NovelToon NovelToon
DIA SUAMIKU BUKAN MILIK MU

DIA SUAMIKU BUKAN MILIK MU

Status: tamat
Genre:Keluarga & Kasih Sayang / Romansa / Pihak Ketiga / Suami amnesia / Peran wanita dan peran pria sama-sama hebat / Balas Dendam / Tamat
Popularitas:822.8k
Nilai: 5
Nama Author: Cublik

“Abang janji akan kembali ‘kan? Berkumpul lagi bersama kami?” tanya Meutia Siddiq, menatap sendu netra suaminya.

“Iya. Abang janji!” ucapnya yakin, tapi kenyataannya ....

Setelah kabar kematian sang suami, Meutia Siddiq menjadi depresi, hidup dalam kenangan, selalu terbayang sosok yang dia cintai. Terlebih, raga suaminya tidak ditemukan dan dinyatakan hilang, berakhir dianggap sudah meninggal dunia.

Seluruh keluarga, dan para sahabat juga ikut merasakan kehilangan mendalam.

Intan serta Sabiya, putri dari Meutia dan Ikram – kedua gadis kecil itu dipaksa dewasa sebelum waktunya. Bahkan berpura-pura tetap menjalani hari dimana sang ayah masih disisi mereka, agar ibunya tidak terus menerus terpuruk, serta nekat mau bunuh diri, berakhir calon adik mereka pun terancam meninggal dalam kandungan.

Dapatkah Meutia beserta buah hatinya melewati badai kehidupan?
Bagaimana mereka menjalani hari-hari berat itu ...?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cublik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter: 34

Pria yang dia tangisi setiap malam sebelum tidur, kini bisa dilihatnya lagi. Dipandangi puas tanpa takut setelah membuka mata maka sosoknya sudah gak ada lagi.

Lelaki telah dinyatakan sudah meninggal dunia, ternyata masih hidup – sekarang jarak mereka bukan lagi bumi dan alam lain, tapi hanya terbentang satu langkah.

Meutia lebih mendekat, sampai berdiri tepat di sisi ranjang pasien.

Ada kerinduan pada sorot matanya. Tak berkesudahan dirinya memandang wajah terlelap kekasih hatinya. Ingin rasanya memeluk, merasakan dekapan hangat, tapi urung.

“Abang.” Dia langsung membekap mulut kala suaranya terdengar nyaring di ruangan sunyi bercahayakan temaram, sebab lampu utama dimatikan.

“Akhirnya keyakinanku terbukti, Bang. Beribu kali mereka mengatakan kalau engkau telah tiada, tetap diriku keukeuh mempercayai kalau Abang masih hidup. Alhamdulillah, Allah yang maha pengasih … mengabulkan doaku. Mempertemukan kita dengan cara tak disangka-sangka,” bisiknya pelan sekali.

Tangannya menggantung kala keinginan menggebu menggenggam jemari di sisi tubuh tertidur pulas itu nyaris tak dapat ditahan.

Meutia mengepalkan jemarinya, untuk sekarang biarlah seperti ini. Meskipun tidak cukup, paling tidak sosok Ikram nyata bukan berwujud bayangan maupun hasil dari imajinasi semata.

“Abang ….”

Setetes air mata terjatuh disela-sela jari tangan Ikram. Meutia langsung panik, ingin menghapus atau berlari keluar kamar rawat inap ini.

“Siapa dirimu?” suara serak itu disertai kelopak mata terbuka.

Meutia terkejut, tubuhnya menegang. Dia mengangkat sedikit wajahnya sampai pandangan mata mereka bertemu.

Ritme jantung Ikram meningkat, hatinya berdesir, dari sorot mata penuh, sampai memicing mencoba mencari-cari sosok bersimbah air mata di hadapannya ini dalam memori otaknya.

Ikram menahan tubuh menggunakan siku sampai duduk dengan kaki berselonjor, jemarinya menekan saklar lampu utama di dinding samping ranjang.

Penerangan langsung terang benderang. Sosok yang tadi seperti bayangan dikegelapan kini terlihat sangat jelas.

