Bercerita tentang seorang wanita bernama Anita Sheila, seorang gadis yang memiliki sifat cuek terhadap hal yang menurutnya tak penting. Fokus terhadap nilai dan prestasinya semasa sekolah, justru membuatnya tak memiliki teman dan susah bergaul.
Namun pandangan Anita berubah ketika suatu hari ia bertemu Zain Azriel. Zain yang memiliki sifat berkebalikan dengan Anita memberi kisah baru dalam romansa tersebut.
Zain merupakan lelaki yang ceria, suka bermain, nakal dan bahkan dihari pertama sekolah ia bertengkar dengan seniornya, walau sebenarnya ia lelaki jenius dalam mata pelajaran.
Hubungan keduanya terbentuk ketika pertama kali Anita mengunjungi Zain untuk mengantarkan sebuah catatan. Namun saat itu juga Anita melihat sisi berbeda Zain dari rumor yang selama ini ia dengar. Dari situlah pertemanan keduanya dimulai.
Saat ini hubungan mereka semakin dekat, namun keduanya bingung dengan ikatan tersebut karena belum pernah memiliki pengalaman sebelumnya.
bagaiman kisah selanjutnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R_picisan03, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Seperti Kapas
"Hoi Nita! Kenapa diam saja!!! Apa kau mendengarkanku? Jawab!!!" teriak Zain.
"BERISIK!!!! Aku memutuskan apa yang ingin kuputuskan! Jangan menggangu pelajaranku!" balasku membentak Zain.
Dengan rasa kesal, aku langsung masuk kedalam ruangan meninggalkan Zain.
"A-Ani-A..." kejut Zain.
"Sayang sekali. Sampai disini saja ya, jangan masuk Zain," sahut Gio wajah meledek.
Gio juga bergegas masuk menyusul kedalam karena kelas khusus telah dimulai.
"Untunglah Zain itu bodoh, ," batin Gio tersenyum.
Selama jam kelas khusus berlangsung, aku fokus belajar, sedang Gio lebih memilih melamunkan sesuatu yang ntah apa itu akupun gak perduli.
"Aku benar-benar puas dengan diriku sendiri dan aku gak pernah banyak meminta. Lalu dengan mudahnya bisa diterima orang lain dan telah memenuhi harapan orang tuaku. Apa aku seorang elit? Jika bukan, lalu seperti apa orang elit itu?" batin Gio sesekali melirik memandangku.
"Jika memang nyatanya elit, kenapa aku harus berada di kelas membosankan ini? Dan sialnya, dia selalu belajar dengan giatnya. Bagaimana mungkin aku bisa tertarik padanya?"
Tahun telah berlalu, jam sekolah kini telah kembali seperti semula, namun kelas tambahan tetap ada.
Didalam kelas.
"Taraaaaa....fotonya sudah jadi, kalau kalian mau, tinggal tandai saja, ntar aku buatkan. Kemarin tuh menyenangkan banget ya," ujar Azi menunjukkan foto Zain yang sedang memelukku.
"Tahun depan nanti kita cuma ajak orang-orang dekat saja, ya!" pekik Alea.
"Orang terdekat?" batinku.
"Kalau begitu ajak aja keluargamu Alea," sahut Azi.
"Apa? Keluargaku?"
"Lah? kenapa kau kaget?"
"Ya gak gitu juga sih," jelas Alea.
"Wah, kau hebat sekali ya jadi penguntit Zi, ternyata berbakat," sahut Zain masih memandangi foto yang Azi berikan.
"Itu belum seberapa, nih masih banyak lagi momen yang ku simpan," balas Azi mengeluarkan foto dalam jumlah banyak.
"Berapa banyak yang kau ambil fotonya emang Zi?" sahutku.
"Hehehe, Ada Ocha juga loh," cetus Azi cengengesan.
Aku segera mengambil tumpukkan foto yang Azi letak di atas meja, melihat satu persatu dengan cepat.
