"Akan ku gunakan kekuatanku untuk melindungi orang-orang. Meskipun aku harus meminjam kekuatan dari iblis sekalipun."
Bercerita tentang seorang yang menjalani reinkarnasi disebuah dunia fantasi dimana sihir, legenda, dan mahluk mitologi adalah sebuah hal yang biasa ditemui sehari-hari.
Dengan harapan menjalani kehidupan yang aman dan nyaman, ia menjalani hari sebagai pahlawan tanpa tanding, seseorang yang "tak terkalahkan".
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arya Atmareja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#34 Tuan Puteri | Gadis ketiga
"Hey tunggu!"
"Tidak kau harus ikut denganku. Kalau tidak, aku akan berteriak bahwa kau telah memperkosaku di dalam penjara bawah tanah!"
Ancamannya terasa nyata, akan berbahaya jika dia melakukan itu. Aku yakin dia akan melakukannya. Seorang gadis yang mengangkat pedang di lantai penjara bawah tanah bukanlah gadis cengeng, dia gadis dengan tekad yang kuat.
Aku menyerah dengan itu. Aku mengikuti langkahnya di belakang.
Tanpa berkata apa-apa dia membawaku menuju sebuah rumah besar. Bahkan ini sama besarnya dengan rumah keluarga Ramvoldus di ibu kota. Aku menatap kagum ke arah rumah tersebut.
"Eeehhhh, jangan-jangan kau?"
Dia menjawab dengan menggerakkan kepalanya.
"Ayo kita masuk!"
Pintu gerbang yang besar menang tidak mendapatkan penjagaan. Namun ketika aku mendekati pintu, dua orang berbadan besar dan tegap berdiri di kedua sisi.
"Selamat datang kembali nona muda."
Keduanya menyambut kami dengan ramah. Sepertinya ini memang rumah keluarga bangsawan. Itulah mengapa dia di panggil tuan Puteri ataupun nona muda. Dia seorang bangsawan, kupikir begitu.
Tangannya yang terasa halus masih menggenggam tanganku. Menyeretku tanpa memperdulikan ku sedikitpun. Melewati ruang depan yang terlihat sangat mewah, persis seperti rumah keluarga Ramvoldus. Beberapa lukisan serta barang -barang antik berjejer disepanjang perjalanan. Apakah rumah keluarga bangsawan memang harus seperti ini?
Setelah beberapa ruangan yang dilewati.
"Hei, tunggu, kau mau membawa ku kmna?"
"Menemui orangtuaku tentu saja."
Tanpa ada ekpresi keraguan sedikitpun, dia menjawab dengan suara penuh keyakinan. Aku merasa sedikit kagum dengan sikapnya yang seperti itu.
"Ayah, aku pulang."
Dia mengetuk pintu dan langsung mendobrak masuk setelah berkata seperti itu.
"Aaahhhh,,,puteriku sayang. Kau baik-baik saja bukan?"
Kemudian dia meminta orang-orang yang ada di sana untuk meninggalkan ruangan. Nampaknya aku sedikit merasa dejavu, jangan-jangan dia seorang ayah yang seperti itu.
"Sayang siapa laki-laki yang bersamamu ini?"
"Dia calon suamiku."
Perkataan datar dan penuh keyakinan seperti biasa. Mengagumkan sekaligus menyebalkan.
"Aaaapa??? Aaaayah tidak salah dengar kan sayang? Suusuusuamiii?" Kau pasti sedang bercanda kan? Haha, ha ha ha."
Dia memaksakan tawanya disertai wajahnya yang di penuhi keringat dingin.
Selesai, aku yakin dia ayah yang seperti itu.ungkin sebentar lagi dia akan menangis karena memdengar anaknya ingin menikah.
"Tutunggu,,, ini pemaksaan. Aku tak pernah bilang setuju untuk menikahimu."
"Apakah kau tidak mau menikahi puteriku yang cantik ini? Hahh? Apakah dia tidak cukup cantik bagimu?"
Serangan mendadak. Aku tak menyangka mendapatkan serangan seperti ini dari sang ayah. Menakutkan, jantungku serasa hampir copot.
"Anuuu."
"Kau tidak mau? Kau pikir siapa dirimu hah?"
Suaranya semakin tinggi. Sementara Celesta menghela nafas melihat kelakuan ayahnya itu.
"Aduduhhh sayang ada apa, kenapa kau teriak-teriak seperti itu? Kau menakuti putri kesayangan kita."
"Ah ituuu, maafkan aku sayang."
Dia sepertinya adalah nyonya besar rumah ini. Dilihat dari penampilannya yang anggun, dia terlihat sangat cantik. Berbeda dengan lelaki menyebalkan dididi lainnya, dia tampak seperti seorang pemabuk.
