Descnya dibaca dulu ya sayang❤️
novel ini dalam masa penulisan ulang untuk mengganti keseluruhan nama tokoh, para pembaca harap maklum atas ketidaknyamanan ini.
Thank you ♥️
***
~Hilangkan perasaanmu, balas dendam akan berhasil ketika kamu tak berperasaan~
.
.
.
Ini karya pertama Author semoga kaka-kaka semua suka.. kalau gak suka skip aja nee🤗
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Atika.NA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter~33 Pertemuan itu sungguh tidak sengaja
Karena Lisa belum bekerja kembali, ia meminta ijin pada Seidon untuk pergi kerumah ayahnya. Sudah lama sejak ditinggal ke Amerika, rumahnya tidak terurus. Ia hanya berniat berkunjung setidaknya menyapa tetangga dan membersihkan rumahnya. Untung saja Seidon mengijinkannya jadi Lisa merasa sangat senang.
Seidon juga meminta beberapa pengawal untuk mengikutinya secara diam-diam.
"Sebelum aku pulang dari kantor.. kau harus sudah ada dirumah!"
"Baik" ucap Lisa di via telfon.
,
Perjalanan cukup panjang dan akhirnya Lisa sampai di rumah ayahnya. Rumahnya cukup kotor, rerumputan telah tinggi dan tanaman tidak terawat lagi.
Seharian itu ia menghabiskan waktu untuk membersihkan rumah kotor itu. Lisa menggunakan satu hari itu dengan sangat baik, sendiri dan tenang tanpa ada pantauan dari siapapun. Menurutnya.
Hari menjelang sore, Lisa berniat pulang tapi niatnya terurungkan karena kedatangan seorang pria yang tidak asing baginya. Christian, setelah pulang kerja ia langsung kerumah Lisa.
Lisa terkejut saat Chris tengah berada diambang pintu rumahnya dengan membawa sekeranjang buah-buahan. Lisa takut jika terjadi kesalahpahaman antara mereka.
Chris pernah mengantarkannya pulang kerumah Seidon, Lisa takut jika sebelum datang kerumah ayahnya Lisa datang kerumah Seidon.
"Chris" ucap Lisa kaget.
"Haii.." sapa Chris pada Lisa.
"K-kau kenapa bisa disini?"
"Iyaa kebetulan mampir saja, aku kerumah mewah waktu itu tapi penjaganya bilang kau sedang kerumah ayahmu.." katanya.
"Sebenarnya itu rumah siapa? Kau tinggal disana?"
"B-bukan rumah siapa-siapa ahaha.. aku bekerja paruh waktu disana.." kata Lisa spontan.
"Ahh iyaa siapa penjaga yang kau temui tadi?"
"Eum.. kalau tidak salah namanya adalah Alexi, aku tak menyangka kau tinggal dirumah elit"
"Ah itu dia.. ahaha iya dia Alexi adalah kepala pelayan disana, dia.. dia sangat memperhatikan tamu " kata Lisa gugup.
"Aku hanya bekerja saja.."
"Bekerja lagi? Bukankah gaji di perusahaan Kasela sangat tinggi? Kenapa kau masih harus bekerja lagi?" Tanya Chris.
"A-aku akan buatkan teh untukmu" ucap Lisa beranjak.
*Kenapa Lisa tidak menjawab, apakah benar bekerja paruh waktu? Tapi penjaga bernama Alexi tadi menyebutnya sebagai nyonya.. sebenarnya rumah siapa itu* batin Chris.
*Dengan kata formal yang di ucapkannya kemungkinan Lisa adalah nyonya besar dirumah itu* sambungnya.
"Chris silahkan di minum, mumpung masih hangat" kata Lisa meletakkan secangkir teh diatas meja.
"Terimakasih, kau tak perlu repot seharusnya"
"Tidak, tidak repot"
Chris memperhatikan setiap inchi tubuh Lisa. Tangan dan kakinya terlihat memar, bahkan lehernya juga ada bekas merah disana. Chris tidak mau berfikir negatif tapi Lisa tampak menyedihkan.
