NovelToon NovelToon
SILK AND STEEL

SILK AND STEEL

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Action / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:388
Nilai: 5
Nama Author: lusi rohmah

Ini bukan kisah cinta yang indah dan damai, melainkan hubungan yang dibangun di atas kekuasaan, ketakutan, dan hasrat yang membara namun membinasakan.


Disclaimer: ini cerita pendek

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lusi rohmah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KEKUATAN YANG MEMBUTAKAN DAN KEBENARAN YANG TERANG

“Sedangkan aku?” lanjut Hendra dengan suara yang meninggi dan penuh emosi, “Aku berjuang keras, aku berdarah-darah, aku melakukan segalanya supaya bisa mendapatkan apa yang seharusnya menjadi milikku! Kalian tidak tahu apa yang sudah aku korbankan, kalian tidak tahu betapa pahitnya hidup yang aku jalani selama ini! Jadi jangan pernah kalian datang ke sini dan menggurui aku soal benar atau salah!”

Wajahnya memerah, matanya memancarkan cahaya yang aneh dan menakutkan. Ia terlihat seperti orang yang sudah kehilangan akal sehatnya, dikendalikan sepenuhnya oleh ambisi dan rasa dendam yang sudah membusuk di dalam hatinya selama puluhan tahun.

“Dan sekarang,” lanjutnya lagi sambil mengangkat tangannya tinggi-tinggi, “saatnya sudah tiba. Kalian datang tepat pada waktunya untuk menjadi saksi sekaligus korban pertama dari kebangkitanku.”

Ia memberi isyarat dengan tangannya, dan seketika itu juga, orang-orang yang mengepung mereka mulai bergerak maju. Mereka membawa senjata-senjata tajam dan juga alat-alat yang terlihat aneh yang memancarkan cahaya redup.

“Tangkap mereka hidup-hidup!” perintah Hendra.

“Aku ingin mereka melihat dengan jelas bagaimana aku menguasai kekuatan ini! Aku ingin mereka merasakan keputusasaan sebelum akhirnya aku menghabisi mereka!” titahnya.

Pertarungan pun tak terelakkan lagi. Raka, Rian, dan Gubernur William segera bersiap menghadapi serangan musuh. Meski jumlah mereka jauh lebih sedikit dan mereka sedang terdesak, tapi semangat mereka tidak kalah sedikit pun. Mereka bertarung bukan hanya untuk menyelamatkan nyawa sendiri, tapi untuk membela kebenaran dan melindungi orang-orang yang mereka sayangi.

Raka bergerak secepat kilat, tangkisan dan serangannya cepat dan tepat, membuat beberapa orang yang mendekat langsung jatuh tersungkur. Di sisi lain, Rian juga menunjukkan kemampuannya, ia tahu betul cara bertarung yang sering digunakan oleh anak buah Hendra, jadi ia bisa mengantisipasi setiap gerakan mereka. Gubernur William meski sudah tua, tapi gerakannya masih luwes dan penuh perhitungan, ia tidak mudah untuk dikalahkan.

Alana berdiri di tengah mereka, matanya berkeliling mencari celah atau cara untuk membantu. Ia tidak bisa bertarung seperti mereka, tapi ia punya kecerdasan dan pengamatan yang tajam. Ia melihat bahwa di belakang Hendra, ada sebuah pilar besar yang di tengahnya terdapat sebuah bola kristal yang sangat besar dan berkilauan. Bola itu terus berubah warna, dan setiap kali ada orang yang terluka atau ada energi yang terbuang di sekitar sana, bola itu seolah-olah menyerapnya dan menjadi makin bersinar terang.

“Raka! Lihat itu!” teriak Alana memberi tahu.

“Bola kristal itu! Sepertinya itu sumber kekuatannya! Ia menyerap energi dari sekitarnya!”

Mendengar teriakan Alana, Raka menyadari sesuatu. Ternyata Hendra tidak hanya mengandalkan orang-orangnya saja. Selama pertarungan berlangsung, bola itu makin terang, dan aura di sekitar Hendra makin kuat. Ia menjadi lebih cepat, lebih kuat, dan rasa sakit sepertinya tidak terlalu mempan buat dia.

“Kalian tidak akan pernah menang!” teriak Hendra sambil menangkis serangan Raka dengan mudah.

“Semua kekuatan di tempat ini ada di tanganku! Setiap serangan yang kalian lakukan justru makin mengisi kekuatanku! Kalian sedang berjuang melawan angin, semakin kalian bergerak, semakin kuat pula badainya!”

Benar saja, pertarungan menjadi semakin berat. Napas mereka mulai memburu, tenaga mereka terkuras, sementara musuh sepertinya tidak ada habisnya dan semakin bersemangat. Situasi semakin tidak menguntungkan.

“Kita tidak bisa terus bertarung seperti ini!” seru Rian sambil menangkis pedang musuh. “Tenaga kita akan habis sebelum sempat mendekatinya! Kita harus cari cara lain!”

Tiba-tiba, Alana mendapat ide. Ia ingat apa yang pernah mereka baca di dalam gua peninggalan leluhur dulu. Kekuatan itu memang besar, tapi ia sangat tidak stabil. Ia bekerja seperti cermin, memantulkan apa yang diberikan kepadanya. Tapi kalau diberikan sesuatu yang murni, sesuatu yang tidak memiliki niat buruk, maka kekuatan itu justru akan menjadi bumerang bagi penggunanya yang hatinya gelap.

