"Dulu ia bersembunyi di balik masker karena dihina, kini ia berdiri di puncak dunia karena luka."
Karline Dharmawijaya memulai segalanya sebagai gadis SMA yang pemalu dan selalu menyembunyikan wajah di balik masker. Ia menjadi sasaran empuk keangkuhan Dean, cowok populer yang menghinanya sebagai "kasta terendah" sebelum akhirnya terobsesi saat melihat kecantikan asli Karline.
Namun, cinta masa SMA itu hanyalah racun yang berujung pengkhianatan pahit.
Kini, Karline bukan lagi gadis lemah itu. Ia melarikan diri ke Paris, bertransformasi menjadi calon chef profesional yang dingin dan tak tersentuh. Di Le Cordon Bleu, ia harus bertarung melawan sabotase rekan kampus dan ujian mematikan dari koki legendaris untuk membersihkan nama besar ayahnya. Di saat ia hampir mencapai mimpinya, Dean kembali muncul dengan sejuta penyesalan di tengah hidupnya yang mulai hancur.
Akankah Karline kembali pada luka lamanya, atau terus melangkah menuju masa depan yang jauh lebih bersinar?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ra H Fadillah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22 Syarat di Balik Gerbang Dharmawijaya
Dean terdiam seribu bahasa saat mendengar syarat yang diajukan Karline. Ia mengira Karline akan meminta barang mewah, menuntutnya melakukan hal memalukan di depan sekolah, atau mungkin memaksanya mundur dari tim voli sebagai bentuk balas dendam. Namun, dugaannya meleset jauh.
"Syaratku bukan untuk kesenanganku sendiri, Dean," ucap Karline tegas, matanya menatap lurus ke arah jendela perpustakaan yang menampilkan jingga senja. "Aku ingin kamu ikut bersamaku sore ini. Aku ingin menunjukkan padamu betapa mirisnya dunia luar yang mungkin tidak pernah kamu lirik dari balik kaca mobil mewahmu."
Dean mengerutkan kening, bingung namun juga merasa lega. "Cuma itu? Kita pergi berdua?"
"Iya. Aku ikut karena aku ingin kamu melihat perbandingannya. Hidup kita sangat layak, Dean. Kita punya rumah, makanan enak, dan pakaian bagus. Sementara di luar sana, banyak orang yang harus bertaruh nyawa hanya untuk mengganjal perut yang kelaparan. Jika kamu bisa merasakan empati pada mereka, mungkin kamu akan berhenti menjadi pria sombong yang hobi merendahkan orang lain."
Mendengar itu, Dean tersenyum tipis. Rasa senang membuncah di dadanya bukan karena misi sosialnya, tapi karena fakta bahwa Karline mau pergi bersamanya. "Oke. Gue setuju. Apa pun buat dapet maaf tulus dari lo."
Sesuai kesepakatan, mereka pulang ke rumah masing-masing untuk bersiap. Karline masuk ke kediaman Dharmawijaya dengan langkah ringan. Setelah mandi dan menyegarkan diri, ia memilih pakaian yang sederhana namun tetap memancarkan aura kecantikannya yang alami. Ia mengenakan kaos lengan pendek berwarna putih bersih yang dipadukan dengan rok panjang berbahan jatuh berwarna pastel. Rambut hitamnya yang legam ia hias dengan dua pita kecil di sisi kiri dan kanan, memberikan kesan manis sekaligus bersahaja.
Di sisi lain kota, Dean pun bersiap. Ia menanggalkan seragam sekolahnya dan menggantinya dengan pakaian santai, kaus hitam polos dan celana jins yang membuatnya terlihat maskulin namun tidak berlebihan. Ia memacu motor besarnya menuju perumahan elit tempat Karline tinggal.
Sesuai instruksi Karline lewat pesan singkat, Dean berhenti tepat di depan gerbang besar kediaman Dharmawijaya. Ia tidak berani masuk, karena Karline sudah memperingatkannya bahwa sang kakak, Andhika, sangat protektif. Jika kakaknya tahu ada pria dari sekolah yang menjemputnya terutama pria dengan reputasi seperti Dean urusan bisa menjadi panjang.
