Setelah kematian ayahnya, Renjana Seana terombang-ambing dalam kehidupan tak terarah, gadis yang baru menginjak umur 20 an tahun dihadapkan dengan kehidupan dunia yang sesungguhnya disaat ayahnya tidak meninggalkan pesan apapun. Dalam keputusasaan, Renjana memutuskan mengakhiri hidupnya dengan terjun ke derasnya air sungai. Namun takdir berkata lain saat Arjuna Mahatma menyelamatkannya dan berakhir di daratan tahun 1981. Petualangan panjang membawa Renjana dan Arjuna menemukan semua rahasia yang tersimpan di masa lalu, rahasia yang membuat mereka menyadari banyak hal mengenai kehidupan dan bagaimana menghargai setiap nyawa yang diijinkan menghirup udara.
by winter4ngel
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahyu Ela Safitri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertemuan pertama
Juni 2022
Mobil Fortuner putih membawa rombongan dengan pakaian rapi menuju ke salah satu universitas, empat orang pria sekitar umur 22 tahun heboh bernyanyi lagu The Lantis-Lampu Merah yang terdengar melalui radio di dalam mobil. Mobil itu berhenti di depan lampu merah, kemacetan di pagi hari yang sama sekali tidak menyebalkan karena udara dingin setelah hujan.
“Tapi ku berada di lampu merah! Ku harap, Kau sabar untuk menunggu aku disana. Walau ku berada di lampu merah! Ku yakin, semua ini hanyalah hambatan sementara...” teriakan semua pria didalam mobil menggema bersamaan dengan lirik lagu yang di putar.
Wajah mereka semua nampak sangat bahagia, tiga orang mengenakan kemeja batik rapi sedangkan satu orang yang berada di balik kemudi mengenakan setelan jas. Persahabatan yang dimulai dari kelas 10 sekolah menengah atas hingga kuliah semester akhir, bahkan setengahnya sudah lulus. Tidak ada kata iri dengki, karena semua punya jalan hidupnya masing-masing. Arjuna Mahatma di sisi kiri depan, Ganesha Arya di sisi kanan mengemudi, Armada Putra di belakang kursi kemudi, dan terakhir Nova Baskara di bangku sisi kirinya.
Hari ini Ganesha wisuda, anak lulusan Psikologi yang lulus empat tahun dan Cumlaude. Ganesha memang paling pintar di antara ketiga temannya, dia selalu mendapatkan juara dalam olimpiade saat di sekolah menengah atas. Sedangkan ketiga temannya fokus belajar akademik dan non akademik, terutama Mada dan Nova sang anak Basket, untuk Arjuna sendiri, dia fokus dengan kegiatan menggambarnya yang tidak berguna saat sekolah dulu. Tapi karena dia kuliah mengambil Desain komunikasi visual atau DKV jadi tidak terbuang sia-sia bakatnya.
Ganesha mulai melajukan kembali mobilnya memasuki gerbang kampus, pria itu sangat akrab dengan satpam sampai lewat pun Ganesha memberikan satu kantong plastik roti dan minuman yang dibeli di supermarket sebelumnya. Karena Ganesha tau kalau ini kali terakhirnya memasuki gerbang kampus, dia tidak berniat melanjutkan S2 atau pun yang membuatnya kembali ke kampus. Mencari parkir mobil yang paling dekat dengan lapangan rektorat karena mereka berencana mengambil foto bersama disana.
“Tungguin disini aja, paling selesai siang, ntar aku traktir setelah wisuda.”
“Nyokap bokap gimana Nes?.”
“Udah masuk mereka.”
“Ya udah.”
Ganesha melakukan wisuda di gedung, sedangkan Arjuna, Mada, dan Nova duduk di salah satu bangku yang ada di sekitaran lapangan rektorat sambil merokok. Sesekali berbincang kemana mereka setelah lulus, pandangan Arjuna tertuju pada gadis yang keluar dari mobil taksi, kebaya soft cream melekat indah di tubuh rampingnya menarik perhatikan Arjuna, tapi yang lebih menarik adalah wajah dinginnya.
“Hei Jun!.” Panggil Mada yang membuyarkan lamunan Arjuna.
“He? Kenapa?.”
“Jadi pindah ke rumah Kakekmu?.”
“Jadi, setelah lulus tahun ini.”
“Wih yakin bisa lulus tahun ini.”
“Yakin lah, bisa kena omel nyokap bokap kalau nggak lulus. Males banget dengerin ceramahnya setiap hari.”
“Kita bisa pisah kota dong.”
“Kita semua lebih tepatnya.” Arjuna menghisap rokoknya sambil melihat orang yang berlalu lalang di depan mereka bertiga.
