Lue Ang yang hampir mati diselamatkan oleh wanita tua, di sana Lue Ang diberitahu kalau dirinya memiliki spirit.
Untuk membalaskan dendam yang diterimanya selama ini, Lue Ang mencoba berkulivasi dan mengembangkan spirit yang ada di dalam tubuhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cici aremanita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Masing-masing Menunjukkan
Semakin Lue Ang berusaha memegang kedua kitab yang bercahaya hanya getaran hebat yang dirasakan, Lue Ang juga merasakan kalau kedua tangannya seperti di tarik menjauh paksa dengan sangat keras.
Lue Ang diam menatap kedua kitab jurus yang ada tidak jauh darinya sambil berpikir, sepertinya memang keduanya bukan kitab jurus biasa, karena jika yang di depannya hanya kitab jurus biasa mengambilnya pasti sangat mudah.
Setelah berpikir saat mencoba menenangkan pikirannya Lue Ang menyadari kalau kitab jurus di depannya memiliki kepingan roh sebagai penunggu, Lue Ang juga berpikir mungkin saja karena dirinya tidak sopan dan ingin mengambil keduanya begitu saja membuat mereka tidak terima dan malah menghalanginya.
"Kalian ternyata memiliki kesadaran, kalau begitu aku akan mengatakannya sekali lagi jika bukan aku yang menguasai kalian sampai ribuan tahun ke depan tidak akan ada yang mau menguasai kalian, sekarang keputusan ada di tangan kalian," ucap Lue Ang.
Seperti mengerti apa yang dikatakan Lue Ang cahaya putih yang sangat terang perlahan meredup, keduanya langsung terjatuh di bawah kaki Lue Ang begitu saja.
"Begini saja kalian sangat pemilih," ucap Lue Ang yang masih kesal.
Lue Ang bergegas keluar ruangan membawa dua jurus yang di dapatnya dan menaruh kembali satu kitab jurus yang diambilnya, ketua Tiang hanya menyuruhnya mengambil dua kitab jurus dirinya tidak bisa membawa lebih dari yang diizinkan.
Sesampainya di luar Lue Ang bergegas menghampiri ketua Tiang yang berbicara dengan pria tua, Lue Ang mendengar ketua Tiang memanggilnya penjaga perpustakaan dan memintanya terus mengawasi murid baru.
"Kamu sudah selesai memilih?" Tanya ketua Tiang.
"Aku menemukannya, tapi aku menemukannya bukan di tempat biasa, penjaga perpustakaan yang membawaku ke satu ruangan khusus," ucap Lue Ang.
"Tidak mungkin, sedari awal kamu masuk penjaga terus bersamaku," sahut ketua Tiang mengernyitkan dahi.
"Benar, aku bahkan baru melihatmu anak muda," ucap penjaga.
"Bukan dia ketua, ada satu pria tua yang penjaga perpustakaan, pria tua itu memiliki janggut cukup panjang," sahut Lue Ang menjelaskan ciri-cirinya.
"Walau sangat besar perpustakaan hanya ada satu penjaganya dan dia lah orangnya, lagi pula di tingkat kedua sama seperti lantai satu dan tiga tidak ada ruangannya," ucap ketua Tiang.
"Tapi aku benar-benar masuk ke dalam ruangan yang sangat gelap ketua, lihatlah ini kitab jurus yang aku ambil," sahut Lue Ang.
Penjaga perpustakaan menarik tangan ketua Tiang menjauh dari Lue Ang dan membisikan sesuatu, dari jauh Lue Ang bisa melihat kalau ketua Tiang menganggukkan kepalanya seperti setuju dengan yang dikatakan penjaga perpustakaan.
"Sepertinya memang benar dia yang dipilih, selamat ketua Tiang," ucap penjaga perpustakaan.
"Ternyata dia memang berbeda," sahut ketua Tiang.
Ketua Tiang langsung menghampiri Lue Ang yang hanya diam di kejauhan, sesampainya di depan Lue Ang ketua Tiang langsung menepuk pundaknya.
"Sekarang kita kembali ke tempat kita, kamu harus menguasai keduanya dengan sangat baik," ucap ketua Tiang.
"Baik ketua," sahut Lue Ang.
Tepat setelah keduanya menghilang berpindah tempat ketua Puang yang melihat semuanya dari kejauhan mengepalkan tangannya.
