Biar asyik jangan lupa Follow akun aku ya !!
Yang sudah saya ucapkan terima kasih dan selamat membaca !!
Arzachio Mexram Morales adalah seorang pria yang berkedudukan sebagai pemimpin klan Mafia yang berada di, Meksiko. Bukan hanya Meksiko saja yang dapat dirinya kuasai. Hampir seluruh klan mafia yang ada di seluruh dunia berada di bawah kekuasaannya. Dirinya memiliki warna mata yang sangat indah sekaligus langka. Kenapa begitu ? karena dirinya memiliki 2 bola mata yang berbeda jenis, yang sebelah kiri berwarna biru dan yang sebelah kanan berwarna hijau zamrud. Semua wanita yang menatap matanya akan terpukau dan langsung jatuh cinta.
Tapi bagaimana jadinya jika seorang pemimpin mafia menjadi seorang ayah ? itulah yang dihadapi oleh Arzachio Mexram Morales yang tak sengaja bertemu seorang bayi laki-laki di markas besarnya. Entah bagaimana bocah laki-laki tersebut bisa sampai ke sana, yang jelas akibat kejadian tersebut dirinya memiliki status baru yaitu menjadi seorang Ayah yang terpaksa merawat seorang anak tanpa adanya dampingan seorang wanita disisinya. Hingga tanpa sengaja anak yang dirinya rawat memanggil seorang wanita dengan sebutan mama.
Lantas bagaimana kelanjutan kosah mereka ??
yang penasaran silahkan mampir dan tinggalkan jejak ya !!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon penulis puisi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 31
Jangan lupa untuk Follow akun aku dulu ya.
Vanessa pov
" Tuan hiks !!." panggil Vanessa menangis dan dengan sangat pelan berjalan mendekati Arzachio yang duduk di samping kasur tempat Xena berada.
Sedangkan yang dipanggil hanya diam tanpa berniat menjawab panggilan Vanessa kepadanya.
" Apa yang terjadi pada sahabatku Xena hiks, kenapa hiks dia bisa seperti ini hiks. Dan kenapa dirinya bisa berada hiks disini." sahut Vanessa putus-putus akibat deru nafasnya yang tidak teratur akibat terus menangisi kondisi sahabatnya yang belum sadarkan diri.
" Aku tidak tahu." jawab Arzachio dingin menatap tajam ke arah Vanessa seperti menyuruhnya untuk diam.
" Sebaiknya kau diam dan segeralah tinggalkan tempat ini. Biar pelayanku yang mengantarmu ke tempat dimana kamarmu berada." usir Arzachio kepada Vanessa dan mengalihkan pandangannya ke arah Xena yang masih belum sadarkan diri, dan memandang Xena dengan tatapan lembut dan juga penuh akan perhatian yang terpancar sangat jelas diwajahnya.
Sedangkan Vanessa yang melihat tatapan lembut yang Arzachio layangkan pada Xena hanya bisa diam sambil tersenyum miris. Dirinya marah bahkan sangat marah hingga saat orang yang dia sukai malah menatap penuh cinta ke arah wanita lain, hingga tanpa dirinya sadari kedua tangannya mengepal menahan nyeri yang terdapat di hulu hati dan buku-buku jarinya memutih menahan gejolak amarah yang tidak bisa dirinya lampiaskan saat ini.
" I hate you Xena, l hate you. Now, let's start playing Xena. Ayo kita mulai bermain sekarang." ucap batin Vanessa sambil tersenyum licik dan bergegas pergi meninggalkan kamar tersebut dan diikuti oleh seorang pelayan yang telah dipanggil Arzachio
" Antar dia ke kamar tamu dan layani dia sebaik mungkin." seru Arzachio setelah memanggil salah seorang maid dan langsung memutuskan pandangan matanya kepada Vanessa dan beralih menatap ke arah Xena.
Sedangkan Vanessa benar-benar merasa bahagia saat dirinya mendengarkan perkataan Arzachio yang menunjukkan sedikit perhatian kepadanya. Membuat wajah cantiknya dihiasi oleh sebuah senyuman sinis yang tidak disadiri oleh mereka semua. Menatap Arzachio dengan pandangan memuja dan beralih memandang Xena dengan senyum sinis yang terpantri di bibir tipis nan menggoda itu.
Setelah itu, Vanessa pergi meninggalkan tempat tersebut dengan raut wajah bahagia dan penuh akan kemenangan. Karena dirinya telah berhasil mendapatkan sedikit perhatian dari pria yang tengah dirinya sukai itu.
Namun, meskipun begitu tanpa dirinya sadari sejak tadi sudah ada seseorang yang terus memperhatikannya. Memperhatikan setiap ekspresi bahkan raut wajah yang dirinya tunjukkan di depan Arzachio. Mulai raut wajah sedih, bahagia, bahkan tatapan kebencian yang tersirat dari ekor matanya untuk Xena. Dapat dilihat dengan jelas oleh orang tersebut.
