Seorang pemuda dengan kutukan api di dalam tubuhnya, membuat dirinya dibenci oleh seluruh warga desa.
Padahal di dalam hatinya, Subosito tak ingin melukai siapa pun dengan apinya.
Banyak pendekar yang mengincar kekuatan itu, untuk kepentingan pribadi mereka
Subosito mencoba untuk mengarungi dunia pendekar yang tidak mudah.
Bagaimana kisah perjuangan pemuda api itu dengan kutukan yang dimilikinya?
Ikuti keseruan kisahnya dalam 'Subosito'.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eko yepe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rahasia
Aroma melati yang dibawa oleh embusan angin malam ke dalam kamar penginapan terasa sangat asing di tengah bau pengap debu Trowulan.
Subosito masih duduk bersila, namun semangatnya kini bergejolak hebat. Di depannya, Dyah Ayuwangi—putri yang dahulu merupakan cahaya di masa mudanya—berdiri dengan pakaian rakyat jelata yang kumal, namun penampilannya tak mampu disembunyikan oleh kain goni sekalipun.
Cahaya lampu minyak yang temaram menari-nari di wajah Ayuwangi, menampilkan gurat kecemasan yang mendalam. Dia mendekat, matanya berkaca-kaca menatap sosok di depannya yang kini menjelma menjadi pria asing menyamar penuh debu dengan pakaian kuli yang kasar.
"Subosito..., kamu benar-benar masih hidup," bisiknya dengan suara bergetar.
Subosito hanya mengangguk. Dia ingin sekali menghormati nama putri itu, ingin menceritakan betapa beratnya perjalanan dari lereng Lawu hingga ke jantung Majapahit. Namun, lidahnya tetap kaku. Sumpah kebisuannya bukan sekadar kedok penyamaran, melainkan segel batin yang dia ciptakan agar api di sukmanya tidak meledak melalui kata-kata. Subosito hanya menjawab dengan sebuah anggukan kecil dan senyuman tipis yang getir.
Ayuwangi menghapus air matanya dengan ujung lengan bajunya. Dia segera membisikkan suaranya, beralih ke sisi yang lebih gelap dari ruangan itu. "Dengarkan aku baik-baik. Aku datang ke sini dengan taruhan nyawa karena rahasia ini terlalu besar untuk dipendam sendiri. Sayembara Jagat Raya ini..., ini bukan tentang mencari panglima baru untuk menjaga pelestarian Majapahit!"
Ayuwangi menjeda, mengatur napasnya yang sesak. "Maharaja..., dia bukan lagi dirinya sendiri. Ayahandaku di Kadipaten telah mencium aroma busuk ini sejak lama. Maharaja sedang dikendalikan oleh kekuatan mistis hitam yang dilindungi oleh bayang-bayang. Kekuatan itu bukan berasal dari tanah Jawa, melainkan dari luar pulau, sebuah entitas kuno yang haus akan energi murni!"
Subosito mengernyitkan dahi. Dia memberikan isyarat dengan tangannya, sebuah gerakan bertanya yang berarti, "Lalu apa yang diatur dengan sayembara ini?"
“Gelar Panglima Tertinggi itu hanyalah umpan, Subosito,” lanjut Ayuwangi dengan nada mendesak. "Mereka ingin mengumpulkan kalian—para pemilik kekuatan elemen Papat Kiblat. Kala Dirja dengan Naga Perak-nya, kau dengan Garuda Emas-mu, dan mungkin dua pendekar misterius lainnya. Mereka membutuhkan energi elemen yang murni untuk dikorbankan dalam sebuah ritual kuno yang disebut Sakalat Purwa . Jika ritual itu berhasil, entitas yang mengendalikan Maharaja akan mendapatkan keabadian, dan seluruh nusantara akan jatuh ke dalam kegelapan abadi!"
Subosito terdiam sesaat, berita ini jauh lebih mengerikan daripada intrik politik Patih Mangkubumi yang selama ini dia bayangkan. Subosito hanya tersenyum tenang, lalu mengangguk perlahan seolah-olah dia sudah menduga adanya kegelapan di balik kemegahan Trowulan.
Ayuwangi menatapnya dengan bingung. "Kau hanya tersenyum? Apakah kau mengerti betapa bahayanya posisi kalian besok? Mengapa kau tidak bicara? Apakah lukamu begitu parah hingga kau kehilangan suaramu?"