"Ternyata wajahku memang terlihat bundar," pikirku memperhatikan wajahku sendiri.
Zain yang kebetulan melihat fotoku berdua dengan Gio, segera mengambil, meremas dan melemparkan ke tong sampah.
"Ahhhh! Zain? Apa yang kau lakukan?" tanya Azi.
Tanpa rasa ragu dan bersalah, Zain berpaling wajah, "Aku gak mau melihatnya."
Alea berjalan mendekati foto yang Zain lempar, " Zain, kamu tidak boleh membuangnya sembarangan."
Setelah Alea mengambil foto tersebut, ia melihat bahwa disudut foto ada Rio yang berdiri tersenyum. Sontak membuat Alea kaget langsung menepuk kedua tangan menutup foto tersebut.
PLAKKKK!...
"Alea? Kamu kenapa?" ujar Azi.
"Wah kenapa ya aku malah tepuk tangan, hehehe."
"Anita, yang ini celana dalammu keliatan lo," sahut Zain.
"Itu perasaanmu saja."
Diam diam, Alea menyembunyikan foto tersebut disaat semua sedang membahas foto kenangan.
Disisi lain ruangan kelas sekolah Gio.
"AHHHHHHHHHHHH!!!!!!!! AKU INGIN PUNYA PACAR!!! PUNYA PACAR!!! PACAR!!!" Teriak Dion menempalkan pipi ke meja.
Gio bangkit dari bangku, berjalan menuju pintu luar kelas.
"Hari ini ada belajar tambahan lagi kah?" ucap Tama pada Gio.
"Begitulah."
"Jangan-jangan, kau memang tertarik sama kutu buku itu ya?" ujar Tama kembali.
Gio berhenti, melirik kearah Tama.
"Ya walaupun lebaran gak terasa lama lagi, tapi gak maksa begitu juga kan? Ahahaha..." lanjut Tama masih meledek.
"Bodoh sekali, jangan samakan aku dengan kalian," jelas Gio berjalan kembali melambaikan tangan.
"Dadah Gio...Jangan cari cewek di internet ya! Ahahaha," ujar Dion.
Gio terus berjalan menyusuri lorong sekolah, langkahnya terhenti ketika salah seorang memanggilnya.
"Gio, lihat ini," ujar seorang siswa menunjukkan ponsel miliknya.
"Kenapa?"
"Kok kenapa? Ini cewe dari sekolah sebelah ada yang ingin mengajakmu kencan."
"Ha? Yang benar saja! Kalau mau ajak kencan, suruh dia jatuh cinta dulu padaku," jelas Gio meninggalkan siswa tersebut.
"Lah?? Ga bahaya ta???"
"Siswi sebelah ya? Keliatannya dia manis juga," batin Gio tersenyum terus berjalan.
"Gio! Pintu keluarnya bukan sebelah sana!"
Gio berhenti, kemudian berbalik arah berjalan kembali," makasih."
"Hati-hati di luar gedung panas."
Setelahnya, Gio terus berjalan meninggalkan gedung sekolah, berjalan melihat keramaian kota menuju gedung kelas tambahan yang tak begitu jauh.
"Lihat sendiri kan? Aku gak punya masalah dalam hal menggaet wanita dan itu gak akan pernah berubah."
Terus tersenyum hingga akhirnya seorang wanita remaja berdiri bingung melihat Gio. Gio yang baru sadar jika dirinya di perhatikan, seketika berhenti menoleh sisi kiri.
Ia juga memandangi wanita tersebut hingga keduanya saling bertatapan sedikit lebih lama.
"Segitunya banget kau nak lihat orang tampan," batin Gio bergegas jalan kembali menuju kelas tambahan.
Belum lagi sampai di tempat,....
"Halo, Gio," sapaku kemudian berjalan kembali.