“Raka! Cobalah serang dia bukan dengan amarah atau kekerasan! Tapi dengan tenang dan tulus! Jangan lawan kekuatannya, tapi arahkan kembali padanya!” teriak Alana sekeras mungkin supaya bisa terdengar di tengah keributan.

Raka mendengarnya. Ia menarik napas panjang, mencoba menenangkan pikirannya meski di sekelilingnya penuh bahaya. Ia ingat kata-kata Alana. Selama ini ia melawan dengan hati yang marah karena melihat kejahatan, tapi kali ini ia harus mengubah caranya.

Saat Hendra menyerang dengan kekuatan yang sangat besar, Raka tidak mencoba menahannya dengan paksa. Sebaliknya, ia membiarkan energi itu lewat, dan dengan gerakan yang halus, ia membelokkan arah serangan itu kembali ke arah bola kristal di belakang Hendra.

DUG!

Suara ledakan kecil terdengar. Bola kristal itu bergetar hebat. Karena energi yang dikembalikan Raka itu murni dan tidak memiliki niat jahat, sistem di dalam bola itu menjadi bingung dan tidak bisa menyerapnya dengan baik. Cahaya di dalamnya menjadi tidak stabil, berkedip-kedip liar antara terang dan gelap.

“Apa yang terjadi?!” seru Hendra kaget, ia merasakan kekuatannya tiba-tiba menjadi tidak terkendali.

“Diam! Patuhlah padaku!”

Ia mencoba mengendalikan bola itu lagi, tapi kerusakan sudah terjadi. Raka melihat kesempatan itu.

“SEKARANG!” teriak Raka.

Dengan sekuat tenaga yang tersisa, ia melompat tinggi dan mengarahkan serangannya bukan ke Hendra, tapi ke dudukan tempat bola kristal itu berada.

TRAAK!

Dudukan itu retak parah, dan bola kristal besar itu terguncang hebat lalu meledak dengan cahaya yang menyilaukan mata. Gelombang energi menyebar ke segala arah, menerbangkan siapa saja yang ada di dekatnya, termasuk Raka dan teman-temannya, serta Hendra sendiri dan orang-orangnya.

Suasana menjadi gelap sejenak, debu beterbangan ke mana-mana, dan suara gemuruh terdengar panjang. Ketika pandangan mulai kembali jelas dan debu mulai menipis, terlihatlah keadaan yang berubah total. Sumber kekuatan utama sudah hancur berkeping-keping. Aura menakutkan yang tadinya memenuhi ruangan itu hilang seketika, digantikan oleh keheningan yang aneh.

Hendra terjatuh di tanah, wajahnya pucat pasi dan napasnya terengah-engah. Kekuatannya hilang bersamaan dengan hancurnya bola kristal itu. Ia terlihat lemah, tua, dan tidak berdaya seperti orang biasa pada umumnya. Orang-orangnya yang tadinya garang dan menakutkan kini juga terlihat bingung dan ketakutan, tidak tahu harus berbuat apa lagi tanpa perintah dan kekuatan yang mendukung mereka.

Raka dan yang lain juga terjatuh, tubuh mereka terasa sakit dan lelah sekali, tapi mereka masih sadar dan masih bisa berdiri perlahan-lahan. Mereka berjalan mendekat ke arah Hendra yang kini sudah tidak berdaya.

“Sudah berakhir, Hendra,” ucap Raka dengan suara berat tapi tegas. “Kekuatan yang kau cari dan kau bangun dengan susah payah itu sudah hancur. Kekuatan itu tidak pernah benar-benar menjadi milikmu, kau hanya meminjamnya sebentar, dan ternyata itu justru yang menghancurkanmu sendiri.”

Hendra menatap mereka dengan mata yang penuh kebencian tapi juga keputusasaan. Ia mengepal-ngepalkan tangannya di tanah, tidak bisa menerima kenyataan bahwa ia telah kalah, kalah oleh orang-orang yang ia anggap remeh selama ini.

“Tidak... ini tidak boleh terjadi... aku sudah berkorban begitu banyak... segalanya harusnya milikku...!” ratapnya dengan suara parau.

“Kau kalah bukan karena kau kurang kuat atau kurang pintar,” kata Gubernur William sambil berdiri di samping Raka, menatap orang itu dengan penuh penyesalan.

“Kau kalah karena hatimu yang gelap. Kau terlalu membenci, terlalu serakah, dan terlalu sombong. Kekuatan sebesar itu tidak bisa ditangani oleh hati yang penuh racun seperti itu, makanya ia meledak dan membinasakan pemiliknya sendiri.”

Hendra tidak menjawab, ia hanya menundukkan kepalanya, tubuhnya gemetar hebat, entah karena marah, takut, atau karena rasa sakit yang luar biasa. Akhirnya, orang-orang yang selama ini mengikutinya pun mulai sadar. Mereka melihat pemimpin mereka sudah tidak berdaya, dan mereka melihat kebenaran yang selama ini disembunyikan. Satu per satu mereka mulai meletakkan senjata mereka, menyerah dan mengakui bahwa mereka telah tersesat dan dibohongi.

Kemenangan akhirnya ada di pihak Raka dan kawan-kawan. Tapi mereka tahu, ini belumlah akhir sepenuhnya. Masih ada hal-hal yang harus diselesaikan, dan dampak dari semua peristiwa ini pasti akan sangat besar bagi seluruh negeri.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!