Dalam kisah ini, seorang mantan aktivis kurus berkacamata bernama Tento dan sahabatnya Perikus, mantan santri absurd yang pernah lari dari pesantren, terjebak dalam konspirasi gelap. Mereka menyelidiki cairan misterius B16 yang disuntikkan ke karyawan pabrik, membawa mereka menyusuri lorong-lorong bawah tanah, desa, pasar, hingga pelabuhan. Di perjalanan, mereka bertemu profesor eksentrik, jurnalis pemberani, dan saksi-saksi yang hilang. Di balik thriller menegangkan ini terjalin humor liar, obrolan soto ayam, dan persahabatan yang tak lekang. Bahasanya jenaka, penuh panca indera, namun juga memaksa merenungkan keadilan. Ini adalah perjalanan menantang dari gang sempit Malang sampai gelapnya pelabuhan, di mana dua orang biasa menghadapi raksasa korporasi demi menyelamatkan nyawa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Timotius Safari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Di Balik Tembok dan Balada K-Pop
Angin dingin musim dingin menghembus dengan kencang ketika mereka turun dari pesawat di Bandara Internasional Pudong, Shanghai. Hidung mereka langsung merasakan aroma campuran bahan bakar avtur dan rempah-rempah yang dijajakan dari kios jajanan di dalam terminal. Udara di luar bandara lebih dingin, menusuk tulang, memperlihatkan napas putih. Mereka menggigil, meski sudah mengenakan jaket tebal. Bandara ini jauh lebih besar dan modern daripada bandara di Indonesia, dengan dinding kaca, lantai marmer, dan papan informasi digital dalam huruf Mandarin dan Inggris. Orang-orang melintas cepat dengan troli, pakaian musim dingin, dan masker.
Mereka menatap papan yang bertuliskan “出境” dan “Immigration”, lalu masuk ke antrian. Petugas imigrasi berseragam biru muda memeriksa paspor dengan teliti. Rina tersenyum, mengucapkan “Nǐ hǎo” dengan pelafalan sedikit salah. Petugas tersenyum tipis, menyuruh mereka menempatkan jari di mesin sidik jari. Tento gugup, jari telunjuknya basah oleh keringat. “Apakah jari berkeringat akan membuatku ditahan?” gumamnya. Mereka tertawa pelan, namun tetap serius. Untungnya, semua berjalan lancar. Paspor mereka diberi cap, mereka melangkah keluar ke area umum.
Seorang pemuda dengan jaket hitam dan syal merah menunggu mereka, memegang papan dengan tulisan nama Rina dalam bahasa Pinyin. “Halo, selamat datang,” katanya dalam bahasa Inggris dengan aksen Mandarin. Ia memperkenalkan diri sebagai Wei, koordinator mahasiswa dari Universitas Fudan yang juga anggota White Lotus yang berpihak pada etika. Wei mengajak mereka keluar. Udara di luar lebih dingin. Mereka berjalan ke parkiran, menaiki van kecil yang dipanaskan, melewati jalan tol lebar yang dipenuhi mobil. Pemandangan kota Shanghai muncul: gedung-gedung pencakar langit, jembatan, iklan LED besar, dan menara Oriental Pearl Tower yang ikonik. Wei memutar lagu pop Mandarin pelan. “Kalian pasti lapar,” katanya. “Kita makan dulu.”
Mereka berhenti di sebuah restoran dim sum, di mana aroma bawang putih, jahe, dan kecap menyambut. Pelayan membawa bakul-bakul bambu berisi xiao long bao, dumpling berisi kuah panas, siu mai, dan baozi. Tento memegang sumpit, memandang bingung. Wei tertawa, mengajarinya. “Pegang seperti ini,” katanya, menempatkan sumpit di antara jari-jari Tento. Tento mencoba, dumpling nyaris terjatuh. “Soto lebih mudah,” katanya. Tawa pecah. Sambil makan, Wei menjelaskan. “White Lotus bukan hanya organisasi buruk. Ini cabang baru kami, terdiri dari mahasiswa yang menentang pelanggaran. Kami ingin membantu kalian masuk ke lab itu, tapi sulit. Lab B19 terletak di daerah industri di pinggiran Shanghai. Dijaga ketat. Satu-satunya cara masuk adalah melalui perusahaan pengolahan makanan yang memasok bahan.”
