Jalan Cinta Menuju Ridha Ilahi adalah kisah Alya, seorang gadis yang lembut dan taat, yang harus menerima takdir dijodohkan dengan Zidan (seorang pemuda yang dikenal bebas dan jauh dari nilai-nilai agama). Tapi di tengah perbedaan itu, Alya berusaha menjalani semuanya dengan sabar dan tetap berpegang pada prinsipnya. Sementara itu, tanpa disadari, kehadiran Alya perlahan mengubah Zidan menjadi dekat dengan Agama.
Novel ini mengisahkan bahwa cinta sejati bukan hanya tentang perasaan, tetapi tentang proses saling memperbaiki, mendekat kepada Allah, dan menerima takdir dengan penuh keikhlasan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Radia Adawiyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33. Rumah yang Perlahan Menjadi Tempat Pulang
Sejak kejadian di kampus kemarin…
Alya jadi sering tersenyum sendiri, mengingat ekspresi Zidan waktu dia cemburu melihat Alya berbicara dengan teman kuliahnya.
Meskipun laki-laki itu terus menyangkalnya.
Namun bagi Alya…
itu sudah cukup jelas terlihat.
Dan entah kenapa…
hal kecil itu justru membuat hubungan mereka terasa semakin dekat.
...****************...
Sore itu hujan turun cukup deras sejak siang.
Langit terlihat gelap, sementara udara terasa dingin memenuhi rumah.
Alya sedang duduk di ruang tengah sambil menyelesaikan tugas kuliahnya ketika suara petir terdengar cukup keras.
Brakkk !
Lampu rumah sempat berkedip beberapa kali.
Alya refleks menoleh ke arah jendela.
Tak lama kemudian, pintu rumah terbuka dari luar.
Zidan masuk dengan jaket yang sedikit basah terkena hujan.
“ Astaghfirullah… Akhirnya tiba juga di rumah, hujannya deras banget diluar ” gumamnya sambil melepas jaket.
Alya langsung berdiri.
“ Kamu kehujanan ya Mas Zidan ? ” tanyanya pelan.
“ Dikit. ”
Padahal jelas-jelas rambut Zidan sudah basah sebagian.
Alya langsung berjalan ke arah dapur tanpa banyak bicara.
Beberapa menit kemudian, ia kembali membawa handuk kecil dan segelas teh hangat.
“ Ini Mas, keringin dulu rambutnya ”
Zidan sedikit terdiam menerima handuk itu.
“ Thanks ya Alya ”
Alya mengangguk kecil.
“ Cepat ganti baju dulu Mas. Nanti takutnya sakit. ”
Nada suaranya lembut dan terkesan biasa saja.
Namun entah kenapa…
kalimat sederhana itu membuat hati Zidan terasa hangat.
Karena sudah lama sekali…
tidak ada yang benar-benar mengkhawatirkannya seperti ini.
Malam harinya…
Hujan masih belum berhenti.
Umi dan Abi sudah tidur lebih dulu, sedangkan Faris sedang membantu santri di pesantren sehingga rumah terasa jauh lebih sepi malam itu.
Di ruang tengah, Alya duduk di karpet sambil melipat pakaian. Sedangkan Zidan duduk di sofa memperhatikan televisi yang sebenarnya tidak benar-benar ia tonton.
Pandangannya justru beberapa kali tertuju ke Alya, melihat cara Alya melipat pakaian dengan rapi, cara ia sesekali merapikan hijabnya, dan wajah tenangnya yang selalu membuat rumah terasa damai.
Zidan tersenyum kecil sendiri.
Dulu…ia paling malas pulang ke rumah.
Baginya rumah hanya tempat singgah.
Tapi sekarang…
anehnya ia justru selalu ingin rasanya bisa cepat pulang, karena dirumah itu ada Alya di dalamnya.
Tak lama kemudian
“ Alya. ”
“ Iya Mas ? ”
Alya menoleh pelan.
Zidan tampak diam beberapa detik sebelum akhirnya berkata,
“ Capek nggak sih jadi kamu ? ” Ucap Zidan dengan rasa penasarannya.
Alya sedikit bingung.
“ Maksudnya gimana Mas ? ”
Zidan menghela napas kecil lalu bersandar di sofa.
“ Kamu selalu sabar sama semua orang. ”
Alya terdiam sebentar mendengar itu.
“ Enggak juga. ”
“ Tapi aku jarang lihat kamu marah. ”
Alya tersenyum kecil.
“ Iya Mas, karena menurut aku marah itu bikin kita capek. ”
Jawaban sederhana itu langsung membuat Zidan tertawa kecil.
“Jawaban kamu kadang aneh Alya .”
Alya ikut tersenyum tipis.
“ Abi selalu bilang… kalau kita bisa memilih tenang, kenapa harus memilih emosi. ”
Suasana mendadak hening sesaat.
Namun kali ini…
hening itu terasa nyaman.
Zidan menatap Alya cukup lama.
Dan lagi-lagi…
ia merasa kagum pada perempuan di depannya.
Bukan karena Alya sempurna.
Tapi karena Alya selalu berhasil membuat hatinya tenang tanpa melakukan apa-apa.
---
Tiba-tiba petir kembali terdengar keras.
Brakkk!
Lampu rumah langsung mati.
“Eh?”
Rumah mendadak gelap total.
Alya refleks sedikit terkejut.
Sedangkan Zidan langsung berdiri.
“ Tunggu sini."
Suara langkahnya terdengar di tengah gelap rumah.
Tak lama kemudian, cahaya kecil dari senter ponsel muncul.
Zidan berjalan mendekati Alya.
“ Kamu takut ? ” tanyanya pelan.
Alya menggeleng kecil meski sebenarnya sedikit kaget.
“ Tidak. ”
Namun sebelum Alya sempat berdiri, suara petir kembali menggelegar lebih keras dari sebelumnya.
Brakkk!!!
Refleks Alya sedikit memejamkan mata karena kaget.
Dan tanpa sadar…
tangannya langsu menggenggam lengan Zidan.
Suasana langsung hening.
Alya baru sadar beberapa detik kemudian.
Wajahnya langsung memerah malu.
“ Maaf… ” ucapnya pelan sambil buru-buru melepaskan tangan.
Namun Zidan justru diam membeku beberapa detik.k
Karena itu pertama kalinya…
Alya mendekat padanya secara spontan seperti tadi.
Dan jantungnya langsung berdegup tidak karuan.
Tak lama kemudian listrik kembali menyala.
Namun suasana di antara mereka mendadak berubah canggung.
Alya langsung sibuk pura-pura melipat pakaian lagi meski wajahnya masih merah.
Sedangkan Zidan berdeham kecil sambil mengusap tengkuknya sendiri.
Namun diam-diam…
senyum kecil tidak bisa hilang dari wajahnya.
Dan malam itu…
untuk pertama kalinya,
rumah itu benar-benar terasa seperti tempat pulang bagi Zidan.