Mohon untuk tidak membaca novel ini saat di bulan puasa. Terutama disiang hari. Untuk malam hari, silahkan mampir jika berkenan.
"Aku tidak mau menikah dengan Pria tua itu, Ibu" kata Elina pada Ibu tirinya.
Elina di jual oleh Ibu tirinya pada seorang Pria yang tidak diketahui identitas aslinya. Sakit, jelas Elina merasa hatinya sangat sakit.
Apakah Elina bisa mendapatkan kebahagiaan itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asni J Kasim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 33
Erlanda berjalan sedikit berlari, tersenyum menghampiri Elina. Dapat bertemu dengan wanita pujaan hatinya, merupakan suatu keberuntungan baginya.
"Baby, aku menghubungimu dan.. nomormu tidak aktif" ujar Erlanda. Tersenyum manis pada Elina.
"Jangan bercanda! Bukankah kamu sudah menikah. Tidak baik kamu memanggilku dengan sebutan itu," ujar Elina. Ia menjauhkan tangannya dari genggaman Erlanda.
Erlanda terkekeh mendengarnya, "Aku tidak jadi menikah baby. Aku mengatakan yang sejujurnya pada keluargaku dan mereka menyetujui hubungan kita," jelas Erlanda. Ia tersenyum menatap Elina. Senyum yang mampu membuat orang-orang jatuh cinta bila menatapnya.
"Ehem..." Jonathan berdehem, membuat Elina paham dan ia pun memperkenalkan Erlanda pada Jonathan dan Klara. Jonathan maupun Klara mulai berkenalan dengan Erlanda.
Ilusi Erlanda
"Kakak tampan sekali..." ucap Klara tersenyum.
"Hehehe, kamu bisa aja" balas Erlanda disertai kekehan kecil.
"Erlanda, Klara. Aku pamit ke toilet" kata Elina lalu pergi.
Di dalam toilet wanita, Elina menatap wajahnya di cermin. Merapikan banjunya dan membiarkan rambutnya terurai. Elina dikagetkan dengan kedatangan Jonathan yang tiba-tiba.
"Apa kamu berencana merayu pria itu" ujar Jonathan dengan dingin, menatap tajam Elina.
"Aku rasa kamu tahu jawabannya," balas Elina dengan santai. Ia mengambil bedaknya dan mengolesnya di bagian pipi serta area yang lain.
Jonathan menarik Elina, menciumnya dengan paksa. Elina melepaskan dirinya dari cengkraman Jonathan. Bibirnya sedikit berdarah karena ulah Jonathan. Jonathan tidak tinggal diam, ia kembali menarik tenguk Elina dan kembali ******* bibir seksi Elina.
Elina kembali memberontak lalu menampar Jonathan. "Jaga sikapmu, Jonathan!!" bentak Elina.
Jonathan menyentuh pipinya yang terasa perih. Ia tersenyum sinis menatap Elina. "Apa yang bisa kamu lakukan, hah!!" hardik Jonathan sambil mencengkram mulut Elina.
Elina menendang kejantanan Jonathan. "Dasar wanita picik!!" teriak Jonathan sambil memegang kejantanannya.
"Aku bisa membunuhmu jika kamu berani menciumku tanpa izin...!!" ujar Elina berlalu pergi meninggalkan Jonathan yang meringis kesakitan.
"Auww..." jerit Jonathan. Ia merasa tidak mampu untuk berjalan, rasanya ia akan jatuh pingsan. Tendangan Elina seperti tendangan seorang pembunuh yang begitu cerdik dan cepat.
"Kakak dari mana?" tanya Klara, ia mengeryitkan keningnya saat melihat kakaknya ke luar dari toilet wanita.
Jonathan menarik tangan Klara tanpa menjawab pertanyaan adiknya. "Ayo pulang"
"Kakak... jangan lupa besok ya..." ujar Klara menatap Elina. Elina tersenyum saat melihat tingkah Klara dan Jonathan.
"Bagaimana mungkin aku mempercayaimu sedang kamu sendiri tidak jujur padaku," batin Elina. Ia menatap punggung Jonathan sampai tak terlihat.
"Sadar Elina..." Erlanda membuyarkan lamunan Elina.
"Apa urusannya denganmu!!" ketus Elina. Ia menatap tajam Erlanda yang kini tersenyum padanya.
"Cie, yang tadi lagi bermusuhan..." ledek Erlanda, ia menertawakan Elina. Elina membulatkan matanya, menatap heran Erlanda. Seketika wajah Elina mulai tak bersahabat. "Apa tujuanmu ke sini?" tanya Elina dengan geram.
