NovelToon NovelToon
Bisikan Batu Nisan

Bisikan Batu Nisan

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri / Kutukan
Popularitas:292
Nilai: 5
Nama Author: R.H Rahman

Sebuah kisah dengan intensitas teka-teki yang beruntun, corak gaib yang tiba-tiba menghiasi hari. Diawali romansa yang terputus kematian, mengundang esensi ikatan lain yang sarat akan muatan Apokalipstik. Berlanjut dengan hancur leburnya hati Laura, tenggelam dalam samudera kegelapan yang tak berdasar sejak kepergian demi kepergian orang-orang yang ia cintai. Namun, takdir itu rupanya belum usai menyiksanya; metanol kesedihan semakin pekat menyelimuti jiwanya saat rasa penasaran yang mematikan datang seperti racun, dan memabukkan seperti arak kadar tinggi, mulai mencengkram penuh pikirannya. Muncul melalui mimpi di tengah perasaan duka, tiga sosok gadis misterius, bagaikan bayangan dari alam berbeda, terus menghantuinya hari demi hari, merasuk pilu seperti bisikan penuh enigma yang menyimpan sebuah kunci rahasia besar. Kunci yang kemudian menuntunnya pada kisah yang datang merangkak dari bawah batu nisan tua.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R.H Rahman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32

Perjalanan untuk destinasi keduanya kali ini terasa sedikit berbeda, jauh dari hiruk pikuk dan tekanan yang biasa ia rasakan. Tidak ada kemacetan parah yang membuat stres, hanya laju kendaraan yang teratur. Laura menikmati setiap detail pemandangan di sepanjang jalan.

Setelah menempuh perjalanan sekitar tiga puluh menit, melewati beberapa pertigaan dan jalan berliku, ia akhirnya tiba di sebuah komplek pekuburan yang dikelilingi oleh pemukiman penduduk. Sebuah kontras yang mencolok, antara warna kehidupan di sekelilingnya dengan keheningan di dalamnya. Pagar tembok tinggi dengan cat putih yang mulai mengelupas menjadi batas antara dua dunia. Komplek pemakaman ini tampak sangat terawat, dengan jalan setapak beraspal kecil yang membelah area makam dan deretan pohon kamboja yang berjajar rapi, memberikan keteduhan dan kesan barisan penjaga.

Laura memarkirkan mobilnya di area parkir yang tidak terlalu luas, berdekatan dengan deretan warung-warung kecil yang menjual bunga dan air mineral. Ia mematikan mesin mobil, dan untuk sesaat, hanya keheningan yang menyambutnya, diselingi suara burung berkicau dan obrolan samar dari warung-warung di sekitarnya. Ia menarik napas dengan tenang, mengumpulkan kembali kekuatan. Kunjungan kedua ini, ia tahu, akan menghadirkan kesedihan yang berbeda, namun sama pedihnya. Roni menunggunya, dan Laura siap untuk kembali menyapa sahabatnya yang telah tiada.

Setelah masuk, melangkahi ratusan makam dengan nisan-nisan yang beraneka rupa; dari yang megah hingga yang sangat sederhana, dari kayu seadanya hingga batu kali yang polos, kedua kakinya akhirnya menghentikan langkahnya. Tepat berdiri tegak di depan sebuah pusara baru. Tanah gundukannya masih terlihat merah dan basah. Sebuah nisan baru yang terbuat dari papan, tampak bercerita namun diam, menancap di bagian kepala makam, bertuliskan nama yang sudah tak asing lagi: Hendri Roni Senjaya.

Kondisi pusara itu, yang terlihat agak sepi tanpa banyak taburan bunga segar atau tanda-tanda kunjungan rutin, memberitahukan bahwa tidak banyak orang yang mengunjunginya. Di tengah landa kesunyian yang mencekam, sebuah zona pengasingan berkepanjangan yang memisahkan dunia hidup dan mati, pagar pemisah antara suara dan pendengaran, pencabik cinta dan rasa ingin bersama, dan di antara sekat kegaiban yang terasa begitu nyata, Laura menunduk terdiam. Ia terus saja berdiri terpaku, di bawah naungan payungnya yang merah, seolah payung itu adalah satu-satunya pelindung dari teriknya matahari dan dinginnya kenyataan yang menusuk.

Pandangannya tertuju lurus pada nisan kayu itu, namun pikirannya jauh berkelana. Tatapan hujan perasaannya, yang seolah-olah adalah curahan dari langit akal pikiran, tidak hanya mengguyur tercurah ke atas gundukan tanah di hadapannya. Lebih dari itu, emosi yang tak terlihat itu meresap, memandu penglihatannya turun masuk hingga menembus ke dalam isi makam.

"Ada aroma seperti kotoran manusia yang diaduk," sentaknya dalam hati, nyaris mengucapkannya keras-keras. "Bukan bau tanah basah atau bunga layu, tapi bau busuk yang lebih pekat, lebih menjijikkan, dan terasa begitu menyakitkan." Tambahnya. Ia merasakan adanya efek hasil dari pelepasan zat-zat yang ada di bagian sistem organ pencernaan jenazah, semuanya mengalami keruntuhan struktur. Laura tahu, ini adalah aroma kematian, bau pembusukan yang tak terelakkan, sebuah pengingat brutal akan apa yang terjadi di bawah sana.

