NovelToon NovelToon
Pergi Sakit Bertahan Sulit

Pergi Sakit Bertahan Sulit

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Cinta Seiring Waktu / Dunia Masa Depan
Popularitas:294
Nilai: 5
Nama Author: Anisa Rahayu

Cinta adalah anugerah... tapi bagaimana jika cinta harus kamu berikan pada orang lain?

Aletta syavira levania dan Dilan Wijaya Kusuma saling mencintai sejak SMA – cinta yang tumbuh perlahan seperti bunga di musim hujan. Namun ketika sahabatnya Tamara Amelia Siregar mengaku jatuh cinta pada Dilan untuk pertama kalinya, Aletta membuat keputusan berat, melepaskan orang yang dicintainya demi menyenangkan sahabatnya.

"Dia butuh kesempatan, aku mohon Dilan, aku jaminan kamu akan lebih bahagia sama dia." Ucapnya dengan nada yang memelas sampai Dilan pun tak tega untuk menolaknya

Untuk memenuhi janjinya, Aletta mencari cinta baru melalui media sosial dan bertemu Jonathan Adista sanjaya. Sementara itu, Dilan dengan berat hati menjalin hubungan dengan Tamara. Di depan orang lain, semuanya terlihat sempurna – dua pasangan yang harmonis dan bahagia. Namun di balik senyum dan candaan, setiap tatapan Aletta dan Dilan menyimpan rasa rindu yang tak bisa disembunyikan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anisa Rahayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32

Sore itu, udara terasa berat dan kelabu, persis sama seperti perasaan Aletta yang selama ini diselimuti tanda tanya besar dan kekhawatiran tak berkesudahan.

Setelah dia terbangun dari mimpinya bersama Fahri tadi, rasanya seperti nyata, Aletta masih duduk diam di tangga depan rumah, air matanya belum sepenuhnya kering.

Dia mencoba meminum air putih untuk menenangkan dirinya berhasil itu semua cuma mimpi buruknya karena terlalu memikirkan Jonathan.

Namun, belum sempat dia menenangkan diri sepenuhnya, Fahri sudah ada di rumahnya, suaranya terdengar berat, parau, dan penuh kesedihan di seberang sana.

"Al... Gue harus bilang ini sama loh, meskipun gue tahu ini bakal nyakitin hati loh banget," suara Fahri bergetar hebat.

"Papahnya Jo... Pak Yuda... beliau sudah meninggal dunia, Al. Sudah beberapa hari yang lalu. Sebenarnya gue udah coba hubungi loh berkali-kali waktu itu, telepon, pesan, segala cara gue lakuin..."

"Tapi nggak satu pun diangkat atau dibalas sama loh. Gue bingung banget waktu itu, gue pikir loh ada halangan atau sedang pergi ke luar kota, makanya gue nggak bisa kasih kabar lebih awal."

Tubuh Aletta seketika terasa lemas sepenuhnya, seolah seluruh tulang di dalam tubuhnya dicabut paksa. Kakinya gemetar hebat, dan dia terjatuh berlutut di lantai teras.

Air matanya kembali mengalir deras, lebih deras dari sebelumnya, bercampur dengan rasa sakit, rasa kaget, dan rasa bersalah yang tiba-tiba menyerang hatinya.

Jadi... benar semua firasat buruknya. Jadi mimpi tadi itu beneran terjadi sekarang... Jadi, alasan kenapa Jonathan hilang, kenapa dia mematikan Handphonenya kenapa dia menutup diri... semuanya karena dunia dia runtuh hari itu. Dan Aletta baru tahu sekarang.

"Ya Allah... Papah Yuda... sudah tiada..." isak Aletta pelan, suaranya hampir tak terdengar.

"Maafin gue, Fahri... maafin gue... Gue sempat marah, gue sempat kecewa, gue sempat merasa dia jahat menghilang gitu aja... padahal dia lagi berduka sedalam ini... padahal dia lagi hancur sehancur-hancurnya... dan gue malah sibuk mikirin perasaan gue sendiri..."

Di dalam rumah, Puspa yang mendengar tangisan putrinya segera berlari keluar. Dia duduk di samping Aletta, memeluk tubuh putrinya yang menggigil itu dengan erat.

Saat Fahri turut menjelaskan kembali segalanya kepada Puspa, Puspa pun ikut meneteskan air mata. Dia mengerti betapa beratnya cobaan yang menimpa keluarga itu, dan dia pun mengerti betapa besarnya rasa sakit yang kini dipikul oleh anaknya.

