Raya tidak menyangka kalau Suami yang sudah sepuluh tahun menikah dengannya , jatuh cinta lagi dengan wanita lain. Andini adalah nama wanita itu. Saat Bagas suami Raya mengaku mencintai Andini. Dunia Raya terasa runtuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mamany Ali, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sidang putusan
Tiga minggu kemudian, pengadilan Agama.
AC menyala. ruang sidang dingin. Tapi tidak cukup mengusir gerah yang menempel ditengkuk. Raya duduk dikursi penggugat kali ini Raya memakai Gamis putih dengan jilbab segi empat berwarna hitam. Sengaja Raya memakai jilbab, Dia ingin memantapkan diri untuk berpisah dengan Bagas. Disebelahnya Raka sedang merapikan map. Tangganya dingin tapi tidak gemetar lagi.
Diseberang. Bagas duduk disampinya ada pak Arman pengacaranya. Kemejanya rapi. Tapi matanya cekung. Dia tidak tidur semalam.
Bu Sri duduk dikursi pengunjung paling belakang. Galang dan Gilang dirumah bersama dengan Nisa. anak anak tidak perlu melihat hal ini.
Hakim ketua mengetuk palu sekali." Sidang perkara perceraian dengan penggugat Raya dan tergugat Bagas kami buka dan terbuka untuk umum."
Agenda hari ini: pembacaan putusan.
Semua bukti sudah masuk. Mediasi sudah. Alasan perceraian, adanya pihak ketiga dalam rumah tangga dan hal itu membuat sakit hati penggugat. demi menyelamatkan mental anak anak. perceraian akhirnya ditempuh. Bagas tidak membantah satu pun.
Hakim anggota mulai membacakan pertimbangan. Suaranya bergema. Raya menunduk meremas ujung gamisnya setiap kata " Terbukti." Tidak ada harapan untuk rukun kembali. Rasanya seperti jahitan luka yang terbuka perlahan.
Bagas menatap meja. Dipikirannya hanya wajah Galang yang mengintip dari balik gorden, dan Gilang yang melambaikan tangan waktu itu. Sudah tiga minggu setelah kejadian itu. Ingatannya masih sama. kini Bagas pasrah.
" Menimbang, bahwa fakta fakta dipersidangan.." Hakim ketua berhenti dan menatap keduanya bergantian." Apakah saudara tergugat masih ingin mempertahankan rumah tangga ini?"
Bagas angkat kepala pelan. Matanya bertemu dengan mata Raya untuk pertama kalinya sejak sidang pertama. Sekarang isinya kosong .Tapi tidak benci.
Bagas tarik napas, Suaranya serak. " Yang mulia..Saya sudah menghancurkan rumah itu sendiri. Saya tidak berhak meminta untuk dibangun lagi. Saya ikhlas, asal anak anak bahagia."
Raya menggigit bibirnya. Dadanya nyeri. Bagian dari dirinya yang dulu cinta mati kepada lelaki itu, Sekarang ikut mati juga bersama dengan kalimat pasrahnya.
Hakim mengangguk." Baik, majelis hakim pengadilan Agama mengadili.."
Palunya diangkat.
Raya memejamkan matanya. Sebelumnya Bagas sudah bicara dengan pak Arman untuk tidak lagi membelanya, Dia pasrah akan perceraian dengan Raya sekarang.
Tok.
" Pertama, mengabulkan gugatan penggugat seluruhnya. Kedua menjatuhkan talak satu Bagas tergugat kepada Raya penggugat, Ketiga menetapkan hak asuh atas dua orang anak yang bernama Galang dan Gilang berada kepada penggugat selaku ibu kandung, dengan kewajiban tergugat tetap memberi nafkah sejumlah anak dan diberi akses untuk bertemu anak anak setiap akhir pekan dengan tidak mengganggu psikologis anak.."
tok, tok, tok.
selesai.
Tidak ada petir. Tidak ada drama. Hanya suara palu dan nafas yang tercekat.
Raya lemas dikursinya. Airmatanya jatuh tanpa suara. Bukan karena kalah. Bukan karena menang. Tapi karena resminya dia menjadi janda.Resminya dia mendapatkan hak asuh anak anaknya.
Bagas menunduk dalam. Bahunya naik turun. Dia tidak menangis. Laki laki diajari untuk tidak menangis. Tapi airmata laki laki itu jatuh kemeja.
" Mejelis sudah selesai. sidang ditutup."
Semua berdiri. Bagas masih duduk. Semua orang perlahan keluar. Pak Arman menepuk bahu Bagas." Semua sudah selesai pak Bagas."
Bagas masih diam. Dia tahu semua sudah selesai sekarang. Selesai hubungan antara dia dengan Raya. Wanita yang menemaninya selama sepuluh tahun. kini Selesai dimeja sidang.
