NovelToon NovelToon
Checkpoint

Checkpoint

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Mengubah Takdir / Penyelamat
Popularitas:898
Nilai: 5
Nama Author: Quoari

Novel ini memiliki karakter utama wanita bernama Aiena. Gadis berusia dua puluh lima tahun di awal mulai cerita yang terjebak di dalam hubungan yang tidak sehat dengan pacarnya.

Tiap hari ulang tahun adalah kesempatan untuk checkpoint bagi Aiena. Apabila ia mengatakan ia bahagia dan puas dengan hidupnya, maka itu menjadi titik checkpoint-nya. Sebaliknya, ia suatu hari pada ulang tahunnya ia menyesal akan keputusannya dan mengatakan ingin kembali ke masa lalu, maka ia otomatis kembali ke titik checkpoint terakhirnya.

Bermula dari penyesalannya tidak bisa memberikan yang keturunan bagi suami yang begitu mencintainya, Aiena di masa kini berniat kembali ke masa lalu untuk menghindari toxic relationship dengan mantannya dan bertemu jodohnya, pria yang di masa kini menjadi suaminya lebih cepat dalam kondisi yang lebih baik. Namun ketika Aiena mengulang cerita hidupnya, ia justru bertemu orang lain yang tidak mampu ia tolak pesonanya.

Cerita menjadi semakin kompleks ketika Aiena menyadari siapa pria yang merebut hatinya itu, bertemu dengan sang mantan pacar toxic, dan bertemu dengan pria yang dipercaya sebagai jodohnya dalam situasi yang kini jauh berbeda.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Quoari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

He doesn’t need help

Pertemuan bisnis itu akhirnya selesai dengan sukses di tangan Shane. Tepat pukul sepuluh malam mereka berjabat tangan, saling mengucapkan terima kasih dan melangkah keluar restoran bersama-sama.

Begitu masuk ke dalam kabin mobil yang suasananya terasa sangat kontras dengan hiruk-pikuk restoran hotel tadi, Aiena langsung menguap dan menyandarkan kepalanya pada sandaran jok yang sudah sedikit direndahkan.

Hanya ada suara mesin yang halus dan alunan musik instrumen bertempo rendah yang menemani perjalanan pulang mereka. Shane mengemudi dengan satu tangan, sementara tangan lainnya sesekali mengatur AC agar tidak terlalu dingin.

“Shane,” panggil Aiena pelan, memecah keheningan.

“Ya, Sayang?” Shane menoleh sejenak, memberikan senyum tipis yang tampak lelah namun tetap hangat.

“Aku masih kepikiran soal Sean tadi. Sebenarnya, aku merasa sedikit kasihan sam Sean,” gumam Aiena dengan nada yang sarat akan empati. “Maksudku, dia kelihatan kewalahan. Dia disana buat diskusi bisnis besar, tapi direpotkan mengurus Arina, sementara istrinya... yah, kamu lihat sendiri kan tadi? Lina nggak peduli.”

Shane menghembuskan napas panjang, lalu kembali memfokuskan pandangannya ke jalanan yang mulai lengang. “Aku setuju kalau dibilang dia kewalahan. Memang Sean kurang profesional kalau diluar jam kerja. Tapi nggak semua customer bisa diajak ketemuan di jam kerja juga. Ada yang baru bisa luang di malam hari seperti tadi.”

Aiena menegakkan duduknya, menoleh ke arah Shane dengan raut wajah yang lebih serius. “Mungkin kamu bisa bicara sama dia, Shane? Atau bantu sedikit? Kamu kan teman sekaligus rekan bisnisnya.”

Mendengar saran tersebut, Shane justru terkekeh pelan, bukan tawa yang mengejek, melainkan tawa yang penuh dengan pemahaman mendalam. 

“Don't worry, Na. He doesn't need help,” ujar Shane dengan nada bicara yang santai.

Aiena mengerutkan kening, tidak mengerti. “Kenapa begitu? Dia jelas-jelas butuh bantuan.”