Setelah lulus tahun ini atau tahun depan, mereka berempat akan pisah kota. Arjuna yang akan tinggal dan bekerja dari rumah kakek neneknya, Mada yang akan melanjutkan bisnis Resort di Bali, Nova pergi studi S2 di Australia, dan terakhir Ganesha yang langsung pindah ke Jepang bersama keluarganya.
“Kapan rencana mau nikah?.” Nova meneguk kopi kaleng miliknya.
“Belum ada rencana.” Jawab Mada dan Arjuna bersamaan.
Hampir setengah hari menunggu akhirnya Ganesha keluar dari gedung tempat acara wisuda, mereka berempat mulai mengambil foto-foto, tapi sebelum itu Ganesha foto lebih dulu dengan keluarganya. Sambil menunggu giliran, Arjuna pergi ke mobil untuk mengambil barangnya yang ketinggalan.
Bruuukkk!!
“Sorry.” Arjuna melihat gadis yang menunduk di depannya sambil melihat buku ijazahnya yang jatuh, Arjuna langsung buru-buru mengambilnya lalu memberikan padanya. Karena Arjuna yang salah maka dia juga harus bertanggung jawab mengambilnya, walaupun gadis itu terlihat tidak mempermasalahkan apapun.
“Thanks.” Ucapnya yang langsung melanjutkan langkah meninggalkan Arjuna.
“Tung-.” Belum sempat Arjuna mengatakan apapun, dia sudah lebih dulu menjauh ke mobil yang berhenti menunggunya di pinggir jalan. “Yah udah pergi.” Jantung Arjuna terasa berdetak lebih dekat, “Ei ga mungkin aku suka dia kan?.” Arjuna kembali melanjutkan kegiatannya menuju ke mobil.
Acara makan-makan yang dijanjikan Ganesha hanya berlangsung beberapa jam saja sampai mereka berpisah dengan kedua orang tua Ganesha untuk kembali ke penginapan atau hotel tempat mereka menginap. Mereka bertiga tidak tinggal di kota ini, Ganesha pun sama, dia awalnya ngekos disini tapi karena pandemi dan kampus pun diberlakukan kuliah online, akhirnya dia pulang ke Bandung. Mobil mereka masuk ke area parkir hotel, ada beberapa kamar di hotel tersebut tapi mereka berempat menempati dua kamar di lantai dua sisi kanan, kamar 2.4 dan kamar 2.3. Karena masih belum ingin istirahat, mereka berempat bermain truth and dare menggunakan kartu Uno, yang kalah Uno harus memilih truth or dare. Tanpa alas apapun, mereka berempat duduk di lantai yang dingin karena terkena ac.
Keseruan itu tanpa sadar sudah mulai gelap, Arjuna berdiri dari duduknya. “Aku beli minum dulu di lobby bawah.” Terlihat beberapa botol kaleng minuman sudah habis, hanya tersisa satu botol besar air mineral saja.
“Nitip rokok sekalian Jun.”
“Mau ngerokok dimana? Ga usah aneh-aneh deh Mad.” Protes Ganesha si paling lurus dan tidak menghisap rokok.
“Di balkon luar kan bisa, di bawah juga bisa. Nitip Jun.”
“Ikut aja, beli sendiri.” Jawab Arjuna santai sambil memasukkan dompetnya ke dalam saku celana.
“Ikut, mau nyebat sekalian beli makan.” Nova beranjak dari duduknya ikut dengan Arjuna.
Pada akhirnya mereka berempat ikut turun dengan Arjuna kebawah, Nova dan Mada merokok sedangkan Arjuna dan Ganesha membeli makan makan di warung dekat sana, hanya beberapa meter saja.
Entah sudah jam berapa tapi mereka kembali naik ke lantai dua sambil menceritakan beberapa kejadian selama membeli makanan. Garis tangga pertama, saat naik ke garis tangga ke dua. Mereka berempat berpapasan dengan seorang gadis yang turun dari lantai dua, gadis berambut panjang dengan tinggi sekitar 160 CM memakai kaos oblong putih dengan celana pendek dan sandal hotel. Arjuna terdiam sejenak memperhatikannya, tapi gadis itu menatap depan dengan tatapan dingin. Hanya berpapasan beberapa detik, Arjuna menoleh kebelakang, melihatnya yang mulai menghilang di balik pembatas tangga.
“Cakep uii.” Ucap Mada yang langsung dipahami semua teman-temannya siapa yang dimaksud.
“Ngapain cewek sendirian di hotel? Open BO?.” Nova dengan wajah polosnya tapi tidak berpikir panjang saat bicara.
“Mulutmu Nov!.” Bentak Ganesha.
“Dia anak satu kampus sama kamu Nes.” Arjuna menarik perhatian ketiga temannya yang penasaran, “Apa? Enggak, aku tadi ga sengaja papasan waktu di kampus, dia pake kebaya dan bawa Ijazah.” Jelas Arjuna, namun wajahnya terlihat gugup. Semua teman-temannya tahu jika Arjuna menyukai seorang wanita maka wajahnya akan gugup dan berusaha mengalihkan pembicaraan.
