Usia 17 tahun dihadapkan dengan masalah pernikahan yang dilandaskan perjodohan. Sebuah pernikahan rahasia. Akankah pernikahan mereka berakhir bahagia?
///
Ternyata calon suamiku merupakan pria yang menyaksikanku diputuskan pacarku saat memergokinya selingkuh.
///
Di sisi lain pria itu terpaksa menggantikan sang kakak untuk menerima perjodohan demi mendapatkan kebebasan. Dan ternyata sahabatmu menyukai instrimu. Apa yang harus dilakukan? Mendukung? Mencegah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rtgnda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 34
Dalam pesawat Sava tidak bisa menghindari Fariz lagi. Tempat duduknya sudah diatur bersampingan dengan suaminya itu.
Sava menyetel musik lalu memakai headphone kemudian memejamkan matanya.
Ada sekitar 15 menit menunggu pesawat take off.
Fariz memperhatikan Sava belum memasang sabuk pengaman kemudian berkata, "Pakai sabukmu".
Tidak ada pergerakan dari Sava. Fariz memperhatikan Sava seperti sudah tertidur. Ia berniat memasangkannya.
Sava duduk di dekat jendela dan berada disebelah kiri Fariz. Fariz kesulitan meraih sabuk sisi kiri Sava. Sava tersentak merasakan ada seseorang menyentuhnya. Sava membuka matanya. Terlihat Fariz seperti sedang memeluknya. Dengan sigap Sava mendorong Fariz dengan keras hingga kepala Fariz terbentur.
"Apa yang kau lakukan hah? Pakai sabukmu", ucap Fariz geram dengan nada berbisik.
Sava tidak mendengar ucapan Fariz ia malah menatap tajam Fariz lalu menyilangkan tangannya.
Fariz melepas headphone yang dipakai Sava lalu mendekatkan bibirnya ke telinga Sava dan mengatakan, "Pakai sabukmu".
Dengan sigap Sava memasang sabuknya dan meraih headphone dari genggaman Fariz kemudian memakainya dan kembali memejamkan matanya.
///
Sava tidak sadar kalau mereka sudah sampai. Ia membuka matanya menatap isi pesawat, ternyata sudah sepi. Hanya tinggal ia dan Deshi.
"Kita ditinggal? Kenapa sepi sekali", tanya Sava.
"Nona tertidur. Tuan Fariz menyuruh saya menemani nona sampai urusan bagasi selesai. Setelah itu saya membangunkan nona dan kita langsung ke lobi untuk pulang ke kediaman nona dan tuan", jelas Deshi.
"Apa? Jadi kami tidak tinggal dengan ayah dan bunda? Lalu nenek? Nenek di mana?", tanya Sava.
"Nyonya Duma diminta tuan untuk langsung pulang agar bisa beristirahat. Nona dan tuan muda tidak tinggal dengan tuan besar dan nyonya. Nanti nona bisa lihat sendiri. Mari saya antar", ucap Deshi.
///
Sava terus gelisah. Duduknya tidak tenang. Ia terus memperhatikan jalanan yang mereka lalui. Fariz terusik dengan sikap Sava, ia sudah mencoba bersabar tapi akhirnya ia tidak dapat menahan dirinya.
"Hentikan mobilnya", perintah Fariz.
"Apa yang kamu cari? Kenapa kamu tidak bisa tenang? Apa ada yang tertinggal? Bicaralah. Berhenti mengacuhkanku", ucap Fariz dengan menatap Sava dalam kegelapan.
"Ti.. Tidak. Aku hanya ingin tahu arah tempat di mana aku akan tinggal nanti", jawab Sava gugup.
"Apa yang salah dengan jalan ini! Ini jalan menuju rumahku", balas Fariz dengan meninggikan suaranya.
"Aku tidak tahu rumahmu di mana. Yang aku tahu kita akan tinggal tanpa ayah dan bunda. Jadi salah jika aku khawatir kamu akan membawaku ke mana dan apa yang terjadi jika aku 1 rumah denganmu", jawab Sava dengan nada suara tidak kalah dari Fariz.
"Hamdan jelaskan apa yang terjadi? Kenapa gadis ini mengatakan seolah aku akan memakannya nanti", ujar Fariz.
"Nona sebentar lagi kita sampai. Kita akan ke kediaman Monang Nasution. Memang benar nona dan tuan muda tidak akan 1 rumah dengan tuan besar dan nyonya, melainkan di paviliun di belakang rumah utama. Masih tetap bisa berkunjung satu sama lain. Saya belum selesai menjelaskan tentang keluarga besar tuan karena pelajaran kita terfokus ke pernikahan kemarin", jelas Deshi.
"Kamu sudah dengar? Kalau aku mau sudah dari kemarin aku menerkammu", ucap Fariz.
Sava membatu. Lidahnya kelu. Ia ingin meminta maaf tetapi kata maaf tidak dapat keluar dari mulutnya.
"Jalan", perintah Fariz.
mudhn ceritanya masih lanjut,semangat ya buat author nya💪💪💪
giliran faris udah bucin sava malah nyebelin