NovelToon NovelToon
Nai "Panggil Bunda Saja"

Nai "Panggil Bunda Saja"

Status: sedang berlangsung
Genre:Duda / Nikah Kontrak / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: Navy Ane

Aku memang memimpikan menjadi seorang IBU, tapi aku tidak pernah memimpikan menjadi seorang ISTRI.

Nayla Annaya, 24 tahun, memilih hidup sendiri tanpa hubungan asmara. Namun, tekanan keluarga untuk segera menikah membuat hidupnya mulai terasa tidak terkendali.

Di tengah usahanya melarikan diri sejenak bersama sahabat-sahabatnya, sebuah kejadian tak terduga di pusat perbelanjaan justru menjadi awal dari sesuatu yang tak terduga.

Karena terkadang, satu hari yang terlihat biasa saja bisa mengubah segalanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Navy Ane, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

"Terlalu Indah untuk Dibagi"

“Ulang tahun?” tanyanya memastikan.

“He’em…” Arkan mengangguk kecil, senyumnya masih mengembang manis.

"Jadi nanti malam itu mau ngerayain ulang tahunnya Arkan."

“Iya…” seru Arkan antusias.

Nayla tersenyum, meski ada rasa bersalah yang tiba-tiba menyelinap.

“Kok Kakak nggak tahu, ya… Aduh, nanti besok Kakak beliin hadiahnya, ya,” ucapnya lembut.

Arkan terdiam. Bibirnya sedikit terbuka, seolah ingin mengatakan sesuatu… namun urung.

Nayla mengernyit pelan. Ia mencoba mengingat-ingat.

Setahunya, ulang tahun Arkan masih lama—bulan Desember.

Apa aku salah ingat…? Yah… mungkin aku salah dengar. Ulang tahunnya itu 9 September, bukan 9 Desember.

Nayla menggeleng pelan.

Saat ia masih tenggelam dalam pikirannya, suara ketukan terdengar dua kali dari luar pintu.

Tok. Tok.

Ceklek.

Pintu terbuka, dan Diana muncul dengan beberapa orang di belakangnya.

Nayla mengernyit pelan. Ia tidak mengenal mereka.

Arkan langsung berlari antusias.

“Oma!” serunya, lalu memeluk wanita itu erat. Wajahnya terlihat sangat gembira.

Diana mengusap lembut kepala Arkan, lalu mengalihkan pandangannya ke arah Nayla yang masih duduk santai di atas kasur.

“Loh, kamu belum mandi, Nay?” tanyanya sedikit bingung melihat penampilannya yang masih berantakan.

“Eh… iya, Oma. Belum,” jawab Nayla sambil cengengesan.

Diana menggeleng pelan. “Sana mandi, siap-siap,” titahnya lembut.

Nayla segera beranjak turun dari ranjang.

“Yang cepat ya, Nay,” lanjut Diana mengingatkan.

“Iya… Oma!” sahut Nayla sambil berlari kecil.

Sebenarnya, ia tidak ingin ikut. Apalagi jika harus berhadapan dengan Darvian.

Namun, saat mengingat kesedihan Arkan, entah mengapa hatinya tak tega.

Ada sesuatu… sesuatu yang membuatnya merasa terikat dengan anak itu.

Seolah tanpa sadar, Arkan selalu menjadi prioritasnya.

Saat ini, Nayla berdiri di depan cermin. Tiga orang yang dibawa Diana tadi ternyata adalah tim penata gaya, dan sejak tadi mereka sibuk dengan pekerjaan masing-masing.

Sementara itu, Nayla hanya terdiam, sesekali melemparkan senyum kecil ke arah Arkan yang sedari tadi menatapnya dengan rona bahagia.

Anak itu sudah tampak rapi. Ia mengenakan setelan three-piece suit berwarna cokelat, dipadukan dengan dasi pita hitam yang menambah kesan elegan. Rambutnya disisir rapi ke belakang, membuat penampilannya terlihat semakin menawan.

Arkan menatap Nayla dengan penuh kekaguman.

Nayla tampak begitu cantik dalam gaun yang warnanya senada dengan setelan yang ia kenakan.

Untuk sesaat, Arkan hanya bisa diam, matanya berbinar seolah tak ingin melewatkan satu pun detik.

Saat semuanya hampir selesai, Diana kembali masuk ke dalam ruangan.

Langkahnya terhenti sejenak saat melihat Nayla, decak kagum pun tak bisa ia tahan.

“Cantik sekali…” gumamnya pelan.

Nayla menoleh dan menatap Diana dengan decak kagum yang sama. Tatapannya tertuju pada gaun yang dikenakan wanita itu.

Diana tampak anggun dalam balutan gaun cokelat yang menawan. Potongannya sederhana namun pas di tubuh, dengan sentuhan bordir halus di bagian atas yang memberi kesan mewah. Aksen di pinggang mempermanis penampilannya, membuatnya terlihat semakin berkelas dan berwibawa.

“Oma cantik sekali,” sapa Nayla begitu melihatnya.

Diana tersipu malu. Ia memang jarang mengenakan gaun, lebih sering tampil dengan setelan kerja yang tegas.

Namun di sisi lain, Arkan sedari tadi menatap Nayla tanpa berkedip. Ia tampak terbengong, seolah tak mampu mengalihkan pandangannya.

