Di antara aroma aspal basah setelah hujan dan asap sate maranggi di pinggiran jalur Cisaat, Adella Veranza Tan hanya ingin menjalani hidup normal sebagai mahasiswi hobi motoran.
Bersama Sasha Eliana Wijaya, sahabatnya yang terobsesi pada kuliner hits Instagram, Della membelah kabut Sukabumi dengan Scoopy krem kesayangannya.
Namun, bagi Della, spion motor bukan sekadar alat pantau lalu lintas. Sejak kunjungan ke sebuah kedai kopi "tersembunyi" di lereng gunung, spion kirinya tak lagi menampilkan aspal yang kosong.
Ada sosok yang betah duduk di jok belakang, tepat di belakang Sasha yang tak menyadari apa pun.
Gerian Liemantoro, mekanik andalan sekaligus sahabat masa kecilnya, mulai curiga saat mesin motor Della sering kali "berat" tanpa alasan teknis.
Ada sesuatu yang ikut berboncengan.
"Loe ngerasa motor gue berat nggak, Sha?"
"Enggak ah, Del. Perasaan loe aja kali, atau sate tadi emang bikin kenyang bego?"
Della melirik spion kiri, Sosok itu kini balas menatapnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nhatvyo24, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 33: Tumbal yang Tertukar
Langit Karang Hawu malam itu beneran kelam, kayak ditutup kain hitam yang tebal. Suara ombak yang menghantam karang kedengeran kayak suara orang lagi teriak marah.
Di bawah lampu remang-remang parkiran, Della berdiri kaku. Jaket varsity-nya basah kena uap laut yang asin.
"Pa... omong kosong apa lagi ini?" suara Della kedengeran bergetar. Dia masih nggak percaya lihat Papanya, Koh Adnan, berdiri di depan "Si Creamy" dengan muka yang udah pucat pasi kayak mayat.
Koh Adnan narik napas berat, matanya nggak berani natap mata perak Della yang lagi nyala redup. "Della, dengerin Papa... Dulu keluarga kita nggak punya apa-apa. Toko kain kakekmu bangkrut, utang di mana-mana. Papa... Papa khilaf."
Geri sama Sasha cuma bisa diem di belakang. Sasha bahkan sampai pegang ujung jaket Geri saking takutnya liat aura item yang keluar dari tubuh Koh Adnan.
"Papa tukar nyawa Bibi Mei buat kejayaan keluarga Tan?" Della nanya pelan, tapi tajem. "Dan sekarang... karena kontraknya sudah habis, Papa mau tukar nyawa Della juga buat dipersembahkan ke mesin motor ini?"
Koh Adnan jatuh berlutut di atas pasir yang dingin. "Bukan gitu, Del... Papa tadinya mau nyari cara buat mutusin kontrak itu di Sukaraja, tapi penghuni KM 23 nggak setuju. Mereka minta ganti darah yang sama, Darah keturunan Tan yang masih murni."
Tiba-tiba, dari arah laut, muncul kabut putih yang baunya wangi bunga kantil campur amis darah. Kabut itu ngerayap cepat, mengelilingi mereka berempat.
"Del, liat! Itu apaan?!" teriak Sasha sambil menunjuk ke arah laut.
Dari balik kabut, muncul sesosok wanita pake kebaya ijo lumut. Dia jalan melayang di atas air laut, rambutnya yang panjang ngegeret di atas ombak. Pas dia deket, mukanya keliatan hancur sebelah, tinggal tulang rahang yang kelihatan. Itu adalah Sinden Penjaga Karang Hawu.
"Mana janji manéh, Adnan? Darah kudu dibayar ku darah! (Mana janjimu, Adnan? Darah harus dibayar dengan darah!)" Suara sinden itu melengking, bikin telinga Della berdenging hebat.
Seketika, mesin "Si Creamy" nyala sendiri tanpa kunci. Suaranya raung-raung kayak macan lagi laper. Dari spion kiri motor, keluar tangan pucat yang langsung nyekek leher Koh Adnan.
"PAPA!" Della reflek mau nolongin, tapi langkahnya ketahan sama bayangan item yang muncul dari bawah pasir.
Geri langsung sigap, dia mengambil kunci pipa besarnya. "Del! Pake Kunci Tulang loe! Tusuk ke tangki bensinnya! Itu jantung kontraknya!"
Della bimbang.
Kalau dia nusuk tangki itu, kontrak Bibi Mei emang bakal putus, tapi Papanya bakal dibawa sama si Sinden sebagai denda karena telat setor tumbal. Tapi kalau Della diem aja, dia yang bakal dapet giliran jadi penghuni motor itu selanjutnya.
"Pa, maafin Della..." Della lari ke arah Si Creamy. Dengan sisa tenaga, dia nancepin Kunci Tulang itu tepat ke arah mesin di bawah jok motor.
JEDAAARRR!
Bukan suara ledakan, tapi suara jeritan wanita yang kenceng banget keluar dari knalpot motor. Cahaya putih keluar dari dalem mesin, ngebakar kabut dan sosok Sinden itu. Koh Adnan terpental ke pasir, napasnya tinggal satu-satu.
Pas suasana mulai tenang, Della ngeliat Papanya sudah pingsan dengan dada yang nge biru. Bibi Mei muncul sebentar di depan Della, wajahnya udah cantik lagi, nggak ada jahitan kawatnya. Dia senyum tipis, terus hilang ketiup angin laut.