"Aku juga melihat bahwa saat ini mulutnya menganga, dan matanya terbelalak kering," bisiknya lagi dalam hati, seraya memperkuat badai tatapannya, menembus lapisan tanah yang memisahkan mereka. Pikirannya yang sebelumnya hanya merenungkan eksistensi ruh, kini ditarik paksa ke dalam realitas fisik yang mengerikan. Ia membayangkan Roni, sahabatnya yang dulu begitu gagah, kini terperangkap dalam proses pembusukan yang tak terhindarkan.

Dalam melewati fase demi fase keruntuhan, struktural daging akan mengalami pergeseran komposit yang menakutkan. Dinding-dinding sel yang menopang kehidupan akan pecah, melepaskan enzim-enzim pengurai yang secara sadis mencerna jaringan tubuh. Hal itu akan membuat sejumlah jari tangan dan kaki melebar kaku atau sebaliknya merapat mencengkeram tak berdaya, menggeser kelopak mata terbuka lebar, memperlihatkan bola mata yang mengering dan keruh, atau sebaliknya tertutup rapat seperti kelopak kerang yang mengatup. Rahang akan menganga lebar, seringkali dalam ekspresi terakhir yang terpaku, menjatuhkan lidah yang kehilangan seluruh otot dan kekenyalannya, menjadi selembar daging tak berbentuk, sebelum semua itu kemudian mengering dan mengeras. Proses ini akan mempengaruhi lebih banyak terhadap arah gerak sistem persendian di seluruh bagian tubuh jenazah, membuatnya menjadi kaku dalam posisi-posisi yang aneh dan mengundang kisah-kisah horor yang mengerikan, seolah-olah sedang menari dalam balutan kematian. Gambaran-gambaran itu berputar-putar di benak Laura, membuatnya bergidik, namun ia tak sanggup mengalihkan pandangannya dari pusara di hadapannya.

"Tapi aku juga melihatnya berbeda, aku memahaminya dengan cara berbeda, jauh berbeda." Tegur batinnya, sebuah suara tegas yang memandu, seolah menolak penjelasan ilmiah yang baru saja ia terima. Laura menepis gambaran-gambaran biologis tentang pembusukan itu. Bagi dirinya, ini bukan sekadar proses kimiawi yang kejam, melainkan sebuah metafora, sebuah bahasa lain dari alam baka yang ingin berbicara kepadanya.

"Aroma itu," Laura melanjutkan bisikan hatinya, menatap tajam ke gundukan tanah di hadapannya, "adalah bau busuk kesalahannya, bau dosa-dosa yang mungkin pernah ia perbuat di masa hidupnya, yang kini menguar dari jasadnya yang telah kembali ke tanah." Tidak hanya aroma fisik yang menusuk hidung, tetapi juga aroma metafisik dari beban moral yang mungkin ia bawa. "Rahang yang menganga itu," imajinasinya meliar, "adalah teriakan kosongnya dari balik keheningan dan penderitaan, sebuah jeritan tanpa suara yang tak bisa lagi didengar oleh telinga manusia, namun terasa hingga ke relung jiwaku. Teriakan penyesalan, atau mungkin permohonan yang tak pernah tersampaikan."

"Mata melototnya, yang terbelalak kering itu," Laura membayangkan lebih jauh dengan tubuhnya yang mulai menggigil samar, "adalah gambaran tentang ketakutan dan kengerian yang ada di depan penglihatannya saat ini. Sebuah ketakutan akan penghakiman." Bagi Laura, apa yang terjadi pada tubuh setiap mayat adalah simbolis, sebuah pertunjukan bisu untuk mengabarkan pesan implisit kepada mereka yang masih hidup. "Sejak awal aku menjejakkan kaki di depan pusara ini, sejak saat itulah aku melihat adanya sambutan dingin dan tak ramah," gumamnya lagi, menyimpulkan sensasi yang ia rasakan sejak pertama kali tiba di makam Roni. "Sebab tidak ada senyum selain bibir cacat karena pembusukan, tidak ada keramahan raut selain raut keburukan yang mengerikan. Ini bukan sekadar kematian fisik, ini adalah manifestasi dari sesuatu yang lebih gelap, sesuatu yang ingin disampaikan."

"Aku berbicara untuk dua sisi sekaligus," Laura meneguhkan premis pernyataan jiwanya, suaranya kini terdengar lebih mantap dalam hati, seolah ia sedang berdialog dengan sosok tak kasat mata di hadapannya. "Bukan hanya tentang setengah sisi yang penuh reka belaka, tentang tubuh yang membusuk sesuai hukum alam, tetapi juga tentang sisi lain, tentang pesan yang tersembunyi, tentang jiwa yang mungkin berteriak dari balik kubur." Laura sedikit merasa prihatin, bagaimana pun Roni adalah sahabatnya, rasa itu bercampur baur dengan sejumlah perasaan lainnya: ngeri, penasaran, dan rasa tanggung jawab aneh yang muncul entah dari mana. Seolah Roni kini sedang berbicara kepadanya melalui bahasa pembusukan, mencoba menyampaikan sebuah rahasia yang ia bawa hingga liang lahat. Dan Laura, dengan segala kepekaan batinnya, dengan segala inspirasi yang tiba-tiba muncul dalam jiwanya, merasa terpanggil untuk mendengarkannya.

