Menjalin hubungan terlarang bersama mantan kekasihnya didalam kediaman keluarga Hollarck alias keluarga kekasihnya sendiri adalah sebuah ketegangan untuk Sophia.
Namun tidak untuk Felix, tangan kanan keluarga Hollarck tersebut yang menganggap semuanya adalah hal biasa saja dan malah menjadi tantangan menarik untuk hubungan mereka.
•••
"Sudah di bagian bumi lain bahkan aku masih saja bertemu dengan mu!"
Felix menyeringaikan cibiran, "Lalu kenapa? Apakah kau fikir kita akan berjodoh, kau sangat lucu... hahah lalu apakah menurut mu anjing dan kera berada dalam satu kebun binatang lalu terpisah bertahun-tahun, kemudian bertemu di kebun binatang lain lalu mereka akan berjodoh, menikah, lalu mempunyai anak dan bahagia? Huh...kisah yang indah."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tris rahmawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 31
Felix menjadi bulan-bulanan Simon setelah terhuyung ke tanah akibat kakinya yang tertembak kehilangan keseimbangan, Simon pun seketika mengambil senjata milik Felix cepat sebab itu adalah bagian dari nyawanya dia tidak akan bisa berbuat banyak tanpa senjata.
Felix berusaha bangkit tidak lagi bijelaskan rasa sakitnya sebuah proyektil peluru itu menancap pada tulang kakinya, tubuh Felix bergetar menahan sakitnya yang seiring bergerak terasa begitu menyiksa.
“Lepaskan aku Simon, hentikan omong kosong mu! Ini kesalah pahaman!”
Simon tertawa, Haha, “Dominique seperti ini orang yang selalu kau percayai! Ikat dia!" Perintah Simon pada anggota de hollarck disana, "Dia tidak akan bisa melawan atau menyerang lagi, peluru itu bukan peluru biasa, salah satu produksi baru de Hollrack company dia mengandung serum dari sebuah zat asam berbahan kimiawi sintestis yang bisa membuat segala saraf yang terkena tembak menjadi lemah, harusnya ini bukan untuk dia melainkan Carlos Hagen.”
“Dan aku ditusuk oleh senjata ku sendi! Bagaimana bisa Felix!” bentak Dominique.
Elleza menggeleng, “Aku tidak percaya ini! MARLEY Dimana kau! Marley!” pekik Elleza.
Simon pun tertawa, “Marley sudah kembali bersama Carlos Hagens, dan dialah mata-mata di Pallezo ini! Dialah yang ikut andil saat kerusuhan terjadi di pabrik anggur, penusukan Sophia, penyiraman racun di kebun anggur, hingga dia menemukan sesuatu hal paling menarik diantara yang paling menarik, Ya Perselingkuhan Felix Sophia! Inilah hidup, Kita selalu di keliling oleh para pengkhianat
“Aku tidak berselingkuh! Aku dan Sophia sudah kenal lama!”
Simon tertawa, “Pengkhianat tetap pengkhianat, kalian sangat pintar bermain perang ternyata, Kalian ingat hari dimana Sophia menghilang saat pergi kesebuah acara fashionshow? Ya… mereka berdua ada disana menukar kamar lain menghabiskan waktu bersama, dan Kau membuat semuanya mengkhawatirkan Sophia! Padahal keadaan sedang panik menghilangnya Nick, tapi itu tidak berarti bagi mereka.”
Ini menjadi batu Loncatan untuk Simon, betahun-tahun disana ia seperti tidak pernah di lIhat atau di anggap penting, semua dipandang biasa saja.
“Ya Tuhan, bagaimana bisa kalian seperti ini, tidak bisa kah kau melihat, Nick begitu mencintai Sophia, Dan aku menyayangi Sophia seperti putriku sendiri, tapi kalian—”
“Kau tahu aku, paling tidak suka dengan sebuah pengkhianatan bukan, Felix! Kau bertahun-tahun menemaniku, aku percayakan kau dalam semua hal yang tidak ku buka untuk apapun termasuk keluargaku, tapi kesalahan yang kau buat ini menyakitiku, aku sudah pernah menghancurkan kebahagiaan Nickolas dan seluruh kehidupan normalnya, kini kau dan Sophia yang menghancurkannya, Simon bereskan dia! Aku pilih putra ku saat ini, aku akan keluar dari lingkaran hitam ini.” Dominique pun berlalu, Namun tiba-tiba dia berhenti. “Tangakap Marley! Dalam keadaan apapun!”