Puspa mengusap air mata di pipi Aletta, lalu menatap Fahri yang masih berdiri canggung di dekat pagar dengan pandangan yang penuh kebijaksanaan dan kelembutan.

"Fahri... terima kasih sudah datang dan kasih tahu kami semua," ucap Puspa pelan namun tegas.

"Aletta... Sayang, dengerin Ibu. Sakit hati kamu itu wajar, rasa bersalah kamu itu wajar. Tapi jangan terlalu disiksa diri sendiri ya."

"Kamu nggak tahu, kan? Kamu nggak ada niat buat jahat sama sekali. Sekarang, satu-satunya hal yang bisa kamu lakukan buat menebus semuanya... adalah ada di sana, ada buat Jo. Dia butuh kamu, sayang. Meski dia bilang nggak mau ketemu, meski dia bilang mau sendiri... hati kecil dia pasti berteriak minta kamu datang."

Puspa beralih menatap Aletta, lalu mengangguk memberi izin dengan penuh keyakinan.

"Ibu izinkan kamu pergi ke sana sekarang sama Fahri. Pergi ke rumah Jo. Temui dia, temui mamahnya, sampaikan rasa duka dan kasih sayang kamu. Pergi, sayang. Tunjukkin sama dia kalau dia nggak sendirian di dunia ini."

Mata Aletta yang basah seketika berbinar penuh harap. Dia mengangguk kuat-kuat, segera bangkit berdiri meski kakinya masih terasa lemas. Dia mengusap wajahnya kasar, menghapus sisa air mata, lalu menatap Fahri dengan tekad yang bulat.

"Ayo, Fahri... anterin gue ke sana. Gue harus ke sana sekarang juga." Ucap Aletta menarik tangan Fahri agar segera pergi.

Sepanjang perjalanan menuju rumah Jonathan, rasanya detak jantung Aletta berpacu jauh lebih cepat daripada biasanya.

Dia duduk di belakang motor Fahri, memegang jaketnya pemuda itu erat-erat, matanya menatap jalanan yang berlalu-lalang dengan pandangan yang kabur karena air mata yang belum kering sepenuhnya.

Segala tanya yang selama ini mengganjal di hatinya, segala kebingungan, segala rasa curiga dan kecewa... semuanya kini terjawab sudah. Jawabannya begitu pahit, begitu menyakitkan, dan begitu berat.

Aletta memejamkan matanya rapat-rapat, membiarkan angin sore menerpa wajahnya yang basah. Dia membayangkan betapa hancurnya hati Jonathan saat itu.

Saat Yuda, satu-satunya orang yang paling dia cintai, yang menjadi alasannya bertahan hidup, pergi meninggalkannya selamanya. Dia membayangkan betapa kacaunya hari-hari Jonathan, betapa sepinya rumah itu, betapa sunyi nya hatinya.

Dan yang paling menyakitkan Jonathan menanggung semua rasa sakit itu sendirian. Tanpa kabar, tanpa dukungan, tanpa seseorang yang bisa dia peluk untuk menumpahkan segalanya.

"Maafin aku ya, Jo... maafin aku banget..." batin Aletta berulang kali.

"Aku datang sekarang. Aku udah di jalan ke sana. Aku nggak akan pergi ke mana-mana lagi. Aku bakal ada di sana, di depan pintu kamarmu, sampai kamu mau buka dan mau lihat aku. Kalau kamu mau diam, aku bakal diam di depan pintu. Kalau kamu mau nangis, aku bakal nemenin kamu nangis. Kamu nggak bisa usir aku lagi, Jonathan. Kali ini aku nggak mau denger kata 'tidak' dari kamu."

Perlahan namun pasti, motor Fahri memasuki jalanan yang lebih sepi, menuju perumahan tempat tinggal Jonathan. Dari kejauhan, rumah besar itu sudah terlihat.

Rumah yang biasanya tampak megah dan teduh, kini terlihat begitu suram, sepi, dan dingin. Bendera kain kuning masih terpasang di depan pagar, berkibar pelan tertiup angin, menjadi bukti nyata bahwa kesedihan baru saja melanda rumah itu.

Semakin dekat mereka melangkah masuk ke halaman rumah itu, semakin kuat pula rasa sesak di dada Aletta. Suasana hening yang mencekam menyelimuti seisi rumah.