Shane menggelengkan kepala perlahan, tangannya bergerak memutar kemudi dengan presisi. “He is where he wanted to be, Aiena. Nggak perlu dipikirin, itu pilihannya sendiri. Dia bucin banget sama Lina.”

“Tapi Sean kelihatan takut sama istrinya,” sanggah Aiena pelan.

“Ya bucin sama takut beda tipis,” balas Shane sambil menatap Aiena sekilas. “Dia sendiri yang milih Lina jadi istrinya. Jadi, kamu nggak perlu merasa kasihan. Dia sadar sepenuhnya dengan keputusan yang dia ambil. Itu pilihannya.”

Aiena terdiam, mencoba mencerna perspektif baru yang diberikan Shane. Ia menyadari bahwa setiap orang memiliki cara yang berbeda dalam mendefinisikan pengabdian dan cinta. 

“Jadi... kamu nggak akan bantu?” tanya Aiena memastikan.

“Aku bantu dalam urusan pekerjaan, tapi untuk urusan rumah tangga? Nggak,” jawab Shane mantap. “Aku lebih suka fokus sama calon istriku sendiri.”

Senyum kecil terkembang di bibir Aiena ketika tangan Shane terulur untuk menyentuh punggung tangannya, mengelusnya lembut sebagai penyaluran rasa cinta.

***

Udara siang yang terik di luar gedung kantor seolah luruh seketika saat Aiena dan Ayu melangkah masuk ke dalam lobi yang sejuk. Sambil berjalan santai, keduanya tertawa kecil membahas candaan mereka di divisi tadi pagi. 

Mendadak tawa Aiena surut surut ketika matanya menangkap sosok pria yang tampak sangat kontras dengan kemewahan interior lobi marmer tersebut. Di dekat meja resepsionis, Sean berdiri dengan bahu yang sedikit membungkuk. Ia tidak lagi mengenakan kemeja seperti saat makan malam bersama customer kemarin. 

Kemejanya tampak kusut, dan yang paling mengerikan adalah guratan lebam keunguan di pipi kirinya serta beberapa bekas cakaran panjang di punggung tangan dan lengan yang masih mengeluarkan tetesan darah segar.

“Pak Sean?” panggil Aiena dengan nada cemas yang tak bisa disembunyikan.

Sean tersentak, menoleh dengan gerakan kaku yang tampak menyakitkan. “Oh, Aiena. Hai.”

“Ya ampun, Pak! Anda habis dirampok?” Ayu berseru spontan, menutup mulutnya dengan telapak tangan karena ngeri melihat luka-luka itu.

Ketiganya masuk ke dalam lift yang akan membawa mereka ke lantai sebelas yang menjadi tujuan mereka. Begitu pintu perak itu tertutup rapat, Aiena tidak bisa lagi menahan pertanyaannya. “Pak Sean, apa yang terjadi? Anda berantakan sekali. Apa perlu ke rumah sakit sebelum menemui Pak Shane?”

Sean menunduk, menatap pantulan dirinya yang kacau di dinding lift yang mengkilap. Ia tampak bingung, tangannya yang berdarah gemetar saat berusaha merapikan kerah kemejanya yang robek. “Saya… saya tidak apa-apa. Sungguh.”

“Anda tidak bisa bilang tidak apa-apa dengan luka cakaran seperti itu, Pak Sean. Pipimu lebam parah,” desak Aiena, suaranya lembut namun penuh tuntutan akan kejujuran.

Ayu terdiam. Ia ingin ikut bicara namun takut salah berucap. Apalagi Aiena dan Shane terlihat sudah kenal sebelumnya, meski sebenarnya mereka juga baru dua kali bertemu, tiga dengan kali ini.

Sean terdiam sejenak, menelan ludah dengan susah payah sebelum akhirnya menjawab dengan nada suara yang sangat tidak meyakinkan. “Aku baru saja jatuh dari tangga. Kepalaku terbentur pegangan tangga, dan tanganku... yah, terkena kayu.”

Aiena menatap Sean dengan pandangan skeptis. Kebohongan itu terlalu jelas. Bekas luka cakaran di tangannya lebih menyerupai kuku manusia daripada serat kayu, dan lebam di pipinya memiliki pola yang terlalu spesifik untuk sekadar benturan tangga. 