Subosito mengambil sebuah batu arang kecil dari sudut tungku di dalam ruangan, lalu menuliskan beberapa kata di atas lantai kayu yang berdebu.
"Sura si Bisu. Penyamaran adalah perlindungan. Suaraku adalah api."
Ayuwangi membaca tulisan Subosito dengan napas tertahan. Gadis itu menyadari sepenuhnya bahwa pria di depannya telah membuang identitas lamanya, membuang suaranya, dan mengunci dirinya dalam kesunyian yang menyiksa demi bertahan hidup.
Ayuwangi melihat bekas luka bakar yang menyembul di balik kain punggung Subosito, menyadari betapa hancurnya hidup kesatria yang dulu dia kagumi.
Hati kecil sang putri hancur, lalu jatuh terduduk di depan Subosito, tangannya yang halus mencoba menyentuh pipi Subosito yang kasar, namun dia ragu. "Maafkan aku..., maafkan kami yang membiarkanmu menanggung semua ini sendirian. Melihatmu seperti ini, bekerja sebagai kuli, dihina sebagai orang bisu..., hatiku sangat terpukul, Subosito!"
Subosito meletakkan tangan kasarnya di atas tangan Ayuwangi, memberikan genggaman lembut sebagai tanda bahwa dia tidak menyimpan dendam. Subosito tersenyum, senyuman yang mengandung kedamaian seorang petapa, meski dia tahu besok adalah harinya mempertaruhkan nyawa. Subosito menegakkan kepala lagi ketika Ayuwangi bertanya apakah dia akan mundur dari sayembara.
Bagi Subosito, mundur bukan lagi pilihan. Jika dia mundur, Larasati akan berjuang sendirian, dan ritual itu akan tetap berjalan. Pemuda itu harus berada di pusat badai untuk bisa menghentikan dari dalam.
Malam semakin larut, dan suara ronda prajurit mulai terdengar mendekat. Ayuwangi tahu waktunya sudah habis. Dia mengenakan kembali cadarnya dengan tangan yang masih gemetar.
"Aku harus kembali sebelum faksi Mangkubumi menyadari aku tidak ada di tempat istirahat tamu," bisiknya. "Terima kasih karena masih hidup. Meskipun kau tidak berbicara kepada siapa pun, jiwamu berbicara lebih keras dari kata-kata yang pernah kutemui!"
“Jangan khawatir, kesehatan Ayahanda semakin membaik!” lanjut Ayuwangi tersenyum. “Warga telah mengetahui dan telah menganggapmu sebagai pahlawan, bukan lagi pengkhianat!”
Sebelum melangkah menuju jendela, Ayuwangi tiba-tiba menarik cadarnya sedikit ke bawah. Dia mendekat, dan dengan keberanian yang muncul dari rasa syukur yang mendalam, Ayuwangi memberikan sebuah kecupan singkat dan lembut di dahi Subosito. Sebuah kecupan yang membawa semua kenangan masa lalu dan harapan masa depan.
"Jangan mati besok, Sura," bisiknya sebelum menghilang ke dalam kegelapan malam dengan gerakan yang sangat lincah, terdengar di antara bayangan pohon-pohon besar.
Subosito menyentuh dahi yang masih terasa hangat oleh bibir sang putri. Dia tersenyum—senyum tulus pertama yang muncul sejak dia meninggalkan Lawu.
Kehadiran Ayuwangi bukan hanya memberi peringatan, tetapi juga memberi alasan tambahan agar tidak membiarkan Majapahit jatuh ke tangan iblis.
Setelah memastikan suasana di luar kembali sunyi, Subosito menutup jendela ruangan rapat-rapat. Pemuda itu kembali ke posisinya semula, duduk bersila di tengah ruangan.
Subosito mematikan lampu minyak, membiarkan dirinya ditelan kegelapan yang pekat.
***
Besok adalah babak empat besar. Dia akan berhadapan dengan Kala Dirja, atau mungkin dua pendekar misterius yang membawa aura kematian itu.
