ia kembali mendorong, mencoba menendang, bahkan memutar tubuhnya agar bisa lepas. Untuk beberapa detik, suasana di dalam mobil menjadi kacau.
Sampai akhirnya salah satu dari mereka menarik tangannya ke belakang.
Rasa sakit langsung menjalar.
“Cukup!”
Tangannya kini benar-benar ditahan.
Tenaganya mulai habis.
Napasnya memburu.
Kali ini ia tidak bisa bergerak bebas lagi.
Alisha terdiam beberapa detik. Ia tahu kalau terus memaksa, ia hanya akan semakin lemah. Ia menatap ke arah pria di sampingnya dengan napas masih tidak teratur.
“Siapa yang menyuruh kalian…?” tanyanya pelan.
Tidak ada jawaban.
Pria itu hanya menatap lurus ke depan.
Alisha menelan ludah. Ia memaksa dirinya tetap sadar.
“Apa… Alisha Mahendra lagi…?”
Kali ini salah satu pria melirik sekilas.
Tapi ia tidak menjawab.
Hanya ada keheningan yang membuat suasana semakin menekan.
“Kamu tidak perlu tahu,” ucap pria itu akhirnya singkat.
Jawaban itu justru membuat Alisha semakin yakin.
Ini bukan kebetulan.
Ini bukan kejadian acak.
“Ada orang lain…” gumamnya pelan.
Salah satu pria di depan sempat berkata tanpa sadar, “Bos tidak suka kalau target banyak tanya.”
Ucapan itu langsung membuat suasana berubah.
Pria di samping Alisha menatap tajam ke arah depan. “Diam.”
Tapi kata itu sudah terlanjur terdengar.
Bos.
Bukan Alisha Mahendra.
Alisha menunduk pelan. Pikirannya bekerja cepat meski tubuhnya masih lemah.
Kalau bukan dia…
lalu siapa?
Di tempat lain, Alvaro berdiri dengan wajah tegang saat menerima laporan.
“Dia hilang lagi?” suaranya terdengar rendah.
Damar mengangguk. “Orang kita terlambat beberapa menit.”
Ruangan itu mendadak terasa lebih dingin.
Alvaro mengusap wajahnya kasar. “Kita sudah tahu mereka mengincar dia…”
Nada suaranya penuh penyesalan.
Damar menatapnya hati-hati. “Mereka bergerak lebih cepat dari perkiraan.”
Alvaro terdiam beberapa detik, lalu menurunkan tangannya.
“Cari,” katanya tegas.
“Apa pun caranya.”
Damar langsung mengangguk. “Tim sudah bergerak.”
Sebelum pergi, ia menambahkan, “Ada satu hal lagi.”
Alvaro mengangkat kepala.
“Kasus Alisha Mahendra sudah tersebar luas. Media mulai mengangkatnya.”
Alvaro mengerutkan kening.
“Nama keluarga kita ikut disebut.”
Ia menghela napas panjang. Masalah bertambah di saat yang tidak tepat.
“Fokus ke Alisha,” katanya akhirnya.
Damar mengangguk dan segera pergi.
Alvaro menatap ke depan dengan rahang mengeras. Ia tidak akan membiarkan ini terjadi lagi.
Sementara itu, di tempat lain, seorang pria duduk santai di kursinya sambil menatap layar ponsel.
Senyum tipis terlihat di wajahnya.
“Sudah berhasil,” suara dari ponsel terdengar.
Pria itu tidak langsung menjawab. Ia justru menyandarkan tubuhnya dengan lebih nyaman.
“Akhirnya,” ucapnya pelan.
Nada suaranya tenang, seolah semua ini sudah ia perkirakan sejak awal.
Ia tidak perlu bertanya detail. Ia sudah tahu semuanya berjalan sesuai rencana.
“Jaga dia baik-baik,” lanjutnya.
“Jangan sampai ada kesalahan.”
Telepon ditutup.
Pria itu menatap ke depan dengan mata penuh perhitungan.
Semua berjalan seperti yang ia inginkan.
Mobil akhirnya berhenti di sebuah tempat yang sepi. Bangunan tua terlihat di sekitar. Tidak ada aktivitas. Tidak ada suara.
Pintu mobil dibuka kasar.
“Turun.”
Alisha ditarik keluar. Kakinya masih lemah, membuatnya hampir terjatuh.
Ia mencoba berdiri tegak, tapi pegangan di lengannya tidak memberi banyak ruang.
Ia menatap sekitar dengan cepat.
Tempat ini asing.
Sepi.
Tidak ada siapa pun.
Ia ditarik masuk ke dalam bangunan.
Langkahnya terhuyung, tapi ia tetap berusaha menjaga keseimbangan.
Ia tidak ingin terlihat lemah.
Meski tubuhnya tidak sepenuhnya mendukung.
Di dalam ruangan, suasana lebih gelap. Udara terasa pengap.
Alisha didorong duduk di kursi. Tangannya segera diikat.
Kali ini lebih kuat.
Ia mencoba menarik, tapi tidak berhasil.
Salah satu pria berdiri di depannya.
“Diam saja. Tidak usah macam-macam.”
Alisha menatapnya tanpa bicara.
Napasnya mulai kembali stabil.
Ia mencoba berpikir.
Ini bukan hanya tentang bertahan.
Ia harus mencari cara keluar.
Apa pun caranya.
Ia menelan ludah, lalu berkata pelan,
“Kalau bukan Alisha Mahendra… lalu siapa?”
Tidak ada yang menjawab.
Ruangan kembali sunyi.
Tapi pertanyaan itu tidak hilang.
Di kepalanya, semuanya mulai terhubung.
Penculikan ini terlalu rapi.
Terlalu terencana.
Bukan sekadar balas dendam.
Ini lebih dari itu.
Alisha mengangkat kepalanya perlahan.
Matanya menatap lurus ke depan.
Ia sudah berusaha melawan.
Ia tidak lagi diam.
Tapi kali ini… apakah ia benar-benar bisa keluar dari semua ini?
Atau justru ia sudah masuk terlalu jauh ke dalam permainan seseorang yang belum ia kenal?
#bersambung
Alisha tidak akan kalah terus kok… justru mulai dari bab berikutnya dia sudah mulai melawan 😉
makasih banyak masukannya, ditunggu ya kelanjutannya~