Tidak ada suara orang berbicara, tidak ada tawa, tidak ada kegiatan. Hanya ada keheningan panjang yang terasa menusuk tulang.

Aletta menghela napas panjang, berusaha mengumpulkan seluruh keberanian yang dia miliki, lalu melangkah masuk mengikuti Fahri menuju beranda rumah.

Begitu melangkah masuk ke ruang tamu, suasana di sana tampak berantakan namun sepi. Beberapa kerabat masih ada yang duduk diam dengan wajah sedih, namun sebagian besar sudah kembali ke rumah masing-masing.

Fahri langsung menuntun Aletta menuju bagian belakang rumah, di mana kamar Jonathan berada. Di sana, di lorong panjang yang gelap dan remang-remang, terlihat pintu kamar Jonathan tertutup rapat. Pintu kayu itu tampak begitu dingin, begitu tertutup, seolah menjadi tembok pembatas yang tebal antara dunia dan isi hati Jonathan.

Fahri berjalan mendekat, lalu mengetuk pintu itu pelan-pelan. Suara ketukan itu terdengar nyaring memecah keheningan.

"Jo... Ini gue, Fahri... sama ada Aletta juga datang nemuin loh," panggil Fahri pelan, suaranya lembut namun tegas.

"Jo, dengerin gue ya... Aletta udah datang jauh-jauh ke sini. Dia khawatir banget sama loh, dia sedih banget denger kabar ini. Dia pengen ketemu sama loh, Jo... bukain pintunya sebentar aja ya? Dia cuma pengen lihat loh, pengen pastikan loh aman..."

Keheningan

Tidak ada jawaban dari dalam. Tidak ada suara langkah kaki, tidak ada suara berdehem, tidak ada apa-apa. Hanya keheningan panjang yang menyakitkan.

Aletta maju selangkah mendekat ke pintu itu. Dia meletakkan telapak tangannya di atas permukaan kayu pintu yang dingin itu, merasakan keberadaan Jonathan yang hanya berjarak beberapa sentimeter darinya namun terasa sejauh matahari. Air matanya kembali menetes jatuh di sana, membasahi kayu pintu itu.

"Jo... ini aku, Aletta..." ucap Aletta pelan, suaranya bergetar dan memohon.

"Aku datang, Jo. Aku udah di sini di depan pintu kamu. Aku tahu kamu sedih banget, aku tahu kamu sakit banget hatinya. Aku tahu dunia kamu rasanya runtuh habis sekarang."

"Aku nggak mau minta kamu buat senyum, aku nggak mau minta kamu buat kuat. Aku cuma mau ketemu kamu, Jo... sebentar aja. Biarin aku lihat wajah kamu, biarin aku peluk kamu. Aku mau ikut rasain sakitnya sama kamu. Bukain ya, Jo... aku mohon banget..."

Namun, jawaban dari dalam hanya suara lirih yang terdengar parau, lemah, dan pecah, seolah suara itu berasal dari seseorang yang sudah menangis berhari-hari tanpa henti. Suara itu terdengar samar, namun cukup jelas terdengar oleh telinga Aletta.

"Pulanglah, Al... tolong pulang ya..." suara Jonathan terdengar begitu menyedihkan.

"Maafin aku... aku nggak bisa ketemu kamu kayak gini. Aku udah hancur, Al... aku udah nggak ada apa-apanya sekarang."

"Aku cuma laki-laki lemah yang cuma bisa nangis dan mengeluh. Aku malu banget sama kamu... aku nggak mau kamu lihat aku yang hancur begini. Biarin aku sendirian aja di sini..."

"Aku cuma mau sendiri. Tolong... pergi aja ya, Al... aku nggak mau ketemu siapa pun, termasuk kamu."

"Jo! Kamu ngomong apa sih?!" seru Aletta, tangannya kini mengetuk pintu itu sedikit lebih kuat karena panik dan sedih.

"Aku nggak peduli kamu hancur atau utuh! Aku nggak peduli kamu kuat atau lemah! Aku tetep mau sama kamu! Aku datang ke sini bukan mau lihat kamu yang gagah atau keren, Jo! Aku datang ke sini karena aku sayang sama kamu, karena aku peduli sama kamu! Buka pintunya, Jo... aku mohon! Jangan usir aku..."

"Jangan, Al... kumohon..." jawab Jonathan lagi, suaranya makin menjauh, seolah dia menjauh dari pintu itu masuk ke dalam kegelapan kamar.

