Yun Zhu hanyalah seorang murid rendahan dari Sekte Qingyun. Tanpa orang tua, tanpa latar belakang yang berarti—ia hanya bisa masuk sekte itu secara kebetulan setelah sebuah bencana menghancurkan hidupnya.
Akar spiritualnya lemah, bakatnya pun nyaris tak terlihat. Di mata orang lain, ia tak lebih dari sampah yang tak layak diperhitungkan. Tatapan meremehkan dan hinaan telah menjadi bagian dari kesehariannya.
Namun takdir mulai berbalik arah ketika Yun Zhu secara tak terduga memperoleh sebuah kekuatan misterius—kekuatan yang perlahan akan mengubah nasibnya… dan mengguncang dunia yang selama ini merendahkannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chizella, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34: Makam Abadi
Tangan Tuan Muda Qin mengepal hingga buku-buku jarinya memutih, mengeluarkan suara gemeretak yang mengerikan.
Ia melangkah maju satu tindak dengan lengan yang sudah terangkat tinggi, siap untuk melayangkan hantaman keras tepat ke wajah Yun Zhu yang dianggapnya telah menghina kehormatannya.
Yun Zhu sedikit pun tidak gentar. Ia tetap berdiri tenang dengan tatapan mata yang dingin, kakinya sedikit bergeser untuk menjaga keseimbangan, siap membalas serangan apa pun yang datang.
Namun, sebelum benturan itu terjadi, sebuah gelombang energi yang sangat kuat tiba-tiba meledak dari pusat empat pilar batu.
Tekanan spiritual yang masif menyebar ke seluruh penjuru tempat itu, memaksa perhatian semua orang teralih pada gerbang dimensi yang kini telah terbuka lebar memancarkan cahaya putih menyilaukan.
Tuan Muda Qin mendengus kasar, wajahnya masih memerah padam menahan amarah yang meledak-ledak.
Ia akhirnya menurunkan tangannya, namun matanya tetap menatap tajam ke arah Yun Zhu seolah ingin mengulitinya hidup-hidup.
"Cih, kalau bertemu nanti awas saja kau, sampah!"
Tanpa membuang waktu lagi, ia melesat kuat memasuki pusaran energi gerbang dimensi, diikuti oleh rekan kekarnya yang melompat dengan geraman rendah.
Shi Yun dan rekan wanitanya juga tidak ingin tertinggal. Dengan gerakan yang sangat ringan dan tanpa suara, kedua wanita itu melayang masuk ke dalam cahaya. Gaun biru Shi Yun berkibar anggun di udara, menciptakan pemandangan yang mempesona sebelum akhirnya menghilang ditelan gerbang.
Yun Zhu dan Han Ping'er saling bertatapan selama beberapa detik.
Han Ping'er memberikan senyum kecil yang penuh arti sebelum akhirnya mereka berdua mengangguk secara bersamaan dan melompat masuk ke dalam pusaran tersebut.
Saat melewati gerbang, Yun Zhu merasakan sensasi aneh seolah seluruh tubuhnya ditarik dan ditekan oleh kekuatan yang tak terlihat.
Ruang dan waktu seakan memelintir kesadarannya hingga ia merasa seperti ditelan oleh kekosongan yang gelap.
Hanya dalam hitungan detik, gravitasi kembali terasa menarik tubuh mereka. Mereka dilemparkan keluar dari lubang cahaya di langit sebuah dunia yang asing.
Yun Zhu mendarat terlebih dahulu. Dengan ketangkasan yang luar biasa, kedua kakinya menapak di tanah yang keras dengan mulus tanpa menimbulkan suara berarti.
Ia segera memasang posisi waspada, namun perhatiannya teralih saat melihat Han Ping'er yang jatuh dari ketinggian di dekatnya.
Han Ping'er, yang sebenarnya memiliki kemampuan untuk mendarat dengan mudah, justru sengaja membiarkan tubuhnya limbung dan jatuh tepat ke arah Yun Zhu.
Refleks Yun Zhu bekerja lebih cepat dari pikirannya.
Ia segera merentangkan kedua tangannya untuk menangkap tubuh Han Ping'er dalam posisi menggendong tuan putri.
Lengan kanan Yun Zhu melingkar kuat di punggung putih Han Ping'er yang halus, sementara lengan kirinya menyusup di bawah lekukan paha mulus yang terekspos karena gaunnya yang tersingkap saat terjatuh.
Wajah mereka sangat dekat, hingga hembusan napas Han Ping'er terasa di leher Yun Zhu.
"Apa yang kau lakukan?"
Yun Zhu bertanya dengan nada suara yang tetap datar dan dingin.
Ia menatap mata merah muda Han Ping'er dengan tatapan yang seolah bisa menembus sandiwara kecil wanita itu. Ia tahu benar bahwa Han Ping'er hanya sedang bermain-main.
