Sinopsis
Alya Maheswari percaya satu hal: cinta pertamanya sudah mati.
Lima tahun lalu, ia meninggalkan kota kecilnya dengan hati yang hancur dan mimpi yang hampir padam. Ia memilih kuliah di luar kota, membangun hidup baru, dan berjanji tak akan pernah kembali ke tempat yang menyimpan terlalu banyak kenangan.
Namun takdir punya caranya sendiri.
Saat ibunya sakit, Alya terpaksa pulang. Dan di kota yang penuh senja itu, ia kembali bertemu dengan Arka Pratama — pria yang pernah menjadi rumahnya… dan juga luka terbesarnya.
Arka bukan lagi pemuda ceroboh yang dulu ia kenal. Kini ia lebih tenang, lebih dewasa, dan menyimpan sesuatu yang belum pernah sempat ia katakan.
Di antara rahasia masa lalu, kesalahpahaman yang belum selesai, dan perasaan yang ternyata tak pernah benar-benar pergi… apakah cinta mereka benar-benar sudah berakhir?
Atau justru, senja hanya menunggu untuk kembali pulang?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon penulis handal wakakkak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33: The Shadow Over Carlton —
Perburuan di Labirin Beton
Malam itu, Carlton tidak lagi terasa seperti pelarian yang puitis. Nicholson Street, yang biasanya terlihat estetik dengan lampu-lampu jalanan yang memantul di aspal basah, kini berubah menjadi labirin pemangsa. Alya dan Arka keluar dari pintuh belakang gedung apartemen, menghindari lobi utama yang mungkin sudah diawasi.
Alya memeluk tas ranselnya erat-erat, sementara Cali, si kucing calico, mendengkur gelisah di dalam tas khusus hewan yang digendong Arka. Mereka berjalan cepat menuju sebuah mobil sewaan yang sudah dipesan Arka secara anonim dua jam lalu.
"Bang, pelan-pelan. Kalau kita lari, kita malah kelihatan mencurigakan," bisik Alya, suaranya bergetar melawan angin malam yang suhunya terjun bebas ke 2 derajat.
Arka tidak menjawab. Matanya terus menyapu spion dan gang-gang gelap di antara gedung-gedung tua Victoria. Ia merasa seperti kembali ke masa lima tahun lalu, namun kali ini ia tidak akan membiarkan dirinya dipukuli sampai pingsan di gudang tua. Ia punya "senjata" yang lebih mematikan: koneksi Singapura dan kemarahan seorang pria yang rumahnya baru saja diinjak-injak.
Pelarian ke The Docklands
Mereka check-in di sebuah hotel apartemen di kawasan Docklands, daerah yang lebih modern dan penuh dengan kamera pengawas (CCTV). Arka memilih lantai paling tinggi. Begitu pintu kamar tertutup, Alya langsung luruh ke lantai karpet yang bau pembersih kimia.
"Kenapa mereka bisa tahu kita di Carlton, Bang? Apartemen itu bahkan nggak pakai nama kita di kontrak awal," tanya Alya, menatap langit-langit kamar yang asing.
Arka meletakkan tas kucing, lalu duduk di samping Alya. Ia menarik napas panjang. "Mr. Henderson. Dia bukan cuma tetangga yang galak, Al. Tadi pas aku intip dari peephole, aku lihat dia nerima amplop. Sepertinya pria jaket kulit itu nggak cuma ngancam, tapi juga nyuap. Di dunia ini, kesetiaan itu ada harganya, apalagi buat orang tua yang kesepian dan butuh uang gas."
di antara mereka malam itu terasa sangat "mentah". Tidak ada kata-kata manis. Hanya ada sentuhan tangan Arka yang kasar menggenggam jemari Alya yang dingin. Ada rasa bersalah yang besar di mata Arka—rasa bersalah karena ia menyeret Alya ke dalam "perang" yang lebih besar dari sekadar audit karbon.
