Saat pertarungannya melawan Hukum Langit mencapai puncak, Lin Xinyao seorang taois berbakat yang menentang takdir gugur dalam pertempuran. Namun sebelum jiwanya lenyap, sebuah cahaya putih menariknya ke dimensi lain, mempertemukannya dengan seorang gadis bernama Yao Yao yang memiliki wajah identik dengannya. Yao Yao, yang lemah dan penuh luka batin, menyerahkan tubuhnya kepada Xinyao dan memintanya untuk hidup menggantikan dirinya.
Kini, Lin Xinyao terbangun di kehidupan baru yang bukan miliknya, membawa sumpah untuk suatu hari kembali menantang Hukum Langit sekaligus mengungkap rahasia kelam di balik tubuh yang kini ia huni.
---
CATATAN PENULIS
Karya ini adalah murni hasil khayalan dan imajinasi penulis. Segala nama, karakter, tempat, dan peristiwa tidak memiliki hubungan dengan dunia nyata. Jika ada kesamaan, itu semata-mata kebetulan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blumoon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Zhang meilin perusak suasana
Jam dinding di salah satu toko pinggir jalan menunjuk tepat pukul sebelas siang ketika ponsel Xinyao bergetar pelan di saku jaketnya. Ia menghentikan gerakan tangannya yang sedang membantu mengaduk mie di wajan besar milik bibi tua itu, lalu menyeka ujung jarinya dengan lap kain sebelum mengambil ponselnya.
Sebuah pesan masuk.
💬 Yao Yao setengah jam lagi aku jemput ya kita ke mall.
Xinyao membaca pesan itu sambil sedikit menyipitkan mata, lalu sudut bibirnya terangkat tipis. Ia langsung mengetik balasan tanpa banyak berpikir.
💬 Oke…. Jangan ke apartemen ya, aku lagi di stand pinggir jalan nggak jauh dari apartemen. Lagi bantu bibi jualan mie.
Begitu pesan terkirim, hampir tak sampai beberapa detik, balasan dari Qinglan masuk. Bukan kata-kata, melainkan sebuah stiker lucu dengan tulisan besar: “OKE”, lengkap dengan ekspresi imut yang berlebihan.
Xinyao terkekeh pelan.
“Dasar,” gumamnya sambil menggeleng kecil.
Setengah jam berlalu dengan cepat. Qinglan akhirnya tiba di depan stand mie itu dengan mobilnya. Sebelum pergi, Xinyao melepas celemek, merapikan rambutnya yang sedikit berantakan, lalu menangkupkan kedua tangannya.
“Bibi, aku pulang dulu ya,” ucapnya sopan.
Bibi tua itu tersenyum lebar, keriput di wajahnya semakin jelas.
“Hati-hati di jalan, Nak. Terima kasih sudah membantu.”
Xinyao mengangguk dan melambaikan tangan kecilnya sebelum berbalik menuju mobil.
Namun, sebelum benar-benar masuk, langkahnya terhenti.
Pandangan Xinyao menyapu bagian dalam mobil dengan sangat teliti. Dari kursi depan, kursi belakang, hingga sudut-sudut yang tak luput dari pengamatannya.
“Gege-mu nggak ikut, kan?” tanyanya blak-blakan, alisnya sedikit terangkat.
Qinglan meliriknya sekilas lalu tertawa kecil.
“Enggak. Gege lagi banyak kerjaan.”
“Oh… baguslah,” sahut Xinyao ringan.
Begitu yakin Fengyun benar-benar tidak ada, Xinyao langsung masuk ke dalam mobil dengan wajah jauh lebih cerah dari sebelumnya.
' Jantungku selalu nggak aman kalau ada pria itu,' batinnya lega.
'Lebih baik cuma berdua kayak gini.'
Mobil pun melaju, membelah jalanan kota yang mulai ramai. Suara klakson bersahutan, gedung-gedung tinggi berdiri megah di kiri kanan jalan, sementara Xinyao duduk tenang di kursi penumpang, menikmati pemandangan dari balik kaca jendela.
Tak lama kemudian, mereka tiba di salah satu mall terbesar di kota.
Begitu kaki Xinyao melangkah masuk, matanya langsung membulat. Pandangannya bergerak ke segala arah—lampu-lampu terang, toko-toko berjejer rapi, aroma makanan bercampur di udara.
“Wah…” gumamnya tak sadar. “Semuanya ada di sini. Makanan, baju, barang-barang keren…”
Suaranya tidak terlalu keras, tapi cukup untuk terdengar oleh Qinglan yang berjalan di sampingnya.
“Ayo,” ajak Qinglan ceria. Ia langsung menggandeng tangan Xinyao, erat seperti sedang menuntun anak kecil yang bisa hilang kapan saja. “Kamu belum makan siang, kan? Kita makan dulu di sini.”
Xinyao hanya mengangguk patuh, membiarkan dirinya ditarik.
“Yao Yao,” lanjut Qinglan sambil berhenti di depan sebuah restoran, “kita makan di sini aja ya. Kebetulan aku lagi pengen banget makan sushi.”
Restoran sushi itu tampak elegan, dengan etalase kaca dan aroma khas ikan segar yang langsung menyapa hidung.
“Aku ikut aja,” jawab Xinyao santai. “Yang penting makanannya enak.”
Bagi Xinyao, selama bisa dimakan dan mengenyangkan, tempat bukanlah masalah besar.
