Dia melihat sisi gelapnya, dan seharusnya tidak selamat.
Tapi Zayn tidak menghapusnya dari dunia.
Dia memilih sesuatu yang lebih berbahaya menjadikannya miliknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ValerieKalea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bekal
Senin pagi datang membawa suasana yang jauh berbeda dibanding akhir pekan sebelumnya. Rumah besar milik Zayn kembali hidup lebih cepat dari biasanya. Suara langkah para pekerja rumah mulai terdengar samar dari lantai bawah, aroma kopi hangat memenuhi udara, dan untuk pertama kalinya setelah beberapa hari terakhir, suasana sibuk perlahan kembali terasa.
Aurora membuka mata perlahan sambil mengerjap kecil.
Beberapa detik ia hanya diam memeluk boneka kucing putihnya sebelum akhirnya menghela napas panjang, “Hari Senin…”
Artinya hari kerja. Dan entah kenapa, kali ini Aurora justru merasa semangat.
Aurora buru-buru turun dari ranjang lalu berjalan menuju kamar mandi dengan langkah cepat.
Tak lama kemudian ia keluar dengan penampilan yang jauh lebih rapi dibanding hari-hari sebelumnya.
Ia memakai blouse putih lembut dipadukan rok cream simpel dengan cardigan tipis berwarna senada.
Rambut panjangnya sudah disisir rapi, bahkan poni depannya juga terlihat jauh lebih tertata.
Aurora berdiri di depan cermin sambil menarik napas kecil.
Hari itu ia sudah memutuskan satu hal. Ia tidak akan kabur lagi. Ia mau minta izin baik-baik.
Beberapa menit kemudian Aurora turun ke lantai bawah.
Zayn sudah duduk di meja makan sambil membaca sesuatu di tablet hitamnya seperti biasa.
Aurora langsung duduk di kursi seberang sambil memainkan sendok kecil di tangannya pelan.
Beberapa detik suasana tetap hening.
Aurora melirik Zayn sekali.
Dua kali.
Tiga kali.
Sampai akhirnya Zayn mengangkat pandangan tanpa ekspresi, “Kenapa?”
Aurora langsung duduk lebih tegak, “Aku mau ngomong serius.”
“Biasanya juga serius.”
Aurora langsung mendelik kecil.
Namun beberapa detik kemudian ia tetap berkata pelan, “Aku boleh kerja lagi nggak?”
Suasana meja makan langsung terasa sedikit lebih tenang.
Zayn tidak langsung menjawab. Tatapannya justru berhenti beberapa detik pada wajah Aurora.
“Aku udah sehat” lanjut Aurora cepat.
“Aku nggak pusing lagi, nggak demam, nggak lemes, dan aku bosen di rumah terus…”
Zayn menyandarkan tubuhnya pelan ke kursi, “Kalau capek?”
“Aku pulang.”
“Kalau pusing?”
“Aku langsung bilang.”
“Yakin nggak maksa?”
Aurora langsung diam.
Zayn menatap datar, “Nah.”
Aurora langsung mendesah kecil, “Aku janji nggak maksa…”
Beberapa detik suasana kembali hening.
Sampai akhirnya Zayn berkata pendek, “Setengah hari.”
Aurora langsung membeku, “…Hah?”
“Cuma sampai siang.”
Mata Aurora langsung berbinar penuh semangat, “SERIUS?!”
“Kalau teriak saya batalin.”
Aurora langsung buru-buru menutup mulut sendiri sambil menahan senyum lebar.
Dan untuk pertama kalinya pagi itu, sudut bibir Zayn naik tipis samar.
Tak lama kemudian Aurora langsung menghabiskan sarapannya dengan semangat seperti anak kecil mau piknik.
Sedangkan Zayn tetap terlihat tenang seperti biasa. Namun diam-diam pria itu sempat melirik Aurora beberapa kali.
Sebelum berangkat, Zayn berdiri dari kursinya lalu berjalan ke arah dapur.
Aurora yang sedang sibuk memakai sepatu tidak terlalu memperhatikan.
“Siapin makan siang” ucap Zayn pendek pada salah satu pelayan rumah.
Pelayan itu langsung mengangguk cepat, “Baik pak.”
Aurora yang mendengar malah mengangkat kepala bingung, “Buat siapa?”
Zayn tetap terlihat santai, “Buat di rumah.”
