Dave yakin guru tk para keponakannya adalah perempuan yang menjadikannya sebagai sasaran kekalahannya dalam permainan true or dare dua malam yang lalu.
Bisa bisanya perempuan yang suka clubbing jadi guru tk. Bagaimana nanti masa depan keponakan keponakannya?
Semoga suka♡♡♡
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rahma AR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Otewe Dinner
Opa Hendy bergerak cepat. Dia segera membuat janji untuk bertemu Puspa dan Herdin di perusahaan Herdin
"Ada yang mau om bicarakan."
Puspa dan Herdin tersenyum, karena sudah tau yang akan dibicarakan Om Hendy.
"Om ingin menjodohkan Dave dengan Rhea," ucap.Hendy terus terang.
"Kalian pasti sudah tau, kan?" lanjutnya setelah menjeda sebentar ucapannya. Hendy Permana kemudian mengembangkan senyumnya.
"Niat kami juga begitu, om." Herdin menyahut dengan menganggukkan kepalanya.
"Om Hendy setuju, ya." Senyum Puspa melebar.
"Tentu saja. Kamu tau sendiri, kan, Om pengen banget Dave cepat menikah," kekeh Opa Hendy dengan tidak menutupi perasaan hatinya yang bahagia.
Herdin dan Puspa juga tergelak pelan.
Beberapa jenak kemudian.
"Dave setuju, kan, om?" tanya Herdin memastikan.
"Tentu. Karena itu om ke sini, mau tau siapa orang tuanya Rhea. Om dengar mamanya teman kamu, ya, Puspa."
"Iya, om. Teman sejak lama. Tapi aku yakin om kenal orang tuanya," jawab Puspa dengan mata berbinar cerah.
"Oh ya? Kalo kenal lebih baik lagi. Siapa namanya? Pebisnis juga, ya?"
Puspa mengangguk.
"Suaminya anggota dewan di Surabaya, om. Pebisnis lama. Namanya Nazar Agrinas," jelas Puspa.
"Oooh.... Ya, ya. Om pernah ketemu beberapa kali." Hendy menyahut cepat dan yakin kalo.semuanya akan berjalan mudah untuk Dave.
"Tapi....." Puspa.menatap Herdin saat menjeda ucapannya.
"Kenapa?" sela Hendy dengan kernyitan di kening. Dia mulai merasa ada hambatan.
"Begini, Om. Rhea sudah dijodohkan dengan orang lain."
Hendy termangu mendengar penjelasan suami Puspa.
"Tapi Arsati, istri Nazar ngga setuju. Jadinya Arsati menitipkan putrinya padaku, om. Nazar masih mencari putrinya."
Hening setelah Puspa memberikan penjelasan.
'Oke, kalo begitu om harus cepat cepat kamar Rhea aja, kan." Hendy tersenyum lebar.
"Begitu lebih baik, om," tukas Herdin cepat.
Opanya Dave menganggukkan kepalanya.
"Malam ini rencananya om mau ajak Dave dan Rhea makan malam. Besok om akan langsung ke Surabaya, ngelamar Rhea."
Hendy sudah ngga sabar menunggu malam segera tiba nanti.
*
*
*
Rhea sengaja memilih menghindar dari beberapa pengajar yang sempat julid dengannya. Dia lebih baik menutup komunikasi dengan mereka.
Untungnya saat pulang sekolah, Dave menjemput tepat waktu.
"Jemput anak siapa, Dave?" canda Jayden yang sama sama baru turun dari mobil.
Dave tersenyum miring.
"Yakin ngga mau cerita rahasia kamu?" pancing Jayden.
"Rahasia apa?" tanya Dave cuek sambil melayangkan tatapannya ke arah keponakan keponakannya yang sedang berlari mendekat ke arahnya. Juga ada Rhea menyusul di belakangnya.
"Kamu sudah kenal Rhea, kan?" tuduh Jayden tetap dengan keyakinan lamanya.
"Kepo."
Jayden tergelak dan tidak bertanya lagi karena putrinya sudah mendekat.
Sepupunya yang lain juga sudah datang dan menjemput anak anak mereka. Mereka sepertinya sengaja menjauhi Jayden dan Dave.
"Om Dave jemput Miss Rhea?" tebak Samiya yang sudah berada di depan Dave. Rhea yang berada di belakang Samiya jadi agak kikuk mendengarnya.
"Iya, dong. Kan, mau jadi tante Miya juga." Jayden yang menyahut.
"Senangnya. Nanti gampang kalo ada pe-er," jawab Samiya lagi dengan wajah riang.
Jayden tergelak lagi.
"Ya, sayang. Tentu," sahut Jayden lagi
"Ya udah, kita duluan, ya, Dave, Rhea," pamit Jayden sambil menggandeng Samiya. Tidak ingin mengganggu Dave.
"Daah, om, miss," pamit Samiya.
"Daah, sayang," pamit Rhea sambik membalas lambaian tangan Samiya. Di dekatnya Dave juga melambaikan tangan pada keponakannya.
