Cerita ini kelanjutan dari 'Police, I'm In Love'
"Aku mencintaimu, tapi bersama bukanlah jalan terbaik bagi kita. Kau berhak mendapatkan yang lebih dariku. Kau berhak bahagia." Irma menatap punggung Andre yang semakin menjauh dari pandangannya dan akhirnya hilang di balik pintu rumah sebelah yang tertutup keras.
Alesha Irmania, seorang wanita yang membuat Andreas Denandra tergila-gila di awal pertama mereka jumpa. Namun, sayang wanita yang dipanggil Irma itu sudah memiliki suami. Hingga, kabar perceraian Irma pun sampai di telinga lelaki yang berprofesi sebagai polisi tersebut. Kesempatan yang tak disia-siakan Andre. Ia kembali mendekati Irma dan berharap bisa menjalin kasih dengan wanita yang sudah berstatus janda itu.
Andre pun mendadak dibuat bucin oleh Irma. Berbagai cara dilakukan untuk mendekati wanita itu. Bahkan, ia selalu ada kapan pun Irma membutuhkannya. Hingga akhirnya, Andre merasa lelah sendiri dengan perjuangan yang dianggapnya sia-sia belaka karena selalu penolakan yang didapat Andre, setiap kali mengutarakan isi hatinya. Ia pun memilih tuk menjauh.
Kepergian Andre ternyata tak membuat Irma baik-baik saja. Ia merasakan kehilangan yang sangat mendalam. Wanita rindu akan rayuan-rayuan gombal Andre, perhatian Andre, senyum Andre dan semua tentang Andre—membuatnya tersiksa akan perasaanya sendiri.
Akankah cinta Andre berbalas dan berakhir ke pelaminan seperti Naura dan Dimas?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leogirl's, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
33
Selepas salat magrib, Dimas yang masih mengenakan sarung dan kopeah, meraih buku tentang hukum yang dibelinya beberapa waktu lalu. Di sofa kamar, lelaki itu pun membuka lembar demi lembar buku yang dipegangnya, sampai seorang ibu hamil tiba-tiba saja merebut buku yang sedang dibaca sambil duduk di pangkuan Dimas dan melemparkan buku itu ke kasur agar Dimas tak dapat mengambilnya lagi.
Bukannya marah, Dimas malah tersenyum saat mendapati kelakuan si istri. "Kenapa bukunya dilempar?" tanyanya, sambil mengelus punggung Naura.
"Pak Haji, aku lagi gak mau diselingkuhin." Naura berseringai dengan kedua tangan yang sudah melingkar di leher Dimas.
Selingkuh maksud Naura adalah terbaginya perhatian sang suami oleh hal lain selain dirinya seperti buku atau pekerjaan lainnya, bukan selingkuh dalam artian lain.
"Terus maunya diapain?" godanya sambil menyentuh hidung Naura dengan hidungnya.
"Mau diperhatiin." Naura berujar dengan manja.
"Ok. Mari kita perhatikan Nona Naura Aurelia. Bisa jadi ada belek yang tersempil di balik mata indahnya!" Dimas menangkup kedua pipi sang istri, memandang Naura seraya menggodanya lagi.
"Ish, apa sih kamu ini?" Naura menepis tangan Dimas dengan bibir yang sudah mengerucut.
"Kalau lagi manyun jadi lebih seksi." Sekilas Dimas menyentuh bibir yang mengerucut itu dengan bibirnya.
"Berarti kalau lagi gak manyun, gak seksi dong?" Naura memicingkan sebelah matanya.
"Kalau gak manyun, seksinya luar biasa!" jawab Dimas sambil melingkarkan tangannya di pinggang sang istri.
Senyum pun merekah di bibir ibu hamil yang semakin manja itu. Ia selalu haus akan sanjungan-sanjungan yang terlontar dari mulut sang suami. Meskipun terbilang lebay—bodo amat—karena ia sangat menyukainya.
"Papol, aku punya kejutan untukmu." Wanita itu berbisik di telinga sang suami dengan suara yang mendesah sambil meniup telinga Dimas.
"Baru juga selesai salat magrib, jangan mancing-mancing!" ujar Dimas yang bulu-bulu halusnya mulai meremang akibat ulah si istri.
"Siapa yang lagi mancing? Orang aku lagi duduk di pagkuanmu. Enggak lagi pegang pancingan." Giliran Naura yang ganti menggoda Dimas. "Aku cuma bilang, aku punya kejutan untukmu!" Ia mengulangi ucapannya.
"Kau memang selalu pintar berkilah. Kejutan apa?"
"Kejutannya ada di bawah."
