(Taka season 2)
Kisah ini lanjutan dari 'TAWAKU TERBALUT LUKA' sebelum membaca kisah ini, harap baca judul itu dulu agar menyambung dengan ceritanya.
Kisah cinta remaja. Sedih, romance.
Seorang pemuda bernama Taka harus berjuang untuk melawan penyakit kanker otak.
Sebelumnya pemuda itu dijuluki sebagai Pangeran Komedi, namun beberapa waktu berlalu julukan itu berubah menjadi Pangeran Kesedihan.
Disaat orang-orang terdekatnya mengetahui penyakit yang diderita, ia tak lagi membawa kebahagiaan. Melainkan kesedihan.
Ketika ia terjatuh dalam keterpurukan, pertama kali bertemu dengan gadis unik yang di panggilannya Hutapea(bukan nama sebenarnya)
Pertemuan pertama mampu tersimpan didalam memorinya. Dua kalimat singkat namun sarat makna yaitu 'Semangat dan Berjuang' membuat semangat dalam dirinya bangkit dan berusaha untuk melawan penyakitnya.
Akankah keduanya dipertemukan kembali? atau hanya satu kali itu saja?
Ayo ikuti kisahnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mei_Mei, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rencana kembali ketanah air
Mobil yang mereka tumpangi sudah sampai didepan rumah sakit. Albert dan Nata masuk berdua, sedang pak arman tengah memarkirkan mobil ditempat yang aman.
Pak arman sendiri sudah handal mengendarai mobil bahkan memarkirkan ditempat sempit sekaligus, jadi tidak menemukan kendala yang berarti. Hanya saja orang yang bertugas mengatur tempat parkir menggunakan bahasa Inggris, pak arman yang tidak paham mencoba menebak dari gerakan tangannya saja.
Kalau pun untuk ruangan Taka, tentu dia sudah hapal dimana letak ruangan itu. Itu pun tidak akan menjadi kendala yang berarti, dia bisa langsung menuju kesana sendirian.
"Assalamualaikum," Nata mengucap salam saat masuk kedalam ruangan Taka.
"Walaikum salam." jawab semuanya. Nata ikut bergabung dengan yang lainnya.
Tapi Albert tetap berdiri, "Tuan Besar, Nyonya, saya ijin pergi, ada keperluan lain yang harus dikerjakan. Nanti malam saya kembali kesini." pamit Albert.
Ayah Arsel mengangguk.
"Kak Albert nggak mau ajak aku?" Dudung bercanda.
"Kalau ngajak kamu takut hilang dan kesasar. Nanti malah repot." Albert tersenyum lebar.
"Kalau dia kesasar, ujung-ujungnya paling duduk dibawah pohon."
"Ngapain?"
"Nangis sambil nyari wangsit. Hahaha..."
"Ish...." Dudung komat kamit menggerutu kesal. Dia dan Ali baba memang duo koplak. Kadang soulmate tapi tak jarang sering bertengkar juga.
"Nak Albert, makasih ya." ucap bunda Sensa.
"Ini tugas saya, Nyonya. Anda tidak perlu berterima kasih." Albert membalas ucapan bunda Sensa, setelah itu berlalu.
"Anak Bunda dari tadi kenapa terlihat murung gitu?"
"Nggak ada apa-apa sih Bun, tapi nggak tau juga perasaanya cuma kesel terus."
"Nggak ada apa-apa kok kesel? jelas ada sesuatu nih?" selidik bunda Sensa. Nata menggeleng.
Bola mata Nata melihat ke ranjang Taka, tapi kakaknya tidak berbaring disana. "Kakak kemana Bun?" tanya Nata terkejut.
"Kak Taka lagi ada pemeriksaan. Diantar Kak Saka. Ayah sengaja ngumpulin kalian disini mau ada yang dibicarakan."
"Ayah mau bicara tentang apa?" tanya Nata.
Ayah Arsel memang sengaja menyuruh Saka, Seika untuk menunggu Taka yang sedang diperiksa ulang kondisinya, setelah kemoterapi kemarin apakah kemoterapi yang dilakukan berhasil membunuh sel kanker yang tersisa, atau masih perlu ditindak lagi.
Dimas dan Andre ikut serta menunggui Taka.
Kini diruangan itu hanya ada ayah Arsel, bunda Sensa, Nata dan teman-temannya. Ayah Arsel sengaja mengumpulkan mereka untuk diskusi.
"Dua hari lagi kalian akan kembali ketanah air." awal pembicaraan ayah Arsel.
Dari satu kalimat itu membuat raut wajah mereka berubah murung.
"Ayah sudah menghubungi Om Rengga untuk mengatur jadwal kepulangan kalian. Tapi bukan kalian saja, Ayah juga ikut pulang sementara waktu. Ada sedikit problem dikantor Ayah." Arsel memberitahu.
"Jadi Ayah ikut pulang?" Nata sedikit terhibur karna ayahnya juga ikut pulang.
Ayah Arsel mengangguk.
"Em... Om, apa tidak bisa dimundurin jadwalnya? maaf, kita masih kangen sama si Bos. Masih pengen nemenin si Bos." Dudung menyela.