"Aku antar pulang," ucap Dave sambil membuka pintu mobil untuk Rhea.
"Ya." Rhea tanpa ragu masuk ke dalam mobil Dave. Sekarang dia bodoh amat dengan tatapan pengajar yang julid dengannya. Dia juga ngga akan lama lagi mengajar di sini. Kalo identitasnya sudah terbuka, dia akan kembali ke Surabaya.
"Melamun apa?" tanya Dave ketika setelah setengah perjalanan Rhea hanya diam saja.
Rhea menggelengkan kepalanya pelan.
"Mikirin dinner nanti malam sama opa?"
Rhea menggeleng lagi. Malah dia belum sempat memikirkannya.
Senyum miring Dave terbit dibibirnya.
"Jadi sudah siap jadi cucu menantunya?"
DEG
Aliran darah Rhea mengalir deras dan cepat.
"Kamu ngga pura pura bo-doh, kan, dengan niat opa ketemu kamu malam ini?"
Rhea berusaha menenangkan debar cepat di dadanya. Pertanyaan pertanyaan Dave membuat dia sangat gugup.
"Percayalah, setelah dinner malam ini, besok atau lusa opa akan melamar kamu."
Rhea tambah gugup. Hatinya gamang.
Mereka akan menikah? Rhea melirik Dave yang ternyata sedang menatapnya juga. Tapi laki laki itu mengalihkan netranya, fokus ke jalannya.
"Aku belum memberitau opa tentang foto kita. Kalo opa tau mungkin kita akan langsung dinikahkan."
Tiap ucapan yang keluar dari mulut Dave membuat dadanya makin bergemuruh hebat.
Papanya saja langsung mencarikan dia jodoh setelah tau foto itu, batinnya resah
Dave melirik Rhea lagi yang .asih menatapnya. Dave tersenyum.
"Gimana? Opa perlu tau atau tidak?" tantang Dave santai sambil mengalihkan lagi tatapnya ke depan. Tapi sudut bibirnya terlihat berkedut.
Rhea ngga menyahut tapi gemuruh di dalam dadanya tetap tidak mau berhenti.
*
*
*
Tanpa setau Rhea, Dave menginap di apartemen yang berada di depan unit Rhea.
Setengah jam sebelum waktunya dinner, Dave bahkan sudah menunggu Rhea. Sementara opanya nanti akan berangkat dengan supirnya ke tempat janjian mereka.
"Kamu sejak kapan sudah di sini?" kaget Rhea ketika membuka pintu unitnya san melihat Dave sedang bersandar di dinding yang berada di depannya.
"Baru juga datang." Dave memperhatikan penampilan Rhea yang tampak lebih sopan dari penampilannya sewaktu mereka pertama kali bertemu di club dulu.
"Sekarang bajumu lebih sopan."
Rhea hampir mendengus. Dia mengenakan pakaian yang tadi diantar pengawal Tante Puspa di sekolah. Agar tidak menimbulkan banyak tanya, ibu kepala sekolah yang memberikan padanya di ruangannya.
Dia yakin kalo pakaian ini baru dibeli lagi oleh Tante Puspa. Karena Rhea sudah cukup hapal dengan model dan warna pakaian yang ada di lemari yang ada di apartemennya.
Pakaiannya terbuat dari kain sutra yang sangat lembut, panjang roknya selutut dengan krah dan berlengan hampir sebatas siku. Warnanya biru gelap. Kontras dengan kulit Rhea yang putih kemerahan.
"Penampilanmu masih ada yang kurang."
Rhea menatap Dave yang meraih sesuatu di saku jasnya. Matanya agak terbelalak melihat untaian kalung yang kini ada di tangan kanan Dave.
Tanpa Rhea sempat berpikir Dave sudah menepikan rambut Rhea ke samping untuk memudahkannya mengenakan kalung di leher Rhea.
Rhea merasa suhu tubuhnya turun drastis dengan perlakuan Dave.
Gesekan halus pipi mereka juga sentuhan tangan Dave yang berada di kulit leher dan rambutnya membuatnya merinding.
"Kamu wangi."
Dave mengec-up sebentar tengkuk terbuka Rhea sebelum merapikan rambut gadis itu lagi, menutup tengkuknya yang terasa dingin.
Rhea masih berdiri mematung. Dia bahkan belum sadar kini Dave sudah berada di depannya. Jantungnya makin tantrum dan pipi hingga lehernya terasa panas oleh hembusan nafas Dave.
"Kita berangkat sekarang?" bisik Dave di dekat telinga Rhea.
Tapi Rhea berhasil sadar ketika bibir Dave hampir menyentuh bibirnya. Tangannya bergetar menahan dada Dave yang akan mendekat.
"Ki kita pe pergi sekarang," ucapnya tergagap.
kk othor... di nanti sekaleeee loh upp nya.. 🙏 semangat... 🥰🥰
salahkan papamu Rhe, coba ide konyol perjodohan itu ga ada pasti ga akan ada perpisahan yg tertunda begini, kesian ibu dan anak terpisah...