Dan tanpa Vanessa sadari, orang itu pun memandang Vanessa dengan penuh akan kebencian yang tersirat melalui ekor matanya itu. Dan Vanessa sama sekali tidak menyadari akan hal itu, seringaian manis pun muncul di sudut bibir mungilnya. Membuat siapa saja yang melihat itu pasti akan bergidik ngeri bila mendapatkan tatapan seperti itu dari seseorang yang sama sekali tidak akan pernah mereka kira bahkan curigai.
Dan kini apapun yang akan Vanessa lakukan akan terus menjadi pantauan dari orang tersebut. Dan bila waktunya tiba permaianan yang dirinya lakukan akan menjadi timbal balik untuk dirinya sendiri. Dengan cara polos dan lugu namun memiliki suatu bahaya yang sama sekali tidak akan pernah bisa siapapun bayangkan.
" Pelmainan mu halus segela di akhiri aunty jelek." sahut orang itu yang tidak lain adalah Al, yang sedari tadi sudah berada disana. Namun, dia lebih memilih diam untuk melihat situasi yang tengah terjadi disana.
" Ndak ada yang boleh jahatian Amanya Al. Siapapun itu pasti akan Al hanculkan." ujarnya menatap kepergian Vanessa dengan senyum iblisnya.
Arzachio pov
" Apa yang terjadi padamu, bodoh !!. Kenapa kau bisa seperti ini ?." seru batin Arzachio kesal, marah, dan juga sedih yang bercampur menjadi satu di dalamnya. Dan menatap iba ke tempat dimana Xena yang terlihat terbaring tak berdaya tanpa bisa memberontak ataupun mengeluarkan sepatah kata suaranya.
Dirinya sedih sekaligus merasa marah akan hal yang sudah menimpa Xena. Kenapa tidak ada satu orang pun yang ada disana yang bisa memberikan dirinya pertolongan segera. Hal inilah yang memicu sisi lain Arzachio memberontak dan melakukan perlawanan. Apa yang membuat mereka semua tidak ada yang menyadari akan hal itu ?. Bagaimana jika ada seorang penyusup yang berhasil memata-matai mansion miliknya ini. Untuk apa dirinya mempekerjakan orang yang lalai, sungguh miris bukan.
" Kapan dokternya datang, kenapa lama sekali." seru batin Arzachio yang gusar menanti kedatangan dokter yang sedari tadi tak kunjung tiba.
" Tuan." panggil seorang maid perempuan kepadaku yang langsung kuhadiahi tatapan tajam untuknya.
" Katakan." jawabku datar.
" Dokternya sudah datang tuan." Lanjutnya menatap ku takut yang masih belum menunjukkan ekspresi apapun.
" Suruh dia masuk." jawab ku lagi-lagi acuh dan dingin membuat tubuhnya semakin bergetar ketakutan.
Sedangkan sang maid itu hanya bisa diam sambil menunduk ketakutan mendengar suara dingin yang ku tujukan padanya.
Tidak berselang lama akhirnya dokter yang kutunggu pun tiba dan dengan cepat dirinya bergegas untuk menghampiriku. Dan dapat ku lihat raut wajah ketakutan yang terpantri jelas diwajahnya.
" Maafkan aku Arza, karena aku telah terlambat. Lain kali tidak akan seperti ini lagi. Mohon maafkan atas kesalahanku padamu." sahut Keynan menatapku dengan raut wajah bersalah.
Keynan Abraham Gerardo adalah anak dari seorang pria berdarah campuran Rusia dan Meksiko. Dirinya adalah anak dari seorang dokter yang memang khusus memeriksa keluargaku secara turun temurun.
Hal ini dikarenakan jasa keluargaku kepada keluarganya yang sangat banyak dan sangat sulit untuk dilupakan.
Disaat ayah Keynan, Oscar dijebak oleh seseorang dan hampir membuatnya dipenjara puluhan tahun lamanya. Dengan kemurahan hati dan juga akibat jasa Xendrik yang merupakan ayah kandungku. Dirinya mampu dibebaskan dari segala tuntutan yang sudah dilayangkan dari orang yang telah menipunya.
Bukan itu saja, Xendrik dan Oscar merupakan teman lama yang sudah sangat akrab. Meskipun mereka memiliki jalan hidup yang berbeda, namun tetap saja rasa persahabatan diantara mereka berdua tidak akan pernah dapat terputus.
Bagi keluarga Gerardo, keluargaku adalah keluarga yang sangat baik dan juga merupakan keluarga yang paling berjasa dalam hidup mereka. Dan jika ada orang yang berniat menganggu bahkan mengusik mereka, maka keluarga Gerardo sudah siap untuk membantunya baik itu melalui harta bahkan juga tenaga. Akan mereka berikan semua harta yang mereka miliki tanpa mengharapkan imbalan atas apa yang telah mereka lakukan. Dan itu adalah janji dari keluarga Gerardo untuk keluargaku.