"Lah kok? Seperti biasa dingin banget sikap lu! Gadak bedanya ama anak remaja tadi, apa aku ikuti jalan bareng aja ya?" pekik Gio berjalan mengikutiku.
"Apa aku harus menggodanya? Tapi, ntah ada gejolak dalam hatiku yang mengganjal," batin Gio.
"Anitaaaa awas!" Teriak Gio menarik merangkulku.
seseorang dengan menaiki sepeda motor hampir menabrakku.
"Maaf," ucap pengendara tersebut berlalu pergi.
Disaat Gio masih merangkul....
PLUNTANGGGG!!!! (Zain memukul kepala Gio dari belakang).
"Menjauh darinya!" kecam Zain.
Aku berbalik arah, "Zain?"
Gio juga berbalik sembari mengelus kepala, "Sakit tahu dasar berengssek!!! Aku paling benci kalau ada orang lain yang menyentuh kepalaku!!" pekik Gio menarik kera baju Zain.
"Kalau begitu jangan sentuh Anita! Wajahmu keliatan sangat mesum begitu!"
"Siapa yang kau maksud mesum? Dasar berengsek!"
"Zain! Sudah berapa kali kubilang jangan menguntitku!" ucapku menghentikan perkelahian keduanya.
"Aku gak mengikutimu, aku kebetulan lewat!"
Ungkapan Zain hanya membuatku semakin kesal, "Mana mungkin bisa kebetulan lewat!"
"Ya aku sudah bilang hanya itu kebetulan aja semua ini kebetulan."
"Aku capek Zain! Kamu selalu gak pernah dengar ucapanku. Aku ingin fokus belajar! Titik! Itu saja!"
Ditengah perdebatan, tanpa kami sadari, Gio perlahan menjauh pergi terlebih dahulu menuju gedung kelas tambahan.
"Aku menyukai Zain, gak mudah buat nyatain perasaanku padanya dan aku gak ingin ngelakuin kesalahan apapun, aku juga gak ingin dia menjauh. Tapi cowok itu.....Kalau cuma tindakanku yang benar, berarti gak ada gunanya," batinku berjalan menyusul Gio.
Didalam ruangan.
"Duh! Ada benjolan lagi! Dasar anak kampret kekuatan gorilla!" umpat Gio mengelus kepala.
"Apa itu bagian yang di pukul Zain tadi? Sakit?" tanyaku.
"Gak juga."
"Aku minta maaf. Padahal aku gak bermaksud melibatkanmu."
"Kenapa kamu yang meminta maaf?"
"Aku sudah memutuskan menyatakan perasaan padanya. Tapi ntah kenapa, dia selalu cemburu padamu dan akhirnya cekcok terus menerus. Apa aku melakukan kesalahan?"
"Yahhh, gimana ya, kalian itu serasi sih, mirip banget. Faktanya, ada dua jenis manusia, yang satu bodoh dan satunya pintar. Orang bodoh hanya bisa fokus satu hal dalam satu waktu. Jadi gak bisa liat mana baik buruknya," pekik Gio.
"Aku berada di sisi lain, apa yang membuatmu yakin kita begitu berbeda?"
Gio tersenyum kemudian berpaling arah pandang kedepan, "Setidaknya kalau kau sedang bersamaku, kau gak perlu mengkhawatirkan hal lain."
"Njer! Apa yang baru kukatakan? Aku malah keliatan seperti sedang merayu, anjer lah, sial!" batin Gio.
****
Sampai disini dulu minna san,,, nanti lanjut setelah pulang cari bakwan...sankyu.
biasanya berhati lembut dan penyayang 🙄
sebenarnya kenapa zain bisa di cap pembuat onar😑
hanya karna game nya kalah😤
pasti ada sebab akibat nya tak mungkin mencelakai orang tanpa alasan 🚶♀️🚶♀️🚶♀️🚶♀️🚶♀️
peristiwa berdarah apa 😧
Segala rasa membelenggu jiwa