“Jatuh dari tangga sampai tercakar seperti ini?” tanya Aiena pelan, membiarkan pertanyaannya menggantung di udara.

“Iya, tangganya sedang licin karena habis dipel,” jawab Sean cepat, matanya menghindari kontak mata dengan Aiena.

Aiena diam. Bukan posisinya untuk mendesak Shane bercerita, mereka belum sedekat itu. Terlebih mengingat perkataan Shane semalam di mobil bahwa Sean adalah pria yang memilih posisinya sendiri di tengah drama keluarganya dan tidak perlu dikasihani maupun dibantu.

“Di ruangan Pak Shane ada kotak P3K. Nanti aku bilang ke sekretaris Pak Shane untuk membawakan ke Anda,” ujar Aiena akhirnya, memberikan sedikit ruang bagi harga diri Sean yang terluka.

Sean hanya mengangguk lemah, melangkah mengikuti Aiena menuju ruangan Shane. Di balik punggung pria itu, Aiena hanya bisa bertanya-tanya dalam hati, seberapa jauh pilihan hidup yang dimaksud Shane akan membawa Sean ke dalam kehancuran fisik seperti ini. 

***

1
Wid Sity
daritadi gangguin papamu Mulu, cil. Papamu sibuk, kenapa gak main sama mamamu aja sih
Quoari: Bocil ngga paham, karna ngga ditegur juga sama mamanya
total 1 replies
Wid Sity
egois banget. Padahal Sean lagi repot banget. Lina malah diem aja, gak bantuin. Padahal posisinya Sean lagi bahas kerjaan
Quoari: Betul, semua Sean, mana Sean takut istri
total 1 replies
Wid Sity
betul. Di zaman sekarang sangat langka Nemu cowok seperti Shane
Quoari: Banyaknya yang seperti haze
total 1 replies
Wid Sity
sangat pengertian
Quoari: Beneran idaman yang ini
total 1 replies
Wid Sity
aw, sangat gentleman 😍
Wid Sity
Shane berasa tua ya, Aiena dipanggil mbak, Shane dipanggil pak
Quoari: 🤣🤣 iya ya. Tapi emang tuaan shane
total 1 replies
Wid Sity
kadang jodoh tu misteri dan tidak disangka sangka
Wid Sity
Aiena dipasang kacamata kuda, jadi lihatnya ke Haze Mulu
Quoari: Iya, gabileh lihat yang lain
total 1 replies
Wid Sity
lengket banget kayak magnet
Wid Sity
kok bisa mereka curi2 waktu tidur bersama? Itu kan study tour, ada banyak orang
Quoari: Bisa, karna nginep hotel. Bisa kerjasama ama temennya
total 1 replies
Wid Sity
waduh, padahal masih kecil, belum waktunya
Quoari: Udah punya ktp
total 1 replies
Wid Sity
kasihan banget jadi nyamuk, wkwkwk
Quoari: Gapapa dia kerja😄
total 1 replies
Wid Sity
gak sekalian nitip asbak Bali ni
Quoari: Yang itu ya 🤭
total 1 replies
Wid Sity
ternyata muka dua. Mentang2 Aiena udah jadi calon istrinya bos, malah jadi ramah
Quoari: Takut kl mau judes sama bosnya aiena
total 1 replies
Wid Sity
lepas dari sampah, akhirnya dapat berlian
Quoari: Betul, aiena beruntung
total 1 replies
Wid Sity
cepet banget gosip menyebar
Wid Sity
kayaknya orang tua dimana mana tu sama aja. Mengharapkan cucu segera
Quoari: Iya, pada kebelet gendong cucu 🤣
total 1 replies
Wid Sity
yang kelihatan simple dan sederhana tu malah elegan lo, Na
Wid Sity
waw gercep, langsung melamar 😍
Quoari: Dewasa dan serius, jadinya cepet
total 1 replies
Wid Sity
tiba-tiba jadi merakyat
Quoari: Menyesuaikan pasangan
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!