Della liat ke arah spakbor motornya. Goresan angka 23 sudah hilang, diganti sama tulisan "LUNAS" yang warnanya merah darah.
"Sudah berakhir, Del?" Sasha nanya sambil nangis sesenggukan.
Della geleng kepala pelan, Mata peraknya belum balik jadi normal. Dia ngerasa ada yang aneh. "Belum, Sha. Papanya emang selamat, tapi dia udah nggak punya jiwa lagi. Jiwanya sudah dibawa Bibi Mei buat gantiin posisinya di 'sana'."
Della ngeliat ke arah Geri. "Ger, kita harus bawa Papa balik ke Sukabumi. Tapi jangan ke rumah. Kita ke tempat Koh Alung. Ada rahasia di kedainya yang harus kita bongkar."
Della bersimpuh di samping tubuh Koh Adnan yang tergeletak di atas pasir hitam. Papanya masih bernafas, tapi dadanya naik-turun dengan kaku, seperti ada mesin yang dipaksa jalan tanpa oli. Matanya terbuka lebar, tapi hanya menyisakan bagian putihnya saja.
"Ger, bantuin gue angkat Papa!" Della berseru panik.
Geri segera mendekat, tapi begitu tangannya menyentuh kulit Koh Adnan, dia langsung menarik tangannya kembali. "Anjir, Del! Dingin banget! Kayak megang balok es di freezer!"
Sasha cuma bisa berdiri mematung sambil memeluk dirinya sendiri. Dia melihat ke arah laut, di mana buih ombak yang tertinggal di pasir membentuk pola-pola aneh yang menyerupai tulisan Sunda kuno.
Della mengambil helm Bogo-nya yang tergeletak di pasir. Begitu dia memakainya, suara bising ombak mendadak hilang, digantikan oleh suara napas berat yang seolah-olah berasal dari dalam helmnya sendiri.
"Ulah bangga, Della... hutang getih mah moal bisa lunas ku sakali bayar... (Jangan bangga, Della... hutang darah nggak akan bisa lunas dengan sekali bayar...)"
Della tersentak dan hampir melempar helmnya. Di kaca helm yang gelap, dia melihat pantulan sosok wanita tanpa kelopak mata yang berdiri tepat di belakangnya. Tapi begitu dia menoleh, yang ada hanyalah kegelapan pantai dan Sasha yang gemetaran.
"Kita harus cabut dari sini sekarang! Sebelum air laut pasang!" Della memaksakan diri untuk tenang.
Mereka memaksakan Koh Adnan duduk di antara Geri dan Sasha di motor Geri, sementara Della menunggangi "Si Creamy" sendirian. Begitu mesin Si Creamy dinyalakan, suaranya bukan lagi brem-brem halus khas matic, tapi ada suara klik-klik-klik seperti logam yang saling beradu di dalam dada manusia.
Lampu depan Si Creamy yang tadinya putih terang, kini memancarkan cahaya kuning kusam yang redup, persis seperti lampu minyak di rumah dukun.
"Del, loe yakin bisa bawa itu motor?" tanya Geri cemas, sambil memegangi tubuh Koh Adnan yang terkulai lemas di depannya.
"Gue nggak punya pilihan, Ger. Motor ini satu-satunya yang tahu jalan balik tanpa diganggu penghuni Cikidang," jawab Della dingin.
Mata peraknya sekarang tidak mau hilang, malah makin terang, memberikan penglihatan yang tembus ke balik rimbunnya pohon kelapa.
Saat mereka melewati tanjakan curam keluar dari wilayah pantai, Della melihat lewat spion kirinya.
Di sana, di sepanjang pinggir jalan, berjejer sosok-sosok hitam tanpa wajah yang berdiri mematung. Setiap kali Si Creamy lewat, sosok-sosok itu menundukkan kepala, seolah-olah memberikan hormat pada "penguasa" baru yang ada di dalam motor Della.
"Sasha, jangan nengok ke kiri! Fokus kedepan aja!" teriak Della lewat intercom.
Tapi Sasha yang rasa penasarannya tinggi malah melirik sedikit. Dia melihat sesosok Pocong yang kain kafannya sudah compang-camping dan berlumpur, sedang berdiri tegak di atas dahan pohon waru, menatap mereka dengan mata yang mengeluarkan cairan hitam.
"AAAAA! DEL, CEPETAN! ADA YANG NGIKUTIN DI ATAS POHON!" Sasha menjerit histeris, nyaris menjatuhkan Koh Adnan dari motor.
Della menarik gas dalam-dalam, Si Creamy melesat menembus kabut pagi yang mulai turun. Di pikirannya hanya ada satu nama: Koh Alung.
Della ingat, Koh Alung pernah bilang kalau dia punya "piandel" (pegangan) untuk menetralkan hawa jahat dari barang-barang antik keluarga Tan. Mereka butuh Koh Alung untuk menyelamatkan sisa nyawa Koh Adnan yang sekarang sudah compang-camping karena kontrak tumbal yang diputus paksa.
Tanpa mereka sadari, di spakbor belakang Si Creamy, ada sebuah tangan kecil pucat yang berpegangan erat, ikut terbawa pulang menuju pusat kota Sukabumi.