"Ibuuuu."
"Araaaraa."
Celesta berlari menuju wanita yang ia panggil ibu.
"Ada apa sayang, Kenapa ayah mu berteriak-teriak seperti itu padamu?"
Celesta menggelengkan kepalanya.
"Tidak, bukan padaku, tapi padanya."
Dia menoleh padaku.
"Dia? Araaaa kenapa kau tidak memperkenslkan padaku sayang."
"Dia Milo, dia calon suamiku."
Lagi, pernyataan sepihak yang terdengar tanpa keraguan.
"Salam kenal, saya Milo, senang berjumpa dengan anda nyonya."
"Aduduhhh, aku Evelyn. Senang berjumpa dengan anda."
Sementara kami larut dalam obrolan singkat kami. Tusn besar rumah ini masih terlihat marah padaku.
"Sayang,,,?"
"Baiklah, aku mengerti. Aku Roland Cardina ayahnya Celesta."
"Senang berjumpa dengan anda tuan."
Dia hanya memalingkan wajahnya setelah sedikit menangguk.
"Sayang, kau tak boleh seperti itu terhadap tamu kita. Apalagi dia kekasih nya puteri kesayangan kita. Apakah kau tidak senang dengan itu?"
"Tidak. Dia, cecunguk ini, tidak msu mengakui Celesta. Dia harus dihukum!"
Dia mengepalkan tangannya dan dengan gigi yang terkunci serta wajah yang dipunuhi amarah dia memelototiku.
"Apa? Benarkah begitu anak muda?"
"Anu, maaf kan aku nyonya tapiii…"
"Kau! Pasti tidak bercanda kan? Kau berani macam-macam dengan puteri kesayangan ku. Itu artinya kau cari mati. Tentunya kay tidak seperti itu kan? Fufufufu."
Kata-kata yang sangat menakutkan, fakta aku bisa melawan ataupun melarikan diri seandainya itu terjadi tak membuat rasa dingin yang menjalar di tubuhku hilang begitu saja. Wanita ini, lebih menakutkan dari lelaki itu.
"Fiuhhh,,, ibuuuu."
"Ada apa sayang?"
Ekspresi wajah nya langsung berubah ketika dia menghadapi Celesta.
"Kalian menakuti Milo."
Celesta mendesah panjang.
"Ah maaf maaf, maafkan kami. Kami hanya inginkan yang terbaik untuk mu sayang."
"Itu benar, dan jika cecunguk ini membuatmu menangis. Akan ku kubunuh dan ku lemparkan mayatnya pada monster seriga di hutan sana."
Sialan, aku tak bisa melawan untuk saat ini. Posisiku sulit.
"Ayah ibu, aku ingin kalian mendengarkan permintaanku."
"Tentu saja sayang apapun itu, ayahmu ini akan berusaha mewujudkan nya."
"Aku ingin ayah melamar Milo untukku. Jika dia tak bersedia menerimaku, aku ingin ayah bertanya pada keluarga nya."
"Haha, tentu saja jika kau ingin seperti itu. Nah anak muda, apakah kau masih tidak ingin menikahi anakku hasah?"
Aku merasakan sedikit ancaman.
"Begini, nyonya , tuan dan juga Celesta, aku sudah memiliki dua calon istri. Aku tak berfikir untuk menambah jumlah nya menjadi tiga."
Sontak semua terlihat kaget mendengar perkataan ku.
"Araaaraa, kau tidak berbohong kan anak muda? Kalau kau berbohong kau tahu akibatnya bukan?"
Nyonya besar yang menakutkan.
"Tidak, aku benar-benar serius. Seorang gadis di kampung halaman dan seorang lagi di ibu kota sedang menungguku."
Aku menjawab dengan wajah serius.
Nyonya besar dan tuan besar saling memandang.
Tok tok tok
"Tuan permisi, boleh kah saya masuk?"
"Masuklah barden!"
Seorang laki-laki dengan postur badan seperti seorang pegulat profesional dengan otot-otot nya masuk ruangan.
"Duduklah!"
"Terimakasih tuan"
Di ruangan tersebut terdapat kursi sofa berbentuk huruf U ysng menghadap meja tuan beear berada. Aku yang duduk di sampibg Celesta menganggukkan kepalaku untuk menghormati kedatangan orang ini. Dia bersikap acuh dan membalas dengan tatapan sinis padaku.
"Tuan, maafkan saya. Saya mendapatkan informasi penting dan mendengar sedikit keributan disini."
"Tidak, semua nya baik-baik saja, namun ada sedikit masalah disini. Lalu, informasi apa?"
Laki-laki itu mendekati telinga tuan besar dan berbisik padanya.
Kemudian sang tuan mengangguk.
"Hey anak muda apakah kau benar-benar calon suamivdari nona muda kami?"