"Ehe," ucap Han Ping'er tanpa rasa bersalah sedikit pun. Ia justru menyandarkan kepalanya sejenak di bahu Yun Zhu, menikmati momen singkat tersebut dengan senyum nakal di bibirnya.
Yun Zhu tidak membiarkan posisi itu bertahan lama. Ia segera menurunkan tubuh Han Ping'er ke tanah dengan gerakan yang pelan namun tegas, memastikan wanita itu sudah bisa berdiri tegak di atas kakinya sendiri sebelum ia melepaskan rangkulannya.
Han Ping'er merentangkan kedua lengan rampingnya lebar-lebar, membiarkan gaun putihnya berkibar pelan saat ia menghirup udara dingin di tempat itu sedalam mungkin. Dadanya membusung indah mengikuti tarikan napasnya yang panjang.
"Tempat ini masih sama," ucapnya dengan nada yang sulit diartikan.
Di langit yang gelap, sebuah bulan berwarna merah darah menggantung statis, memancarkan cahaya jingga yang menyeramkan ke seluruh permukaan tanah.
Cahaya itu membuat segalanya tampak seperti terendam dalam genangan darah kering, menegaskan bahwa mereka kini berada di dimensi yang sama sekali berbeda.
Saat ini mereka berdiri di atas dataran tinggi dengan tanah yang pecah-pecah berwarna kemerahan. Sejauh mata memandang, hanya ada tebing-tebing curam dan kabut tipis yang merayap.
Jika ingin menemukan pusaka yang dicari, mereka harus segera bergerak menuruni dataran ini menuju lembah-lembah misterius di bawah sana.
"Kelihatannya yang lain sudah dipisahkan dengan kita."
Han Ping'er meletakkan jari telunjuknya di dagu, mengetuk-ngetuk kulitnya yang mulus seolah sedang memikirkan rute perjalanan mereka. Rambut putih saljunya tampak bercahaya di bawah sinar bulan merah.
"Bagaimana menurutmu, Xu Mu?"
Yun Zhu tidak segera menjawab.
Ia menyapu pandangannya ke sekeliling dengan waspada, memastikan tidak ada mata yang mengintai, sebelum akhirnya ia berbalik sepenuhnya menghadap Han Ping'er.
"Tentang Tuan Muda Qin."
Han Ping'er memiringkan kepalanya, membiarkan seuntai rambut putih jatuh menutupi sebagian matanya yang berwarna merah muda.
"Ada apa dengan dia?"
Wajah Yun Zhu berubah sangat serius, auranya mendadak menjadi lebih tajam dan dingin.
"Jika aku membunuhnya, bagaimana?"
Han Ping'er menatap Yun Zhu dengan intensitas yang lebih dalam. Keheningan sesaat menyelimuti mereka sebelum ia akhirnya mundur satu langkah kecil.
Ia berbalik membelakangi Yun Zhu, membiarkan punggungnya yang terbuka hingga batas pinggang terpapar cahaya bulan merah, menciptakan siluet yang anggun sekaligus berbahaya.
"Yah... jika kau membunuhnya, itu juga bukan masalah. Kita bisa saja bilang kalau ia mati dibunuh binatang buas."
Ia kembali berbalik dengan gerakan yang perlahan namun pasti, menatap Yun Zhu dengan tatapan menggoda yang penuh dengan kelicikan. Ia mendekat, membiarkan ujung gaunnya menyentuh sepatu Yun Zhu.
"Tapi.. apa kau bisa melakukannya?"
Yun Zhu mengangkat dagunya sedikit, pancaran matanya menunjukkan keyakinan yang tidak tergoyahkan. Tidak ada keraguan sedikit pun dalam nada suaranya.
"Bisa. Dia bukan lawanku."
Han Ping'er melebarkan senyumnya, sebuah senyum kemenangan yang tampak sangat puas.
Tanpa peringatan, ia langsung melompat maju dan memeluk leher Yun Zhu dengan erat.
Gerakannya yang tiba-tiba membuat kedua puncak kembarnya yang lembut menghantam dada Yun Zhu dengan tekanan yang cukup terasa, memberikan sensasi kenyal dan hangat di balik kain tipis gaunnya.
"Kalau begitu ayo lakukan, lebih cepat lebih baik!"
Meskipun Yun Zhu mencoba melepaskan cengkeraman tangan Han Ping'er dari lehernya dan mendorong bahu wanita itu agar menjauh, usahanya sia-sia.
Han Ping'er justru mengeratkan pelukannya, menyilangkan kaki jenjangnya di pinggang Yun Zhu dan menempelkan tubuhnya lebih rapat lagi, seolah tidak ingin melepaskan pria yang baru saja menjanjikan kematian musuhnya itu.