Bahkan para penata gaya pun tak henti-hentinya memuji kecantikannya, juga bagaimana gaun itu begitu pas membingkai tubuh Nayla dengan anggun.

Nayla pun cukup pangling dengan dirinya sendiri.

Ia lalu menghampiri Arkan yang masih terbengong menatapnya.

Diana dan para penata gaya terkekeh pelan melihat Arkan yang tak berkedip sedikit pun.

“Mari, pangeran kecil,” ucap Nayla lembut seraya mengulurkan tangan. Dengan tangan satunya, ia sedikit mengangkat gaunnya, lalu membungkuk anggun layaknya seorang putri bangsawan.

Diana dan para penata gaya langsung berseru kagum, melihat Nayla yang tampak begitu elegan dan memikat.

Arkan tersipu malu. Ia menarik napas pelan, lalu meraih tangan Nayla dengan hati-hati, seolah takut merusaknya, sambil tersenyum bangga.

Mereka pun berjalan beriringan.

“Ayo, kita berangkat,” ucap Nayla dengan semangat.

“Ayo!” seru Arkan antusias.

Setelah mengucapkan terima kasih kepada para penata gaya, mereka pun langsung keluar dari kamar.

Diana berjalan lebih dahulu menuju ruang tengah.

Di belakangnya, Nayla mengikuti sambil menggandeng tangan Arkan. Ia berjalan perlahan, satu tangannya sedikit terangkat menahan gaunnya, sementara langkahnya tetap anggun dan teratur.

Di sampingnya, Arkan berjalan dengan hati-hati, sesekali melirik Nayla dengan senyum kecil yang tak bisa ia sembunyikan.

Darvian duduk menunggu di sofa ruang tengah. Ia sudah menunggu sejak sepuluh menit yang lalu.

Arkan yang melihat papahnya duduk membelakangi, langsung memanggil dengan antusias.

“Papah!” teriaknya, melepas genggaman tangan Nayla lalu berlari memeluknya.

Darvian menepuk punggungnya pelan. “Kenapa kalian lama sekali, hm?” ucapnya, sambil menarik pipi Arkan dengan gemas. Di tangannya, segelas soda masih ia pegang.

“Baru sepuluh menit dibilang lama. Namanya juga perempuan, butuh waktu,” sahut Diana tidak terima.

“Kak Nayla cantik banget,” ujar Arkan dengan wajah berbinar.

Darvian pun menoleh perlahan.

Dan—

Ia langsung terbatuk keras.

“Uhuk… uhuk!”

Soda yang baru saja diminumnya seolah masuk ke saluran yang salah, membuatnya terbatuk keras hingga terasa perih di kepala.

Nayla terkejut mendengar batuknya, refleks menoleh ke arah Darvian.

Sementara itu, Diana hanya terkekeh kecil, dan Arkan menatap papahnya dengan wajah khawatir.

Wajah Darvian memerah. Tanpa berkata apa-apa, ia segera beranjak dan melangkah cepat menuju kamar mandi.

Di dalam kamar mandi, setelah batuknya mereda, Darvian menelan ludah pelan. Pikirannya kembali pada penampilan Nayla hari ini.

Tatapan itu… tak bisa ia lupakan.

Gaun cokelat itu seolah diciptakan khusus untuknya. Membalut tubuh Nayla dengan pas, membentuk siluet anggun yang sederhana namun sulit diabaikan.

Bagian bahunya yang terbuka memperlihatkan garis leher yang jenjang, memberi kesan lembut yang justru menarik perhatiannya lebih dalam.

Kainnya jatuh rapi, dengan lipatan halus di bagian dada yang tampak begitu elegan—tidak berlebihan, namun cukup untuk membuatnya terpaku.

Dan saat ia bergerak…

Belahan di bagian kaki itu membuat setiap langkahnya terasa berbeda. Ringan, anggun—dan terlalu mencuri perhatian.

Rahang Darvian mengeras.

Untuk pertama kalinya, ia melihat Nayla dengan cara yang tak biasa.

Gadis yang selama ini tertutup, kini tampil begitu berbeda—dan itu mengusiknya lebih dari yang ia kira.

Darvian mengembuskan napas kasar. Ada perasaan yang bergejolak dalam dirinya—terpikat, namun berusaha ia kendalikan.

Tok. Tok.

“Darvian… ayo,” panggil Diana lembut dari balik pintu.

“Ya,” sahutnya singkat.

Ia sudah mengakui perasaannya. Namun tetap saja… ada dorongan dalam dirinya yang ingin menyimpan pemandangan itu hanya untuk dirinya sendiri.

…perasaan yang sudah ia sadari, namun tetap ia tahan rapat.

Pintu kamar mandi terbuka perlahan.

Darvian keluar dengan langkah tenang, wajahnya kembali datar seolah tak terjadi apa-apa. Namun sorot matanya berbeda—lebih tajam, lebih dalam.

Langkahnya terhenti sesaat saat melihat Nayla.

Hanya sekejap.

Namun cukup lama untuk membuat udara di sekitarnya terasa berubah.

“Sudah siap?” ucapnya dingin.

Ia memalingkan wajah, berusaha menjaga jarak.

Namun jemarinya yang mengepal pelan, serta rahangnya yang mengeras, mengkhianati apa yang sebenarnya tengah ia rasakan.

Ia tak menyukai kenyataan bahwa ia bukan satu-satunya yang bisa melihatnya seperti ini.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!