"Kalau kamu sayang sama aku... kalau kamu peduli sama aku... tolong biarin aku sendiri. Aku butuh sendiri. Aku nggak sanggup ngadepin siapa pun sekarang. Maafin aku... maafin aku udah nyakitin kamu lagi... tapi tolong... pulanglah..."

Setelah itu, tidak ada suara lagi. Aletta bersandar lemas di pintu itu, tubuhnya terasa hancur karena penolakan itu. Namun, dia tidak beranjak pergi.

Dia tahu, di balik pintu itu, jonatan sedang meremas dadanya, sedang menangis histeris, sedang berjuang mati-matian menahan diri agar tidak langsung membuka pintu itu dan lari masuk ke dalam pelukannya. Penolakan itu bukan karena benci, melainkan karena rasa cinta yang terlalu besar dan rasa rendah diri yang mendalam.

Fahri menepuk bahu Aletta pelan, menggeleng lemah. "Udah, Al... kita ngerti. Dia belum siap. Tapi loh jangan pergi ya. Tetep di sini. Dia tahu loh ada di sini, itu udah lebih dari cukup buat dia sekarang."

Saat Aletta masih duduk bersandar lemas di depan pintu kamar Jonathan, terdengar suara langkah kaki yang pelan dan berat mendekat dari ujung lorong.

Aletta menoleh, dan melihat sosok Rinjani, ibu kandungnya jonatan, berjalan mendekat dengan wajah yang kacau, pucat, dan penuh air mata. Wanita yang biasanya tampak begitu tegas, cantik, percaya diri, dan selalu sibuk dengan dunia luarnya itu, kini tampak begitu rapuh, tua, dan hancur.

Rinjani berjalan terhuyung-huyung, lalu begitu sampai di hadapan Aletta, dia langsung berlutut di lantai dingin itu, memeluk pinggang Aletta erat-erat, dan menangis sejadi-jadinya di sana. Isak tangisnya terdengar memilukan, penuh rasa bersalah yang mendalam, penuh penyesalan yang tak terkira.

"Aletta... Nak Aletta... maafin Tante... maafin tante ya..." isak Rinjani, suaranya pecah tak terkendali.

"Tante salah banget... Tante bodoh banget... Tante nggak pantes jadi ibu... lihat apa yang terjadi sama anak saya? Lihat Jo jadi kayak gini? Semua gara-gara saya... semuanya salah saya..."

Aletta terkejut bukan main. Dia segera ikut berlutut, memeluk bahu Rinjani, mengusap punggung wanita itu berulang kali berusaha menenangkan, meski hatinya sendiri pun sedang hancur berantakan.

"Sudah, Tante... sudah, jangan ngomong gitu... Tante jangan nyalahin diri sendiri... ini cobaan, Tante... semuanya udah takdir Tuhan..." ucap Aletta lembut berusaha menenangkan.

Namun Rinjani menggeleng kuat-kuat, tangannya meremas baju Aletta dengan kuat seolah mencari pegangan terakhir agar tidak jatuh.

"Bukan! Ini bukan takdir semata, Nak! Ini karena kelalaian saya! Ini karena saya terlalu sibuk!" seru Rinjani di sela-sela tangisnya.

"Kamu tahu nggak, Aletta? Saya sibuk syuting, saya sibuk jadi model, saya sibuk ke sana ke mari... alasannya cuma satu saya mau cari uang banyak, Nak!"

"Saya kerja mati-matian, saya ninggalin rumah berbulan-bulan, saya jauh dari suami dan anak saya..."

"Saya pikir kalau saya punya uang, saya bisa kasih apa aja buat mereka. Saya pikir kalau saya punya uang, Papahnya Jonathan bisa berobat terus, bisa cuci darah tiap minggu, bisa beli obat mahal, bisa sehat terus... Saya pikir itu cara saya sayang sama mereka, cara saya bertanggung jawab."

Rinjani mengangkat wajahnya yang basah kuyup oleh air mata, menatap Aletta dengan pandangan yang kosong dan penuh kepedihan.

"Tapi saya salah besar, Nak... Saya salah banget ternyata..." lanjutnya, suaranya parau.

"Uang saya banyak, obat saya beli paling mahal, dokter saya bayar paling hebat... tapi saya lupa satu hal yang paling penting WAKTU. Saya punya segalanya buat mereka, tapi saya nggak pernah ada buat mereka."