Seperti punya dendam yang mendalam pada Felix, Simon begitu puas mendapatkan kewenangan membereskan Felix.
Tatapan Felix melemah serum-serum itu sudah membuatnya tidak berdaya, suara-suara tawa Sophia perputar di kepalanya, ucapan kesalnya.
“Kau sayang aku?”
“Felix kenapa kau disini?”
“Apakah aku akan mengandung, anak kau? Anak kita?
Bruakkk…
Felix pun jatuh bersama debu yang seakan naik ke atas, tubuhbta terkulai, fikirannya menerawang jauh. “Sayang…” Tangan Felix seakan ingin meraih sesuatu sebuah tangan yang ingin dia genggam hingga akhirnya semuanya gelap dan menghilang.
Elleza melihat Felix yang sudah terkapar, “Seperti itu Dominique, dia membenci sebuah pengkhianatan sekecil apapun itu, Felix sebagai contoh, tidak ada yang akan dipandang sebesar apapun dia pernah berjasa, Simon, Kremasi dia secepatnya! Tidak perlu ada yang membahas biarkan Nickolas mengetahuinya sendiri.”
Elleza pergi dari sana, melangkah cantik membawa semua hal-hal yang tidak dia percaya terjadi, lelaki bernama Marley padahal sudak membuka clue bahwa ada sesuatu yang aneh.
Sayangnya dia tidak terlalu percaya itu sebab Elleza pun merasakan Marley assistantnya itu juga tampak aneh tampak merekam diam-diam apapun yang terjadi disana.
...•••...
Kepulauan Berth.
Sophia berlari-lari diseputaran Pallezo mengejar Coco, gaun indahnya menerbangkan lapisan-lapisan halusnya, Coco tampak enggan di tangkap, namun seketika Coco berhenti di tepian kolam melihat pada ikan Koi yang ramai muncul kepermukaan air.
“Kita pulang ya Co, semua sudah selesai disini!” Tatap Sophia kedepan, membayangkan akhirnya hal yang buruk itu terjadi, Felix tidak pernah kembali.
Langit begitu cerah, angin pun membawa hawa sejuk, dia merasakan sepi sendirian disana, Sophia menangis, air matanya tumpah.
Jedaarrrrrrrr…
Petir itu menggelegar lagi, seketika membuta Sophia terjaga ia duduk di sofa berbulu lembut itu, “Felix? Felix!!” Sophia menggeleng, dia baru saja bermimpi buruk, semuanya begitu jelas dan nyata.
Sophia mengusap wajahnya, Ia menggenggami tangannya, Ia yakin mereka akan kembali bersama, mereka akan kembali ke Manila segera, “Itu hanya mimpi.” Sophia menoleh ke ujung kamar pintu itu terbuka, Nick masih disana menemani putrinya tidur.
Pulau ini selalu hujan, cuaca tampak gelap padahal waktu pagi hari, Sophia membuka jendela kayu disana, memperlihatkan jelas laut dan kapal-kapal di seputaran pulau.
Jika ada pilihan lain dia enggan berada disini, tempat ini terkesan suram, bangunan-banguna batu tidak ada warna, semua tampak seperti sebuah tempat di mimpi buruk, jalanan sepi, tidak ada tawa anak-anak, sebab memang ini hanya sebuah pulau peristirahatan.
Dari jauh, Sophia melihat sebuah helicopter berputar putar disana, Ia seperti mencari tempar pendaratan, “Ada apa itu?” Ia kira disini bukan tempat yang memfasilitasi sebuah jalur wisata, “Mungkin saja penduduk sini!”
