Dikhianati kekasih dan juga sahabat sendiri adalah hal yang paling menyakitkan bagi seorang Gea Anastasya. Gadis 24 tahun itu sangat syok melihat secara langsung pengkhianatan dari dua orang yang sangat ia percayai.
Rasa kecewa Gea membuatnya mati rasa terhadap pria manapun, sampai akhirnya ia tak sengaja bertemu dengan Duda anak satu yang berhasil mematahkan janji Gea pada dirinya untuk tidak membuka hatinya kepada siapapun.
Mau tau cerita selanjutnya? Langsung klik subscribe yaaa!!! ❤
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon muliyana setia reza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps 34 : Orang Asing
Gea mengucap syukur sekaligus berterima kasih kepada Pak Ojek yang telah mengantarkannya pulang sampai ke rumah. Padahal sebelumnya Gea sempat kebingungan dengan arah jalan pulangnya dikarenakan jalur pulang ke rumah berlawanan arah dan Pak Ojek dengan sabar mengendarai motor hingga akhirnya berhasil membawa penumpangnya sampai ke tujuan dengan selamat.
“Berapa Pak?” tanya Gea.
“15 ribu aja Neng!” serunya.
“Kok murah sekali Pak? Padahal jarak yang ditempuh cukup jauh,” balas Gea sembari memberikan yang 20 ribu dan tak meminta kembaliannya.
Pak Ojek itu mengucapkan terima kasih sebelum akhirnya pergi mencari penumpang lainnya.
“Assalamu'alaikum!” Gea masuk ke dalam rumah dengan langkah yang mulai terasa sakit.
“Waalaikumsalam! Obat Ibu mana Gea?” tanya Ibu Sri.
Gea merogoh saku jaketnya untuk segera memberikan obat yang sudah ia beli sebelumnya di apotek.
“Kenapa, Nak?” tanya Ibu Sri melihat Gea sibuk mencari sesuatu disaku jaketnya.
“Bu, Gea pergi lagi ya. Sepertinya obat Ibu jatuh di jalan,” ucap Gea yang hendak pergi ke apotek untuk kembali membeli obat Sang Ibu.
“Jatuh? Memangnya jatuh di mana? Kamu yakin sudah menyimpannya dengan baik?” tanya Ibu Sri memastikan.
Gea tidak mungkin berkata jujur mengenai kejadian yang cukup membuat suasana hatinya tak menyenangkan karena tak sengaja bertemu Radit bersama istrinya.
“Gea beli lagi ya Bu,” ucap Gea yang langsung ditahan oleh Sang Ibu.
“Mau pergi kemana? Biar nanti Ayahmu saja yang belikan. Kamu sebaiknya beristirahat,” balas Ibu Sri yang terus menahan tangan Gea agar tak pergi.
“Maaf ya Bu. Tidak seharusnya Gea teledor seperti ini.” Gea menunduk sedih karena obat yang ia beli untuk Ibu Sri terjatuh karena berusaha menghindari kejaran Radit.
“Sudah, jangan sedih. Kalau sudah begini ya mau bagaimana lagi? Ibu sama sekali tidak marah. Kamu sebaiknya ganti baju, setelah itu pergilah makan. Ibu memasak makanan kesukaan kamu.”
Gea yang sudah cukup lelah, perlahan berjalan menuju kamarnya seraya menahan sakit karena terlalu lama berlari.
“Aku tidak sadar kalau kakiku bengkak,” ucap Gea bermonolog.
Gea teringat akan minyak oles miliknya dan mulai mengoleskannya di pergelangan kakinya yang bengkak itu.
***
Keesokan Hari.
Gea sudah siap untuk pergi bekerja tiba-tiba dibuat kecewa oleh Rika yang mendadak memintanya untuk masuk kerja pada siang hari. Padahal nanti sore Gea dan orang tuanya ada acara keluarga di luar.
“Gea tidak jadi berangkat kerja Bu,” ucap Gea yang terdengar tak bersemangat.
“Kenapa tidak jadi berangkat kerja, Nak?” tanya Ibu Sri sembari meletakkan segelas teh hangat untuk putrinya.
“Bu Rika mengirim pesan mendadak,” jawab Gea seraya memperlihatkan pesan yang ia terima dari Rika.
Ibu Sri bisa melihat jelas betapa sedihnya Gea karena mereka tidak jadi untuk pergi bersama-sama.
“Apa Gea izin saja ya Bu?” tanya Gea yang tidak ingin kehilangan kesempatan berkumpul dengan orang tuanya serta keluarganya yang lain.
“Kenapa harus izin Gea? Masih ada hari lain kok. Lagian kamu tidak bisa izin mendadak seperti ini,” balas Ibu Sri.