Setelah makan, mereka menuju asrama mahasiswa di Universitas Fudan, tempat mereka menginap untuk alasan keamanan. Asrama itu sederhana, bau kayu, lantai keramik, dekorasi Tahun Baru China berupa lentera merah dan kertas bergunting berbentuk bunga. Mereka berbagi kamar. Di malam hari, mereka duduk di kasur, mengenakan selimut, memeriksa rencana. Wei membuka peta. “Lab di sini,” katanya, menunjuk titik di layar laptop. “Pabrik ini memasok sayuran segar. Truk masuk, sayur masuk. Kita akan menyamar sebagai pekerja truk. Kalian harus memakai baju kerja, topi, masker.”
Mereka menyiapkan dokumen palsu, baju pekerja, dan kamera kecil. Maya, dari jarak jauh, mengirim instruksi enkripsi. “Ingat, jangan membuat suara,” katanya. Mereka berlatih mengangkat kotak, berbicara dalam bahasa dasar. Wei mengajarkan beberapa kalimat penting: “你好, 我来送菜” (Halo, saya datang mengantar sayur) dan “谢谢” (Terima kasih). Tento mengulang dengan aksen kocak, membuat Wei tertawa. Perikus mencoba, namun lebih baik. Mereka tidur dengan perasaan campur aduk: cemas, bersemangat, dan kedinginan.
Keesokan harinya, mereka bangun sebelum matahari terbit. Langit masih gelap, hanya lampu jalan yang menyala. Mereka mengenakan baju kerja, sarung tangan, topi. Wei mengantar mereka ke gudang sayur. Suara truk, bau sayur segar dan tanah basah memenuhi udara. Mereka memasukkan kotak-kotak bok choy, sawi, lobak ke dalam truk. Tento mendorong kotak, membayangkan dirinya di pasar. “Ini seperti kuliah kerja nyata,” gumamnya. Mereka masuk ke truk, bersembunyi di antara kotak. Van melaju ke arah pinggiran kota.
Perjalanan memakan waktu tiga puluh menit. Mereka melihat pabrik-pabrik dengan papan nama dalam huruf Mandarin dan Inggris. Mereka berhenti di gerbang sebuah pabrik besar dengan logo “HuaSheng Food Supply”. Satpam melihat kartu pengantar, memeriksa muatan. Mereka merasakan jantung berdegup. Satpam menandatangani, mempersilakan masuk. Mereka masuk ke area pemuatan. Bau sayur tercampur dengan bau kimia samar. Mereka menurunkan kotak, berjalan melewati pintu ke ruang penyortiran. Di sana, para pekerja memotong sayur, memakai topi, masker, sarung tangan. Suara mesin mengisi ruangan.
Wei menunjukkan pintu samping. “Di belakang ada lift yang langsung ke lab,” bisiknya. Mereka berjalan cepat, kepala menunduk. Pintu terbuat dari metal, ada panel. Wei memegang kartu keycard, memasukkan, pintu terbuka. Mereka masuk, menaiki lift kecil yang bau logam. Lift berhenti di basement. Pintu terbuka ke lorong sempit. Lampu neon berkedip. Suara mendengung dari mesin besar. Mereka menyusup ke ruang kontrol. Lewat jendela kaca, mereka melihat ruangan steril dengan dinding kaca tebal. Tiga orang memakai jas lab putih dan masker bekerja dengan tabung berisi cairan biru, hijau, dan ungu. Label di salah satu tabung: “B19 Variant, 2026”. Mereka menekan tombol kamera di kacamata, merekam. Wei memegang tablet, mengirim data ke Maya. Mereka mendengar percakapan dalam bahasa Mandarin. “Coba campuran baru,” kata salah satu. “Boss bilang kita harus uji pada tikus. Jika berhasil, kita kirim ke Dubai.”