Aurora langsung mengangguk kecil tanpa curiga sedikit pun.
Beberapa menit kemudian mereka akhirnya berangkat bersama.
Sepanjang perjalanan Aurora terlihat jauh lebih hidup dibanding hari-hari sebelumnya.
Ia terus melihat keluar jendela sambil sesekali berbicara kecil tentang hal random.
Sedangkan Zayn hanya mendengarkan sambil menyetir tenang.
Tak lama kemudian mobil mereka akhirnya sampai di kantor.
Begitu Aurora masuk ke dalam ruangan kantor, beberapa orang langsung menoleh kaget.
“She’s alive” gumam salah satu staf pelan.
Aurora langsung tertawa kecil malu sendiri.
Dan tentu saja, Sheila jadi orang paling heboh, “YA TUHAN AURORA!”
Sheila langsung memeluk Aurora sampai hampir membuatnya kehilangan napas.
Aurora langsung meringis kecil, “Aku baru sembuh jangan dibunuh…”
Sheila langsung menarik tubuh Aurora lalu memperhatikannya serius, “Kurus.”
“Kenapa semua orang ngomong gitu sih…”
Namun beberapa detik kemudian Sheila malah mendekat sambil berbisik kecil, “Lo dianter Zayn ya?”
Aurora langsung salah tingkah, “Ya, kebetulan.”
“Cie.”
“DIEM.”
Hari itu berjalan cukup sibuk.
Aurora mulai kembali memeriksa dokumen, membalas email, dan menyusun beberapa laporan yang sempat tertunda.
Awalnya Aurora merasa baik-baik saja.
Namun semakin siang, kepalanya mulai terasa sedikit berat karena terlalu lama fokus bekerja.
Dan seperti biasa, Aurora memilih pura-pura tidak sadar.
Sampai akhirnya sebuah kotak makan diletakkan pelan di mejanya.
Aurora langsung mengangkat kepala bingung.
Dan Zayn berdiri di sana dengan ekspresi setenang biasanya.
Seluruh ruangan langsung mendadak hening.
Sheila bahkan sampai membeku sambil memegang gelas minumnya.
Aurora berkedip pelan, “Pak?”
“Makan.”
Aurora menatap lunch box itu bingung, “Ini apa?”
“Makanan.”
“Aku tau maksudnya-”
“Ke ruangan saya.”
Hening.
Sheila langsung menatap Aurora dengan ekspresi kaget.
Aurora buru-buru berdiri kecil sambil membawa lunch box itu dengan wajah merah sendiri.
Begitu pintu ruang kerja Zayn tertutup, Aurora langsung menoleh cepat, “Pak ini dari mana?”
Zayn duduk santai di sofa sambil membuka beberapa dokumen kerja Aurora, “Dari rumah.”
Aurora masih bengong beberapa detik. Lalu perlahan matanya membesar, “Jadi tadi pagi…”
“Kamu kalau kerja suka lupa makan.”
Aurora langsung diam. Dadanya tiba-tiba terasa hangat dengan cara yang aneh.
Aurora akhirnya duduk pelan lalu membuka lunch box itu perlahan.
Isinya makanan hangat yang masih rapi. Bahkan ada buah potong kecil dan vitamin di dalamnya.
Aurora langsung menatap tidak percaya, “Pak ini lengkap banget…”
“Makan.”
Aurora langsung tertawa kecil pelan.
Sedangkan Zayn tetap fokus memeriksa hasil kerja Aurora seperti tidak terjadi apa-apa.
Beberapa menit kemudian suasana ruangan menjadi jauh lebih tenang.
Aurora makan pelan sambil sesekali melirik ke arah Zayn.
“Pak.”
“Hm?”
“Bapak belum makan?”
“Udah.”
“Terus kenapa nyuruh aku makan disini?”
Zayn diam beberapa detik sebelum akhirnya menjawab santai, “Biar kamu beneran makan.”
Aurora langsung gagal menjawab.
Ia buru-buru minum supaya tidak terlihat salah tingkah.
Namun sudut bibir Zayn sempat bergerak tipis samar melihat reaksinya.
Setelah selesai makan, Aurora langsung refleks kembali ke ruangannya.
Ia duduk di mejanya lalu membuka laptopnya. Namun baru beberapa detik mengetik tangannya mendadak berhenti karena mendengar panggilan.
“Flora.”