Pria tampan itu menatap lama, padahal sebelumnya dia anti memandang wajah wanita di kelurahan Sampan, pun terhadap Arinta.

Namun, seakan ada magnet yang membuatnya tak bisa berpaling dari wajah sedikit tirus, netra basah dan tatapan sendu itu. “Siapa dirimu?” tanyanya ulang.

Meutia terlebih dahulu mengusap buliran air mata, tersenyum dengan getar pada bibir. Dia mundur sedikit, memberikan akses penuh suaminya untuk memandangnya.

“Kalau kukatakan, bahwa diri ini pernah membuatmu seperti orang kurang kerjaan mengikuti setiap kegiatanku – selama tiga tahun lamanya, apa kau percaya?” ia tetap mempertahankan senyum, walaupun air matanya mulai terjatuh lagi.

Alis Ikram hampir menyatu, ada kerutan pada keningnya. “Apa kau orang dimasa laluku?”

“Apa engkau mengharapkan cuma di masa lalu, tidak dengan saat ini dan masa depan, bang Ikram?” tanyanya berpura-pura memasang ekspresi kesal.

Reaksi tubuh sang pria diluar kendalinya, seperti terkena setrum kejut. “Maaf kalau kata-kataku kurang tepat.”

“Dimaafkan.” Dia mengangguk-angguk. Berusaha menekan rasa membuncah. “Entah sudah berapa kali kita saling memaafkan, tidak cukup lagi jari-jemari menghitungnya selama belasan tahun hidup dalam naungan atap yang sama.”

“Istri?” tanyanya tanpa disadari.

Anggukan itu membuatnya termangu. Wanita ini terlihat tidak asing, diapun tidak risih memandang lama, mencoba membaca raut wajah, gesture. Ada satu yang membuatnya tidak nyaman yakni, jatuhnya air mata.

“Kenapa? Apa Abang berpikir aku seorang penipu?”

“Tidak, bukan, cuma ….”

“Bingung ya? Maaf, Dalam satu hari, sangat banyak kejutan yang kami beri ke Abang.” Meutia tidak lagi mampu menahan rasanya. Dia berjongkok dengan tangis terisak-isak, wajah bersembunyi di lipatan tangan.

“Maaf bila mengejutkanmu, membuat Abang bertambah bingung … Tia mohon, beri kesempatan diri ini menangis penuh rasa syukur. Belasan bulan lamanya, aku selalu menyembunyikan air mata kala teringat tentangmu, kenangan kita. Rasanya … rasanya, masih seperti tidak nyata. Engkau yang ku rindukan disetiap hembusan napas, kini bisa membalas, menjawab pertanyaanku. Bukan lagi sosok bayangan, maupun yang cuma hadir di malam mimpi.”

Ikram turun dari tempat tidur, ada keinginan sulit ditahan – ingin sekali dia memeluk sosok yang menangis tersedu-sedu, tapi takut. Merasa kurang pantas, takut dikira lancang.

Yang dia lakukan cuma bersimpuh berjarak tiga langkah, menunggu sampai si wanita tenang dengan sendirinya.

Beberapa menit berlalu dalam kesunyian. sang pria tidak mengalihkan pandangan dari wanita berhijab yang kepalanya tertunduk, masih terus menangis.

Helaan napas Meutia terdengar panjang, sampai bahunya naik turun. Dari berjongkok, dia duduk memeluk lutut. Sebelah tangan mengusap lelehan air mata menggunakan ujung lengan baju.

Meutia mengangkat dagu sampai sejajar dengan wajah suaminya yang memandang sendu.

“Abang … terima kasih telah bertahan. Entah bagaimana caranya, tapi kurasa pasti itu sangat menyakitkan.”

“Maaf, aku tak bisa mengingat apapun, bahkan nama saja tidak tahu,” ada sesal di hatinya.

‘Seandainya saja Abang tahu telah memiliki seorang putra, dan tak ada disaat dia terlahir ke dunia – aku yakin, kau tak mampu menanggung rasa penyesalan itu.’ Meutia cukup bijaksana untuk tidak mengatakan semuanya pada sekali waktu.

