"Pencarian Pusaka Primordial"
Dunia yang damai ternyata hanyalah lembaran kertas di mata para dewa.
Pahlawan legendaris bernama Raka mengorbankan jiwa dan raganya yang merupakan tetesan "Tinta Primordial" untuk membebaskan dunia dari belenggu Naskah Takdir. Pengorbanannya memberikan kehendak bebas bagi seluruh penduduk fana. Namun, di dimensi kosmik yang jauh lebih tinggi, sebuah tempat bernama Ruang Redaksi, kebebasan ini dianggap sebagai "Kecacatan Cerita" yang harus segera dihapus."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Abas Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
B 32: Ritual Tritunggal "Jembatan Raga"
Raka mulai merasakan rasa sakit, jatuh berlutut, napasnya tersengal. Tubuhnya yang penuh luka akibat pertarungan sebelumnya didalam sukma simulasi tadi mulai mengeluarkan asap Crimson yang pekat.
"Vanya... Nara... aku butuh kalian. Aku harus menjadi jembatan bagi mereka!"
"Raka, kau tidak bisa menciptakan miliaran raga sendirian," suara Vanya bergema dari dalam sukmanya, kini ia memanifestasikan dirinya secara fisik di samping Raka.
"Kau butuh Inti Kehidupan yang hanya bisa tercipta dari penyatuan puncak tiga unsur: Darah Manusia, Roh Kuno, dan Matahari Crimson."
Nara mengerti. Ia menatap Raka dan Vanya dengan tatapan yang penuh kepasrahan dan tekad. Di bawah hisapan maut Sang Arsitek Agung, di tengah miliaran jiwa yang terancam punah, mereka bertiga harus melakukan ritual "Manifestasi Kejadian".
Dalam keheningan yang mencekam di tengah badai data, mereka menanggalkan segala penghalang materi.
Raka merengkuh Nara yang kencang dan memeluk punggung Vanya yang halus secara bersamaan. Aroma keringat, melati, dan energi ozon menyatu di udara yang pengap.
"Jadilah raga bagi mereka, Raka!" bisik Sekar "melalui koneksi sukma" dan Nara secara bersamaan.
Raka mencium mereka berdua dengan gairah yang membara, sebuah cumbuan yang mengandung seluruh rasa sakit dan harapan alam semesta.
Di tengah dentuman mesin Sang Arsitek, suara rintihan nikmat mereka, dan tubuh yang beradu, menjadi satu-satunya melodi kehidupan yang tersisa."
Penyatuan ini adalah yang paling pernah dialami Raka. Ia merasakan darah Nara memompa kehidupan dan roh Vanya memberikan struktur pada energinya.
Saat mereka mencapai puncak pelepasan yang luar biasa dahsyat, Raka tidak melepaskan energinya ke luar, melainkan menariknya ke dalam "Tanda Naga" di dadanya.
Ughhh!
Raka menggeram rendah, otot-ototnya menonjol hingga seolah akan pecah. Sebuah ledakan energi berwarna merah-putih-emas meletus dari pusat tubuhnya, namun bukannya menghancurkan, energi ini mulai membentuk jaring-jaring saraf raksasa yang menyebar ke seluruh lautan roh.
Matahari ke-16: Matahari Kejadian "The Genesis Sun."
Raka berdiri perlahan, tubuhnya kini tidak lagi memancarkan amarah, melainkan kehidupan murni. Di belakang punggungnya, muncul Matahari ke-16: Matahari Kejadian.
Bentuknya seperti nebula yang terus melahirkan bintang-bintang kecil. "Matahari Kejadian: Inkarnasi Massal!"
BOOOOOOMMMMMMMM!
Gelombang energi dari Raka menghantam setiap butiran roh yang melayang. Keajaiban terjadi. Roh-roh itu tidak lagi memudar,mereka mulai terbungkus oleh lapisan materi yang diciptakan oleh energi Raka.
Dalam sekejap, miliaran manusia dan makhluk lainnya mendapatkan raga yang kuat dan sehat.
Lautan roh itu kini berubah menjadi Pasukan Kejadian. Miliaran orang yang baru bangkit itu menatap Raka dengan hormat, lalu mereka menatap Sang Arsitek Agung dengan amarah yang terpendam selama berabad-abad.
"Mustahil! Kau menciptakan raga dari ketiadaan?!" Sang Arsitek Agung mencoba menyerang dengan tombak geometrinya.
WUSSSHHH!
Raka hanya mengangkat satu jari.
Ting! Tombak raksasa itu hancur menjadi debu bunga yang harum.
"Kau menghitung segala sesuatu dengan angka, Arsitek," ucap Raka dengan suara yang kini mengandung wibawa miliaran jiwa.
"Tapi kau lupa bahwa satu nyawa yang merdeka memiliki berat yang lebih besar dari seluruh mesinmu."