"Aku nggak akan biarin mereka nyentuh kamu lagi, Al. Besok pagi, Julian bakal jemput kamu. Kamu nggak akan ke kantor lantai 12. Kamu bakal kerja dari kantor konsorsium Singapura. Di sana keamanannya level bank sentral," kata Arka.
"Terus kamu?"
"Aku harus balik ke Carlton. Secara sembunyi-sembunyi."
Alya langsung tegak. "Nggak! Kamu gila? Orang itu mungkin masih di sana!"
"Justru itu," Arka menatap Alya dengan mata yang berkilat tajam. "Tikus itu sudah masuk ke lubang kita. Aku harus tahu siapa yang nyuruh dia. Kalau aku cuma lari, mereka bakal terus ngikutin bau kita sampai ke ujung dunia. Aku harus pasang jebakan."
Misteri Sang Pengintai: Siapa Pria Jaket Kulit?
Kamis pagi, fajar di Melbourne tampak kelabu. Arka kembali ke Carlton mengenakan hoodie gelap dan kacamata hitam, menyelinap melalui tangga darurat. Ia tidak masuk ke unit 3B, melainkan bersembunyi di gudang alat di ujung koridor lantai tiga yang pengap dan bau debu.
Lewat celah pintu gudang, ia mengamati pintu unit 3A—rumah Mr. Henderson.
Pukul 09.45, pintu itu terbuka. Pria berjaket kulit itu keluar lagi. Kali ini dia tidak sendiri. Dia berbicara dengan seseorang lewat telepon satelit. Arka menajamkan pendengarannya.
"...iya, Bos. Mereka kabur semalam. Sepertinya mereka sadar. Tapi tenang saja, berkas hibah saham atas nama Alya sudah saya 'tanam' di laci mejanya di kantor. Polisi Indonesia bakal dapet tip anonim sore ini. Dia nggak bakal bisa lari dari kasus pencucian uang itu."
Darah Arka mendidih. Ternyata rencana mereka jauh lebih jahat. Mereka tidak ingin membunuh Alya, mereka ingin membunuh karakternya. Mereka ingin Alya dipulangkan ke Jakarta sebagai kriminal, di mana dia akan menjadi tawanan hukum laki-laki itu selamanya.
Tiba-tiba, Arka mendengar suara krasak-krusuk dari dalam gudang tempatnya bersembunyi.
Dug... dug... ciiit!
Arka membeku. Jangan sekarang! pikirnya. Apakah tikus raksasa kemarin balik lagi?
Ia menoleh perlahan ke tumpukan kardus tua di belakangnya. Di sana, ada sebuah koper tua yang sedikit terbuka. Sesuatu yang berwarna putih terlihat bergerak-gerak di dalamnya. Arka memberanikan diri mendekat, tangannya sudah siap memukul.
Tapi saat koper itu dibuka...
Bukan tikus. Bukan hantu. Tapi tumpukan berkas-berkas tua milik Mr. Henderson. Dan di tengah-tengahnya, ada sebuah alat penyadap suara yang masih berkedip merah.
Arka menyadari sesuatu yang mengerikan. Mr. Henderson bukan hanya disuap. Mr. Henderson adalah umpan. Pria jaket kulit itu sengaja membiarkan Alya melihatnya di rumah Mr. Henderson supaya Alya panik dan lari, meninggalkan apartemen mereka dalam keadaan kosong sehingga mereka bisa menanam bukti-bukti palsu di dalam sana.
Brak!
Pintu gudang ditendang dari luar. Pria jaket kulit itu berdiri di sana dengan senyum miring.
"Ternyata kamu lebih berani dari yang saya kira, Arka. Sayang sekali, kamu memilih sembunyi di tempat yang salah."
Perangkap di Lantai Tiga
Di kantor konsorsium Singapura yang steril dan dingin, Alya sedang berhadapan dengan Julian. Di depannya, layar komputer menampilkan aliran dana yang sangat rumit.