Gio menjatuhkan sebuah alat komnikasinya saat ia mendapatkan kabar Felix gugur, “Berengseek, Simon! Ku bunuh kau, sialan!” Gio begitu kecewa, Simon seperti mempunya dendam saja. Jika Gio yang disana dia mungkin bisa mengelakkan itu, menghindari menembaki sesama klan, sesalah apapun dia, mereka adalah Posisinya sama.
Kini dia harus menjelaskan apa pada Sophia, Gio berkaca-kaca, tentang Sophia dan Felix ini bukan hal baru, Simon dan Dehollrack tidak akan mengerti itu.
“Nyonya Liyana!” Gio ingat ibu Jullia yang memperkenalkan Sophia dan Nick, Liyana harus tahu ini dan Jullia pun harus tahu tentang ini, shit… semua terlambat, Felix sudah tidak ada lagi…tidak masalah mereka harus tau, yang pasti.” Gio meremasi tangannya.
Menyalakan satu tombol, tidak bisa dihubungi, sebab Jullian memang menutup aksesnya atas naman Dominique dan yang lainnya, itu hanya akan mengancam nyawa keluarganya.
Gio pun menghubungi pusat informasi yang bekerja sama dengannya, untuk melacak kontak yang bisa menghubunginya dengan Jullian Anderson.
Lima menit waktu yang dibutuhkan dia pun mendapatkan kontak itu, kontak yang ia juga enggan mengusik lagi, para rekan yang sudah meninggalkan lingkaran hitam ini dan di jalan normal mereka, seperti apapun keadaannya walau harus benar-benar bekerja keras untuk menjalani kehidupan.
“Anderson Weights corp, dengan Chloe ada yang bisa dibantu?”
“Saya Gio, hubungi dengan Tuan Jullian.”
“Hallo bapak Gio bisa dijelaskan keperluannya.”
Gio rasanya sudah tidak sanggup berbicara, “Katakan Saja dari Sergio Gustav!”
Nada menunggu pun terdengat berdengung disana, bersamaan dengan deru helicopter yang menerbangkan dedauan siap turun kesebuah lapangan berumput di pulau itu.
Mata-mata para penduduk pulau menyorot pada helicopter itu, ini seperti asing mereka lihatnya ada disana.
“Hallo!” Seru Jullian, “GIO! Ada apa? Ada masalah, kalian sudah tidak di Italia bukan?”
“Felix meninggal—” ucapan lemah itu keluar dari sana.
“Apa? Gio!” Jullian mendengar samar bersamaan dengan deru helicopter mungkin dia salah dengar.
“Felix sudah gugur, Simon menembaknya, dia tertangkap menjalin hubungan dengan Sophia…”
“Katakan kau bercanda Gio, katakan!” Jullian benar-benar shock.
“Tidak ada yang bercanda, kau kenal Dominique dia tidak pernah menterorir pengkhianatan sekecil apapun!”
“Bangsat Simon, dia sudah lama tidak terlalu menyukai Felix aku tahu itu! Kenapa kau tidak Melarang felix Gio kenapa ini yang aku takuti saat Sophia di bawa Nickolas ke Spanyol kemarin!” Jullian mengeluarkan bulir benignya di ujung mata, Felix adalah orang yang paling berjasa untuknya, sahabat, teman, keluarga, semua melekat padanya. “Katakan kau dimana Gio!”
“Jangan pernah datang Jullio, keadaan Ini di haramkan untuk kau datang! Penjelasanmu tidak lagi berguna Felix sudah tidak ada, De Hollrack mereka melenyapkan satu, maka aku akan melenyapkan semua…”
Tut.. Tut…
.
.
Next»
Saya punya dua ongoing selain Sophia, yang punya rezeki lebih yang mau boleh mampir kesana, mungkin suka boleh ya, (K b m)
...
...
makasih buat karya keren nya "sofiafelix" 😍
ngakak nya sampek ngik ngik
dari sekian banyak baca novel baru ini yang buat ketawa parahhh
outhor nya serius keuereeeennnnn 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