"Lisa, kau bilang kau tidak apa-apa tapi kenapa kau terlihat seperti tidak sehat?" Kata Chris.
"Ahh aku, hanya kelelahan saja.. aku tidak apa-apa sungguh.."
"Baiklah jika seperti itu.. "
Waktu berjalan begitu cepat, hampir malam dan Chris berpamitan pulang. Begitupun dengan Lisa yang segera bergegas pulang. Lisa tidak tau bahwa Chris mengikuti taksi yang ia tumpangi.
"Aku harus memastikan siapa Lisa sebenarnya, kenapa penjaga dirumah itu menyebutnya sebagai nyonya" gumam Chris terus mengikuti mobil yang Lisa tumpangi.
Dalam perjalanan Lisa cukup tenang karena Seidon biasa pulang tengah malam. Tiba-tiba saja pikirannya tertuju pada Glen yang selalu ada untuknya. Entah kenapa ia merasakan bahwa Glen adalah orang yang sangat berarti dalam hidupnya. Meskipun 4 tahun terakhir Glen menipunya dan juga ayahnya.
19:45 KST,
Setelah sampai dirumah betapa terkejutnya Lisa saat melihat mobil Seidon telah terparkir ditempat parkir dan Dae Jung juga tengah menunggunya diambang pintu rumah bersama Alexi.
"Mobil Seidon sudah ada dirumah.." gumamnya.
"Selamat malam nyonya" sapa Dae Jung.
*Penjaga lain lagi, dia.. bukankah.. bukankah dia tangan kanan Presdir Hayden?* Batin Chris yang memperhatikan mereka dari dalam mobil yang jauh dari rumah mewah itu sebelum gerbang besi tinggi itu tertutup.
"I-iya.. Da-Dae Jung.. ini.. apakah.. sudah pulang?" Tanya Lisa takut.
"Iya nyonya.. Tuan telah pulang sejak pukul 15:55 sore tadi dan menunggu anda" ucap Dae Jung membuat jantung Lisa semakin berdegup kencang. Pukul 15:55 adalah jam dimana Chris datang kerumahnya.
"Kenapa.. k-kenapa tidak memberitahuku kalau akan pulang cepat"
"Tuan melarang kami untuk menghubungi anda" kata Alexi.
Ceklek,
Lisa dengan hati-hati membuka pintu dan dugaannya benar. Seidon tengah duduk di sofa dan menyilang kan kakinya. Menatap tajam kearah Lisa yang baru saja masuk.
"Bagus sekali sayangku" ucap Seidon membuat Lisa terdiam.
"Kau melupakan ucapanku untuk kedua kalinya!! Apa kau lupa apa yang aku bilang tadi?" Tanyanya dingin.
"Maafkan aku, maaf.. aku tidak tau kalau kau akan pulang cepat hari ini" ucap Lisa menunduk.
"Maaf? Aku tak butuh maafmu, Sudah berkali kali kau mengatakan itu tapi kau selalu mengulangi kesalahanmu!"
"Apa kau pergi kerumah ayahmu untuk bertemu dengan Chris, Hmm?!" Tanya Seidon dingin.
Deg,
*dia mengetahuinya?* batin Lisa ketakutan.
"Jawab!" Tekannya berdiri menghampiri Lisa
"Itu.. bukan begitu.. itu semua tidak seperti yang kau bayangkan" ucap Lisa mundur.
"Lalu apa?"
"Seidon... i-ini.. ini tidak seperti yang kau pikirkan.. percayalah padaku.. aku.. aku tidak memiliki janji temu dengannya.. percayalah.." ucap Lisa mencoba meyakinkan Seidon.
"Alexi sudah menjelaskan padaku, pria itu datang kemari dan ingin menemui mu, saat Alexi berkata kau kerumah ayahmu dia langsung meminta alamatnya"
"Dan sesuai perintahku, Alexi memberikannya. Ternyata benar-benar ingin bertemu dengannya ya.."
"Apa kau diam-diam mengirimkan pesan padanya kemarin?"
