NovelToon NovelToon
Papa, Aku Cinta Istrimu

Papa, Aku Cinta Istrimu

Status: tamat
Genre:CEO / Cinta pada Pandangan Pertama / Percintaan Konglomerat / Tamat
Popularitas:575.4k
Nilai: 5
Nama Author: Septira Wihartanti

Bagaimana perasaanmu saat pulang dari perantauan karena dikabari kalau Papa meninggal, dan saat sampai mendapati kalau Sang Papa memiliki istri muda tanpa sepengetahuanmu?

Yang lebih mencengangkan, Si Istri Muda, adalah wanita dari masa lalumu. Saat itu, di sebuah club, dalam keadaan frustasi, dan dalam kondisi 'panas'.

Apakah kondisi keluarga seperti ini sehat? Saat akan tinggal serumah dengan si Ibu Tiri yang usianya 5 tahun lebih muda, seksi, dan dirimu tahu bagaimana wujudnya di balik pakaiannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Septira Wihartanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Terbalas

Romeo Oh Romeo

Mengapa kisah cintamu begitu konyol, Sayangku?

Di restoran mewah yang terletak di lantai 2 Hotel Opal, duduk seorang anak muda yang sedang menatap lurus ke depan.

Anak itu memiliki rambut kecoklatan yang ditata berantakan, beberapa helai rambut ikalnya terlihat sulit diatur sehingga tampak mencuat. Hidungnya mancung, dan matanya sayu. Kulit putih khas eropa, sedikit kemerahan di bagian pipi dan bibir menambah daya tariknya.

Ia masih mengenakan seragam sekolah, kemeja putih, celana pendek merah yang ia modifikasi menjadi selutut agar tidak terlalu pendek, sepatu Nike Air Max 97 premium-nya dan jaketnya yang berlabel AAPE dengan motif manga bajak laut buatan Eiichiro Oda  membuat penampilannya masuk kategori bukan anak SD biasa.

Semua orang yang berlalu lalang sudah pasti melirik ke arahnya. Karena memang dia semencolok itu.

Memakai seragam SD namun postur tubuhnya seperti anak SMP, dengan kaki panjang yang berselonjor di bawah meja.

Wajahnya menandakan usianya, namun sinar matanya tampak lebih dewasa.

Dan dia berada di restoran mewah, sendirian. Saat ditanya, dia menyebutkan nama Arthasewu Connor dan Kartu Pass kamarnya yang bertuliskan Presidential Suite.

Kurang mencolok apa lagi.

Saat ini ia tidak mengantongi uang sepeser pun, tapi ia dapat memesan semua makanan yang ada di restoran ini dengan gratis.

Romeo memang meninggalkan dompet berisi kartu-kartu ATM nya di kamar, ia juga jarang membawa uang tunai untuk menghindari pemalakan oleh senior atau anak yang lebih tua alumni entah dari SMP-SMA mana. Sudah pasti dompetnya di laci kamar terbakar habis.

Saat ini mereka belum sempat ke bank untuk mengurus semua kehilangan, walau pun di rekeningnya memang ada beberapa puluh juta dan ia bisa menggunakan e-banking untuk mengurus semuanya.

Kalau bisa gratis kenapa harus bayar.

Yang ia bawa ke sekolah hanya ponsel, dengan layarnya yang terpampang wajah Bu Guru Erica, di-capture secara candid, dan ransel yang isinya beberapa buku cetak dan kotak bekal yang isinya choki-choki plus susu coklat.

Wajahnya yang tanpa eskpresi menambah pesona ketampanannya mendadak berubah menjadi berbinar saat ia melihat seseorang tampak memasuki lobby hotel.

Lalu ia melambaikan tangan ke arah depan.

Bu Guru Erica dengan canggung memasuki restoran mewah itu. Lalu duduk di depan Romeo.

“Mau pesan apa bu?” tanya Romeo sambil mengulurkan buku menu.

Bu Guru Erica menatap Romeo, menatap buku menu, kembali menatap Romeo lalu tersenyum dan melepas jaket berhoodienya.

Dan Romeo pun berhenti tersenyum.

Bu Erica mengenakan dress dengan belahan rendah. Dia yang biasanya berpakaian casual, mengikal rambutnya menjadi lebih manis, dan make up yang flawless.

