Kenzo dibesarkan oleh Ibunya. Dia mempunyai teman yang bernama Nada. Nada dan Kenzo pada akhirnya menikah, bagai mana kisahnya? Dan sesungguhnya, ke mana Ayahnya Kenzo? Silakan ikutin alur ceritanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dareen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 33 ( Terkuak )
Rupanya ini semua kerjaan Indra. Ia memutar kontrol microphonenya hingga berubah menjadi suara cempreng.
“Kenapa Lu lakuin itu, Bro?” aku bertanya ketika semua orang telah bubar.
“Gue kesel sama tu orang Mas Bro! Se’enaknya aja bilang kalau Gue ini orang bodoh, yaa Gue kerjain aja sekalian,” jawab Indra.
“Hahaha ... bener tuh, Ndra! Aku sependapat sama Kamu. Emang tu anak mesti di gituin biar punya rasa malu,” jawab Nada yang terkesan mendukung.
Mereka berdua cengengesan, aku hanya menggelengkan kepala. Heran dengan rasa jail yang mereka punya.
Tapi, ya sudahlah. Semoga kejailan dari Indra itu bisa menjadi pelajaran untuk Anton supaya tidak terlalu sombong.
Kami menghitung pendapatan di tempat. Aku membagikan sama rata antara aku dengan Indra.
“Ini Mas Bro! Gue ambil tujuh puluh persen, yang tiga puluh persennya Mas Bro simpen aja buat jaga-jaga kalau ada kerusakan pada sound system. Biar nanti Kita gak terlalu besar menggantinya,” ucap Indra.
Ternyata Indra itu termasuk anak yang jeli. Di usianya yang masih tujuh belas tahun. Ia bisa mengatur uang, bahkan kerusakan yang belum terjadi pun. Ia telah menyisihkannya, salut!
“Oke! Ya udah, Gue masukin uang kas, ya? Nanti Gue juga nambahin.”
Akhirnya kami pulang, karena waktu sudah larut malam. Indra balik sendiri dengan motornya sedangkan aku bersama Nada.
Aku mengambil motor dari parkiran, Nada pun naik di jok belakang. Semilir angin malam seakan membelai tubuh kami malam ini. Langit pun mendung seakan tinggal menunggu turunnya hujan.
Aku memacu si matic dengan kecepatan sedang, berharap hujan tidak menghalangi perjalanan kami malam ini. Nada memeluk erat. Pelukannya semakin kencang ketika aku menjalankan motor dengan kecepatan tinggi.
“Ken, jangan kenceng-kenceng! Bahaya loh,” ucap Nada dengan pelukan yang masih melingkar di perutku.
Aku memelankan laju kendaraanku.
“Takut keburu ujan, Nad. Ini udah malem. Gimana kalau Kita kejebak hujan?” tanyaku.
“Ya gak papa lah, dari pada kita celaka? Aku juga membawa kunci rumah kok. Babe juga udah bilang mau tidur duluan, jadi Babe gak bakal nungguin Aku,” ucap Nada.
Hening.
Aku tidak menjawab apa pun. Lebih fokus ke jalanan karena aku membawa kendaraan pada malam hari. Dengan mata yang kantuk membuatku semakin berusaha untuk tetap fokus.
BYURRR ....
Akhirnya hujan turun dengan derasnya. Aku parkirkan ke sebuah pos ronda yang kebetulan ada di pinggir jalan raya.
“Rehat dulu ya, Nad?” aku menyeka wajahku yang basah terkena air hujan.
Nada mengangguk.
Kami duduk di pos ronda dengan memarkirkan motor di depan pos ronda. Tidak ada orang-orang yang melintas. Sepi.
Mataku yang telah di dera rasa kantuk sudah tak tertahan lagi.
“Hoaammmm ....” beberapa kali aku menguap.
“Kamu tidur dulu lah, biar aku yang jagain,” ucap Nada.
“Ya enggak mungkinlah, masa cowoknya tidur, ceweknya yang jagain?” jawabku yang masih menahan kantuk.
“Enggak papa, tidur gih! Aku memegang tanganmu, jadi kalau ada apa-apa Aku akan menggenggam tanganmu lebih kencang,” ucap Nada memberi kode.
Aku menyenderkan punggungku ke dinding pos ronda yang terbuat dari kayu. Hingga akhirnya aku terlelap.
.
“Ken, bangun. Hujan telah reda,” ucap Nada dengan sura pelan.
“Hemm .... “ Aku membuka mata.
“Jam berapa ini, Nad?” tanyaku.
“Setengah dua belas malam.”
