"Aku mau menjadi istrimu, hanya karena itu permintaan terakhir suamiku."
-Anna-
"Akupun mau menikahimu dan mengambil tanggung jawab atas anak itu hanya karena permintaan adikku."
-Niko-
Anna, wanita tunanetra berparas cantik yang sederhana mendapatkan donor mata dari suaminya yang meninggal saat usia pernikahan mereka baru beberapa minggu saja. Sebelum meninggal, suami Anna berwasiat agar Anna bersedia menikah dengan kakaknya, Niko.
Niko adalah pria tampan berhati dingin. Ia memiliki seorang kekasih, namun tidak ada niat untuk segera menikah.
Bagaimana kisah Anna dan Niko dalam menjalani kehidupan rumah tangganya?
Ada peristiwa apa di balik trauma yang di alami oleh Anna?
------------
Cerita ini hanya fiksi, jika ada nama, tempat dan kejadian yang sama, itu hanya kebetulan semata.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon el nurmala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
persalinan Anna
Happy reading...
Udara malam yang dingin semakin terasa dingin dengan hembusan angin yang cukup kencang. Mantel ataupun jaket yang di kenakan rasanya takkan cukup untuk menghangatkan.
Sesekali Rian menggosok-gosokkan tangannya pada telapak tangan istrinya untuk mengurangi rasa dingin itu. Sementara Niko, nampak gelisah menunggu di depan pintu ruang bersalin.
Sesekali Niko menoleh ke arah pintu berharap ada seseorang yang membukanya. Tak jarang jantungnya berdegup kencang saat sayup-sayup terdengar teriakan kesakitan dari wanita yang sedang berjuang melahirkan anaknya.
Dokter Olivia pernah mengeluhkan tentang Anna yang tidak mengikuti saran-sarannya. Salah satunya adalah mengambil kelas prenatal yang memberikan banyak manfaat untuk ibu sebelum melahirkan.
Perasaan Niko sedang berkecamuk. Suara yang di dengarnya saat ini beradu dengan suara Anna yang memohon agar ia tak menjamahnya di malam itu. Perasaan bersalah dan penyesalan yang dirasanya tak akan merubah apapun apalagi mengurangi sakit yang dirasa Anna saat ini.
Deg.
"Tangisan bayi?" Batinnya.
"Bayinya sudah lahir, Nik. Kamu dengar kan? Cucu kita sudah lahir, Mas!" seru Viona dengan raut wajah sangat bahagia.
"Iya, Ma. Anak Riko sudah lahir," sahut Rian dengan mata berkaca-kaca.
Seketika raut wajah Viona dan Niko berubah. Namun hanya sesaat kerena mereka kembali larut dalam kebahagiaan.
Tidak lama kemudian, Dokter Olivia keluar dari ruangan itu. Senyum di wajah dokter itu menandakan keadaan di dalam baik-baik saja.
"Selamat Tuan, Nyonya Anna melahirkan bayi perempuan yang cantik dan tentunya sehat," ujar Dokter Olivia.
"Terima kasih, Dok," sahut mereka hampir bersamaan.
"Kalian bisa menemuinya setelah di pindahkan ke ruang rawat. Saya permisi." Pamitnya.
"Silahkan, Dokter!" sahut Viona.
Ketiganya tersenyum lega dan sudah tak sabar ingin segera melihat keadaan Anna dan juga bayinya.
Di mansion, Rahardian dan istrinya juga tak kalah cemasnya. Bahkan sedari tadi Rahardian tak sabar ingin segera mendengar kabar dari rumah sakit.
"Kenapa lama sekali? Kenapa Niko belum juga memberi tahukan pada kita bagaimana kabar wanita itu? Apa dia baik-baik saja?" tanya Rahardian dengan raut wajah khawatir.
"Kita tunggu sebentar lagi. Doakan saja yang terbaik untuk Anna dan juga bayinya," sahut Murni.
Tidak lama kemudian, ponsel yang digenggam Rahardian berbunyi.
"Ini, ini cepat angkat! Niko pasti akan memberitahu sesuatu," ucap Rahardian sambil menyerahkan ponselnya.
"Kenapa bukan kau saja yang mengangkatnya? Aneh," ujar Murni yang kemudian menerima panggilan dari Niko.
📱 "Iya, Nik. Bagaimana?"
Saat Murni berbicara dengan Niko, Rahardian yang penasaran meminta di loudspeaker. Dan rona bahagia terpancar dari wajahnya saat mendengar kabar kelahiran cicitnya.
***
Anna menatap bayi mungilnya yang masih merah dengan tatapan yang sulit di artikan. Tak dapat di pungkiri naluri keibuannya bahagia melihat janin yang hampir tiga puluh sembilan minggu berada dalam kandungannya terlahir ke dunia. Namun disisi lain, bayi itu mengingatkannya pada malam kejadian ia dirudapaksa oleh pria yang tidak di kenalnya.
"Selamat Anna! Sekarang kamu sudah jadi seorang ibu."
Suara Mama Viona membuyarkan lamunan Anna. Ia memaksakan senyum tipis tersungging di wajahnya. Anna tak ingin Mama Viona menyadari perasaannya.
Setelah memeluk Anna, Viona dengan antusias menghampiri cucu perempuannya.
