Perang antara manusia dan iblis telah mencapai titik terburuk. Kerajaan Beltrum, benteng terakhir bangsa iblis, berada di ambang kehancuran setelah kalah telak dari sihir suci umat manusia, Zetobia.
Dalam keputusasaan, para iblis melakukan ritual tabu: memanggil kesatria dari dunia lain.
Zeta, seorang mahasiswa biasa, tiba-tiba terseret ke dunia asing yang dipenuhi sihir dan pertumpahan darah. Namun, ia tidak dipanggil sebagai Pahlawan Kesatria, melainkan sebagai harapan terakhir bagi bangsa iblis!
Akankah Zeta menjadi penyelamat yang membawa kedamaian, atau justru menjadi pembawa kehancuran bagi kedua dunia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agung Noviar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 32 Pertarungan Para Ksatria
Medan perang Lembah Nox benar-benar membara. Pasukan Zetobia dan Beltrum sudah saling hantam di garis depan dengan intensitas yang sangat tinggi. Di tengah kekacauan itu, para petarung level tertinggi mulai menemukan lawan masing-masing.
Di barisan depan di tengah, Airi berdiri dengan tenang menghadang jalan Jenderal Lytia.
"Halo Lytia, lama tidak bertemu," sapa Airi dengan nada meremehkan.
Lytia tidak membuang waktu untuk berbasa-basi. Matanya menyala penuh tekad. "Sudah tidak perlu basa-basi!" teriak Lytia sambil menerjang Airi dengan pedangnya.
Sementara itu, di barisan depan kanan, tiga Ksatria Suci Zetobia lainnya mulai beradu kekuatan dengan tiga ksatria iblis Beltrum (Erika, Allen, dan Sofi). Di sisi kiri, Laksamana Airon harus berjuang keras menahan gempuran gelombang monster Griffon yang terus berdatangan dari langit.
Zeta sendiri bergerak lincah di antara barisan prajurit, membantu siapapun yang terdesak. Namun, seorang prajurit berteriak padanya dengan wajah ketakutan.
"Kapten Zeta! Entah kenapa sekarang banyak monster bermunculan, tapi mereka seperti mayat hidup!"
Zeta menoleh dan menyadari monster-monster yang tadi sudah ia tebas mulai bangkit kembali dengan gerakan yang kaku dan aura yang gelap.
Rencana Tersembunyi Putri Elina
Jauh di barisan belakang musuh, Putri Elina tampak sedang merapalkan mantra tingkat tinggi. Ternyata, ia tidak hanya mengendalikan monster hidup, tetapi juga memiliki kemampuan untuk membangkitkan kembali monster yang telah mati sebagai Mayat Hidup. Meski kekuatannya tidak sekuat saat masih hidup, jumlah mereka yang terus bangkit sangat merepotkan.
Elina tampak menyiapkan sesuatu yang jauh lebih mengerikan, sebuah kartu as yang masih dirahasiakan.
Jenderal Tharos yang melihat itu sedikit ragu. "Putri Elina, apa tidak berlebihan jika memanggil monster *itu*? Kekuatan kita sekarang masih bisa melawan Beltrum."
"Apa kamu bisa diam sebentar? Aku sedang fokus!" potong Elina dengan nada tajam.
Zeta, dengan kecerdasannya, segera menyadari pola serangan ini. *'Jangan-jangan pengendali monster ini bisa membangkitkan monster yang sempat ia kontrak walaupun tidak sekuat sebelumnya. Artinya kita harus membunuh mereka dua kali!'*
Zeta langsung berteriak memberikan instruksi, "Dengar semuaaa! Monster ini harus kita bunuh sekali lagi! Pengguna sihir mereka membangkitkan monster yang sudah mati, tapi tenang saja, setelah dibunuh lagi mereka akan benar-benar lenyap! Kekuatannya tidak sekuat sebelumnya!"
"BAIK KAPTEN ZETA!" balas para prajurit dengan semangat yang kembali terbakar.
Zeta menyelimuti pedangnya dengan sihir angin yang sangat padat. Ia menebas musuh dengan brutal. Kemudian, ia memosisikan pedangnya di depan wajah, merapalkan energi angin yang besar hingga bilah pedangnya terlihat memanjang dan membesar karena aura angin.
SRAAAASH!
Dengan sekali tebas, barisan musuh di depannya rata dengan tanah. Kekuatan itu membuat Airi yang sedang beradu pedang dengan Lytia sempat melompat mundur.
"Wah kalian ada kesatria baru yah kalo di liat liat mirip zeka yah Lytia? Bahkan dia membuat pedang menjadi pedang sihir yang hebat," ucap Airi sambil melirik Zeta.
"Lalu kenapa? Apa ada masalah?!" tantang Lytia.
"Setelah membunuhmu, aku akan membunuh ksatria baru kalian itu! Hahaha!" tawa Airi.
"Jangan mimpi kau bisa membunuhku! Justru kamu yang duluan terbunuh, perempuan jelek!" balas Lytia pedas.
Airi tersenyum seram. Ia mengangkat pedangnya ke langit. "Sihir Petir: Sambaran Petir Besar!" Guntur menggelegar dan petir raksasa menyambar tepat ke arah Lytia. Dengan sigap, Lytia menghentakkan kaki ke tanah, membuat bola dinding pelindung dari elemen tanah yang sangat tebal.
"Masih lemah!" teriak Lytia. Ia bergerak secepat kilat keluar dari perlindungan, mencoba menebas Airi.
Airi berhasil menahannya, lalu melompat ke udara sambil menghujani Lytia dengan serangan petir yang bertubi-tubi. Lytia menghindar dengan lihai, melompat ke sana kemari sambil membalas dengan bola api besar. Namun, Airi dengan cepat merapalkan sihir air, menciptakan ombak besar yang memadamkan api dan menghempas balik posisi Lytia.
btw next Thor 😃😆🤩