" Baiklah." seruku datar dan dingin menatap ke arah tempat Xena terbaring tak berdaya.
" Periksa dia dan katakan apa yang telah terjadi pada dirinya." tunjukku ke arah Xena dan menatap Keynan tajam.
" Baik !!." jawab Keynan tegas dan berjalan dengan cepat menuju ke arah ranjang, tempat dimana Xena terbaring tidak berdaya.
" Dirinya baik-baik saja, namun kadar gula dalam darahnya sangat rendah. Hal inilah yang menyebabkan kesadaranya menghilang. Bukan itu saja, sepertinya wanita ini juga merasakan kecemasan yang berlebihan dan itu juga sangat mempengaruhi hormon yanv berada pada tubuhnya. Oleh karena itu, selain meminum resep obat yang aku berikan tolong katakan padanya untuk tidak cemas berlebihan karena hal itu akan membuat tubuhnya menjadi stres dan drop seperti sekarang." jelas Keynan sambil merapikan kembali peralatan rumah sakit yang telah dirinya bawa.
Dan tidak lupa menuliskan resep obat yang kemudian dirinya berikan kepada ku, yang ku terima dengan diam tanpa mengeluarkan sepatah kata suaraku.
" Baiklah, silahkan antarkan dia sampai keluar dari rumah ini. Dan tebus obat ini dengan segera." ucapku datar dan berbicara kepada salah seorang pelayan yang berada di dalam kamarku.
" Baik tuan." sahutnya menganggukkan kepalanya dan mengikuti kepergian Keynan dari belakang sambil tetap menundukkan kepalanya.
" Terima kasih, kalau begitu aku pergi dulu." pamit Keynan pergi meninggalkan kamarku, dengan diikuti salah seorang yang telah aku tugaskan padanya untuk mengantarkan dirinya sampai ke pintu keluar mansion milikku.
Dan kini diriku hanya bisa menatap kepergian mereka dengan ekspresi datar, tanpa mengucapkan kata terima kasih yang sangat jarang untuk ku ucapkan pada siapa saja.
Dengan langkah perlahan diriku mulai berjalan menghampiri ke tempat dimana Xena berada dan duduk tepat di samping kanan dirinya. Memandangnya dengan tatapan penuh rasa bersalah karena dirikulah yang telah menajadi awal penyebab dia seperti ini.
Disaat diriku terlarut dalam rasa bersalah, diriku mendengar sebuah langkah kaki yang terus mendekat ke arah kami.
Disaat diriku ingin mengeluarkan sniper kesayangku. Sebuah suara isakan tangis seorang perempuan menghentikan langkahku.
" Tuan hiks !!." panggil Sinta menangis dan dengan sangat pelan berjalan mendekati ku yang tengah duduk di samping kasur tempat Xena berada.
Sedangkan diriku yang dipanggil lebih memilih untuk diam tanpa berniat menjawab panggilan Sinta kepadaku.
" Apa yang terjadi pada sahabatku Xena hiks, kenapa hiks dia bisa seperti ini hiks. Dan kenapa dirinya bisa berada hiks disini." sahut Sinta putus-putus akibat deru nafasnya yang tidak teratur akibat terus menangisi kondisi sahabatnya yang belum sadarkan diri.
" Aku tidak tahu." jawabku dingin menatap tajam ke arah Sinta yang mengganggu waktu iatirahat Xena. Apakah dia tuli bahwa barusan dokter mengatakan untuk membiarkan Xena istirahat, lalu mengapa dia menangis. Ck, aku sungguh malas meladeninya.
" Sebaiknya kau diam dan segeralah tinggalkan tempat ini. Biar pelayanku yang mengantarmu ke tempat dimana kamarmu berada." usirku lembut kepada Sinta dan mengalihkan pandangannya ke arah Xena yang masih belum sadarkan diri.
Hal ini diriku lakukan bukan karena diriku yang khawatir padanya, diriku menyuruhnya pergi karena suaranya yang cukup berisik dan mampu memekakkan telingaku bahkan mungkin dapat membangungkan Xena. Karena itu aku mengambil jalan pintas untuk mengusir Sinta dengan cara yang lembut namun cukup ampuh untuk membuatnya pergi.
Dan tidak lama kemudian seorang pelayan yang ku panggil pun tiba dan membawa Sinta pergi meninggalkanku dan juga Xena sendirian di kamar tersebut. Dan kamar tersebut kembali hening dan tidak ada satupun orang yang mengeluarkan sepatah kata suaranya.
" Cepatlah sembuh Xena, aku tidak mempunyai teman bertengkar selain dirimu. Tidak ada yang berani berdebat bahkan membantah ucapanku selain kamu."
kak lanjut lagi, aku nungguin lohh