"Terima kasih, Sayang!" ujar Papa Rian sambil memeluk Anna.
"Wah, cantiknya! Kamu sudah siapkan nama, An?" tanya Mama Viona.
Anna menggeleng pelan. Viona menoleh pada Niko dan pria itu terlihat bingung.
"Papa saja yang memberinya nama. Kamu tidak keberatan kan, Sayang?" tanya Papa Rian dan di jawab anggukkan oleh Anna.
"Hmm.. Karena Riko sangat mengagumi karya-karya dari pelukis Clara Peeters, Papa akan memberi anaknya nama Clara. Clara Rahardian, gimana?"
Anna hanya mengangguk, ia tidak perduli bayi mungilnya akan di panggil dengan nama apa nantinya.
"Boleh, boleh. Clara! Cantiknya cucu Oma," sahut Mama Viona.
"Clara. Putriku bernama Clara. Ini Daddy, Nak," batin Niko. Hatinya sedang diliputi rasa haru yang luar biasa melihat wajah bayi yang sedang terlelap itu.
Karena Rian dan Viona baru saja tiba dari perjalanan panjang mereka, maka Niko meminta mereka untuk pulang bersama Dani. Dan kini hanya Niko dan Anna serta Baby Clara yang ada di ruangan itu.
"Istirahatlah. Aku yang akan menjaganya," ujar Niko.
"Terima kasih," sahut Anna pelan.
Saat Niko sedang asik menatap bayi mungilnya, Anna mencoba memejamkan mata. Namun bukan terlelap, Anna sedang bergelut dengan perasaannya sendiri.
"Mas, bayi ini sudah lahir. Anna sudah memenuhi janji Anna pada Mas Riko. Sekarang Anna harus bagaimana? Semakin lama Anna menutupi kebenarannya, Anna semakin merasa bersalah. Terutama pada Mama dan Papa."
Hembusan kasar nafas Anna membuat Niko menoleh padanya. Dalam diamnya, Niko menyadari sikap acuh Anna pada bayinya. Tidak ada rona bahagia terpancar dari wajah Anna atas kelahiran Baby Clara. Anna terlihat biasa saja bahkan untuk sekedar menolehpun ia terlihat enggan.
Malam mulai larut, tapi Niko tidak bisa memejamkan matanya. Pria itu masih terduduk di samping tempat tidur bayinya. Ia tak bosan-bosan memandangi wajah cantik putrinya.
Sesekali Niko mengulumkan senyumnya saat dirasa wajah bayi itu terkadang mirip Anna, kadang juga mirip dirinya. Rasanya ia ingin segera bisa menempatkan bayi itu dalam dekapannya.
Niko mulai merasa bingung saat Baby Clara seperti hendak menangis. Bayinya itu pasti lapar. Saat melihat Anna, wanita itu sedang terlelap.
"Apakah aku harus bangunkannya?" gumam Niko.
Beruntung seorang perawat masuk ke ruangan itu. Ia tersenyum pada Niko dan menghampiri bayi Anna.
"Hai, Baby! Kau lapar, Sayang?" ucap perawat itu.
"Aku akan membangunkan ibunya," ujar Niko.
"Tidak usah, Tuan. Biarkan Ibu bayi ini istirahat. Saya akan membuatkan susu formula untuk bayinya."
"Susu formula? Tapi.." Niko tidak bisa melanjutkan ucapannya. Ia tidak dalam posisi bisa meminta Anna untuk menyusui bayinya.
Seolah mengerti pemikiran Niko, perawat itu berkata, "Ini hanya sementara, Tuan. Tadi sudah di susukan pada ibunya, tapi sepertinya masih sangat sedikit ASInya. Jadi sebaiknya Nyonya istirahat dengan cukup agar bisa mengurangi kondisi baby blues dan tentunya membantu spikis ibu bayi jadi lebih baik."
Niko memperhatikan bayinya yang sedang meminum susu botolnya dengan perasaan sejuta rasa yang sulit di gambarkan. Ia kemudian menghampiri Anna yang sedang terlelap.
"Anna, maafkan aku!" Batinnya.
Suara rengekan bayi membuat Niko terbangun dari tidurnya. Entah sejak kapan ia tertidur di atas sofa. Tatapannya kemudian mengarah pada Anna. Wanita yang baru semalam menjadi ibu itu sedang asik dengan ponselnya.
Sepertinya Anna sedang mendengarkan musik karena earphone terpasang di kedua sisi telinganya. Niko menghampiri bayi mungilnya. Anna yang menyadari Niko sudah bangun, melepas earphone yang di kenakannya.
"Sudah bangun, Nik? Kamu pasti lelah. Sebaiknya saat Mama dan Papa tiba nanti, kamu pulang saja." Ujarnya.
"Iya, An. Nanti aku akan pulang dulu sebentar. Aku harus mengganti pakaianku. An, Baby Clara sepertinya lapar," ujar Niko.
"Aku akan panggilkan perawat," sahut Anna yang kemudian menekan tombol untuk memanggil perawat.
"Kenapa tidak kau saja yang menyusuinya, An. Kau bisa mencobanya pelan-pelan," usul Niko.
"Aku tidak mau, Nik. Aku tidak mau menyusuinya," sahut Anna tegas.