"Kalian juga harus kuliah, ijin kalian cuma satu minggu tapi ini sudah lewat 2hari. Kalau lebih lama disini, nanti ketinggalan mata kuliah." ayah Arsel mengingatkan jadwal kuliah mereka.
"Kalau si Bos tau kita akan pulang, apa dia nggak sedih." celetuk Ali baba.
"Pasti. Taka pasti sedih. Tapi Om akan berbicara dengannya. Mau bagaimana lagi, kalian punya tugas kuliah yang nggak bisa ditinggalkan, kan?"
"Bukannya kalian juga akan melamar kerja di cafe Saka? kalian datang saja ke cafe, nanti langsung kerja, biar bisa meringankan biaya kuliah kalian."
"Yang benar, Om? apa kita semua bisa langsung diterima?" Mujiren terlihat senang.
"Iya, nanti di training dulu. Tapi positif langsung diterima."
"Alhamdulillah ya Allah, terima kasih banyak ya Om, anda orang paling baik dan dermawan. Semoga selalu diberi kesehatan, semua usaha Om bertambah lancar." Mujiren mengucap terima kasih dengan selipan do'a.
"Semoga juga si Bos segera sembuh."
"Amin... Aamin ya rabbal alamin." jawab semuanya.
"Nanti cuma Bunda yang tinggal disini?" kata Nata.
"Iya, nanti biar sama Arman juga Albert. Ayah juga bakal sering bolak balik kesini, lalu Jakarta, soalnya urusan kantor tidak bisa terus-terusan ditinggal. Walau ada Om Rengga dan Kakak kamu, tapi mereka bakal kewalahan."
"Berkas-berkas kontrak butuh persetujuan tanda tangan Ayah." jelas ayah Arsel.
"Kalau bisa... Bunda juga sesekali ikut pulang ya, Bun. Nata pasti kangen banget sama Bunda." kedua mata Nata sudah menggenang airmata, lalu memeluk bundanya.
"Bunda juga bakal kangen banget sama si baper, ini. Nanti Bunda bakal sering kasih kabar." bunda Sensa mengusap-usap pundak Nata.
"Keponakannya nanti di momong ya, Dek. Bunda kepikiran sama baby Saf-Saf, pasti rewel lagi kalau pisah sama Bunda dan Kakak kamu."
"Iya Bun, nanti kalau Nata nggak sibuk pasti jagain baby Saf-Saf."
"Yah, Bun, nanti di Jakarta, sepulang kuliah aku boleh ikut kerja di cafe Kakak, nggak?"
"Eh... kenapa harus ikut kerja?" ayah Arsel langsung melihat Nata.
"Nata boring kalau dirumah nggak ngapa-ngapain. Nggak ada temen juga. Kalau kerja di cafe Kak Saka bisa bareng sama mereka." Nata menunjuk temannya lewat sorot matanya.
"Adek dirumah aja, kan ada Kak Seika." sela bunda Sensa tidak setuju jika putrinya ikut bekerja di Cafe saka. Kalau dulu tidak begitu khawatir karna ada Taka yang bisa jagain adiknya, tapi sekarang berbeda. Dia juga tidak bisa mengawasi. Takut terjadi hal yang tidak diinginkan. Nata seorang perempuan, jauh lebih mengkhawatirkan dibanding anak laki-laki.
"Bunda takut kalau kamu pergi keluar rumah sendirian."
"Aku cuma pergi ke Cafe Kakak Bun, bukan kemana-mana."
"Iya Sayang, nanti biar aku cari orang lagi buat antar jemput Nata kemana-mana." ayah Arsel ikut menimpali obrolan itu.
"Tante tenang aja, kita nggak akan biarin Nata kenapa-napa. Kita bakal jagain tuan putri," sambung Ali baba.
"Apa sih, kenapa malah jadi manggil aku tuan putri? malesin deh..." Nata memberengut kesal.
Bunda Sensa tersenyum, "Bagi ayah dan bunda, kamu memang tuan putri yang berharga dan harus dijaga, Sayang."
"Dari lahir kamu juga udah dipanggil tuan putri, kan? jadi apa masalahnya?" sahut ayah Arsel.
"Ya tapi itu kan dirumah, Yah, bukan diluar rumah. Kalau diluar rumah aku pengen kayak Kakak, terlihat sederhana."
"Ini gara-gara Ayah yang mulai manggil aku tuan putri ketiga, orang-orang jadi ikut-ikutan." Nata mencebik.
Ayah Arsel tersenyum lucu, "Jangan salahin Ayah. Bagi Ayah, kamu memang tuan putri ayah yang ketiga setelah pemiliki hati Ayah yaitu Bunda, lalu menantu ayah juga terakhir kamu. Nanti tuan putri ke empat, cucu Ayah yang pintar dangdutan."
bnyak bngt pelajaran yg bisa di ambil dri cerita ini
kembali ke tawa lg ☺
soal nya air mata ku sudah kering 😂
makasih banyak author aq pada mu yg sudah meng obrak abrik hatiku 🤗
tetap semangat...
jaga kesehatan Tor ku