Dengan anggun ia menyesuaikan duduknya, lalu menjulurkan kakinya ke arah kaki Romeo

Seketika ia lepas sepatu flatnya, dan ia sentuhkan telapak kakinya ke atas sepatu Romeo di bawah meja.

Romeo merasakan belaian di bawah meja dengan terpaku.

Ia tidak tahu harus apa.

Kenapa Bu Guru Erica melakukan hal itu? Sekilas kita bisa menyangka kalau ia sedang menggoda Romeo.

“Romeo,” desisnya sambil mencondongkan tubuh mungilnya ke arah Romeo. Mata anak itu langsung terpaku ke belahan dada putih yang tampaknya begitu manis dirasa lidah. “Malam ini, aku akan jadi diriku sendiri. Di depan kamu, aku tidak akan menjaga cara bicaraku, tidak lagi menjaga perilakuku, dan hanya saat ini saja  aku bukanlah guru kamu. Kita lihat di akhir bagaimana pandanganmu tentangku setelah ini,”

Bukannya senang, Romeo malah dilanda suatu pikiran buruk. Perasaannya langsung tidak enak.

Tingkah laku Bu Erica saat ini mirip dengan Tante Amora.

“Dan panggil aku dengan namaku. Erica, tidak usah bersopan-sopan panggil aku dengan jabatan ‘bu guru’,” katanya sambil memanggil waitress dan memesan teh peppermint.

“Kamu mau cake coklat?” tawarnya ke Romeo.

Romeo menatap Erica dengan curiga, “Nggak usah,” desis Romeo pelan.

Erica melirik Romeo dengan pandangan meremehkan, lalu memesan Cake Double Choco 2 potong.

“Kamu akan butuh sesuatu yang bisa menenangkan hati kamu, percaya deh,” desis Erica.

Aura berbeda langsung menyerang diri Romeo. Bu Guru yang manis, kalem, panikan, di matanya langsung berubah menjadi seorang ‘provocative women’. Seksi dan nakal.

“Bu Guru Erica kenapa?” tanya Romeo, sengaja ia tambahkan kata-kata posisi, dan ia tekankan suaranya, untuk menyadarkan wanita di depannya ini kalau ia seorang Guru, selama 24 jam 7 hari.

“Bu Guru Erica lagi bosan jadi seorang pembimbing. Sekali-kali jadi diri sendiri,” Erica mengelus betis Romeo dengan kakinya di bawah meja. Gerakannya terencana seakan sedang menggoda. “Romeooo, Romeo. Melihat tingkah kamu, berkali-kali aku tergoda melepas statusku yang seorang guru lalu nekat membawamu ke atas ranjang. Kalau saja akal sehatku mati, sudah dari kemarin aku dipecat dan dipenjara,” desisnya pelan. Namun matanya berkilat nakal.

Romeo menelan ludahnya.

Tapi dia tetap diam di tempat.

“Kamu pikir wanita kalem dan bersahaja bisa berteman dengan Ruby yang memiliki sikap liar dan menggebu? Aku bisa berteman dengannya karena kami satu circle. Bedanya dia tulang punggung jadi harus ‘bekerja’ lebih awal. Aku masih santai menjalani hidup sebagaimana mestinya membuat bangga orang tuaku,” Erica tersenyum licik.

“Jadi Kak Ruby tahu kamu yang seperti ini?”

“Ya sudah pasti. Tapi aku minta dia merahasiakannya. Ini soal kredibilitas. Makanya dia melarangmu dekat denganku,” kaki Erica naik sampai ke paha Romeo.

Romeo berpikir bagaimana dia akan memperlakukan wanita ini seperti seharusnya.

“Baiklah, aku juga tidak akan menjaga sikapku di depan kamu,” desis Romeo akhirnya saat kaki Erica dengan lancangnya berhenti di antara pahanya dan menekannya sedikit.

Pelecehan yang diakibatkan bahkan lebih parah dari Tante Amora. Tapi sepertinya Erica memanfaatkan hubungan pertemanannya dengan Ruby sehingga ia yakin kalau Romeo tidak akan melaporkannya ke polisi.

Kaki Erica tetap diam di sana, di tengah kedua paha Romeo.

Kue Coklat dan teh Erica datang.

Dan mereka diam selama beberapa saat.

Berpikir, dengan cara apa aku mengalahkan manusia di depanku ini agar kapok.

Keduanya berpikiran sama.