"Mrs. Alya, kami sudah melacak firma hukum itu. Nama Anda digunakan sebagai nominee di sebuah perusahaan cangkang di Kepulauan Cayman. Laki-laki itu... dia sudah merencanakan ini sejak Anda pertama kali meninggalkan kota asal," Julian menjelaskan dengan nada datar.
"Bisa dibatalkan?" tanya Alya, suaranya parau.
"Bisa. Tapi Anda harus memberikan satu hal: bukti bahwa suami Anda tidak terlibat dalam akuisisi ilegal yang sedang dituduhkan pihak lawan di Sydney. Mereka mencoba menyerang Anda berdua secara bersamaan. Ini adalah serangan terkoordinasi," kata Julian.
Alya terdiam. Ia menyadari satu hal. Dunia mereka yang damai dengan tembok hijau mint itu hanyalah gelembung sabun yang sedang ditusuk dari segala arah.
Tiba-tiba, ponsel Alya bergetar. Sebuah video masuk dari nomor Arka.
Alya membukanya dengan tangan gemetar. Video itu hanya berdurasi 5 detik. Menampilkan Arka yang sedang duduk di kursi Unit 3B, tangannya diikat, dan di belakangnya... tembok hijau mint itu sudah dicoret-coret dengan cat merah darah bertuliskan: "PULANG ATAU MATI."
Wajah Alya memutih. Amarah yang selama ini ia tekan meledak begitu saja. Ia tidak menangis. Ia justru berdiri, menatap Julian dengan tatapan yang bisa membekukan air terjun.
"Julian, siapkan tim hukum paling mahal yang dimiliki konsorsium ini. Dan hubungi Kepolisian Federal sekarang. Saya tidak akan memberikan bukti apa pun soal suami saya, karena suami saya adalah bukti hidup bahwa integritas masih ada."
Alya mengambil tasnya. "Dan satu lagi. Bilang pada mereka di Jakarta... kalau mereka mau main kotor, saya akan pastikan lumpur ini menenggelamkan mereka semua sampai ke akar-akarnya."
dalam Bahaya
Alya berlari keluar menuju mobil Julian. Ia tahu ini jebakan. Ia tahu Arka mungkin sedang dalam bahaya maut. Tapi ia juga tahu satu hal: Arka sengaja mengirimkan video itu bukan untuk menakutinya, tapi untuk memberi kode.
Di dalam video itu, di sudut meja lipat, Arka meletakkan botol minyak kayu putih dengan posisi terbalik. Itu adalah kode yang mereka sepakati saat dulu mereka masih sering dikejar-kejar penagih hutang di masa-masa sulit mereka di Singapura: "Aku memegang kendali. Ikuti rencananya."
Arka tidak benar-benar tertangkap tanpa perlawanan. Arka sedang memancing mereka semua ke Unit 3B untuk sebuah penyelesaian akhir.
Malam itu, Carlton akan menjadi saksi. Bukan saksi dari sebuah cinta yang rapuh, tapi saksi dari bagaimana dua orang yang "domestik" bisa berubah menjadi monster untuk melindungi satu sama lain.
"Bang... bertahanlah," bisik Alya di dalam mobil yang melaju kencang membelah hujan Melbourne. "Aku pulang. Tapi bukan buat dia. Aku pulang buat kita."
Di dalam Unit 3B, Arka menatap pria jaket kulit itu dengan tenang, meskipun darah mengalir dari sudut bibirnya. Ia melihat ke arah tembok hijau mint-nya yang kotor.
"Kamu tahu?" Arka bicara dengan suara parau. "Cat ini susah banget dicarinya. Kamu baru saja bikin kesalahan paling mahal dalam hidupmu."
Apakah Alya akan sampai tepat waktu dengan bantuan Kepolisian Federal? Dan apa sebenarnya "rencana" yang sudah disiapkan Arka di dalam Unit 3B yang kini terasa seperti medan perang?
ahh pria solo itu lagii🤣🤣