Mereka pun masuk dan duduk berhadapan. Qinglan dengan sigap membuka menu, jarinya menunjuk beberapa pilihan favorit tanpa ragu, lalu memesan cukup banyak hidangan.
Xinyao memperhatikan dengan mata berbinar, tanpa sadar menelan ludah kecil.
'Kayaknya hari ini bakal jadi hari makan enak', batinnya senang.
_
Beberapa menit kemudian, satu per satu hidangan yang mereka pesan mulai berdatangan ke meja. Piring-piring kecil tersusun rapi, warna ikan segar berkilau di bawah lampu restoran, aroma saus asin-manis langsung menggoda indera penciuman.
Mata Xinyao seketika berbinar terang, seperti anak kecil yang baru saja menemukan harta karun.
“Wah… kelihatannya enak,” gumamnya penuh antusias, nyaris tak bisa menyembunyikan kegembiraan di wajahnya.
Tanpa menunggu lama, ia segera mengambil sumpitnya. Gerakannya cepat, nyaris refleks.
HAP.
Begitu potongan sushi masuk ke mulutnya, Xinyao langsung membelalakkan mata.
“Wah enak!” serunya dengan suara sedikit teredam karena mulutnya masih penuh. “Perpaduan ikannya sama sausnya tuh pas banget!”
Qinglan tertawa pelan melihat ekspresi Xinyao yang terlalu jujur dan polos.
“Hahaha… pelan-pelan aja. Kalau kurang, kita pesan lagi,” ujarnya santai, nada suaranya penuh kesenangan.
HAP.
Kini giliran Qinglan ikut makan. Begitu sushi menyentuh lidahnya, matanya terpejam refleks. Tangannya yang memegang sumpit sedikit mengepal, seolah sedang meremas udara.
“Emmm…” desahnya pelan. “Sempurna.”
Mereka pun menikmati makanan itu sambil berbincang ringan—obrolan acak, tawa kecil, dan suasana hangat yang membuat waktu terasa berjalan lebih cepat.
Nb : Gambar hanya ilustrasi semata
Setelah keluar dari restoran sushi, langkah mereka berhenti di sebuah stand minuman. Tanpa ragu, mereka memesan dua milk tea ukuran ekstra besar dengan extra boba.
“Mantap,” ujar Xinyao puas sambil mengacungkan jempol ke arah Qinglan.
Apalagi ini gratis… heheh, batinnya bersorak senang.
Namun, di tengah suasana santai itu, sesuatu yang tak terduga terjadi.
Tiba-tiba, dari kejauhan, seseorang melangkah cepat mendekat. Tanpa peringatan, tangan itu langsung menarik pergelangan tangan Xinyao dengan kasar.
“Eh—!” Xinyao tersentak.
“Apa-apaan ini?! Kenapa main tarik aja?!” bentak Qinglan refleks, tubuhnya langsung bergerak protektif ke depan Xinyao.
Wanita itu menoleh dengan wajah dingin dan tatapan merendahkan.
“Temannya Yao Yao ya? Nggak usah ikut campur urusan keluarga saya,” jawabnya ketus tanpa rasa bersalah.
“Keluarga?” Qinglan mengulang kata itu, alisnya mengerut bingung.
“Lepas.”
Suara Xinyao terdengar rendah, penuh tekanan. Ia menarik tangannya sendiri dengan kasar hingga pegangan itu terlepas.
“Zhang Meilin,” ucap Xinyao dingin. Alisnya saling bertaut, wajahnya jelas menunjukkan kejengkelan yang tertahan.
“Jiejie, jangan marah dulu,” kata Meilin dengan suara lembut yang dibuat-buat. Wajahnya dipoles ekspresi memelas, mata berkaca-kaca penuh kepura-puraan. “Aku cuma mau bawa kamu pulang. Mama, Papa, sama Gege… mereka sudah memaafkan kamu.”
Xinyao menatapnya datar, lalu perlahan mengangkat milk tea di tangannya dan menggoyangkannya pelan.
“Aku nggak mau,” jawabnya enteng tapi menusuk. “Tanpa kalian, hidupku malah lebih enak.”
Ekspresi Meilin sedikit membeku.
“Jangan ikuti aku,” lanjut Xinyao memberi peringatan tegas.
Ia langsung menarik lengan Qinglan dan melangkah cepat pergi.
“Ayo,” ujarnya pendek. “Bikin rusak suasana aja.”
Wajah Xinyao memerah, bukan karena malu—melainkan karena amarah yang ia tahan rapat-rapat.
Sementara itu, Meilin masih terpaku di tempat. Ia sama sekali tidak menyangka penolakannya akan sejelas dan setegas itu.
“Akhh…” desisnya pelan, menyadari banyak pasang mata mulai melirik ke arah mereka.
“Wanita itu…” gumamnya kesal. “Baru tinggal di luar sedikit sudah jadi sombong.”
Tatapan Meilin mengeras.
“Awas saja kau.”
Ia menarik napas panjang, menenangkan emosinya yang bergolak, lalu berbalik dan pergi meninggalkan tempat itu dengan langkah cepat—menyimpan kekesalan yang belum padam.
Bersambung 🥂
restu mendarat dengan mulus...
tapi yao2 gk gmpang ditaklukin 😜
,, saatny beraksi lagi xinyaoo... sembuhin nenek biar dpt restu camer~
bakal ketahuan gk nih masa depan pasangannya siapa 🙃🙃
selamany aja deh kek gitu...
lbh kasihan hauron, uangnya sia2 😜