"Saya sibuk cari uang demi nyawa suami saya, tapi saya malah sibuk sama kerjaan saya sampai saya lupa dengan keluarga saya. Saya pikir saya kerja keras demi keluarga, tapi ternyata saya malah menjauhi keluarga itu sendiri."

"Saya baru sadar sekarang... saat Papahnya udah pergi, saat anak saya udah hancur dan mengurung diri... uang itu nggak ada gunanya sama sekali. Uang nggak bisa beli kembali waktu yang hilang, uang nggak bisa hapus rasa sepi yang mereka rasakan bertahun-tahun ini."

Rinjani menunduk kembali, menangis semakin keras di pelukan Aletta.

"Jo tumbuh besar tanpa saya, Nak... dia besar cuma sama Papahnya. Dia lihat Papahnya sakit-sakitan, dia lihat Papahnya berjuang sendirian, dia nanggung semuanya sendirian..."

"Sementara saya ada di luar sana, tertawa, difoto, tampil cantik... Saya nggak tahu betapa sepinya rumah ini, saya nggak tahu betapa beratnya beban di pundak anak saya."

"Sekarang Papahnya pergi... dan lihatlah, Aletta... Jo jadi kayak gini. Dia merasa sendirian banget. Dia merasa nggak punya siapa-siapa lagi. Dan itu semua salah saya... karena saya terlalu sibuk cari materi sampai lupa kasih, kasih sayang yang sederhana tapi paling berharga itu..."

Aletta ikut menangis mendengar pengakuan tulus dan menyakitkan itu. Dia memeluk Rinjani makin erat, membiarkan air matanya bercampur dengan air mata wanita itu di bahu yang sama.

Hatinya terasa diremas-remas melihat penyesalan yang begitu besar, begitu dalam, dan begitu menyakitkan itu.

Dia tahu betul, Rinjani bukan wanita jahat, bukan ibu yang tidak sayang, dia hanya tersesat di antara kewajiban dan kasih sayang, tersesat di antara apa yang dia pikir terbaik dan apa yang sesungguhnya dibutuhkan oleh keluarganya.

"Sudah, Tante... sudah, jangan disiksa diri sendiri terus..." isak Aletta pelan, suaranya bergetar namun penuh kelembutan.

"Aletta ngerti banget kok niat Tante dari awal. Tante kerja keras, Tante pergi jauh-jauh, Tante rela ninggalin kenyamanan rumah... semuanya demi Papah, semuanya demi jonatan, semuanya demi keluarga ini."

"Aletta tahu, di lubuk hati yang paling dalam, Tante itu orang yang paling sayang sama mereka. Tante nggak salah, Tante cuma salah paham aja sama cara kasih sayang itu sendiri."

"Tapi sekarang nggak ada gunanya nyalahin diri sendiri ya, Tante... Om Yuda sudah pergi, dan dia pasti sudah maafin semuanya. Dia pasti tahu banget betapa besarnya pengorbanan dan kasih sayang Tante di balik semua itu."

Aletta melepaskan pelukannya perlahan, lalu mengusap wajah Rinjani yang basah kuyup itu dengan kedua tangannya yang gemetar. Dia menatap mata wanita itu lekat-lekat, penuh ketulusan dan kekuatan.

"Yang sekarang jadi tugas kita... bukan lagi nangisi yang sudah pergi, bukan lagi nyesal apa yang sudah lewat... tapi gimana kita menyelamatkan yang masih ada, Tante," ucap Aletta tegas namun lembut.

"Jo masih ada. Dia ada di balik pintu itu, sedang hancur, sedang kesepian, sedang merasa sendirian di dunia ini. Dia butuh Tante sekarang. Dia butuh ibunya. Dia butuh kasih sayang dan kehadiran Tante yang dulu hilang karena kesibukan. Tante harus bangkit, Tante harus kuat, demi Papah yang sudah pergi, dan demi Jo yang masih butuh ibunya banget."

Rinjani mengangguk lemah, namun air matanya masih terus menetes. Dia menatap pintu kamar tertutup itu dengan pandangan yang penuh kerinduan dan rasa bersalah.

"Saya takut, Aletta... Saya takut dia benci sama saya... Saya takut dia marah sama saya... Saya takut dia menganggap saya nggak pernah ada buat dia..."

"Nggak akan pernah ada kebencian di hati anak sama ibunya, Tante," potong Aletta pelan.