“Inalillahi! Ayo kita pulang!”
Ucapku yang terburu-buru memarkirkan motor dan melesat menuju rumah Nada.
***
Selepas Shalat subuh, aku kembali tidur. Mata masih lengket dan badan terasa linu. Mungkin aku masuk angin. Aku memejamkan mata hingga aku tertidur pulas.
.
“Pakkkk!” aku berteriak.
“Ya Allah, cuma mimpi,” ucapku sambil mengusap wajah.
Aku duduk di tepi ranjang. Aku merasa kalau bapak masih hidup. Tapi, apa mungkin?
Selama ini, aku selalu berziarah ke makam bapak. Apakah bapak kangen ya? Karena sudah lebih satu bulan, aku tidak pergi ke makam bapak? Pekik dalam hati.
Aku beranjak dari tempat tidur, menyambar handuk dan segera menuruni anak tangga dan mengarahkan kaki ke kamar mandi.
Aku kembali menaiki anak tangga selepas mandi dan bergegas memakai celana jeans dan kemeja panjang yang ku lipat sampai sikut.
“Mau ke mana, Ken?” tanya ibu yang sedang menjahit.
“Mau ke pusaran Bapak, Bu,” ucapku sambil merapikan kemejaku.
Mata ibu membulat, terlihat kaget ketika mendengarkan ucapanku.
“Kenapa? Kok tatapannya gitu baget, Bu?” dahiku mengernyit.
“Engga apa-apa, makan dulu gih. Kan, Kamu belum sarapan, Nak,” jawab ibu seperti mengalihkan pembicaraan.
“Nanti aja, Bu. Sepulang dari pusaran Bapak. Ibu mau ikut?” tanyaku.
“Enggaklah masih banyak kerjaan. Lagian, tumben hari minggu ke pusaran Bapak? Biasanya hari Jum’at, Ken ke sana.”
“Gak papa, Bu. Barusan Ken mimpi Bapak, mungkin Bapak kangen sama Kenzo.”
Terlihat kesedihan pada rona wajah ibu.
Aku melesat pergi menggunakan motor matic yang senantiasa selalu mengantarkanku ke mana pun. Aku memarkirkan motor dan memasuki kawasan TPU (Tempat Pemakaman Umum).
Aku berjalan mendekati pusaran Bapak. Aku terkejut, ada orang asing yang ada di depan pusaran bapak.
Seorang wanita paruh baya, mungkin sepantaran Ibu. Ia sedang melantunkan do’a tepat di depan pusaran bapak. Aku mendekat. Menunggu ibu paruh baya itu selesai melantunkan do’anya.
Aku mematung di hadapannya.
“Ada apa, Nak?” tanya seorang ibu yang telah selesai membaca do’a.
“Maaf, Ibu siapa ya? Kok Ibu ada di pusaran Bapak Saya?” aku bertanya.
“Bapak? Ini makam suami Ibu, Nak,” ucap si ibu.
Sejak kapan, makam bapak di pindahkan? Tapi namanya masih sama. Tertulis nama Daniel P, pada nisan tersebut. Pekik dalam hati.
“Maaf, Bu memang nama suami Ibu siapa?” tanyaku lagi.
“Daniel Putra,” jawab Ibu itu.
Aku bingung.
“Kamu salah kali, Nak? ini makam suami Ibu dari meninggal belum pernah dipindahkan tetep di sini pusarannya,” ibu itu meyakinkanku.
Akhirnya aku mengalah. Dari pada terjadi keributan di kuburan walau hati masih penasaran.
Aku mematung di depan pusaran yang bertuliskan nisan Daniel P, ini. Aku memutuskan minta klarifikasi kepada ibu tadi.
Aku mengejar ibu yang muali masuk ke dalam mobilnya.
“Tunggu, Bu!” ucapku dengan suara agak keras.
Ibu itu menoleh dan kembali turun dari mobilnya.
“Iya, Kamu yang tadi ada di pusaran Almarhum Suami Saya kan?” tanya si Ibu yang seperti sedang mengingat.
“Iya, Bu. Maaf, maaf sekali Bu. Saya masih bingung dengan pusaran yang tadi. Karena setahu Saya, itu pusaran Bapak Saya,” ucapku yang seolah meminta penjelasan.
“Bukan, Nak. Itu pusaran Suami Ibu. Oh iya, kebetulan pengurus TPU sini tetangga Ibu. Kalau Kamu belum yakin, mari Ibu antar Kamu menemui pengurus TPU ini, ia bertanggung jawab membersihkan area makam di sini.”
