Vita adalah seorang gadis jenius yang merupakan anak angkat, yang sering
mendapatkan perkataan tidak bersahabat dari ibunya. Pada kelas tiga SMA dia
pindah dari Surabaya ke Jakarta dan bertemu dua laki-laki populer yang
menyukainya. Andra dan Rafka. Andra adalah penerima juara umum selama
bertahun-tahun, dan Rafka adalah siswa tukang bolos yang tak asing bagi Vita.
Kemudian Vita berteman dekat dengan keduanya, terutama dengan Rafka.
Di sekolah, bersama teman-teman barunya ini, Vita akan mengalami
pengalaman terasa begitu
manis. Vita akan bertengkar dengan sepupunya, dibully oleh teman sekelasnya,
tapi tidak ada yang dapat membuat Vita takut atau berhenti berteman dengan
Rafka juga dekat dengan Andra.
Hingga beberapa bulan kemudian Vita bertengkar dengan Rafka
setelah Vita menolak Andra. Namun, pertengkaran itu
tidak bertahan lama, Vita dan Rafka kembali bersahabat. Dan Vita pun pergi ke
London. Meninggalkan Rafka yang khawatir dan Andra yang menanti.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon @l_uci_ous, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32
“Di mana Vita?” tanya ibu Vita dengan tidak ramah.
“Ke minimarket sebentar.”
“Kenapa kamu gak ikut?” Wanita itu curiga.
Dengan wajah super bosan, Rafka menjawab, “Dia bilang di mau beli sesuatu yang bikin dia malu kalo saya lihat.”
“Assalamualikum...” Vita berkata tiga meter dari undakkan pertama. Kepalanya tertunduk lesu. Nampaknya ia belum menyadari keberadaan Rafka.
“Waalaikumsalam,” dengan senyum lebar Rafka menjawab.
Terkejut, Vita menengadahkan kepalanya sebelum menjatuhkan kakinya di undakan tangga. Ia berkedip beberapa kali.
“Ini Vita,” Rafka memberitahu Helena.
“Mana belanjaan kamu?”
Rafka yang menggerakkan mulutnya tanpa suara sambil berharap Vita menggulirkan mata padanya. Ia berkata, ‘tas’ berulang-ulang tanpa suara, tetapi Vita sama sekali tak tergerak melemparkan pandang padanya begitu ibunya anggkat suara.
“Di dalam tas.”
Tanpa berkata apapun, Helana masuk meninggalkan Vita dan Rafka. Tak ada basa-basi sama sekali untuk mengajak Rafka masuk ke dalam dan ditanyai ingin minum apa. Serius, Rafka lebih suka ibunya Andra. Terang mengapa Vita sering terlihat khawatir jika pulang terlalu sore. Tak terbayangkan ia memiliki ibu seperti Helena.
Tapi setidaknya Vita punya ibu, sedang ibunya telah hilang dari bumi ini. Bahkan, tak akan pernah ada lagi untuk memarahinya.
“Bolos ke mana?” Rafka merendahkn suaranya.
“Makan doang.”
“Saran, ya, kalo mau bolos jangan bilang sakit, nanti sakit beneran.”
Vita mengangguk sambil lalu. “Ayo masuk,” ajaknya.
“Kamu lagi ada masalah, Cha?”
“Mm?” Vita menaikkan alisnya.
“Gak usah di jawab kalo gak mau.”
Sejenak Vita terdiam. Namun, ia segera tersadar dan melemparkan tasnya ke atas sofa ruang tamu.
“Duduk,” ia memerintahkan Rafka. “Aku mau ganti baju sebentar. Mau minum apa?”
Rafka menghempaskan pantatnya pada sofa yang empuk. Ia berpikir sejenak, lalu menjawab, “Es campur.”
“Yang benar ajalah, Raf,” Vita mengeluh.
“Kenapa?” Rafka menaikkan alisnya. “Belajar di luar, yuk?”
“Mmm... tunggu sebentar,” dan ia berlalu menuju ke belakang bukan kamarnya yang telah diketahui Rafka.
“Ma!” Vita memanggil ibunya.
\*\*\*
“Hai!”
“Tumben.” Tiara tersenyum pada Andra yang bendiri di hadapannya. Ia sama sekali tak menyangka bahwa Andra yang akan muncul di siang bolong saat terdengar suara ketukan pintu tadi. Ia menyangka sepupunya yang menyebalkan mulai mengusik ketenangan.
“Gue punya beberapa pertanyaan.”
“Masuk.”
Andra mengekori Tiara masuk ke dalam. Rumahnya sepi. Suara televisi terdengar jernih dari tempat ia berada.
“Sendirian, Ra?”
“Enggak. Ada Bibi lagi nyetrika di belakang.”