“Otw nikah first nih Jun.” Mada merangkul Arjuna sambil tertawa kecil.
“Apaan nggak ada.” Arjuna melanjutkan langkahnya menuju ke kamar, tapi sebenarnya dia tengah bimbang. Disisi lain Arjuna ingin berkenalan dengan gadis itu tapi di sisi lainnya Arjuna malu dengan teman-temannya.
Sebelum masuk kedalam kamar, Arjuna duduk di kursi yang memang disediakan di depan setiap kamar, dua kursi dan satu meja. Arjuna meletakkan bungkus rokoknya di atas meja setelah mengambil satu batang untuk di hisap.
“Waduh bilang aja mau modus bentar Jun.” Mada duduk di kursi kosong satunya sambil mengambil satu batang rokok milik Arjuna.
“Ga usah ngaco.” Bantah Arjuna.
“Kalau suka bilang aja Jun, kamu nggak jelek kok. Nggak inget tuh anak kelas 11 yang sering ngejar-ngejar sampai berantem karena rebutan seorang Arjuna Mahatma.” Mada mengimbuhi, pria itu berdiri di dekat sana sambil makan camilan dan melihat ke lantai bawah dari balkon.
“Kalian semua kenapa coba.”
Selang beberapa menit kemudian terlihat gadis itu dengan beberapa kantong plastik di tangannya masuk kedalam untuk naik ke lantai dua.
“Tuh Jun, orangnya naik. Buruan gas aja!.” Nova heboh sendiri.
Mada langsung berdiri dan menarik Arjuna, namun Arjuna enggan melakukannya.
“Ga.”
Mereka berempat terus ribut menyuruh Arjuna hingga gadis yang tengah dibicarakan pun terlihat berjalan menuju ke kamarnya, hanya sekilas melihat ke arah mereka berempat dengan tatapan dingin. Mada yang sudah tidak bisa menahan diri langsung berlari menghampirinya sambil tersenyum tidak nyaman.
“Hei.” Teriak Mada yang membuatnya menghentikan tangan untuk membuka kunci pintu kamar, Gadis itu menoleh ke arah Mada.
“Ada yang bisa saya bantu?.” Suaranya datar dan dingin, tapi lembut di pendengaran Mada.
“Temanku ada yang ingin berkenalan.”
“Maaf saya tidak ada waktu.” Belum sempat Mada menjawabnya kembali, gadis itu sudah buru-buru masuk kedalam.
Mada kembali dengan tangan kosong, tanpa nama dan nomor ponsel yang bisa di hubungi.
Ganesha menepuk pundak Arjuna, “udah deh kalo gini ikhlasin aja Jun.”
Mereka semua masuk kedalam kamar masing-masing, selama Mada menghabiskan waktu di kamar mandi. Arjuna duduk di sofa tengah berpikir, rasanya akan mengganjal terus jika dia tidak menemuinya, setidaknya berkenalan atau meninggalkan kontak masing-masing. Arjuna langsung berdiri dari duduknya dan keluar dari kamar, menarik nafasnya dalam-dalam lalu berjalan menuju ke kamar 2.2.
Arjuna kembali menarik nafasnya kemudian mengetuk pintu kamar itu beberapa kali, tapi tidak kunjung dibuka. Perasaan Arjuna menjadi sangat kacau, wajahnya menunjukkan tidak baik-baik saja, Arjuna bukan anak psikologi seperti Ganesha tapi wajah gadis itu menunjukkan kesepian dan keputusasaan, dengan panik Arjuna juga mengetuk melalui jendela tapi tidak juga di buka. Hingga selang beberapa menit seorang pelayan hotel menghampirinya.
“Maaf, pemilik kamar mengatakan ada yang mengganggunya. Bisa anda-.”
Arjuna menyentuh dadanya sambil menghembuskan nafas, “Aku pikir dia kurang baik. Terimakasih, maaf mengganggu.” Arjuna melirik buku kecil serta pulpen di saku pelayan tersebut, “Bisa minta tolong?.”
“Bisa, apa yang bisa saya bantu.”
“Itu.” Arjuna menunjuk buku dan pulpen yang ada di saku pelayan, kemudian pelayan tersebut memberikan buku serta pulpennya pada Arjuna.
Arjuna menuliskan pesan kecil di kertas yang sudah dia sobek satu.
Maaf aku mengganggu malammu, kita bertemu sebelumnya, aku tidak sengaja membuat ijazahmu jatuh tadi siang. Jika kamu kurang baik, tetap semangat dan salam kenal.
+6285******** ini kontakku\, aku ingin berteman denganmu.
Setelah itu Arjuna memberikan kertas yang dilipat pada pelayan, “berikan padanya jika bertemu, katakan dari kamar 2.4.”
“Siap mas.”