Erica yang merasa kalau di’nakali’ Romeo akan takut dan mundur , juga tidak akan mengganggunya dengan rayuan gombal nyelenehnya. Aksi Erica kali ini bukan tanpa pertimbangan matang. Ia juga memanfaatkan sisi traumatis Romeo saat dijahili oleh Tante Amora.

Sementara Romeo berpikir, ia tidak akan semudah itu tunduk dengan tekanan Erica, ia adalah pengendali game di sini. Yang lain hanya NPC.

(NPC atau Non-Player Character adalah karakter yang tidak memiliki peran dalam game, fungsinya hanya sebagai pelengkap latar belakang).

Yang Erica tidak tahu...

Bahwa kenyataan kalau Romeo tidak bisa menyamakannya dengan Tante Amora. Karena saat ia koma, yang muncul di alam bawah sadarnya adalah Erica, dan hal itu terjadi jauh sebelum mereka bertemu.

Jadi seperti apa pun sifat Erica yang sebenarnya, Romeo akan menerimanya.

Romeo akhirnya sengaja memajukan pinggulnya agar telapak kaki Erica semakin menekan tubuhnya, lalu tersenyum, “Kamu bisa mulai menggerakkan jari, tapi setelah ini kita berdua akan terjun lebih dalam ke jurang,” bisik Romeo dengan tubuh yang mulai menggeras.

Erica terpana. Telapak kakinya merasakan ada sesuatu yang mulai terasa padat. Ia menyadari apa yang terjadi pada diri Romeo. Lalu wajahnya memucat.

“Kamu gila!” geram Erica sambil menarik kakinya. “Kamu serius Romeo?!”

“Hehe,” kekeh Romeo sambil menggigit bibirnya, “Mau naik ke atas? Aku punya kamar sendiri,”

“Romeo!” Bu Guru Erica mengambil jaketnya dan menutupi tubuhnya. Rencananya gagal total.

Romeo bahkan jadi lebih parah dari sebelumnya.

“Erica...” desis Romeo sambil menarik tangan Erica yang berubah menjadi dingin karena ketakutan wanita itu langsung timbul, “Aku suka kamu,”

“Aku sudah tahu yang itu,” desis Erica.

“Rasa suka ini jadi semakin berbahaya setiap aku melihat kamu. Apalagi kalau kamu bersikap seperti ini...ketakutan kayak anak kucing di pinggir jalan,” Romeo menyeringai.

“Hentikan,” gumam Erica.

“Aku suka kalau kamu seperti tadi, jadi apa adanya...”

Erica menepis tangan Romeo, dan mencengkeram leher anak itu. Lalu menatapnya tajam, “Dengar anak gila,” geram Erica,”Jangan berani-beraninya kamu hancurkan hidupku yang sudah lurus ini. Ngerti? Biarkan aku hidup tenang tanpa ada adegan percintaan apa pun. Laki-laki di hidupku semuanya breng-sek, dan kamu termasuk di antaranya!”

Lalu ia melepaskan Romeo dengan kasar.

Leher Romeo yang langsung sesak memerah. Bekas cengkeraman Erica.

“Tidak bisa begitu dong,” desis Romeo sambil mengelus lehernya yang memar, “Aku kan belum ngapa-apain kamu,”

“Aku lengah sedikit, kamu akan memakanku!”

“Tepat sekali, cantik. Memang itu agendaku. Tapi mungkin di masa depan...” desis Romeo sambil kembali menyeringai, “Aku dewasa sedikit... kamu bakal habis! Ngerti? Aku akan mencari kamu sampai ke ujung dunia, aku tidak akan peduli kamu sudah jadi milik siapa, kamu akan kuculik. Lalu kubuat kamu melahirkan anakku,”

Erica terperangah.

“Beneran kamu sudah sinting, kamu itu siapa sebenarnya, hah?!” geram Erica.

“Hanya... seorang pengagum, tapi jelas bukan sekedar anak usia 11 tahun,”

“Kamu bukan anak kecil,” gumam Erica menyimpulkan.

Romeo menopang dagu dengan tangannya di atas meja, lalu menatap Erica dengan sayu. “Aku anggap sifatku ini anugerah. Orang yang otaknya bisa mudah belajar, bisa tahu lebih cepat apa yang sebenarnya terjadi di dunia ini, pemikirannya akan jauh lebih dewasa dari anak-anak seumuran,”

“Kamu seperti arwah om-om mesum yang merasuk ke tubuh Romeo!”

