☞☞☞Memiliki suami karena sebuah perjodohan tidaklah mudah. Terlebih suamiku tidak mencintaiku dan masih mencintai mantannya.
Menjalin hubungan terpaksa dengan orang yang asing bagiku, membuatku ingin hampir menyerah.
Terlebih ia adalah laki-laki pertama bagiku. Karena sebelumnya aku tidak pernah menjalin hubungan dengan seorang laki-laki.
✏🌷💃Ini merupakan novel keduaku. Semoga kalian suka. Terus dukung karyaku dengan like komen dan votenya ya. Mengandung unsur dewasa jadi mohon bijak dalam berkomentar🤗💃*
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nieyha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MISI BERHASIL
Please, like komen dan votenya buat author ya semoga kita selalu sukses dalam berkarya 🤗🤗🤗🤗🤗
*******
"Ya sudah cepat masuk. Belajar yang rajin", ucap Leon yang sudah sampai di kampusnya.
"Makasih Kak. Kak Lia aku duluan ya. Dada...",jarak rumah Leon ke kampus sebenarnya dekat tapi karena harus putar arah menjemput Lia dulu jadi baru sampai deh.
Kini tinggallah Leon dan Lia di dalam mobil.
"Kamu mau di antar kemana?", entah sarapan apa tadi pagi tiba-tiba Leon bertanya dengan lembut kepadanya.
"Turunkan aku di cafe depan. Aku ada janji dengan klien disana", Lia menunjuk bangunan cafe yang sudah terlihat atapnya.
"Apa kamu sering bertemu klienmu di luar butik? Maksudku apa kamu sering melakukan pekerjaanmu di luar?", Leon jadi lebih sering bertanya.
"Tidak terlalu sering. Tergantung keinginan klien mereka mau bertemu dimana. Aku hanya mengikuti karena menghargai mereka".
"Terimakasih atas tumpangannya", Lia membuka pintu mobil ketika sudah sampai di depan cafe.
Leon mengangguk.
"Nanti aku jemput di butik", itulah kalimat terakhir yang diucapkan sebelum Lia jauh melangkah meninggalkannya.
Lia hanya tersenyum. Ia tidak terlalu ambil pusing dengan perubahan sikap yang ditunjukkan Leon. Selama orang lain bersikap baik kepadanya, dia juga akan berlaku baik kepadanya. Itulah prinsip yang selalu ia pegang.
Leon masih menatap kepergian Lia sampai tubuhnya tak terlihat lagi olehnya. Hingga bunyi klakson dari arah belakang mengagetkan dirinya.
"Hei cepat jalan. Jangan berhenti disitu", seseorang sedang meneriakinya.
Ia kembali melajukan mobilnya sampai ke perusahaan.
Ia keluar dari lift dan memasuki ruangannya dengan wajah sumringah.
"Mik, bos kita sepertinya baru menang lotre. Lihat tuh mukanya. Seperti bulan yang terang benderang", Susi menyenggol lengan Mika.
"Bagus kalau seperti itu. Itu tandanya moodnya sedang membaik. Siapa tahu bonus akhir bulan bisa cair hari ini", Mika banyak berharap karena memang dompetnya sudah tipis akibat tanggal tua.
"Iya juga ya. Tanganku juga sudah gatal pengen shopping. Gajiku sudah habis aku kirim ke kampung untuk ibuku", Susi setengah curhat.
"Sudah ayo kita lanjut bekerja. Jangan sampai merusak mood pak bos karena mendengar ocehan kita", Mika kembali ke mejanya.
******
Di tempat kuliah. Hubungan Kevin dan Amanda semakin membaik. Keduanya tidak sungkan lagi untuk saling bertemu dan memberi sapa.
"Vin, thanks ya berkat bantuan Lo Kak Leon jemput Kak Lia tadi pagi. Aku seneng banget", Amanda menghampiri Kevin yang kebetulan sedang berada di kantin.
"Seriusan? Kakak Lo jemput Kakak Gue? Eh tapi kan ini semua ide dari Lo. Gue harusnya yang terimakasih sama Lo karena Lo mau nerima kakak Gue".
"Iya deh. Ide kita berdua. Untuk ngrayain keberhasilan misi kita, Gue traktir Lo ya", Amanda duduk di sebelah Kevin.
"Jangan dong, Gue kan cowok. Gue yang harus bayarin", Kevin tidak mau harga dirinya sebagai laki-laki jatuh.
"Ini kan Gue yang mau Vin. Udah santai aja".
"Oke deh. Lain kali kalau Lo punya ide lagi buat mereka bisa deket kasih tahu Gue ya. Gue kapan aja pasti bisa bantu Lo kok", ucap Kevin sambil menulis pesanan makanan.
"Tapi bukan karena Lo dapat traktiran dari Gue kan?", Amanda bercanda.
"Ya nggaklah. Tapi kalau Lo sering-sering kaya gini Gue juga nggak bisa nolak sih", Kevin tertawa membalas candaan dari Amanda.
"Huh, dasar. Ngarep itu namanya", mereka tertawa bersama.
Asyik juga ternyata Amanda. Kenapa nggak dari dulu aja Gue ngajakin temenan sama dia. Dengan gitu kan Gue nggak akan ngerasain sakitnya dicuekin.
mending sama aku saja bang...