NovelToon NovelToon
ISTRIKU SANTRIKU

ISTRIKU SANTRIKU

Status: tamat
Genre:Pernikahan Kilat / Nikahmuda / Tamat
Popularitas:378.4k
Nilai: 5
Nama Author: ZIZIPEDI

Anies Fadillah hanya ingin menenangkan hatinya yang lelah.

Namun satu langkah tergesa tanpa perhitungan di malam hari menyeretnya pada fitnah yang tak sempat ia luruskan.

Faktanya Anisa Fadillah gadis tujuh belas tahun itu berada di dalam kamar Ustadz Hafiz Arsyad, yang tak lain adalah putra bungsu dari Kiai Arsyad.

Sebuah peristiwa yang menguncang kehormatan, meski keduanya tak pernah berniat melanggar syari'at.

Ketika prasangka lebih dulu berbicara dan kebenaran tak sempat di bela, jalan yang paling tepat menjaga marwah adalah pernikahan.

Hari itu juga Mereka dinikahkan secara tertutup, dan pernikahan itu dirahasiakan dari publik, hanya orang ndalem yang mengetahui pernikahan rahasia antara Hafiz dan Anies.

Apakah pernikahan mereka akan bertahan?
Atau mungkin pernikahan mereka akan terbongkar?

Ikuti kisahnya yuk...!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ZIZIPEDI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 33 Keceplosan

Anisa tak bisa terpejam ia melirik ke sebelah kanan, di sana Gus Hafiz terlelap dengan damai.

Perlahan Anisa melepas tangan Gus Hafiz yang melingkar di pinggangnya. Dengan hati-hati Anisa meletakkan tangan Gus Hafiz ke sis ranjang.

Anisa melangkah menuruni tangga, tenggorokannya terasa kering.

Dapur itu sunyi. Hanya suara detik jam dinding dan gesekan kain lap di atas meja kayu.

Dengan gerakan pelan Anisa menuang air kedalam gelas. Perlahan air itu membasahi tenggorokan Anisa.

“Mbak Nisa itu persis Ibuk… ndak suka merepotkan orang…”

Anisa perlahan menurunkan gelasnya. Matanya menatap Mbok Yem lekat.

“Ibu yang mana Mbok, maksudnya?” tanyanya tenang, tapi nadanya berubah. “Simbok tahu ibuku?”

Mbok Yem langsung kaku. Tangannya yang tadi sibuk merapikan meja mendadak berhenti dan salah tingkah.

“Em… anu, Mbak… ya itu… Ibu Sarah…”

Anisa menyipit. Sementara Mbok Yem buru-buru hendak meninggalkan meja makan.

“Bukan.” Suara Anisa pelan tapi tegas. “Ibuku bukan Mama Sarah.”

Mbok Yem tersentak, tubuhnya tegak bak patung, sampai tanpa sadar wanita Sepuh itu menjatuhkan kain lap ke lantai. “Mbak Nisa jangan ngomong sembarangan…”

Mbok Yem tak ingin, Anisa mengatakan sesuatu yang bisa membuat semuanya berantakan.

Anisa melangkah mendekat. Wajahnya pucat, tapi sorot matanya tajam.

“Nisa sudah tahu, Mbok.”

“Apa yang Mbak tahu?” suara Mbok Yem mulai gemetar.

“Aku bukan anak kandung Mama Sarah kan?.” Anisa menelan ludah sejenak. “Dan ibuku… seorang LC di sebuah bar.”

Kata itu jatuh berat di lantai dapur.

Mbok Yem langsung menggeleng cepat. “Astaghfirullah… siapa yang bilang begitu? Mbak Nisa jangan percaya omongan orang. Itu ndak benar.”

“Jadi tidak benar?” Anisa menatapnya tanpa berkedip.

Mbok Yem terdiam.

“Simbok jawab saja, Mbok. Benar atau tidak?”

Mbok Yem menunduk. Tangannya meremas ujung kebaya tuanya.

“Mbak Nisa… simbok ini cuma orang kecil, simbok ndak tahu apa-apa. Simbok ndak ada wewenang untuk mengatakan apa pun tentang ibu Mbak Nisa.”

Jantung Anisa berdegup keras.

“Artinya memang ada yang disembunyikan, kan Bok.”

Anisa menghela napas panjang.

“Mbak…” Mbok Yem mendongak, matanya berkaca-kaca. “Kalau Mbak ingin tahu kebenaran, silakan tanya langsung dengan Bapak. Itu bukan hak simbok untuk membuka.”

Anisa tersenyum tipis. Senyum yang getir di bibirnya.

“Kenapa harus rahasia, Mbok? Kalau memang tidak ada apa-apa, kenapa simbok takut menjawab? mau sampai kapan simbok ikut menanggung kebohongan ini”

Mbok Menatap Anisa. Ada air mata tergenang di mata tuanya.

“Simbok bukan takut… Mbak Nisa.” suara Mbok Yem pecah. “Tapi itu janji simbok pada Bapak. Simbok ndak boleh cerita dengan siapapun.”

Anisa semakin mendesak.

“Janji tentang apa? janji tentak fakta jika aku terlahir dari istri kedua? atau janji tentang rahasia perselingkuhan papa? atau janji tentang darah yang mengalir di tubuhku dari wanita penghibur...? katakan Mbok...!”