Romeo hanya menatap Erica tanpa ekspresi.

“Erica,” desisnya sambil tersenyum lembut, “Semakin tubuhku mendekati proses pubertas, semakin aku terobsesi padamu,”

Erica hampir saja beranjak ingin lari, kalau saja Romeo tidak mengucapkan kalimat selanjutnya.

“Aku akan pindah sekolah,” kata Romeo.

“Eh?” alis Erica naik karena terkejut.

“Aku akan pindah sekolah. Untuk menghindarimu,” desis Romeo lagi. "Sampai aku cukup umur dan bisa bersanding denganmu. Kita akan bertemu lagi di masa depan kalau Tuhan masih mengizinkan,"

Erica hanya bisa diam.

“Selama aku nggak ada di dekatmu... jangan selingkuh ya,”

“Memangnya aku pacar kamu!?” seru Erica hilang kesabaran. Dia berdiri sambil menggebrak meja.

Semua orang di restoran langsung menatapnya dengan kaget.

Romeo hanya bisa terkekeh saat dengan jengah Erica berdehem canggung dan kembali duduk. “Hey...” bisiknya sambil mencondongkan tubuhnya ke arah wanita manis di depannya. “Aku serius. Kamu tahu kemampuanku, kalau kamu sampai ketahuan punya pasangan selain aku... kamu bisa bayangkan apa yang akan terjadi. Mengerti Erica?!”

Tubuh Erica gemetar menahan amarah. Ia tendang betis Romeo, sampai anak itu mengernyit kesakitan.

Wajah Romeo memerah menahan nyeri.

Tapi kalau ia berteriak kesakitan, akan menarik perhatian orang-orang di sekitar mereka. Jadi ia simpan rasa sakit akibat tendangan itu, dan hanya bisa diam di kursinya.

“Aku juga suka kamu,” desis Erica sambil mengemasi barang-barangnya.

Romeo mengangkat wajahnya dan menatap Erica dengan mata coklatnya.

“Aku juga suka sama kamu, dengar? Jadi kamu nggak usah ngancam-ngancam aku. Dasar anak kurang ajar!” desis Erica sambil beranjak. “Habisin kuenya! Kamu lagi dalam masa pertumbuhan!” ejeknya sambil pergi meninggalkan restoran itu.

Romeo diam sesaat.

Ia mencerna kalimat Erica,

Sekaligus menahan sakit di betisnya,

Sekaligus menangkan hatinya yang terasa sesak akibat terlalu senang.

Lalu terkekeh sendiri karena bahagia, cintanya ternyata terbalas.

1
Elaine
Dari awal, adegan Romeo berlebihan, menurutku. Bikin nggak nyaman. Tapi ini novel lama, ya, percuma juga diprotes.
Elaine
Ternyata Alan tidak sesialan itu 🤣🤣
Elaine
Pinter banget author milih namanya, si Alan 🤣🤣
Dewi Ambarukmi Ambarukmi
semua karya mu aku lalap habis, apik, tata bahasabegus, cerita nya bikin penasaran... suka pokoknya
Maya Ratnasari
biasanya: isn't that good enough?
Sha_riesha
setiap novel yang tertulis selalu memiliki alur cerita yang unik dan tak tertebak. ❤️
Reni Novitasary
selalu menarik
Hewes💤𝐙⃝🦜
waduh, setelah Tante Amora , sekarang ganti buguru Erica yg doyan ikan peda😱🤦‍♀️👻
ckckck emang berat godaan ikan peda bermerk Romeo
another Aquarian
kangen juga sama boneka ucan yang ganas tapi nggemesin 🥰🥰🥰
another Aquarian
kek idup ya 🤣🤣🤣
another Aquarian
Ruby si paling vulgar 😂😂😂
another Aquarian
buyar.. buyaaarrrr 🤣🤣🤣
another Aquarian
itu idolaku #1 di karya-karyanya madam 😍😍😍
another Aquarian
jadi kangen dek kepin 😂😂😂
another Aquarian
meo anak baik..
another Aquarian
keluarga cemara banget mereka 😂😂😂
another Aquarian
pesona kakak beradik gak kaleng-kaleng eman 😂😂😂
another Aquarian
testimoninya menggoda iman Randy 😂😂😂
another Aquarian
the real bocil kematian 🤣🤣🤣
another Aquarian
aku taunya saos delmonte, meooooo 😭😭😭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!