Tak lama kemudian, gerbang kecil di samping gerbang utama terbuka. Karline melangkah keluar dengan senyum tipis. Dean yang sedang bersandar di motornya sejenak kehilangan napas. Cahaya matahari sore yang mulai meredup menyinari wajah Karline, membuatnya tampak seperti malaikat yang turun ke bumi.
"Ayo berangkat. Jangan bengong terus," tegur Karline sambil menepuk bahu Dean.
"Lo... cantik banget, Karl," gumam Dean jujur.
Karline hanya memutar bola matanya, menyembunyikan semburat merah di pipinya. "Simpan gombalanmu. Pakai helm ini, kita berangkat."
Karline mengarahkan Dean menuju sebuah kawasan di pinggiran kota, jauh dari gemerlap pusat perbelanjaan. Semakin jauh mereka berkendara, jalanan semakin sempit dan berdebu. Pemandangan rumah-rumah megah berganti dengan deretan gubuk semi permanen di pinggir rel kereta api.
Mereka berhenti di sebuah pemukiman kumuh. Dean turun dari motor dengan perasaan canggung. Aroma sampah dan udara yang pengap langsung menyambut indra penciumannya. Ia melihat anak-anak kecil berlarian tanpa alas kaki, beberapa orang tua sedang mengais tumpukan barang bekas, dan rumah-rumah yang hanya tertutup terpal plastik.
Karline berjalan dengan tenang, seolah tempat ini adalah rumah keduanya. Ia mengeluarkan beberapa kantong plastik besar berisi nasi kotak dan susu yang ternyata sudah ia siapkan sebelumnya di bagasi motor Dean.
"Nenek Aminah!" panggil Karline lembut pada seorang wanita tua yang sedang duduk di depan gubuknya.
"Ya Allah, Nak Karline datang lagi," ucap nenek itu dengan suara gemetar penuh haru.
Dean memperhatikan bagaimana Karline berjongkok di tanah yang kotor, membagikan makanan dengan senyum ramah yang sangat tulus bahkan lebih tulus daripada senyum yang ia berikan pada teman-teman sekelasnya. Karline tidak tampak jijik sedikit pun. Ia mendengarkan cerita mereka, mengelus pundak anak-anak yatim di sana, dan sesekali tertawa bersama mereka.
Dean berdiri mematung di belakangnya. Ia merasa tertampar. Selama ini, ia merasa menjadi raja hanya karena ia jago voli dan populer. Ia sering menghina orang lain hanya karena ego, padahal di depan matanya sekarang, ada orang-orang yang berjuang hanya untuk bertahan hidup satu hari lagi.
Ia menatap Karline dengan tatapan pemujaan yang mendalam. Ia merasa sangat beruntung. Karline bukan hanya gadis yang cantik secara fisik, tapi ia memiliki jiwa yang luar biasa. Karline tidak pandang bulu, ia menggunakan kekuatannya untuk merangkul mereka yang terlupakan oleh dunia.
"Dean, jangan cuma berdiri di sana. Sini, bantu bagikan susunya," panggil Karline.
Dean tersentak, lalu segera mendekat. Untuk pertama kalinya, ia merendahkan tubuhnya, memberikan bantuan secara langsung pada orang-orang yang membutuhkan. Saat seorang anak kecil menerima susu darinya dan mengucapkan terima kasih dengan mata berbinar, ada sesuatu yang hangat meledak di dada Dean perasaan yang jauh lebih memuaskan daripada sorakan penonton di lapangan voli.
Sambil bekerja, Dean terus mencuri pandang ke arah Karline. Ia sadar, syarat ini adalah pelajaran hidup paling berharga yang pernah ia terima. Karline sedang membentuknya menjadi pria yang lebih baik, dan Dean dengan senang hati membiarkan gadis itu mengubah dunianya.