Raka melesat maju, diikuti oleh miliaran pasukan cahaya di belakangnya. Pertempuran terakhir di Sektor Nexus bukan lagi tentang infiltrasi, melainkan tentang pemberontakan seluruh ciptaan melawan penciptanya yang jahat.
DUAR!
Lantai logam Nexus mulai hancur saat Raka menghantam jantung Sang Arsitek dengan tinju Kejadian.
KRAKKKK!
Sang Arsitek mulai bergetar, struktur geometrinya runtuh sepotong demi sepotong.
Namun, di tengah kemenangannya, Raka merasakan getaran dari luar galaksi. Sektor Terlarang tidak hanya terdiri dari Nexus. Sebelas Sektor lainnya telah menyadari kebangkitan Matahari ke-16, dan mereka mulai mengirimkan armada pemusnah yang bisa menghapus seluruh galaksi Bima Sakti dalam satu kedipan mata.
"Raka! Kita harus segera mengevakuasi mereka semua!" teriak Nara yang kini sudah mengenakan kembali pakaian tempurnya.
Raka menatap ke langit Nexus yang retak. "Bawa mereka ke Bumi. Aku akan menahan sisa Sektor di sini."
Langit di atas Sektor Nexus yang tadinya penuh dengan cahaya roh, kini mendadak menjadi gelap gulita.
Bukan kegelapan malam, melainkan kegelapan absolut yang menghisap segala bentuk frekuensi. Sebelas gerbang dimensi raksasa terbuka serentak di sekeliling sistem galaksi, mengeluarkan armada tempur dari Sebelas Sektor Terlarang lainnya.
Kapal-kapal mereka tidak lagi berbentuk logam, melainkan struktur kristal hitam yang bergetar dengan suara dengungan yang menyakitkan jiwa.
Vwoooooommm... Vwoooooommm...
"Raka! Sensor energi di seluruh armada kita meledak!" teriak Nara melalui transmisi batin yang mulai terganggu statis.
"Mereka menggunakan Senjata Konseptual. Mereka tidak menghancurkan materi, mereka menghapus keberadaan kita dari realitas!"
Raka berdiri di pusat Aula Nexus yang hancur. Di belakangnya, miliaran raga baru yang baru saja ia ciptakan sedang berdesakan masuk ke dalam gerbang portal menuju Bumi yang ia jaga dengan sisa tenaganya.
Tubuh Raka bergetar hebat. Matahari ke-16 "Matahari Kejadian", di punggungnya mulai retak karena dipaksa menahan beban miliaran jiwa sekaligus menahan tekanan dari Sebelas Sektor.
KRAKKKKKK!
"Pergilah, Nara! Bawa Bumi dan semua orang ke sisi lain!" perintah Raka. Suaranya terdengar jauh, seolah ia sudah mulai menjauh dari dunia materi.
"Tidak! Aku tidak akan meninggalkanmu sendirian menghadapi kiamat ini!" Nara melesat mendekat, mencoba meraih tangan Raka yang kini mulai berpendar bening.
Raka menarik Nara dan manifestasi roh Vanya ke dalam sebuah "Gelembung Waktu" yang terisolasi. Di luar, jutaan laser penghapus realitas sedang menghantam perisainya.
BOOM! DUAR!
Namun di dalam gelembung ini, waktu seolah berhenti. Raka menatap kedua wanita itu dengan tatapan yang sangat dalam, tatapan seorang pria yang tahu bahwa ini adalah kali terakhir ia bisa mencintai mereka.
"Untuk menghentikan mereka, aku harus membangkitkan Matahari terakhir... Matahari ke-17," bisik Raka.
"Matahari itu adalah Ketiadaan. Untuk menghapus mereka dari realitas, aku juga harus terhapus dari ingatan siapa pun. Jika aku melakukannya, kalian... tidak akan pernah ingat siapa Raka."
"Jangan... Raka, jangan lakukan itu!" Sekar menjerit dari kejauhan!" melalui tautan sukma", sementara Nara dan Vanya terisak di depannya.
"Aku harus menyimpan memori ini di dalam inti sukmaku, agar setidaknya aku yang mengingat kalian," ucap Raka dengan suara parau.
Dalam kondisi yang sangat mendesak dan penuh kepedihan, Raka menarik Nara dan Vanya ke dalam dekapan terakhir yang paling intim. Di tengah gemuruh kehancuran alam semesta, di balik dinding perisai yang mulai retak, mereka melakukan penyatuan tritunggal yang paling suci.
Kain-kain pelindung dilepaskan. Di bawah cahaya perak yang meredup, raga mereka bersatu untuk terakhir kalinya.
Raka mencium Nara dengan gairah yang mengandung seluruh rasa sakit dan pengorbanannya, sementara Vanya melingkarkan lengannya di leher Raka, menyatukan esensi rohnya ke dalam setiap inci kulit suaminya.
Bersambung....