Mereka terkejut. B19 bukan hanya ke China, tetapi ke Timur Tengah. Mereka merekam dokumen, foto. Mereka menemukan daftar nama perusahaan: Dubai BioFuture, Moscow TechMed, Beijing Elite, dan satu lagi: Jakarta Biotech. Mereka menelan ludah. Ada koneksi di negara mereka. Tiba-tiba, pintu berbunyi. Satpam masuk. “什么?” (Apa?) kata satpam. Wei menjawab cepat, “没事, 我们迷路了。” (Tidak apa, kami tersesat). Satpam mengernyit, menatap lama, kemudian menunjuk pintu keluar. “出去!” (Keluar). Mereka mengucapkan terima kasih dan buru-buru keluar.
Mereka kembali ke asrama, hati berdebar. Wei menutup pintu. “Itu gila,” katanya dalam bahasa Inggris. “Kita punya data, tapi kita harus pergi malam ini. Mereka mungkin memeriksa rekaman CCTV.” Mereka segera membereskan tas, melambaikan tangan kepada teman baru. “Terima kasih, Wei,” kata Rina. “Kalian luar biasa.” Wei tersenyum. “Kami satu tujuan,” katanya. Mereka naik van ke bandara Hongqiao, hati-hati. Maya mengirim sinyal, “Kalian aman?”
Sementara tim di Shanghai melakukan infiltrasi, tim lain, yaitu Profesor dan Sondi, terbang ke Seoul, Korea Selatan, untuk menghadiri konferensi bioetika yang diselenggarakan oleh Seoul National University. Mereka disambut oleh profesor Korea bernama Park, yang mengenakan setelan jas dan berbicara bahasa Inggris terbata. Mereka menghadiri konferensi di aula besar dengan bendera-bendera dunia. K-Pop instrumental diputar saat jeda, mengisi ruangan dengan ritme energik. Mahasiswa memakai sweater dengan logo idol group. Profesor tersenyum. “Kita berada di universitas, tetapi musiknya konser,” katanya. Park tertawa. “Begitulah di Korea,” katanya.
Dalam konferensi, mereka mendengarkan presentasi tentang doping, modifikasi genetika, dan etika. Seorang ilmuwan Korea mempresentasikan kasus doping dengan B18 di atlet. “Ini bukan doping biasa. Ini mengubah otak,” katanya. Para peserta terkejut. Profesor berbicara setelahnya, menyoroti peran White Lotus. “Ini bukan hanya doping. Ini pengendalian manusia,” katanya. Peserta konferensi bergidik. Mereka berdiskusi, mencari solusi. Di luar, reporter TV Korea meminta wawancara, menayangkan wajah Profesor di televisi. Orang Korea di jalan mengenali Rina, mengambil foto. “Kamu from Indonesia?” tanya seorang remaja. Rina tersenyum. “Ya,” jawabnya.
Selesai konferensi, mereka berjalan di Myeongdong, kawasan belanja ramai. Lampu neon menyala, aroma tteokbokki (kue beras pedas), kimbap (nasi gulung), dan ayam goreng menggoda. Orang-orang memegang tongkat selfie, mendengarkan lagu-lagu idol. Tento (yang ikut tim Shanghai) menelpon mereka melalui video call, menyanyikan lagu K-Pop, membuat Professor tertawa. “Nanti aku belikan lightstick,” katanya. Mereka membeli kimchi, mencoba hanbok (baju tradisional) di toko penyewaan, berfoto. Humor mereka tetap hadir, bahkan di negeri baru.