“Oh. Nyokap lo kerja?”
“Mm.”
Tiara berbalik menghadap Andra sembari melangkah mundur. “Udah makan siang belum?”
“Belum.”
“Mau mie instan?”
“Kayaknya menu kita kalo ketemu mie instan mulu.”
“Itu paket ketemuan kita.”
Mereka berdua terus melaju sampai di dapur yang super bersih. Andra menuju kursi dan Tiara terus melangkah hingga ia berhadapan dengan lemari dapur. Ia mengambil satu bungkus mie rebus untuknya lalu berbalik, bertanya mie apa yang Andra inginkan.
“Goreng. Telornya empat, ya.” Andra berucap seraya melepaskan tas dari pundaknya. Ia kemudian menaruhnya di kursi sisinya. Tasnya sangat berat.
“Buset.” Tiara tertawa. Tawanya terdengar merdu. Sudah lama rasanya ia tak tertawa. Otot-otot pipinya terasa sangat kaku. Teman-temannya di sekolah saja kesal padanya karena tak seceria biasanya. Ada banyak hal yang memberati hatinya. Ia jadi jarang tersenyum dan tak pernah tertawa lagi sejak ia bertengkar dengan Rafka. Sebagian darinya yang realistis, merasa bersalah karena sudah bertidak bodoh dengan membenci sepupunya yang, jujur saja, tak salah apa-apa. Namun sebagian dari dirinya yang tak realistis, tak ada otaknya, merasa lebih baik ada seseorang untuk dibenci karena kegagalannya mendapatkan hati Rafka, walau itu merusak pertemanan dan persaudaraannya. Setidaknya ada yang bisa disalahkan. Lagi pula, ia merasa gengsi untuk minta maaf duluan pada Vita. Selama ini Vita yang lebih dulu menegurnya walau bukan gadis itu yang salah.
“Lo belum pulang ke rumah, ya, Ndra?” tanya Tiara yang tengah mengisi panci untuk merebus mie.
“Belum. Tadinya gue mau ke rumah Vita, tapi waktu gue lewat depan rumahnya, ada Rafka di sana, gue jadi males.”
Ia jadi tujuan ke dua.
“Kenapa gak pulang bareng?” Tiara bertanya. Suaranya tak semenyenangkan tadi. Air mukanya datar saat ia menyalakan kompor. Lalu berbalik, membelakangi kompor yang menyala.
“Vita tadi gak sekolah. Sakit dia bilang.”
Cukup lama tak ada obrolan lagi. Air di panci sudah mendidih. Tiara berputar. Ia memasukkan satu bungkus mie, lalu berjalan cepat untuk membuka kulkas dan mengambil empat butir telur, dua untuknya dan dua untuk Andra. Ia tahu saat Andra mengatakan empat telur, ia hanya bergurau.
Setelah memecahkan satu telur ke dalam panci, Tiara memanaskan penggorengan dan menggoreng dua telur mata sapi. Ia mengaduk mie sembari menunggu telurnya matang.
Tak lama setelah itu, dua mangkuk mie sudah siap. Tiara mencari nampan di rak untuk membawa dua mangkuk mie panas. Sebelum membawanya ke hadapan Andra, ia pergi ke kulkas ntuk mencari minuman dingin yang pas untuk teman makan mie.
“Mau teh apa cola, Ndra?”
“Teh aja.”
“Mie goreng empat telor, duanya masih ngutang.” Tiara menggeser piring Andra.
Andra tersenyum.
Tiara menarik kursi di hadapan Andra. “Enak, enggak?”
“Yang namanya mie instan pasti enak. Jadi, jangan bangga. Adek gue aja bisa bikinnya.”
“Ish!” Tiara mendelik pada Andra.
“Oh iya, lo bilang lo punya beberapa pertanyaan.”
“Mm,” gumam Andra karena mulut yang penuh. Ia menyambar teh di samping tangannya. Dan begitu mienya sudah meluncur melalui kerongkongan, ia berkata, “Gue mau nanya, Vita itu orang yang kaya apa, dia sukanya apa, hobinya apa, dia suk—”
“Gue ngerti.”
“Vita itu orang yang kayak ‘gitu. Simpel, tapi gak mudah di tebak. Dia dewasa. Kadang terang-terangan ngungkapin sesuatu, tapi kadang dipendem. Gue sendiri gak ngerti dia sepenuhnya. Dia juga agak idividualis, tapi tetap *care* sama orang di sekelilingnya. Bingung gue cara ngejelasinnya.”
“Gue paham, kok. Terusin.”
“Lo suka banget, ya sama Vita?”
Andra mengangguk.