"Seidon.. aku... Tolong... To-tolong percayalah padaku tidak seperti itu" ucap Lisa dengan tubuh gemetarnya terus mundur hingga tubuh mungilnya terpentok didinding.
"Kau pikir aku percaya setelah aku melihatnya sendiri hm?!" Ucap Seidon mengurung Lisa dalam kungkungannya.
"Tidak.. tidak seperti itu.. tidakk" ucap Lisa gemetar.
"Sayang.. ternyata kau benar-benar tidak kapok, kau sangat ketagihan untuk di pukuli!!" Tekannya menahan amarahnya.
Bruukk__
Lisa terduduk memegang kaki Seidon menahannya agar tidak pergi.
"Tidaaakk aku mohon percayalah.. ini tidak seperti yang kau lihat.. biarkan aku menjelaskan semuanya padamu aku mohon.. maafkan aku.. maaf.. Seidon percayalah..." ucap Lisa memohon.
"Lepaskan!" Tekannya.
"Tidak.. aku mohon percayalah.. tidak seperti ini aku mohon" ucap Lisa memohon.
"Seidon maafkan aku maaf.. tolong percayalah"
ia menarik Lisa kasar mencengkram kuat tangannya hingga Lisa Meringis kesakitan.
"Maaf.. maafkan aku.. ini tidak seperti yang kau pikirkan.. aku datang kerumah ayah karena sudah lama tidak berkunjung. Rumah sangat kotor dan aku membersihkan nya, saat aku akan pulang dia datang, aku tak mau dia curiga jadi aku menemaninya disana sebentar sampai dia pulang.. tolong percayalah.. aku berkata jujur.. aku mohon.." ucap Lisa dengan menahan air matanya
"Seidon aku mohon, jika aku ada janji temu dengannya bukankah seharusnya langsung ku suruh ke rumah ayah saja?"
"Seidon, jika aku ingin cepat mati ditangan mu aku bisa langsung memintanya, aku tidak pernah berfikir untuk melakukan trik seperti itu. Tolong percayalah "
"Jadi begitu yaa.. tapi apakah aku terlihat percaya padamu?"
"Memangnya kenapa kalau dia tau? Kau malu menjadi istriku?"
Lisa terdiam entah harus bagaimana ia menjelaskan, Seidon terlihat tidak percaya dengan ucapannya.
"Tidak akan aku lepaskan!!" Tekannya menatap Lisa dan menariknya kasar menuju suatu ruangan yang gelap.
Seidon menarik Lisa sampai kesebuah ruangan dimana ruangan yang gelap dan sunyi tidak ada cahaya sedikitpun dan Lisa mulai ketakutan. entah bagaimana Seidon bisa melihat didalam kegelapan. ia sempat memberontak dan tak sengaja menampar Seidon cukup keras.
Plaakk_
"Kau berani menamparku?" Tekannya.
"Aku.. aku tidak sengaja.. aku benar-benar tidak sengaja Seidon.." ucapnya dan tangisnya pecah begitu saja.
Tiba-tiba satu lampu yang menyoroti nya dari atas kepalanya menampakkan Seidon yang tidak bisa diartikan dengan kata-kata. ia sangat ketakutan melihat seseorang yang ia cintai seakan berubah menjadi monster didepannya.
"Aku benar-benar membencinya!!" Tekannya.
Tiba-tiba seluruh lampu diruangan itu menyala dan menampakkan betapa banyaknya sebuah benda kotak yang membuat Lisa semakin gemetaran.
"Ayo kita pilih peti untukmu.."
"Tidak tidak.. Seidon aku tidak mau aku tidak mau.. aku tidak mau tolong aku tidak mau.. hiks.."
Lisa menangis sejadi-jadinya tapi Seidon tidak menghiraukannya. Ia menatap Lisa dengan tawa yang renyah membuat Lisa semakin ketakutan.
*kenapa.. kenapa dia berubah seperti ini lagi* batin Lisa.
Ia menoleh ke kanan dan kekiri mencari pintu disetiap sudut ruangan tapi, yang ia lihat hanya puluhan peti logam tanpa ada celah pintu disana.
_______________