Aurora langsung duduk tegak refleks, “Iya?”
“Siap-siap.”
Aurora mengernyit bingung, “Hah?”
“Pulang.”
Aurora langsung melotot, “KAN BARU JAM-”
“Janji kamu apa?”
Aurora langsung lemas di kursinya.
Zayn menatap datar, “Setengah hari.”
Aurora langsung mendengus kecil, “Bapak nyebelin…”
Namun tetap saja ia membereskan barang-barangnya.
Karena kali ini, Aurora memang tidak mau melanggar janjinya sendiri.
Mereka akhirnya kembali ke rumah.
Begitu sampai, Aurora langsung mengganti pakaiannya dengan sweater oversized santai dan celana panjang rumah yang nyaman.
Rumah sore itu terasa cukup tenang.
Nelly sedang merapikan beberapa barang di dapur ketika melihat Aurora berdiri di depan wastafel sambil mencuci lunch box pelan.
“NON AURORA?!”
Aurora langsung menoleh kaget, “Kenapa? Nggak usah panggil aku nona, panggil aja Aurora.”
“Kenapa nyuci sendiri?!”
Aurora langsung bingung, “Ya nyuci aja…”
Nelly buru-buru mendekat, “Nanti biar aku aja!”
Aurora langsung menahan lunch boxnya, “Ih nggak usah, cuma beginian.”
“Tapi Pak Zayn bilang kamu nggak boleh capek-capek dulu!”
Aurora langsung berhenti sebentar, “…Hah?”
Nelly langsung sadar keceplosan.
Aurora langsung menyipitkan mata curiga, “Pak Zayn ngomong gitu?”
Nelly langsung salah tingkah kecil, “Eee…”
Aurora langsung menahan tawa kecil, “Aku cuma nyuci bekal kok.”
“Tapi tetap aja…”
“Nelly.”
“Iya?”
“Aku bukan pasien ICU.”
Nelly langsung tertawa kecil pasrah.
Dan beberapa detik kemudian suara langkah kaki terdengar mendekat dari arah ruang tengah.
Zayn muncul sambil membuka kancing manset kemejanya pelan.
Tatapannya langsung jatuh pada Aurora yang masih berdiri di depan wastafel, “Kamu nyuci?”
Aurora langsung menjawab santai, “Aku masih punya tangan.”
Zayn menghela napas kecil samar.
Namun kali ini pria itu tidak melarang lagi.
Dan entah kenapa, hal sederhana seperti itu justru membuat Aurora tersenyum kecil sendiri.
Malam datang perlahan dan rumah kembali tenang seperti biasanya.
Setelah makan malam sederhana bersama Nelly dan sedikit keributan receh dari Rakha dan Evan, suasana rumah mulai sepi.
Aurora duduk di sofa ruang tengah sambil memeluk boneka kucing putihnya.
Awalnya ia hanya ingin istirahat sebentar setelah hari pertamanya kembali bekerja. Namun tanpa sadar matanya perlahan terasa berat.
Televisi masih menyala. Sedangkan Aurora sudah tertidur pulas di sofa dengan posisi meringkuk kecil.
Beberapa saat kemudian langkah kaki terdengar mendekat.
Zayn baru keluar dari ruang kerjanya sambil melepas kacamata tipisnya pelan. Tatapannya langsung jatuh ke arah Aurora.
Pria itu berhenti beberapa detik.
Aurora benar-benar tidur nyenyak. Bahkan boneka kucingnya masih dipeluk erat seperti biasa.
Rumah malam itu terasa terlalu sunyi. Dan anehnya, pemandangan di depannya terasa jauh lebih menenangkan dibanding layar laptopnya sendiri.
Zayn menghela napas kecil samar sebelum akhirnya berjalan mendekat.
Ia mematikan televisi terlebih dulu. Lalu tanpa banyak suara, pria itu membungkuk pelan dan mengangkat Aurora ke dalam gendongannya.
Aurora bergerak kecil dalam tidurnya. Namun tidak benar-benar bangun. Kepalanya justru otomatis bersandar pelan di bahu Zayn.
Langkah Zayn sempat berhenti beberapa detik. Tapi setelah itu ia kembali berjalan menuju lantai atas dengan tenang.
Lampu ruang tengah perlahan dimatikan. Dan malam itu, rumah besar milik Zayn kembali terasa hangat dengan cara yang aneh.