"Setelah lima tahun menjadi pelayan tak bergaji bagi suami dan keluarga mertuanya, Rania pergi membawa luka dan kembali sebagai badai yang akan menghancurkan kerajaan mereka."
Selamat membaca...jangan lupa dukung authir yaa...terimakasih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira ohyver, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hujatan di Meja Kunjungan
Satu bulan telah berlalu sejak badai blacklist total yang dijatuhkan oleh Danuarta Group meremukkan seluruh sendi kehidupan Rendra Wijaya. Satu bulan yang terasa seperti sepuluh tahun siksaan di neraka dunia. Kota Jakarta yang luas dan megah tidak lagi menyisakan ruang bagi seorang Rendra untuk berdiri tegak dengan sisa harga dirinya.
Pagi itu, di bawah temaram langit fajar yang masih berkabut, Rendra berdiri di tepian trotoar jalan protokol dengan seragam dinas berbaju oranye terang yang longgar di tubuhnya yang kini tampak jauh lebih kurus. Kedua tangannya yang mulai kapalan memegang erat sebatang sapu lidi bergagang bambu yang panjang.
Sret... Sret... Sret...
Suara gesekan sapu lidi dengan aspal jalanan menjadi musik pengiring hidupnya yang baru. Setiap kali mengayunkan sapu untuk mengumpulkan daun-daun kering dan sampah plastik, dada Rendra terasa perih seperti tersayat sembilu.
Inilah pekerjaan terakhir yang bisa dia dapatkan setelah berminggu-minggu menjadi gelandangan yang kelaparan. Menjadi petugas penyapu jalanan. Sebuah posisi yang jika diingat satu tahun lalu, akan diludahi oleh ego kesombongannya. Namun kini, demi sepiring nasi dan beberapa lembar rupiah untuk menyambung nyawa, Rendra harus menelan bulat-bulat semua rasa malunya di hadapan dunia.
Setelah menyelesaikan sif paginya yang menguras keringat, Rendra buru-buru berganti pakaian kemeja biasa yang sudah mulai pudar warnanya. Hari ini adalah hari yang dia takuti sekaligus dia rindukan. Dengan sisa uang gaji bulanannya yang pas-pasan, Rendra mengendarai motor bebek sekennya menuju ke Rumah Tahanan (Rutan) kelas dua yang baru.
Ibu dan adiknya, Tyas, beberapa minggu lalu memang baru saja dipindahkan ke rutan wilayah ini untuk menjalani sisa masa hukuman mereka. Berbeda dengan lembaga pemasyarakatan lama yang ketat dengan pembatas kaca tebal dan interkom telepon darurat, rutan baru ini menerapkan sistem kunjungan terbuka yang jauh lebih manusiawi.
Setelah melewati serangkaian pemeriksaan identitas yang ketat di gerbang depan, Rendra melangkah masuk ke dalam aula kunjungan yang luas. Aula itu tampak ramai. Di sana-sini, para narapidana dan keluarga mereka duduk berhadapan di meja-meja kayu panjang tanpa ada sekat pembatas sama sekali. Mereka bisa saling menyentuh, berpelukan, bahkan makan bersama di ruangan tersebut.
Rendra mengedarkan pandangannya dengan cemas, hingga matanya menangkap dua sosok wanita yang sangat dia kenali berjalan keluar dari koridor sel penjara. Ibu dan Tyas. Keduanya mengenakan rompi tahanan berwarna biru tua.
"Ibu... Tyas..." panggil Rendra dengan suara yang serak menahan haru. Dia segera melangkah maju, berniat untuk memeluk ibunya erat-erat demi mencari sedikit kehangatan batin yang sudah lama hilang.
Namun, belum sempat lengan Rendra melingkari tubuh ibunya, wanita paruh baya iu langsung menghentakkan tubuhnya mundur dengan kasar. Tatapan mata ibunya sangat dingin, menusuk lurus ke arah penampilan Rendra yang tampak kucel dan kusam.
"Nggak usah peluk-peluk! Kemana aja kamu selama sebulan ini, Rendra?!" semprot ibunya dengan suara ketus yang tidak tahu tempat. "Kamu sengaja ya mau membiarkan Ibu sama adikmu ini membusuk dan kelaparan di dalam sini?!"
Tyas ikut menggebrak meja kayu di depan mereka, tidak peduli dengan beberapa pasang mata pengunjung lain yang mulai menengok ke arah mereka. "Iya, Mas! Tega banget kamu ya! Biasanya seminggu sekali datang bawa ayam goreng, bawa uang titipan buat beli sabun di koperasi rutan, bawa makanan enak. Ini sebulan hilang tanpa kabar! Kamu lihat nih, kulitku sampai kusam gara-gara pakai sabun murahan di dalam sini!" cerocos Tyas dengan bibir mengerucut penuh kemarahan.