Dia tahu betul bagaimana sifat suaminya. Pria itu ingin terlibat, mengetahui, ada di setiap momen perjalanan rumah tangga mereka.

“Tak apa. Asal Abang bisa Tia pandangi, tak lagi bayangan buram dan tiba-tiba menghilang dalam kabut tebal … aku ikhlas membersamaimu dalam masa penyembuhan ini,” suaranya serak, hari ini dia sama seperti belasan bulan lalu, saat mendapat kabar berita kecelakaan bus di tumpangi Ikram Rasyid.

“Walaupun hasilnya belum pasti, entah kapan amnesia ini sembuh. Bisa jadi bertahun-tahun lagi, apa kau tetap bersedia menemaniku …?” hatinya meragu, dia mengerti membersamai pria tanpa ingatan masa lalu bukanlah hal mudah, butuh kesabaran ekstra.

“Tahukah Abang ….” Dia tertawa kecil sebelum melanjutkan kalimatnya. “Dulu, ada seorang pria – sudah ditolak puluhan kali tetap maju mendekat. Dimanfaatkan, bukannya marah malah senang, karena merasa berguna dan dibutuhkan. Diusir setelah hadiah pemberiannya diterima, dia tak jerah … keesokan hari membawa lebih banyak lagi buah tangan, demi bisa menyapa meskipun acap kali di abaikan.”

Dengan sendirinya pipi Ikram menghangat, rona kemerahan merambat hingga daun telinga. Dia tersenyum, walaupun belum dapat menerka, dan tak mengingat apa-apa.

“Apa Abang tak penasaran tentang sosok pria kurang kerjaan itu ….?”

.

.

Bersambung.

1
tuti raniati
Novelnya bagus Thor seperti biasa gak pernah gagal 👍🏻
Vera Wilda
Terima kasih Thor cerita bagus 👍❤️❤️❤️
Vera Wilda
Bagus Meutia lawan tuh ulet bulu yg mau ambil suami mu memanfaatkan lupa ingatannya ikram
Vera Wilda
Cepatlah ikram ketemu dengan istri dan anak2 nya Thor kasihan mereka Thor ….
Annie Soe..
Trm kasih karyanya kak, sangat menghibur..
Vera Wilda
Dari pesan2 nya sebelum berangkat udah pasti itu suami Mutia akan pergi selama nya , baru mulai udah sedih 😞
Saya hadir Thor
Shee_👚
duh di cerita ini pun haujan belum ada🤣
Shee_👚
tetep ikut terharu😭😭
padahal ini ngubek nyari nama haujan🤣
Shee_👚
disini salut banget sama trio cebol, tapi di cerita intan suguh kesel sama perbuatan Danang 😤
Healer
jgn2 racikan itu supaya Dr ikram tak ingat apa2 lagi
Healer
Alhamdulillah akhirnya juragan Byakta dpt jg anak ya dgn Nirma kerana dlm novel sebelum nya beliau divonis mandul... mungkin jg takdir Allah yg berkata lain dan kecanggihan teknologi perubatan zmn skrg ✌️✌️
Yuli Yanti
Sesuai janji aq mamfir lgi thor ga bosen sma cerita nya
Punkpunk 234
baru nyimak.. ehh langsung 🥺
satya
dari bab 1 sampai sini kok gak berhenti sih nangisnya 😭😭😭😭😭 sampai bengkak mataku Thor....😭😭😭
rose🦋
yahhh tamat, seru ceritanya
rose🦋
akhirnya 😭😭😭😭
Cia Sanu
luar biasa
Cublik: Terima kasih, Kak ❤️
total 1 replies
Dewa Nara
bukannya Kamal Rashad nama anak nirma
elloi Rk
hai Mutia dan ikram, cinta kalian patut di tiru
sherly
aku tu baca novelmu selalu berasa kurang aja babnya, Thor .. alur cerita yg selalu enak buat dibaca .. tq thor
Cublik: Terima kasih Kakak 😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!