Erlanda terkekeh mendengarnya
"Membantumu membuat suami pengecutmu itu menderita," jelas Erlanda sembari mengedipkan sebelah matanya.
"Dari mana kamu tahu?" tanya Elina. Ia mulai terlihat gugup dan cemas, ia takut Erlanda akan membongkar rahasianya.
Erlanda tersenyum saat melihat perubahan wajah Elina. "Kamu tahu bagaimana aku, aku tidak mungkin melukaimu" ujar Erlanda agar Elina tenang.
"Temani aku makan" pintah Erlanda lalu menarik tangan Elina.
Jivan dan Anjas hanya bisa menatap tajam Erlanda. Ingin rasanya mereka memberi pelajaran padanya. Melihat ekspresi bos mereka yang biasa saja, membuat mereka berdiam diri tanpa menyentuh tubuh Erlanda sedikitpun.
"Kita makan di sini saja," ujar Erlanda. Mereka makan di restoran yang berada dipinggiran jalan, tempat mereka bertemu saat masih SMA.
"Bu, dua porsi kuah kerang dan kue keju" ujar Erlanda pada pemilik rumah makan.
"Sudah lama kalian tidak ke sini. Apa kalian sudah menikah?" tanya pria parubaya, yang tak lain adalah suami dari ibu pemilik restoran.
Erlanda terkekeh mendengarnya. "Apa kami terlihat serasi?" tanya Erlanda sambil menatap pria parubaya yang kini duduk bersama mereka.
"Istrimu terlihat cantik. Dulu dia tidak berpenampilan seperti ini, kamu beruntung memilikinya" ujar sang Bapa
"Ibu... suami ibu merayu wanita lain..." teriak Elina yang disambut tawa oleh mereka semua.
Dari sudut, Anjas dan Jivan memperhatikan bos mereka. "Aku senang melihatnya kembali ceria" gumam Jivan.
"Aku juga, sepertinya Erlanda memang pantas bersama bos kita" ujar Anjas sambil melirik ke arah Erlanda dan Elina.
"Kenapa sekarang kamu berpihak pada pria itu... bukannya dia yang selingkuh lebih dulu!" ketus Jivan.
"Hehehehe, aku lupa" balas Anjas tersenyum canggung.
"Cepat katakan, dari mana kamu tahu kalau aku sudah menikah?" tanya Elina penasaran.
"Hahahaha, apa karena itu kau mau menemaniku makan" kekeh Erlanda. Ia tersenyum melihat ingkah Elina yang menurutnya masih sama seperti dulu.
Makanan pun sudah disajikan, Erlanda mulai melahap makanannya. Sedang Elina hanya diam menatap Erlanda.
"Kenapa kamu tidak makan. Apa kamu sudah tidak suka dengan makanan ini lagi?" tanya Erlanda saat Elina tak menyentuh makanannya walau sedikitpun.
"Ayo kita makan, setelah itu kau temani aku belanja" ujar Elina lalu melahap makanannya. Menurutnya, percuma saja bersikap kasar pada Erlanda, ia tahu betul bagaimana perilakunya.
"Huh... aku kenyang" ujar Elina sembari memegang perutnya.
"Apa kamu yakin akan belanja hari ini. Aku rasa kamu akan mendapatkan masalah, makanmu terlalu banyak" ledek Erlanda.
"Apa katamu...!" seru Elina. Ia berdiri lalu mengejar Erlanda.
"Tuh kan, kita berdua lagi yang disuruh bayar!!" ketus Anjas. Anjas mendekat ke kasir untuk membayar tagihan.
"Sudah di bayar, Tuan. Makanan tadi sudah di bayar oleh Tuan Erlanda," ujar sang ibu.
"Baiklah. Kami pergi dulu," kata Anjas. Anjas dan Jivan mengikuti bos mereka. Mereka masuk ke dalam Mall. Elina terlihat begitu bahagia, ia memilih beberapa baju untuk ia kenakan saat ke Perusahaan nanti.
"Ini lebih cocok denganmu" ujar Erlanda sambil menyerahkan satu stelan baju kantor untuk Elina.
Anjas tak mau melewatkan kesempatan indah itu, ia pun memotret Elina dan Erlanda. Saat Elina tersenyum manis pada Erlanda.
"Aku pastikan kau akan membuang semua rempetan berkas yang ada di meja kerjamu. Hahahaha," gumam Anjas, ia tertawa menyeringai.
Perusahaan Javelis
Satu notifikasi masuk, Jonathan mengepal tangannya saat melihat foto istrinya yang sedang tersenyum manis pada pria lain.
.
.
Bersambung....
Kira-kira apa yang akan dilakukan Jonathan? 😆
secara walopun udah nikah lama kan mrk selalu berantem n terpisah trus...