Subosito harus mempersiapkan sukmanya, dia tidak bisa hanya mengandalkan fisik atau kekuatan tanah Sungsang Aji lagi. Jika musuh yang dia hadapi adalah entitas mistis yang mengendalikan kerajaan, maka dia harus membangkitkan sisi Garuda Paksi yang selama ini dia takuti.
Subosito mulai mengatur napasnya dalam teknik Pranayama tingkat tinggi. Detak jantungnya melambat hingga ke titik terendah. Kesadarannya mulai ditarik keluar dari raganya yang lelah, masuk ke dalam relung batin yang paling dalam.
Dunia fisik di sekitarnya memudar, suara jangkrik menghilang. Bau penginapan pertama berganti dengan aroma kemenyan dan udara yang mengandung listrik statis.
Subosito telah memasuki Alam Piningit—ruang antara dunia nyata dan dunia gaib di mana energi aslinya bersemayam.
Di sana, di tengah pemandangan kota yang berwarna merah jingga tanpa matahari, sesosok raksasa telah menantinya. Namun, kali ini, situasinya berbeda. Tidak ada amarah yang meluap-luap. Tidak ada serangan yang membabi buta dari cakar emas yang tajam.
Sang Garuda Paksi berdiri tenang di atas sebuah batu karang yang terapung. Mata emasnya menatap Subosito dengan kecerdasan yang melampaui zaman. Sayapnya terlipat rapi, namun setiap helai bulunya memancarkan cahaya yang mampu membutakan mata manusia biasa.
Subosito melangkah maju dalam wujud sukmanya yang bersinar putih. Untuk pertama kalinya, dia tidak merasakan ketakutan saat berhadapan dengan entitas di dalam dirinya ini.
Garuda Paksi itu membuka paruhnya, namun suara yang keluar bukan berasal dari tenggorokannya, melainkan menggema langsung dalam kesadaran Subosito. Sebuah suara yang berat, agung, dan membawa beban sejarah yang sangat panjang.
“Kau akhirnya datang tanpa membawa rantai ketakutanmu, wahai Putra Lawu,” ucap sang Garuda.
Subosito membungkuk hormat. "Aku datang untuk meminta petunjuk. Musuh yang kuhadapi bukan lagi manusia, melainkan kegelapan yang menetap di bawah mahkota. Aku membutuhkan kekuatan penuhmu tanpa kehilangan jiwaku!"
Sang Garuda mengepakkan sayapnya secara perlahan, menciptakan badai kecil di Alam Piningit. "Kekuatan ini bukan milikku untuk kau kendalikan sepenuhnya, karena aku hanyalah wujud dari sebuah janji kuno. Jika kau ingin mengalahkan kegelapan di Trowulan, kau tidak boleh hanya menjadi penguasa api. Kau harus memahami siapa yang memerintahkan bulu-bulu emas ini di punggungmu!"
Subosito tertegun. “Maksudmu…?”
Garuda Paksi itu menatap jauh ke arah ufuk Alam Piningit, seolah sedang melihat menembus waktu. "Saatnya bagimu untuk mengetahui tentang Sang Pencipta Sayap. Dia yang memberikan amanah ini sebelum Papat Kiblat terpecah dan menjadi senjata perang. Hanya dengan mengenal-Nya, kau akan tahu bagaimana cara membakar iblis tanpa membakar dirimu sendiri!"
Di Alam Piningit itu, sebuah gerbang cahaya mulai terbentuk, dan Subosito merasakan tarikan yang kuat untuk memasuki bab baru dari kekuatan batinnya.
Persiapan untuk babak empat besar bukan lagi sekedar latihan fisik, melainkan sebuah perjalanan spiritual untuk menemukan asal-usul dari kutukan yang kini menjadi anugerahnya.
Pertemuan dengan Putri Ayuwangi telah mengungkap tabir gelap di balik Sayembara Jagat Raya, namun di Alam Piningit, Subosito justru dihadapkan pada misteri yang lebih besar lagi tentang jati dirinya.
Siapakah "Sang Pencipta Sayap" yang dimaksud oleh Garuda Paksi? Apakah pengenalan ini akan memberikan kekuatan Subosito untuk menghadapi ritual Sakalat Purwa, atau justru menjerumuskannya ke dalam tanggung jawab yang lebih berat daripada yang mampu dia pikul?
Jangan lewatkan kelanjutan kisahnya dalam 'Subosito'.