Kembali ke Indonesia, mereka menatap tumpukan data baru: nama perusahaan, rute pengiriman, formula B19, investor. Mereka duduk di ruangan kecil, menyalakan kipas angin karena listrik sering padam. Maya memaparkan analisis. “Dubai BioFuture berbasis di Dubai, milik miliarder misterius. Moscow TechMed milik oligarki Rusia. Beijing Elite milik taipan China. Jakarta Biotech didirikan oleh keluarga politisi Indonesia yang baru naik daun. Mereka ingin B19 untuk kekuatan otak, katanya. White Lotus terlibat,” jelasnya. Mereka terdiam. “Jakarta Biotech?” tanya Rina. “Kita punya musuh di dalam rumah.” Profesor menepuk meja. “Kita harus bertindak cepat. Kita harus berkoordinasi dengan KPK, Interpol, dan Komnas HAM,” katanya. Mereka juga merencanakan: satu tim akan fokus pada Dubai, satu tim pada Rusia, satu tim pada Jakarta Biotech. Mereka harus membagi tenaga. Mereka tahu, semakin jauh mereka pergi, semakin besar risiko.
Dalam minggu yang sama, mereka menerima undangan dari organisasi non-profit besar di Amerika Serikat yang fokus pada etika medis. Mereka menawarkan pendanaan untuk yayasan, pelatihan, dan jaringan. Tento mengangguk, bercanda, “Kita mendunia, semoga soto mendunia juga.” Mereka juga menerima surat dari seorang janda di Papua. “Suami saya meninggal karena program kesehatan perusahaan tambang,” tulisnya. “Saya baca cerita kalian. Tolong bantu.” Mereka terharu. Mereka memutuskan untuk mengirim tim ke Papua setelah misi internasional.
Ancaman terus berdatangan, tetapi mereka kini lebih siap. Kamera CCTV, satpam LPSK, dan enkripsi digital menjadi tameng. Mereka juga merawat diri. Mereka rutin berolahraga, berkebun, memasak, meditasi. Mereka membuat sesi curhat, membahas perasaan, ketakutan, harapan. “Kita bukan robot,” kata Rina. Mereka saling mendukung. Humor tetap obat. Saat Rina stress, Tento menirukan suara ikan. Saat Profesor terlalu serius, Perikus memutar video kucing. Tawa meredakan ketegangan.
Di tengah kesibukan, cinta pun hadir. Rina mulai dekat dengan seorang dokter muda dari Yogyakarta yang ia temui di konferensi. Mereka berbicara tentang etika, film, makanan. Dokter itu mengirimi Rina buku-buku tentang bioetika. Rina membalas dengan paket soto instant. Tento tertangkap kamera jalan bersama seorang jurnalis lokal yang sering meliput mereka. Foto itu viral, netizen menggoda. Tento tertawa, “Aku hanya diskusi keadilan,” katanya. Perikus bertemu wanita penulis yang mengajak bekerja sama menulis cerita mereka. Ia tertarik. Di balik setiap perjuangan, ada kehidupan yang bergerak.
Bab ini berakhir dengan mereka duduk di ruang tamu, menatap peta dunia yang ditancapkan pin dan tali warna-warni: merah untuk misi selesai, hijau untuk misi berjalan, biru untuk misi direncanakan. Tali menjulur dari Indonesia ke Swiss, Italia, Jerman, Belgia, Korea, China, dan kini Dubai, Rusia, dan Amerika. Mereka tahu peta itu akan semakin penuh. Mereka berbicara tentang masa depan. “Kita butuh lebih banyak orang,” kata Rina. “Kita perlu sistem, bukan hero,” kata Profesor. Tento menambahkan, “Dan kita perlu soto di setiap negara.” Semua tertawa. Hujan di luar semakin deras, tetapi di dalam rumah, hangat. Mereka mengangkat gelas berisi wedang jahe, bersulang. “Untuk bab berikutnya,” kata Rina. “Untuk dunia yang lebih baik,” kata Profesor. “Untuk ketawa,” kata Tento. Gelas bersentuhan, suara kecil bergema, seperti janji yang terus mereka pegang.