"Dia cuma sedih, dia cuma kecewa, dia cuma rindu. Nanti waktunya bakal jawab semuanya. Sekarang, kita sama-sama berjuang ya, Tante. Kita sama-sama tunggu dia sampai dia siap buka pintu itu. Kita nggak akan pergi ke mana-mana."

Saat suasana di lorong itu mulai sedikit lebih tenang namun masih diselimuti kepedihan, terdengar suara langkah kaki ringan yang mendekat dari arah ruang tengah.

Rosa kakak nya, datang membawa nampan berisi teh hangat dan makanan ringan. Dia menatap pemandangan di hadapannya Aletta duduk bersandar di pintu, Rinjani masih terlihat rapuh, dan Fahri berdiri diam dengan wajah lelah.

Rosa meletakkan nampan itu di meja kecil di dekat situ, lalu menghela napas panjang sambil menatap pintu kamar yang masih tertutup rapat itu dengan pandangan yang berpikir keras.

Dia sudah mencoba segala cara, sudah membujuk, sudah memanggil, sudah berdoa... tapi Jonathan tetap kekeh pada pendiriannya untuk tidak bertemu siapa pun.

"Kalau begini terus nggak bakal selesai, selesai..." gumam Rosa pelan, seolah berbicara pada dirinya sendiri namun cukup terdengar oleh mereka semua.

Dia menoleh menatap Aletta yang masih tampak sedih dan bingung, lalu seketika itu juga matanya berbinar seolah mendapatkan ide cemerlang, meski agak nekat dan berisiko.

Rosa mendekat ke arah Aletta, memberi isyarat agar gadis itu mendekat. Dia berbisik pelan, namun cukup jelas didengar oleh Aletta dan Fahri di sampingnya.

"Aku punya ide, tapi ini agak nekat... tapi aku rasa ini satu-satunya cara buat bikin Jo keluar dari 'gua' gelapnya itu," ucap Rosa dengan nada serius namun penuh harap.

"Kita bakal ngetes seberapa besar cinta dia sama kamu, Aletta. Kita bakal pura-pura aja... Kamu bakal pura-pura terjatuh dari tangga di dekat sini, terus saya bakal teriak kenceng-kenceng manggil nama kamu, bilang kamu kenapa-kenapa atau kamu terjatuh."

"Saya yakin banget... kalau cinta dia beneran besar dan tulus, seberapa hancur pun hati dia, seberapa dalam pun kesedihan dia... denger kamu dalam bahaya bakal jadi alarm terkeras buat dia."

"Dia bakal lupa sama rasa sakitnya, lupa sama egonya, lupa sama ketakutannya... dia bakal lari keluar cuma buat pastikan kamu aman."

Aletta tertegun mendengar ide itu. Matanya membelalak kaget, campuran rasa takut, ragu, dan bimbang menyerangnya seketika. Dia menatap pintu kamar itu lagi, lalu menatap Rosa dengan pandangan yang cemas.

"Tapi... Kak Rosa... kalau ini gagal gimana? Kalau dia tetap diam aja gimana? Nanti malah makin sakit hati lagi..." gumam Aletta pelan, suaranya penuh keraguan.

Dia bertanya-tanya dalam hati Apakah sebesar itu cinta dia sama gur? Apakah gue cukup berharga buat dia sampai dia mau lupa rasa sakitnya demi gue?

Rosa mengangguk yakin, lalu menggenggam tangan Aletta erat-erat.

"Dengerin kakak, Aletta. Saya udah kenal Jo dari dia masih kecil. Saya tahu persis apa yang ada di hati dia. Sejak dia kenal kamu, sejak kamu masuk ke hidup dia... kamu bukan cuma jadi pacar buat dia, kamu jadi dunianya yang baru, jadi alasan dia napas."

"Dia mengurung diri sekarang karena dia merasa udah nggak punya apa-apa lagi, dia merasa udah hancur, dia merasa nggak layak buat kamu. Tapi di balik semua itu... rasa takut kehilangan kamu itu jauh lebih besar daripada rasa sedihnya kehilangan Papah."

"Percaya sama saya, Aletta. Ini bakal berhasil. Dan kalau pun dia tetap diam... setidaknya kita udah coba cara terakhir ini, dan kamu bakal tahu pasti jawabannya."

Fahri yang mendengar rencana itu pun ikut mendekat, mengangguk setuju.