"Ituuu, itu bukan seperti yang kalian pikirkan."
"Apa? Kau pikir nona muda kami tidak cukup pantas untukmu hah?"
"Aku tidak berfikir begitu, ganya saja aju sudah memiliki calon istri."
Raut wajahnya segera berubah dan menodongkan pedangnya dengan penuh amarah.
"Kurang ajar! Akan ku bunuh kau! Kau berani-beraninya mempermainkan hati tuan puteri kesayangan kami."
"Tunggu tunggu, aku tidak mau bertarung dengan anda."
"Tenang lah paman barden!"
Untung saja Celesta segera menghentikan hal tidak perlu seperti itu.
"Ahh baiklah."
"Sayangku Celesta, jelaskan situasi nya pada kami mengapa hal ini terjadi!"
"Baiklah ayah. Diaaa,,, Milo, dia telah menyelamatkan nyawaku. Rubuhku sudah terkoyak oleh cakar Mantikor tadi, jika saja Milo tidak menjadi perisai hidup untukku. Dialah pria yang kuinginkan. Kuat dan baik hati."
"Benarkah? Lalu bagaimana dengan Mantikor nya?"
"Milo berhasil mengalahkan nya, bahkan dia mampu menaklukan lsntai terakhir seorang diri. Dia sangat kuat ayah."
"Uwahhh"
"Araraaa."
"Benar-benar kuat."
Setelah aku meninggalkan lantai penjara bawah tanah itu, aku berjanji untuk memberikan hidupku untuk nya, selain dia telah menyelamatkan hidupku, aku juga sangat mengaguminya. Dia telah mangamgil hatiku."
"Araaaraa, enaknya menjadi muda yah sayang."
"Aaaaahhhhh,,, ibu."
"Fufufu."
"Milo, aku akan bertanya lagi padamu, apakah kau mau menikahi putriku?"
"Maaf tuan, saya tidak bisa menjawabnya untuk saat ini."
"Baiklah kalau begitu, aku akan mengunjungi keluarga mu dan melamarmu. Hahaha. Tenang saja, aku tak akan bertindak sesuatubyang aneh terhadap Penyelamat puteriku. Namun setelah mendengar kau telah menyelamatkan puteriku, aku ingin kau menjadi mebantuku. Hahahaha."
Wajah Celesta terlihat gembira mendengarnya.
Tidak tidak tidak. Tidak bisa. Ini pemaksaan kehendak.
Aku menghela nafas.
"Nah kalau begitu, aku akan segera menemui keluargamu. Siapa nama keluargamu dan dimana berada anak muda?"
Celaka, jika mereka tahu bahwa nama keluargaku adalah Leon, mereka pasti akan menemui kakekku di ibu kota, aku pasti kesulitan jika itu terjadi.
Aaah sialan. Apa yang harus kulakukan.
Aku berfikir keras untuk mencari jalan keluar.
Aku menghela nafas dan menguatkan hatiku.
"Itu tidak perlu, aku menerima Celesta menjadi calon istriku. Tentu saja jika dia bersedia menjadi calon istriku yang ketiga."
"Hahaha, kau serakah juga anak muda."
"Fufufufu, pahlawan memang selalu di kelilingi wanita."
"Kurang ajar, bocah tengik."
"Aku tidak keberatan, aku tahu, sebelumnya pasti Milo telah banyak menarik perhatian gadis-gadis. Tidak apa bagiku asalkan masih bisa bersamanya."
Aku sedikit merasa tidk enak pada Celesta. Aku merasakan ketulusan darinya. Aku menghela nafas.
"Baiklah, kalau begitu mari kita bertamu pada calon beaan. Hahaha."
Ehhh, apakah sudah diputuskan? Sepertinya sudah.
"Milo sayang, dimana otang tuamu?"
"Anu, orang tua ku jauh berada di Eastmere, sementara kakek ku berada di ibu kota."
"Ooohhh begitu jadikau tinggal bersama kakekmu di ibu kota."
"Tidak, aku tinggal dirumah calon istriku."
"Apa???"
"Fufufu."
"Bocah sialan."
"Benarkah itu Milo?"
"Begitulah, jika kau ingin bersamaku, kau tak bisa menghindari hal-hal seperti ini Celesta."
"Baiklah, aku mengerti. Aku tidak cemburu, habya aaja aku merasa seandainya aku yang lebih dulu bertemu denganmu. Sudahlah."
Aku merasa kasihan terhadap Celesta.
"Lantas apakah kakekmu dari kaum bangsawan?"
"Sayang, kau tidak sopan bertanya seperti itu padanya."
"Maaf maaf, bukan maksudku. Aku hanya berfikir untuk menyediakan oleh-oleh yang pantas untuk mereka ketika kita datang berkunjung."