Aku pun mengikuti si Ibu yang kembali masuk ke area pemakaman. Si ibu menceritakan kepada pengurus TPU dan menjelaskan kesalah pahaman tentang pusaran yang bertuliskan nama Daniel P.
Bertapa terkejutnya ketika mendengar penjelasan dari pengurus TPU tersebut, ketika ia membenarkan bahwa itu makam atas nama Daniel Putra, bukan Daniel Pahlevy.
Lalu apa maksud dari semua ini? Apakah ibu yang bohong dalam hal ini? Pekik dalam hati.
Dengan langkah kaki yang gontai, aku kembali ke parkiran membawa motor dan melesat pergi ke kontrakan.
Di perjalanan, pikiranku melayang. Apa maksud dari semua ini? Apa benar Ibu membohongiku? Lalu, kalau Ibu bohong buat apa? Sebenarnya Bapak masih hidup atau memang sudah meninggal? Semua yang ada dalam benakku membuat aku menjadi pusing.
“Udah pulang, Nak?” tanya ibu yang masih menjahit.
Aku terdiam. Memperhatikan wajah ibu.
Kakiku mematung, terdiam di hadapan ibu.
“Loh ... Kamu kenapa, Ken?” tanya ibu.
“Apa benar Bapak telah meninggal, Bu?” pertanyaanku yang tak lagi terbendung.
“Loh ... Kok nanyanya begitu?” tanya ibu heran.
“Apa benar Bapak telah meninggal, Bu?” pertanyaanku masih sama.
“Ya ... i-ya Bapakmu telah meninggal,” ucap ibu yang terdengar ragu.
“Jangan bohong, Bu?” aku masih mendesak ibu.
“Eng-gak ... I-bu gak bo-hong,” terdengar ucapan ibu terbata, seperti orang yang sedang ketakutan.
“Bu, tatap mata Kenzo. Kenzo udah besar, Bu. Plissss! jangan bohongin Kenzo, mau sampai kapan?” tanyaku terus mendesak ibu.
Hening.
Aku masih menunggu pengakuan dan kejujuran ibu dengan alasannya.
Masih hening.
Akhirnya, netra ibu meneteskan air mata. Pilu, itu gambaran yang aku terka ketika melihat ibu menangis. Namun, aku juga sudah tidak dapat berdiam diri dengan semua ini. Aku tidak ingin tahu dari mulut orang lain. Karena ibu lah yang paling berhak memberikan penjelasan untukku tentang bapak.
“Iya, Ken. Bapakmu belum meninggal,” jawaban ibu memecah keheningan sekaligus mengagetkanku.
Aku memandang wajah ibu yang sedari tadi merunduk. Mencoba sabar mendengar penjelasan dari ibu.
“Ibu telah membohongimu karena ibu tidak ingin Kamu sakit hati, Nak,” ucap ibu.
“Sakit hati karena apa, Bu?”
“Karena, sedari dalam kandungan, Bapakmu telah meninggalkan Ibu yang tengah mengandungmu, Nak.”
Terlihat air mata kembali luruh di pipi ibu.
“Jujur, Kenzo masih bingung Bu.”
Akhirnya, ibu menceritakan semua kronologi yang pernah ia alami. Ternyata bapak meninggalkan ibu karena istri pertamanya juga tengah hamil. Bapak menikahi ibu yang hanya seorang pembantu di rumah orang tua bapakku. Awalnya memang ada pertentangan. Namun, setelah bapak menceritakan tentang istri pertamanya yang belum hamil juga, akhirnya orang tuanya mengizinkan ibu menikah dengan bapak. Kabar ibu hamil pun telah memberikan kebahagiaan untuk keluarga bapak. Selang dua bulan, kabar bahagia itu berubah menjadi duka untuk ibu setelah ia mendengar kabar istri pertamanya tengah hamil juga. Bapak terpaksa kembali kepada istri pertamanya karena saham orang tuanya telah jatuh kepada orang tua istri pertama bapak. Bapak berjanji walau ibu merupakan istri kedua, bapak akan bertanggung jawab pada bayi yang ada dalam kandungan ibu. Tapi ibu yang memilih pergi dan tak memberikan kabar terhadap bapak sama sekali hingga saat ini.
Ibu menceritakan panjang lebar tentang kisah pilunya selama ini. Ia tidak ingin cerita pilunya terkuak, kecuali kakek dan nenek yang mengetahuinya. Ibu mewanti-wanti agar mereka tak memberitahu padaku.
Aku tertunduk lesu mendengar pengakuan Ibu yang teramat pilu.