Rendra terpaku di tempatnya berdiri. Tenggorokannya terasa tercekat seolah disumpal batu besar. Perlahan, dia duduk di kursi kayu di hadapan mereka, lalu meletakkan sebuah kantong plastik transparan kecil yang hanya berisi tiga bungkus nasi rames sederhana dengan lauk tempe dan telur dadar berukuran kecil.
"Maaf... Maafkan Rendra, Bu, Tyas. Mas gak bermaksud menelantarkan Ibu dan Tyas," ucap Rendra dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
"Rendra sebulan ini kena musibah besar. Rendra dipecat dari proyek Danuarta Group... dan nama Rendra di-blacklist total sama Elang Danuarta dari semua perusahaan di kota ini. Rendra gak bisa dapat kerjaan layak lagi, Bu. Sekarang... sekarang Rendra cuma bisa kerja jadi petugas penyapu jalanan dinas kebersihan..."
Mendengar pengakuan Rendra, suasana di meja itu seketika hening selama beberapa detik. Namun, bukannya tatapan iba atau pelukan penenang yang Rendra dapatkan, wajah ibu dan adiknya justru berubah menjadi merah padam karena amarah yang memuncak.
"Apa?! Penyapu jalanan?!" jerit ibunya dengan nada suara yang sarat akan penghinaan. Wanita itu menatap kantong plastik berisi nasi rames di atas meja dengan pandangan jijik.
"Jadi kamu ke sini cuma bawa makanan sampah kayak gini buat Ibu kandungmu sendiri?! Kamu benar-benar sudah jadi pria gak berguna, Rendra!"
"Mas, kamu benar-benar tolol ya!" bentak Tyas tanpa saringan sama sekali. Kata-katanya sangat pedas dan beracun, langsung menusuk tepat di ulu hati Rendra.
Rendra pun menceritakan detail kejadian yang ia alami.
"Lagian ngapain sih kamu kemarin sok-sokan peduli lagi sama si Abid?! Hah?! Pakai acara nyamperin ke sekolahnya segala, bikin ulah sampai diciduk sama orang-orangnya Elang Danuarta! Buat apa kamu mikirin anak itu lagi?!"
Rendra tersentak. "Tyas, jaga bicaramu! Abid itu anak kandungku! Darah dagingku sendiri!" bela Rendra dengan suara bergetar menahan tangis yang hampir pecah.
Ibunya tertawa sinis, sebuah tawa kering yang terdengar sangat kejam di telinga Rendra. "Anak kandung matamu! Sadar diri, Rendra! Abid itu sekarang sudah bahagia sama calon papa barunya! Elang Danuarta itu punya segalanya! Kalau dibandingin sama kamu yang sekarang cuma jadi sampah penyapu jalanan, posisi kalian itu bagaikan langit dan bumi! Elang itu langit tertinggi, dan kamu itu cuma cacing di dalam tanah!"
"Bu... tolong, jangan bicara kayak gitu..." rintih Rendra, memegangi dadanya yang terasa sangat sesak seolah dihantam gada besi tak kasat mata. Air matanya kini luruh, membasahi pipinya yang cekat di hadapan dua wanita yang selama ini selalu dia bela dan dia cukupi kebutuhannya.
"Kenapa Ibu gak boleh bicara begitu? Itu kenyataan, Rendra!" cecar ibunya lagi dengan mata melotot kejam. "Gara-gara kebodohanmu yang sok pahlawan mikirin anak, sekarang urat nadi ekonomimu diputus total kan?! Terus kalau kamu gak punya uang dan cuma jadi tukang sapu, gimana nasib Ibu sama Tyas di dalam penjara ini?! Siapa yang mau bayar pengacara buat banding?! Siapa yang mau kirim uang bulanan buat kami?!"
"Kamu bikin malu keluarga, Mas! Mendingan kamu gak usah datang sekalian kalau cuma bisa bawa kemiskinan dan nasi rames murah kayak gini ke sini! Bikin nafsu makan hilang aja!" timpal Tyas sembari mendorong kantong nasi rames itu hingga terguling di atas meja kayu.
Rendra menatap bungkusan nasi rames yang kini sedikit terbuka di atas meja dengan pandangan mata yang kosong dan hancur lebur. Tidak ada semangat, tidak ada pelukan hangat, dan tidak ada kata-kata penyejuk dari keluarga yang dia harapkan bisa menjadi tempatnya mengadu di titik terendah hidupnya ini.
Pertemuan tanpa sekat yang awalnya Rendra bayangkan akan penuh dengan air mata kerinduan, kini berubah menjadi panggung pembantaian mental yang sangat kejam bagi dirinya sendiri. Rendra tersadar, bahwa di dunia ini, dia telah sendirian, terbuang, hancur, dan dikutuk oleh konsekuensi dari segala dosa dan kebodohannya di masa lalu.
pst dapat cap pelakor😄🤭