Lanjutan dari karya Perjodohan membawa bahagia. Disarankan mampir ke karya sebelumnya agar tidak menimbulkan kebingungan.
Karena sebuah wasiat dari orang tua kandung kakak angkatnya, ia dan sang kakak angkat dinikahkan. Pernikahan karena perjodohan itu menimbulkan banyak masalah, terutama masalah hati. Karena sesungguhnya, sang kakak angkat sudah memiliki wanita lain yang ia cintai dengan sepenuh hati dan hanya menganggap dia sebagai adik.
"Aku mencintai kamu sebagai kekasih, kakak." Yolanda Aditama.
"Maaf Yolan. Aku tidak bisa menerima cinta itu. Karena selamanya, kamu akan tetap berada dalam hatiku sebagai adik. Aku tidak bisa menggubah perasaan itu." Dewa Sujianda.
Akankah perasaan Dewa bisa berubah? Atau bahkan, akan tetap selamanya bertahan seperti itu? Mungkinkah pernikahan mereka akan bertahan? Atau bahkan, akan hancur karena orang ketiga?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
*Episode 34
Di vila keluarga Aditama, Dewa baru saja tiba di depan gerbang masuk vila tersebut. Satpam yang berjaga tidak banyak bicara. Hanya membuka pintu gerbang tanpa tegur sapa seperti biasanya.
Kejanggalan dan aura tidak enak kini menyentuh hati Dewa. Tapi, ia tidak bisa lari dari kenyataan yang ada di depan mata. Ia sudah bersalah, dan sekarang harus menerima hukuman dari kesalahan yang ia perbuat itu.
Benar saja apa yang ia pikirkan saat dalam perjalanan, kalau keluarga angkatnya sudah tahu tentang kesalahan yang ia perbuat, yaitu, bertengkar dengan adik angkatnya. Mana mungkin mereka akan membiarkan dirinya lolos begitu saja setelah bikin ulah dengan anak kandung kesayangan keluarga mereka.
Tatapan tajam mengiringi langkah Dewa yang berjalan semakin mendekat menuju ruang tamu. Tatapan itu membuat Dewa merasa ngeri bukan main rasanya.
Bagaimana tidak? Tatapan mata dari beberapa orang yang sedang duduk di atas sofa itu sangat menakutkan. Bak singa yang sedang memperhatikan mangsa, lalu bersiap-siap untuk menerkam dan akan dijadikan santapan empuk oleh si singa galak itu.
Ternyata, yang datang bukan hanya papa dan mama angkatnya saja. Melainkan, opa yang selama ini suka jalan-jalan mengelilingi dunia juga ada di sini sekarang.
Opa David adalah orang yang paling galak, sekaligus, orang yang paling tidak suka dengan keberadaan Dewa di dalam keluarga Aditama. Dia tidak suka karena beberapa alasan, yang sampai sekarang, Dewa tidak tahu apa alasan itu.
Belum juga Dewa sampai ke sofa dan bicara untuk menyapa kedua orang tua angkatnya, opa Davidson sudah bangun saja dari duduknya. Lalu kemudian, datang mendekat menghampiri Dewa.
Lalu ... plak!
Sebuah tamparan keras ia hadiahkan ke pipi Dewa. Sangking kerasnya, sudut bibir itu sampai mengeluarkan cairan merah, dan mata Dewa seketika pusing berkunang-kunang karena tamparan itu.
"Op--opa." Dewa langsung memegang pipinya, lalu kemudian mengusap darah segar yang ada di sudut bibir itu.
"Papa! Jangan lakukan kekerasan fisik. Bukankah aku sudah bilang sebelumnya, jangan ada kekerasan fisik di sini."
Suara Kania terdengar cemas dan panik. Meskipun suara itu terdengar lebih banyak sedih dibandingkan panik dan cemas, tapi Dewa masih bisa merasakan rasa kasih sayang sebagai mama dari Kania saat ini.
"Kania, kenapa kamu masih membela dia? Apa kamu lupa apa yang dia lakukan pada cucu satu-satunya kesayanganku, hah? Dia telah menyakiti hati Yola, cucuku, anak kalian. Dan sampai sekarang, cucuku masih belum tahu ada di mana."
"Kita sudah mengerahkan orang untuk mencari Yola, Pa. Aku yakin, tidak lama lagi, mereka pasti bisa menemukan keberadaan Yola. Papa tidak perlu cemas," kata Brian pula.
"Kamu dan istrimu sama saja, Brian. Kalian selalu menyayangi anak yang tidak tahu diri ini. Sekarang lihat apa yang dia perbuat pada anak kalian? Cucuku menderita karena ulah anak tidak tahu terima kasih ini."
"Aku ... aku tahu ini salahku, opa. Mama papa, maafkan aku yang tidak tahu diri ini. Aku tidak bisa menjaga Yolan dengan baik. Tidak bisa memenuhi harapan besar kalian padaku."
Saat itu, Dewa sudah tidak kuat untuk tetap berdiri di atas kedua kakinya lagi. Ia tahu siapa dia. Tapi, bukan karena tahu diri dia jatuh bersimpuh di depan orang tua angkatnya ini. Melainkan, karena rasa bersalah yang sedang menggerogoti hatinya saat ini.