Mbok Yem mundur selangkah. “Mbak Nisa, sudah… jangan dipaksa. Simbok mohon.”

Suasana semakin sunyi dan getir.

“Nisa ndak maksa Mbok. Nisa hanya ingin tahu kebenarannya." Anisa menarik tangan mbok Yem, menggenggamnya erat penuh harap.Tolong jawab satu saja, Mbok.” Suara Anisa kini bergetar. “Apakah benar ibuku bukan wanita baik-baik?”

Hening panjang.

Detik jam di dinding terdengar begitu nyaring.

Mbok Yem memejamkan mata. Bibirnya gemetar, seolah menahan sesuatu yang sudah terlalu lama dipendam.

“Mbak…” air matanya jatuh. “Hidup seseorang itu kadang dipaksa keadaan bukan kemauan.”

Dan Itu bukan jawaban.

Anisa menggeleng pelan. “Itu bukan jawaban, Mbok, yang ingin Nisa dengar, Mbok.”

“Simbok ndak bisa…” Ucap Mbok Yem. Isaknya lirih. “Simbok ndak ada wewenang. Tanyakan saja pada Bapak, Mbak. Semua kebenaran ada di beliau.”

Anisa merasa kakinya melemas.

Jadi memang benar ada sesuatu.

Kalau tidak, Mbok Yem tidak akan sampai menolak sekeras itu untuk bercerita. Batin Anisa lebih getir.

Tangannya mencengkeram tepi meja.

“Baik,” ucapnya pelan, hampir seperti bisikan pada dirinya sendiri. “Kalau begitu Nisa akan tanya langsung pada Bapak. Aku akan bilang, aku tahu dari Simbok.”

"Jangan Mbak, Simbok mohon"

Mbok Yem terlihat semakin gelisah. “Mbak jangan gegabah… ini bukan perkara kecil. Ibu bisa marah ke Bapak, dan rumah tangga mereka bisa berantakan.”

Anisa tersenyum tipis. Air matanya jatuh tanpa bisa ditahan.

“Nisa nggak peduli, Mbok...”

Mbok Yem tertegun.

Di lantai atas, Gus Hafiz masih tertidur lelap.

Sementara di dapur yang remang itu, rahasia lama mulai retak, tinggal menunggu siapa yang berani membukanya sepenuhnya.

Dapur terasa semakin dingin.

Anisa berdiri kaku di depan Mbok Nah. Tatapannya tidak lagi ragu, hanya ada luka yang menunggu jawaban.

“Mbok… tolong. Sekali ini saja. Nisa mohon.”

Suaranya pecah. “Kalau Mbok diam, Nisa bisa gila memikirkan semuanya sendiri.”

Mbok Yem memejamkan mata lama. Air matanya jatuh lebih dulu sebelum kata-katanya keluar.

“Simbok sudah janji pada Bapak…” lirihnya.

Anisa berlutut di hadapannya.

"Mbak... jangan begini..." Mbok Yem dengan cepat menarik tubuh Anisa berdiri. Tapi Anisa tak mau bergerak, ia pegang kedua kaki Mbok Yem kuat dengan tetap memohon, berlutut di kaki Mbok Yem.

“Anggap saja malam ini Mbok tidak sedang melanggar janji. Anggap saja Mbok sedang menolong anak yang kehilangan ibunya.”

Kalimat itu meruntuhkan pertahanan perempuan tua itu.

Mbok Nah terduduk lemas.

“Baik...”

Anisa menahan napas dalam.

1
mars
terimakasih kak ceritanya santun dan ngena bgt biasanya aku ga suka yg bawa2 agama tpi ini MasyaAllah bgt
mars
aaaaaa 😭😭😭😭😭😭.nangis bacanya sedih dan haru bgt😭😭😭😭😭😭
mars
anisa bukan sarah
Yasinta Niken
akhirnya berakhir dengan kebahagiaan 🙏🙏🙏
Yasinta Niken
jangan takut umi Nisa semua akan baik-baik saja
Yasinta Niken
selamat ya faqih Sifa
Yasinta Niken
terimakasih umi
Yasinta Niken
semoga nanti ternyata faqih yang menjadi pasangan Sifa amin
Yasinta Niken
Sarah mbokya sadar dengan sikapmu Anisa juga punya hati ingin peluk bapak aja kok gak boleh kasihan banget
Yasinta Niken
makasih umi bahagia lahir batin ya Ning Nisa
Yasinta Niken
umi pada akhirnya hanya menantu yang tidak dikehendaki yang bisa bersamamu semoga dapat menjaga amanah ya Nisa
Yasinta Niken
nah itu baru benar qih lsg aja takut nya nanti Sifa diambil orang
Yasinta Niken
Aduhhh Gus hafiz jangan sampai lupa tempat ya
Yasinta Niken
hati2 ya Ning Nisa jangan bikin saya menangis' terus baca kisahmu
Yasinta Niken
Aduhhh Gus hafiz jangan lupa untuk menjaga diri dan istri 😄😄😄
Yasinta Niken
nah Lo jangan egois Gus
Yasinta Niken
sabar ya Anisa semoga Allah SWT selalu menjaga kalian berdua
Yasinta Niken
Anisaaaaaa
Yasinta Niken
menyesal yang tidak berguna p Fadilah kasian banget Nisa
Yasinta Niken
jangan sedih Nisa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!