Gea tidak bisa berbuat banyak. Gadis itu memilih untuk menerima dengan lapang dada dan duduk tenang dengan segelas teh hangat yang sebelumnya telah disiapkan oleh Sang Ibu.
Ponsel Gea kembali berbunyi dan untuk kedua kalinya Rika mengirim pesan padanya.
Gea membaca pesan yang ia terima dan senyumnya kembali terlukis diwajahnya itu.
“Ada apa lagi?” tanya Ibu Sri penasaran.
“Gea berangkat ya Bu!!”
Gea kembali memperlihatkan pesan singkat yang dikirim Rika padanya dan setelah itu Gea pamit untuk berangkat kerja.
***
Sesampainya di restoran, Gea rupanya sudah disambut hangat oleh Ican dengan pelukan kecil yang mana membuat pekerja yang lain merasa tak suka dengan kedekatan yang terjalin antara Gea dan Ican.
Seorang gadis dengan langkah kecil berjalan menghampiri Ican yang sedang memeluk Gea.
“Ican...” Gadis itu segera mengambil Ican menjauh dari Gea.
Gea tercengang beberapa detik dan di detik berikutnya Gea melangkah cepat menuju dapur.
Ican yang ingin menyusul Gea dengan cepat dihentikan oleh Bunga yang tak lain adalah adik dari Almarhumah Yani, Mama dari Ican.
“Ican jangan dekat-dekat dengan orang asing. Ican paham maksud Tante?” tanya Bunga dengan nada sedikit tinggi.
Bocah kecil itu tak menjawab apa yang dikatakan Bunga. Hanya yang terlihat mata Ican berkaca-kaca bersiap untuk turun membasahi pipinya.
Melihat Ican akan menangis, Bunga langsung meminta maaf dengan suara lembut.
“Maafin Tante ya Ican, Tante tidak bermaksud membuat Ican nangis. Ican sekarang jangan sedih ya, mau Tante belikan es krim kesukaan Ican yang banyak?” tanya Bunga.
Ican tak langsung menjawab, bocah kecil itu seperti sedang berpikir.
Bunga tersenyum lebar dan mengecup pipi Ican agar keponakannya itu merasa nyaman berada di dekatnya.
“Bagaimana?” tanya Bunga yang ingin tahu jawaban pasti dari Ican.
Ican perlahan menganggukkan kepalanya dan saat itu juga Bunga menggendong Ican membawa keponakannya itu pergi ke minimarket terdekat untuk membeli es krim kesukaan Ican.
Hasan yang ingin mengajak pulang Ican, tak mendapati putra kecilnya disekitar tempat Ican bermain. Hasan pun berinisiatif pergi ke area dapur karena mengira kalau Ican pasti pergi menemui Gea.
“Gea! Apa Ican ada di sini?” tanya Hasan memastikan.
“Ican tidak ada di sini, Pak. Ican tadi ada di depan bersama perempuan cantik,” jawab Gea yang saat itu sedang mengelap piring.
Hasan sepertinya membutuhkan keterangan lebih jelas dan Gea menggambarkan wanita yang ia maksud.
“Terima kasih!” Hasan segera meninggalkan area dapur untuk memastikan apakah wanita yang dimaksud oleh Gea adalah Bunga, adik iparnya.
Dari kejauhan nampak Ican yang sedang terjadi tersenyum puas karena mendapatkan es krim yang ia inginkan secara cuma-cuma dari Tantenya tersayang.
“Kamu kapan datang kesini, Bunga?” tanya Hasan menghampiri keduanya.
“Mas Hasan apa kabar? Maaf ya, Bunga datang kesini tidak memberitahu Mas Hasan,” jawab Bunga dan memberikan es krim dengan rasa coklat pada Hasan.
“Maaf, tapi aku hari ini sedang berpuasa.” Hasan menolak es krim pemberian Bunga dengan cukup sopan.
Bunga buru-buru memasukan es krim ke kantong plastik sekaligus meminta maaf kepada Hasan.
“Bunga mau makan atau mau langsung pulang? Biar Mas pesankan mobil,” ucap Hasan sembari mengeluarkan ponselnya untuk memesan mobil online.
“Bunga masih mau di sini sama Ican, Mas. Apa boleh Bunga pergi ke dapur? Bunga mau memasak makanan untuk Ican,” ujar Bunga yang sangat ingin memasak makanan untuk keponakannya itu.
“Macih kenyang,” sahut Ican seraya menyentuh perutnya yang masih kenyang.
“Ican dan Mas baru saja makan. Daripada repot memasak makanan di dapur, akan lebih baik kamu makan makanan yang sudah tersedia,” pungkas Hasan yang hanya dibalas senyuman oleh Bunga.
Mohon klik suka, beri komentar dan vote