"Kalau gitu let's go kita ke bawah!"
Dimas lantas berdiri tanpa melepaskan sang istri yang ada di pangkuannya. Ia memangku Naura ala bridal style, membawa calon ibu dari anak-anaknya itu ke lantai bawah.
"Terus sekarang kita ke mana, istriku?" tanyanya sembari menatap manik Naura yang tak pernah berhenti menatapnya semenjak keluar dari kamar.
"Suamiku tampan sekali." Bukannya menjawab pertanyaan Dimas, Naura malah mencium pipi sang suami. "Kita ke ruang makan," lanjutnya.
Sesuai intruksi, Dimas membawa wanita itu ke ruang makan.
"Terima kasih suamiku. I love you!" ujar Naura, saat Dimas mendudukkannya di kursi makan.
"Love you too." Dimas membalas ucapan cinta Naura sembari mencium kening si istri
Lelaki itu pun mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan tersebut, tak ada yang berubah dari ruangan yang dipijaknya. Membuatnya berpikir, disebelah mana kejutannya. Seolah-olah tahu isi hati sang suami, Naura langsung menunjuk kulkas yang ada di pojokkan.
"Kejutannya ada di kulkas!" imbuh Naura.
Lantas, Dimas pun beranjak ke arah kulkas, penasaran dengan kejutan dari sang istri yang di sembunyikan di kulkas. Sebuah kotak cukup besar pun berada di dalam kulkas. Dimas bisa menebak, pasti isinya adalah kue karena ada nama toko sang istri di kotak tersebut.
"Apa ini?" Dimas mengeluarkan kotak tersebut, menunjukkannya kepada Naura yang masih duduk di kursi.
"Yupz!" Naura mengacungkan kedua jempol. "Bawalah kemari!" perintahnya.
"Sesuai perintah."
Dimas membawa kotak tersebut ke hadapan sang istri.
"Terima kasih." Naura menerima kotak tersebut, lalu dengan sumbringah ia membuka kotak tersebut. "Selamat ulang bulan hari pernikahan kita!" Wanita itu memberikan red pelvet yang telah dihiasnya tadi siang kepada sang suami sebagai kejutan ulang bulan pernikahan mereka.
Mendapatkan kejutan dari sang istri membuatnya terpesona atau tepatnya syok setengah mati. Bukan karena Naura yang tiba-tiba merayakan ulang bulan pernikahan meraka, karena setiap bulan mereka merayakan.
"Gimana mahakaryaku, bagus 'kan? Ini aku buat sendiri, khusus untuk suami tercintaku. Apa kamu suka?" tanya Naura dengan rentetan gigi yang terus tertampil.
Dimas tak dapat berkata-kata, ia bingung harus jawab apa. Ia bangga pada istrinya yang berkembang sangat pesat, sekarang wanitanya sudah sangat pintar di dunia dapur, bahkan setelah resign, istrinya memilih berbisnis makanan bersama keluarga. Namun, Dimas tak pernah berpikir kalau ke-abstrud-an sang istri akan diterapkan pada kue yang dibuatnya.
"Honey, apa ini buatanmu?" tanya Dimas masih tak percaya.
"Iya. Ini dalamnya red felvet, kue kesukaanmu."
"Dari mana kau dapat ide membuat kue model seperti ini?" tanya Dimas lagi, penasaran.
"Ada postingan yang lewat di beranda medsos. Aku pikir itu lucu dan tiba-tiba aku pengen mencoba membuatnya, dan berhasil." Naura berujar sangat antusias. "Apa kamu tak suka?" wajahnya berubah sendu, takut sang suami tak menyukainya.
"Aku suka. Tapi, setelah ini kau harus bertanggung jawab. Menyuguhkan gunung kembar beneran bukan reflika dalam wujud kue," ujar Dimas sembari menaik-turunkan alisnya.
Naura hanya tersenyum, bukankah tanpa ada reflika itu pun ia selalu menyuguhkannya dengan suka rela.
"Tapi, aku kepo. Apa Mamah dan Kakakmu tidak menegurmu buat yang kayak gituan?"
"Enggaklah, orang finishingnya di rumah." Naura berseringai.
"Kau ini. Dasar nakal!" Dimas memoleskan cream pada pipi si istri, gemas akan kelakuannya.
"Nakal sama suami sendiri apa salahnya?" Naura juga membalas memoleskan cream di pipi Dimas.
Mereka pun merayakan ulang bulan pernikahan mereka dengan menikmati kue nyeleneh mahakarya Naura. Hingga, sebuah telepon mengubah wajah bahagia Naura menjadi masam.