Diluar ruang sidang, Raya disambut Bu Sri yang langsung memeluknya erat." Sudah selesai semuanya, Nak. kamu bebas sekarang. "
Raya angguk dibahu ibunya." Bu, kenapa rasanya bukan lega? Tapi rasanya kosong, Bu."
Raka menghampiri Raya." Kamu kuat dek" Hiburnya.
Bagas keluar paling akhir. Langkahnya ragu. Dia berhenti tiga meter dari Raya. Tidak berani mendekat.
" Ray," Panggilnya pelan.
Raya angkat wajahnya. Mata mereka kembali bertemu. Sepuluh tahu pernikahan dengan dua anak, satu kali penghianat berakhir dimeja sidang.
" Terimakasih sudah menjadi ibu yang baik untuk Galang dan Gilang. " Suara Bagas pecah." Dan maaf untuk luka yang tidak bisa kuobati."
Raya diam. lalu menganguk. " Aku juga minta maaf, Gas. Mungkin selama aku menjadi istrimu aku belum bisa membuat kamu bahagia, Makanya kamu berpaling."
" Tidak." Bagas cepat mengelak." Salahku sepenuhnya, Salahku. Kamu istri terbaik. Aku saja yang tidak visa bersyukur. "
Hening.
Bu Sri dan Raka tidak berani bersuara, mereka membiarkan Raya dan Bagas berbicara untuk terakhir kalinya.
" Gas." Raya kembali bicara. " Hak asuh memang diaku, Tapi mereka masih butuh papanya. Jangan hilang, datanglah kalau kamu rindu. Tapi janji kamu tidak akan buat Galang marah lagi. Sekali lagi dia trauma. Maka aku akan tutup pintu selamanya."
Bagas mengangguk cepat. Seperti anak kecil yang dititipkan amanah." Aku janji Raya, Demi Allah, Aku tidak akan mengulang kesalahan yang sama."
Raka berdehem, mencairkan suasana." Sudah kalian urus surat panitera dulu. Aku mau mengantarkan Ibu ke mobil, kasihan. "
" Kalian tetap menjadi orang tua yang saling mendukung, demi pertumbuhan anak anak kalian. Jangan lagi menyimpan dendam satu sama lain. Kalau seandainya kalian kembali mendapatkan jodoh masing masing . Kalian harus ingat akan hal ini. Tidak ada pernikahan yang sempurna, Hanya bagaimana sikap kita untuk menyikapinya. " Nasehat Bu Sri
" Terimakasih bu, dan maafkan aku yang belum bisa membahagiakan Raya selama ini. Aku benar benar minta maaf bu." Bagas mencium takzim tangan BuSri.
" Kamu sudah cukup membuat Raya bahagia selama ini. Ibu tahu . kamu laki laki yang bertanggung jawab. "
Raya mengusap airmatanya. Benar Bagas selama ini memang menjadi laki laki baik. Hanya saja dia bodoh dan tidak bisa menahan hawa nafsu .
" Maafkan aku mas Raka, Aku sudah menyakiti adik kesayangan kamu. Aku harap kamu tidak dendam padaku." Bagas melihat Kearah Raka.
Raka menepuk bahu Bagas." Aku sudah memaafkan kamu jauh jauh hari Bagas, Sekarang tenanglah. Adikku akan akan jaga begitu juga dengan anak anakmu.".
Bagas tersenyum tipis. Seolah terpaksa .
" Sudah, kalian pergilah ."
Raya dan Bagas berjalan beriringan keruangan panitera. Tidak bicara . Tidak bersentuhan. Hanya pasangan suami istri yang kini menjadi mantan.
Selesai urus akta cerai. Mereka keluar gedung pengadilan. Matahari sangat terik .
Mereka sudah ada diparkiran. Sebelum kembali kemobilnya. Bagas kembali menghampiri Raya yang akan masuk kedalam mobil Raka." Raya, Apa aku boleh memeluk kamu untuk yang terakhir kalinya?"
Raya kaku, Bu Sri dan Raka saling pandang.
Dulu pelukkan Bagas adalah rumah , Sekarang bisa saja racun untuk hatinya yang baru saja sembuh.
Raya tarik napas, lalu geleng pelan." Jangan Gas, kita cukup sampai disini, Doa saja dari jauh, biar sama sama ikhlas. "
Bagas tersenyum pahit. Tapi menerima." Iya kamu benar, jaga diri kamu, Ray. Dan jaga kedua jagoanku. "
" Tentu saja. kamu juga jaga diri." Raya masuk kedalam mobil. Dan meninggalkan Bagas yang masih berdiri ditempatnya. Tidak ada lambaian tangan.
MATA DI BALAS MATA.. HIDUNG DIBALAS HIDUNG .. KEJAHATAN DIBALAS KEJAHATAN