"Dewa. Aku benar-benar kecewa padamu. Kenapa kamu menyakiti hati Yola seperti ini. Aku tahu kamu tidak mencintai Yola dan tidak bersedia menikah dengannya. Tapi kenapa, Nak? Kenapa kamu hancur dan remuk kan hati dia dengan cara yang menjijikkan seperti ini. Apa kamu lupa, dia itu masih adik kamu? Meskipun adik angkat. Anggap saja kamu menjaga hati adik angkat mu, Dewa."
Ketika Kania bicara dengan mengunakan kata aku, saat itulah, hati Dewa semakin dipenuhi dengan rasa bersalah juga kesedihan. Karena selama ia hidup bersama dengan Kania, dia tidak pernah mendengar Kania mengunakan kata aku saat bicara dengan dirinya. Makanya, kata aku itu terasa sangat menyakitkan buat Dewa.
"Dia tidak akan paham apa yang kamu katakan, Kania. Sudahlah, jangan bicara sama dia lagi. Tidak akan ada gunanya. Dia itu manusia yang tidak punya hati, mana bisa mengerti apa yang kamu bicarakan."
Opa David terlihat benar-benar membenci Dewa sekarang. Dari tatapan, juga nada bicaranya yang terdengar sangat-sangat ketus itu, Dewa bisa merasakan betapa bencinya opa David pada dirinya.
"Mama, aku minta maaf. Aku tahu aku sudah melakukan kesalahan besar dengan menyakiti hati Yolan. Aku pantas kalian benci dan kalian kucilkan dari keluarga ini. Tapi, Ma, Pa, tolong ... berikan aku satu kesempatan untuk memperbaiki dan menebus kesalahan yang telah aku buat. Aku mohon, Ma, Pa."
Dewa benar-benar memelas dengan wajah yang penuh sesal dihadapan Kania dan Brian. Tapi, hal itu malah membuat opa David semakin kesal bahkan semakin benci pada Dewa.
"Heh! Kamu bilang, ingin minta kesempatan untuk menebus kesalahan yang kamu perbuat pada cucuku? Kamu pikir hati cucuku itu apa, hah! Boneka percobaan? Hari ini kamu coba bikin dia sakit, besok kamu perbaiki lagi, terus lusa, kamu sakiti lagi. Bia*dab!"
"Papa!" Kania memanggil opa David dengan nada tinggi.
"Tolong jangan bicara dengan nada kasar, Pa." Kini, nada bicara Kania melemah dan terdengar sangat sedih.
"Kania. Seharusnya kamu juga bersikap keras pada dia. Bukan malah membela dia seperti ini. Bukankah kamu juga wanita? Bahkan, kamu mama dari anak yang dia sakiti. Harusnya, kamu marah-marah sama dia, bukan malah diam begini. Kamu lupa apa yang dia lakukan untuk menyakiti hati anakmu? Dia laki-laki keji yang bersikap menjijikkan."
"Papa. Jangan menyalahkan Kania atas sikap lemah lembutnya pada Dewa. Papa jangan lupa, Kania ini juga mamanya Dewa. Sebagai mama .... "
"Cukup, Brian! Jangan bilang kalian adalah orang tua dari laki-laki bia*dab ini. Karena sampai kapanpun, aku tidak pernah sudi menganggap dia bagian dari keluarga Aditama. Ditambah lagi sekarang, sikapnya yang menjijikan itu. Aku semakin benci dan jijik untuk menyebut namanya. Apalagi melihat wajahnya."
"Opa, aku memang tidak pantas menjadi bagian dari keluarga kalian. Aku salah. Tapi, apakah sikap aku pada Yolan itu kalian bilang menjijikan?"
"Berani sekali kamu bicara padaku? Kamu tidak pantas bicara padaku sekarang."
"Tunggu! Barusan kamu tanya apa padaku? Sikap kamu pada cucuku? Oh Tuhan ... anak ini benar-benar tidak punya o*tak. Dia pikir berduaan dengan perempuan lain di kamar hotel itu wajar?"
Saat mendengar kata-kata yang opa David ucapkan barusan, mata Dewa mendadak melebar. Ia tidak mengerti apa yang opa David katakan barusan.
*saat novel mu yang konfliknya suami melakukan kesalahan pasti kau buat istri tidak mudah memaafkan, pasti kau buat suami dapat balasan, mengemis maaf dan berjuang keras, dan pasti kau hadirkan lelaki lain yang membuat istri membalas perlakuan suami
banding dengan novel yang konfliknya istri melakukan kesalahan semudah itu dimaafkan, karakter suami kau buat bodoh dan semudah itu memaafkan malah balik minta maaf kayak pengemis, dan kalian tidak berani hadirkan wanita lain (kayak kalian hadirkan lelaki lain)
karena ini lah pola pikir egois wanita ketika suaminya salah tidak semudah itu dimaafkan tapi ketika dia salah mau dimaafkan begitu saja dan sikap egois ini mereka bawa kedalam novel
adalah lagi pola pikir egois yang terkesan munafik wanita dalam berkarya yaitu mereka melaknat pelakor tapi memuja pebinor
miris