"Ide Kak Rosa bagus, Al. Kita udah kehabisan cara lain. Ini satu-satunya jalan. Dan gue yakin banget... nggak ada cara lain yang lebih ampuh selain nama loh dan keselamatan loh buat bikin dia bergerak. Ayo, kita coba ya? Demi dia, demi hubungan kalian."

Aletta menarik napas panjang, menghembuskannya perlahan berusaha mengusir segala rasa takut dan ragu di hatinya. Dia menatap pintu kamar itu untuk terakhir kalinya dengan penuh doa dan harapan. Dia pun mengangguk pelan, menyetujui rencana itu.

"Oke... kalau kalian semua yakin... Saya ikut saja. Saya percaya sama kalian, dan saya percaya sama rasa cinta dia sama saya. Ayo Kak Rosa... Saya siap." Ucap Aletta menarik nafasnya mencoba mempersiapkan diri.,

Rosa tersenyum puas, lalu memberi kode pada mereka semua agar bersiap. Dia berjalan menuju tangga kayu tua yang berada tak jauh dari lorong itu, tangga yang menghubungkan ruang tengah ke lantai atas.

Rosa berdiri di anak tangga paling bawah, lalu mengambil napas dalam-dalam. Dengan sekuat tenaga, dia menjatuhkan tubuhnya ke samping seolah terpeleset dan jatuh berguling dari tangga, lalu berteriak sekeras-kerasnya, teriakan yang terdengar panik, menyakitkan, dan penuh ketakutan.

"AAAAA!!! TOLONG!!! ALETTA!!! ALETTA KENAPA?! ALETTA JATUH!!! TOLONG!!! Joooo!!! KELUAR KAMU!!! ALETTA KENA MUSIBAH!!!"

Suara teriakan itu menggema keras ke seisi rumah, memecah keheningan yang panjang dan menyakitkan itu. Detik-detik hening yang berikutnya terasa begitu lama, begitu menegangkan, dan begitu mendebarkan hati Aletta.

Dia berdiri kaku di depan pintu, jantungnya berpacu tak karuan, matanya tak lepas dari daun pintu kayu itu. Rinjani dan Fahri pun menahan napas, menanti apa yang akan terjadi selanjutnya.

Dan detik itu juga... terdengar suara langkah kaki tergesa-gesa di dalam kamar. Suara bunyi kunci diputar dengan kasar. Suara engsel pintu yang berdecit nyaring karena dibuka dengan dorongan kuat.

KRAK!

Pintu itu terbuka lebar.

Dan di sana, berdiri sosok yang selama ini mereka tunggu-tunggu. Jonathan. Wajahnya kacau, pucat, matanya merah bengkak dan liar, rambutnya berantakan, bajunya kusut.

Napasnya memburu, keringat dingin membanjiri wajahnya, dan matanya yang liar itu langsung mencari-cari ke sekeliling, mencari satu nama yang tadi diteriakkan.

Saat matanya akhirnya tertuju pada Aletta yang berdiri di sana, berdiri utuh, aman, dan menangis diam-diam menatapnya... raga Jonathan seketika lemas.

Dia tidak peduli apa pun lagi. Dia tidak peduli rasa sakitnya, tidak peduli rasa malunya, tidak peduli dunianya yang runtuh. Satu-satunya hal yang ada di kepalanya saat itu Aletta aman.

Dengan langkah gontai dan tubuh yang gemetar, Jonathan berjalan terhuyung-huyung mendekati Aletta. Dan saat jarak mereka tinggal selangkah lagi...

Dia langsung menjatuhkan dirinya masuk ke dalam pelukan Aletta, memeluk gadis itu seerat-eratnya, seolah takut jika dia melepaskan barang sedetik saja, Aletta akan hilang ditelan bumi sama seperti Yuda.

Isak tangisnya pecah kembali, lebih keras, lebih menyakitkan, namun kali ini ada rasa lega yang luar biasa besar di sana.

"Maafin aku... maafin aku... aku pikir kamu pergi... aku pikir kamu kenapa-kenapa... aku nggak sanggup kalau ada apa-apa sama kamu... kamu nyawaku, Al... kamu segalanya buat aku..." rintih Jonathan di dada Aletta.

Sementara Aletta membalas pelukan itu dengan kekuatan sekuat tenaganya, membiarkan air matanya membasahi bahu pemuda itu, merasa lega luar biasa karena akhirnya... akhirnya tembok pemisah itu runtuh, dan mereka kembali bersatu.

~be to continuous~

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!