Ada perasaan tak nyaman menyelimuti dirinya mengetahui jawaban Andra. Ia tak tahu kenapa. Mungkin, hanya mungkin, karena dulu Andra menyukainya, jadi ia tak begitu suka ada gadis lain yang menyingkirkannya dari hati, pikiran, dan mata Andra.
“Dia suka panda. Dia bahkan punya celengan panda dari dia masih SD. Dia suka susu coklat sama buah apel. Dia gak milih-milih makanan, dia cuma ngehindarin makanan yang mengandung MSG karena dilarang ayahnya. Kalo lagi sakit dia makannya banyak, karena dia gak mau sakit terlalu lama...”
Andra mendengarkan dengan saksama setiap kata Reina tentang Vita, mencatatnya baik-baik di otaknya yang cemerlang.
“...Dia suka baca novel. Novel favoritnya itu seri Harry Potter, Laskar pelangi, A Walk To Remember, dan entah apalagi, gue gak hafal semuanya. Penulis favoritnya itu J.K. Rowling. Idolanya itu Harry Potter, Justin Bieber, sama Yook Sung Jae BtoB.”
“Siapa tuh, Yook Sung Jae?”
“Personil boy band BtoB, dari Korea Selatan. *Browsing*.”
“Lanjut!”
“Dia suka nonton drama Korea. Terus dia lebih suka musik yang mellow. Dia tipe cewek yang suka cowok romantis, lucu, sama yang gak kalah penting, wangi. Soalnya dia punya penciuman yang tajam. Abis itu, dia gak suka sama orang yang kalo ngomong nyolot. Apa lagi?”
“Pendidikan?”
“Penting, ya, Ndra?”
“Gue, sih, penting.”
Tiara menarik napas sebelum berkata, “Dia selalu juara umum. Dia pernah ditawarin ikut kelas akselerasi waktu SD, SMP, bahkan SMA, tapi gak dia terima karena dia gak mau nantinya nyesel karena cuma sebentar nikmatin waktu sekolah. Vita nguasain beberapa bahasa asing. Bentar!” dia mengangkat tangannya untuk menyupkan sesendok penuh mie.
Tiara sudah membuka mulut untuk kembali melanjutkan penjelasannya, tapi Andra menghentikannya.
“Telen dulu,” ucapnya, menyodorkan minuman. “Gak perlu buru-buru lagi.”
“Oke. Sampe mana tadi?” tanya Tiara setelah menyisakan satu pertiga mienya.
“Soal akselerasi.”
“Oh, iya. Vita itu jarang belajar,” ia memulai lagi, “tapi dia tetap pinter karena punya otak yang bagus. Sama yang yang paling penting, Vita itu mudah dan sering sakit, jadi dia harus rutin minum vitamin tambahan. Selain itu, dia gak boleh hujan-hujanan, gak boleh kecapekan, dan terlalu stres.”
Hening.
“Satu lagi, ini lebih penting lagi, terutama buat lo.” Tiara memandang Andra. “Vita itu jago bohong. Gue yang seumur hidup kenal sama dia, gak pernah bisa tahu kapan dia bohong dan kapan dia jujur.”
Andra berdehem.
Senyap lagi.
Kedua kembali menikmati sisa mie masing-masing yang sudah dingin. Menandaskannya.
“Vita pernah pacaran, enggak?” tanya Andra dengan teh kotak dalam cengkramannya.
“Enggak, setahu gue.”
“Kenapa?”
“Karena dia nganggap itu belum jadi sesuatu yang penting.”
“Menurut lo,” Andra menyadarkan punggungnya, ia kenyang, “berapa peluang gue diterima Vita?”
“Lima puluh persen.”
“Dan menurut lo, dia suka gak sama Rafka?”
“Vita tipe orang yang bedain antara suka, sayang, sama cinta. Dan jelas Vita suka sama Rafka, tapi kalo selebihnya...”
Andra menaikan alisnya. Ia mencoba mengantisipasi jawaban terburuk.
“Tanya sendiri, ya!”
\*\*\*
soal rahasia
gak sebuah rahasia cuma selama ini gak ada yang nanya,jadi gak ada yang tau
ternyata Vita anak angkat,pantes Bu Helena ke vita dah kayak ibu tiri
lihat dr profil nya kak Uci banyak cerita gak sampai ending.
padahal bagus banget lho karya2 dari kak Uci ini....pemilihan katanya oke,penataan kosakata-good,sama perbendaharaan katanya tuh banyak,ceritanya tuh jadi kaya karya penulis2 profesional tau gak.berkelas gitu.
wajib dicetak kedalam buku kak....kaya karya2 kak shephinasera bagus2 semua.
sayang ya q baru sekarang nemu karya sebagus ini....telat banget
jangan lupa feedbacknya 😊🙏😊
semangat up Thor 💪💪