Ketua Puang semakin tidak terima Lue Ang menjadi murid ketua Tiang, alasan pertama dirinya sangat menginginkan Lue Ang lebih dulu karena dia memiliki dua Spirit, dan sekarang Lue Ang yang menjadi orang yang terpilih semakin membuatnya ingin memaksanya menjadi muridnya.
"Tunggu saja, Aku pasti bisa menjadikannya muridku tidak penting bagaimana caranya," ucap ketua Puang.
Sesampainya di lapangan Lue Ang sudah ditunggu oleh keempat seniornya yang tidak sabar ingin melihat apa spiritnya, Lue Ang yang baru tiba bersama Ketua Tiang langsung dibawa berjalan ke arah rumahnya.
"Ketua tidak bisa seperti itu kami sudah menunggunya sedari tadi, kami hanya ingin memperlihatkan Spirit masing-masing," ucap senior Ran.
"Benar ketua, kami bahkan rela dijemur di tengah panas ini, lihatlah kulitku bahkan sudah mulai menghitam," sahut senior Yun.
Ketua Tiang yang mau membawa Lue Ang pergi menghentikan langkahnya, ketua Tiang menatap keempatnya yang masih bersikeras ingin melihat spirit Lue Ang.
"Kalian murid senior sudah banyak yang kalian pelajari, berbeda dengannya yang murid baru dia membutuhkan banyak pelajaran," ucap ketua Tiang.
"Tapi kami tidak akan lama ketua," sahut senior Mandu.
"Benar ketua," ucap senior Raksa.
"Tidak masalah ketua aku bisa memperlihatkan spiritku pada mereka karena aku juga merasa penasaran dengan spirit para senior, setelah selesai aku akan berusaha keras menguasai kedua jurus yang ku ambil," sahut Lue Ang.
"Haaaaah, karena kamu sudah bicara seperti itu aku juga tidak bisa berbuat apa-apa, tapi aku akan memasang pelindung di sekitar sini agar tidak ada yang mengetahui apa spiritmu selain yang ada di sini," ucap ketua Tiang.
"Baik ketua," sahut Lue Ang.
Ketua Tiang langsung memasang pelindung agar tidak ada yang bisa melihat spirit Lue Ang saat keluar, ketua Tiang tidak ingin jika ada orang lain yang mengetahuinya dan Lue Ang akan diambil darinya.
"Karena kalian yang memintanya lebih dulu kalian juga yang harus mengeluarkan spirit kalian lebih dulu agar dia melihatnya," ucap ketua Tiang.
"Baik ketua, biar aku saja yang duluan," ucap senior Ran dengan penuh percaya diri.
"Keluarlah!" Teriak senior Ran.
Senior Ran dengan bangga mengeluarkan beruang bertanduk satu miliknya, beruang sendiri tipe spirit yang selalu berada di bagian depan melindungi pengendalinya dan sifat dari spirit beruang adalah ganas.
"Sekarang giliranku," ucap senior Yun.
Sama seperti senior Ran senior Yun juga bangga mengeluarkan serigala merah mata tiga miliknya, Serigala sendiri termasuk spirit ganas yang menyerang tanpa pandang lawan.
"Kamu keluarlah," ucap senior Mandu.
Spirit landak api yang sangat besar jarang dimiliki orang biasa, senior Mandu yang memperlihatkannya semuanya merasa bangga, miliknya bukan spirit tipe menyerang dan lebih fokus bertahan, walau begitu bukan berarti spirit miliknya mudah kalah.
"Kalau punya aku tidak sehebat mereka kuharap kamu tidak menertawakan ku," sahut senior Raksa.
"Tentu saja tidak senior," ucap Lue Ang.
"Keluarlah," sahut senior Raksa.
Hembusan angin yang keluar dari hidung sapi bertanduk cabang milik senior Raksa membuat Lue Ang kagum sama seperti yang lainnya, keempat seniornya memiliki spirit yang sama-sama luar biasa pikirnya.
"Kamu harus mengingatnya kalau aku jauh lebih hebat dari mereka semua," ucap Ameng.
"Itu tentu saja, kamu yang terhebat tidak perlu diragukan lagi," sahut Lue Ang.
"Kalau begitu untuk apa kamu mengagumi mereka?" tanya Ameng.
"Ini pertama kalinya bagiku melihat spirit lain bukan saat bertarung, aku hanya takjub kamu tidak perlu merasa tersaingi," ucap Lue Ang.
"Siapa yang bilang aku merasa tersaingi," sahut Ameng cepat.