"Aahhh, begitu. Itu memang tidak buruk juga sayang. Lalu Milo?"
"Aah itu, aku merasa keluargaku bukanlah keluarga bangsawan, memang benar bahwa keluarga kami sedikit dikenal. Namun saya merasa kami bukanlah keluarga bangsawan ataupun keluarga saudagar kaya.
Aku tak ingin mengakui jika aku berasal dari keluarga Leon yang terkenal.
"Tidak apa, mungkin aku mengenal keluargamu."
Dia terus menekan ku.
"Sepertinya begitu."
"Lalu?"
Aku menghela nafas, aku tetap enggan menerima kenyataan bahwa aku terlahir dari keluarga Leon.
"Kakekku bernama Albert dan ayahku bernama Alfred kami menyandang nama keluarga Leon."
"Apa? Keluarga Leon? Keluarga Leon yang legendaris itu kan? Benarkan?"
"Begitulah."
"Hahahaha. Aku tak menduga hal ini akan terjadi, sangat mengejutkan. Hahaha."
"Fufufu, pantas saja kau dikelilingi gadis-gadis. Fufufu."
"Bocah tengik ini anggota keluarga Leon? Ini bohong kan?"
Perkataan ku mengguncang orang-orang yang berad diruangan ini, sementara itu Celesta hanya tertegun mendengarnya.
"Pantas saja, dari yang kudengar tadi dari Celesta, kau bisa mengalahkan Mantikor dengan mudah. Itu tidak mengherankan jika di dalam darahmu mengalir darah keluarga Leon yang legendaris. Hahahaha."
"Sulit dipercaya, jika saja tadi dia meladeniku,aku pasti dibuatnya babak belur."
Barden mengusap keringat di keningnya.
Apakah nama keluarga Leon begitu menakutkan baginya? Entahlah.
"Baiklah, kita harus merayakan ini. Puteriku akan menikah dan meninggalkan ku. Hiks hiks hiks."
Dejavu, aku sudah melihat ke arah mana ini akan bergulir. Seorang ayah yang begitu cengeng yang harus ditenangkan oleh istrinya.
"Nona muda akan pergi. Huawaaaaaa."
Eehhh,,,lelaki ini juga? Dua lelaki yang sedang menangis membuatlu sedikit merasa jijik.
"Sayang, puteri kita tidak akan menikah besok."
"Ah iya, hahahaha."
Dia memaksakan untuk tertawa sementara matanya masih mengucurkan air mata.
Sementara itu aku hanya bisa tersenyum melihat hal ini.
Setelah itu, aku masihen jadi tawanan Celesta, sebuah pesta untuk kami berdua di adakan padamalam harinya. Meskipun hanya keluarga dan orang-orang yanv ada di lingkungan keluarga Cardina saja yang hadir, namun ini cukup banyak orang yang hadir.
***
Balkon lantai dua kediaman keluarga cardina.
Aku menundukkan kepalaku, bergam pikirkan menghinggapiku.
"Milo, lagi-lagi kau meninggalkanku. Jahat."
Aku tersenyum m nghadapi Celesta yabg merajuk.
"Maafkan aku, aku tidak terbiasa berada di sebuah pesta."
"Benarkah?"
"Ya, begitulah. Aku tinggal di Eastmere dengan orang tuaku, aku tak pernah menghadiri pesta sebelumnya."
"Begitu yah. Tidak apa-apa kalau begitu."
Dia mendekatkan badannya kesampingku dan menyandarkan kepalanya. Nuansa harum semerbak dari tubuhnya.
Dia yang tadi kutemui di penjara bawah tanah telah berubah menjadi gadis yang sangat cantik. Rambutnya yang panjang berwarna hitam dengan sedikit hiasan di atasnya. Gaunnya juga terlihat sempurna. Dia terlihat sangat berbeda dari yang kulihat sepanjang hari ini.
"Milo, apakah kau sungguh-sungguh akan menikahi ku?"
"Begitulah, aku telah mengatakan sebelumnya. Aku tak bisa menarik kata-kata ku."
"Lalu apakah kau mencintaiku?"
Uwaahh mengagetkan, pertanyaan yang berbahaya.
"Lantas bagaimana dengan mu sendiri? Apakah kau benar-benar mencintaiku?"
Plakkk!!!
Sebuah tamparan mendarat di pipiku. Aku mengelus pipiku yang sakit.
"Jahat!!!"
Dia bergegas pergi, berlari meninggalkan ku sendirian diatas balkon.
Bagi yg suka novel fantasi & romance mampir yuk,,,,
“That Time One Summoned Class In The Another World”
PREMIS:
Mengenai dunia paralel. Mc dibenci oleh Heroine, tapi si Heroine lama-kelamaan suka sama Mc. ]