Apa yang ada dipikiranmu saat mendengar kata ALIEN?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DHEVIS JUWITA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MGA - Butuh Waktu
Axel merasa emosi melihat pemandangan di mana sepasang lawan jenis tengah berciuman.
“Jadi begitu cara membuatnya tenang, cih!“ desisnya.
Lalu Axel melirik ke arah anak buahnya. “Bawa dia kemari lagi!“ perintahnya.
“Baik, Sir!“
Sementara Blue masih terus memeluk Naku, karena saat bersama pacarnya itu dia merasa aman. Sampai dia mengadah menatap Naku yang sedari tadi terdiam setelah dia bilang jika dirinya akan mati.
“Ayang, apa aku hanya beban?“
Naku menggeleng. “Bukan, aku tidak pernah menganggapmu beban!“
“Tapi karena aku, Ayang jadi tidak bisa bekerja!“
“Jadi karena itu kau ingin meninggalkan aku?“
Blue mengangguk. “Jika Ayang terus bersamaku, aku akan terus menyusahkan dan Ayang tidak bisa mempunyai masa depan!“
“Jadi, biarkan aku mati saja!“
“Oh Blue! Kenapa kau berpikir seperti itu? Kau masa depanku dan jangan bicara tentang kematian!“
Kali ini Naku yang mencium pacarnya, tapi saat itu juga pintu terbuka kembali di mana anak buah Axel meminta Naku untuk keluar.
“Waktumu habis!“ ucapnya.
Naku membelai wajah Blue di sana. “Ay, jangan keluarkan seluruh kemampuanmu! Aku akan menemukan cara untuk bisa keluar dari sini! Kau percaya padaku, 'kan?“
Blue mengangguk pelan dan terpaksa melepas Naku untuk pergi keluar ruangan isolasi itu. Saat Naku sudah keluar, dia diseret paksa untuk menemui Axel lagi.
“Apa yang kau katakan padanya? Aku ingin melihat kemampuannya!“ ucap Axel yang tidak sabar.
“Percayalah jika dia mengeluarkan kemampuannya, bangunan ini akan hancur! Dia tidak bisa mengontrol kemampuannya sendiri! Lab si brengseek Langdon dan bandara contohnya!“ jelas Naku.
Axel mengangguk. “Aku sudah mengintrogasi Profesor Langdon dan dia mengatakan hal yang sama! Tidak ada penawarnya!“
“Aku bisa saja mengembangkan alat ekstraksiku untuk mengeluarkan serum itu tapi membutuhkan waktu dan jika berhasil pun akan membahayakan nyawa pacarku!“
“Jika memang pacarmu menjadi ancaman! Kami akan menembaknya mati!“
Naku langsung tersentak mendengarnya. “Jangan coba-coba lakukan itu padanya!“
“Lantas apa solusinya? Kami bertugas untuk menyelesaikan masalah ini. Profesor Langdon juga menjelaskan bahwa serumnya belum sempurna, semakin pacarmu menggunakan kemampuannya akan semakin cepat membuat tubuhnya rusak!“
“Cepat atau lambat, dia akan mati! Kami bertugas memastikan dia tidak menjadi ancaman!“
Lalu Axel mengembalikan tas Naku yang dia ambil paksa sebelumnya.
“Kau datang kesini menggunakan visa pelajar jadi lebih baik kau lanjutkan waktumu untuk belajar. Kami akan mengurus pacarmu dan menyelidikinya. Profesor Langdon, mengatakan jika pacarmu bukan manusia. Apa itu benar?“
Seketika Naku langsung mengepalkan kedua tangannya. “Aku akan tetap di sini!“
“Oh iya? Lantas siapa yang bertanggung jawab?“
Tiba-tiba terdengar suara bariton yang menyela pembicaraan mereka.
“Aku yang akan bertanggung jawab pada muridku!“ ucap Maxton di sana.
Profesor Maxton menyusul Naku ke Colorado karena merasa muridnya itu butuh bantuannya. Dan benar saja saat dia sampai terdengar kabar heboh tentang manusia super yang menghancurkan bandara.
“Prof!“ panggil Naku dengan mendekati gurunya.
“Tenang saja, semua akan aman!“ ucap Profesor Maxton supaya Naku bisa tenang. “Aku mempelajari tentang telekinesis, ada beberapa teori yang bisa aku simpulkan!“
“Bukankah kita butuh riset yang akurat?“ tanya Naku.
Axel yang melihat interaksi keduanya langsung terdiam dan menyimak.
“Aku akan memberi waktu kalian! Tapi jika gagal, tetap pada rencana semula! Tembak mati!“ ucapnya penuh penekanan.