Di kejauhan, tampak seorang laki-laki paruh baya, berseragam petugas pemakaman berwarna khaki yang agak lusuh, sedang sibuk membersihkan beberapa nisan. Tangannya cekatan mencabuti rumput liar yang menjalar dan sesekali menyapu peluh di wajahnya yang mulai keriput dengan punggung tangan yang kasar. Gerakannya lambat tapi pasti, seperti ritme pekerjaan yang telah ia lakukan bertahun-tahun. Laura, dengan naluri penasarannya yang tak pernah padam, memutuskan mendekat menghampirinya. Mungkin ia bisa mendapatkan informasi, atau setidaknya, sedikit pengalihan dari segala pemikiran mengerikan yang baru saja menghantuinya.

"Maaf permisi, Pak," sapa Laura ramah, memastikan suaranya terdengar jelas namun tidak mengagetkan. "Apakah Bapak tahu tentang keberadaan makam yang paling tua yang terdapat di area pekuburan ini?" Ia mencoba tersenyum, menyembunyikan getar kegelisahan di hatinya.

Petugas itu menghentikan pekerjaannya, menoleh ke arah Laura dengan tatapan bingung. "Wah maaf neng, kalau tentang itu saya tidak tahu. Jumlah makam di sini sangat banyak. Bagaimana saya sempat memperhatikan satu per satu? Apalagi mengetahui mana yang paling tua," jawabnya dengan sedikit canggung, menggaruk kepalanya yang tertutup topi lusuh. "Secara umum, usia area pekuburan ini saja sudah lebih dari seratus tahun, bahkan mungkin mendekati dua abad. Hanya itu yang saya tahu, maaf sekali lagi." Ada nada lelah dalam suaranya.

Laura mengangguk memahami, tak menyerah. "Sudah berapa lama Bapak bekerja di sini?" tanyanya lagi, mencoba membuka percakapan lebih jauh.

"Wah, sudah lama sekali. Kalau saya hitung sekitar 25 tahunan, dari saya masih bujangan," jawabnya, kini dengan senyum tipis. "Di sini ada sekitar 30 orang yang bekerja, termasuk petugas penjaga malam yang bergantian shift."

Mendengar itu Laura mengangguk, ia lalu memandang area pemakaman. "Setiap pekerjaan pasti akan selalu ada kesan pengalaman yang unik, terkadang aneh, sesekali menarik, dan kalau saya boleh tahu, apa pengalaman yang menurut Bapak paling berkesan selama bekerja di sini?" Laura mengajukan pertanyaan itu, berharap mendapatkan cerita yang bisa sedikit memberinya arahan, atau mungkin petunjuk tak terduga.

Petugas itu terdiam sejenak, tatapannya menerawang jauh, seolah sedang memutar kembali guliran memorinya. "Ada banyak sekali, sampai saya bingung milihnya neng. Hmmm, mungkin salah satunya waktu Bapak melihat dua anak perempuan kecil, sekitar umur lima atau enam tahunan." Ia memulai ceritanya, suaranya sedikit melunak. "Mereka berdua duduk di dekat makam ibunya yang baru meninggal, tanahnya masih merah. Terus Bapak perhatikan, mereka seolah sedang berdialog, berbicara ke arah makam itu, bertanya tentang apakah sudah makan? Sudah mandi? Sudah tidur? Dengan suara polos, di sana, mereka tiba-tiba manaruh selimut kecil ke atas pusara, seakan-akan mereka itu berpikir sedang menyelimuti ibunya yang kedinginan. Seharian mereka di situ, dari pagi sampai sore, sampai Bapak harus membujuk mereka pulang." Pria itu mengakhiri ceritanya dengan helaan napas panjang, sorot matanya menunjukkan kesedihan, ikut merasakan kepolosan dan kepedihan anak-anak itu.

Terik matahari siang yang mulai membara membuat Laura merasa kasihan kepada petugas pemakaman di hadapannya. Wajahnya semakin berkilat oleh keringat, dan tampak jelas kelelahan di sana. Ini mungkin saatnya bagi bapak itu beristirahat dari pekerjaannya yang berat dan melelahkan. Laura segera mengakhiri percakapan, mengucapkan terima kasih, dan beranjak meninggalkan tempat itu, membawa serta cerita tentang kepolosan anak-anak dan beban pekerjaan seorang penjaga makam.

Di sepanjang jalur sempit pemakaman yang kini terasa lebih sunyi dan sepi karena ia adalah satu-satunya pengunjung, Laura kembali membayangkan. Pikirannya tidak lagi terpaku pada cerita polos tentang dua anak kecil, melainkan kembali menyelam ke dalam jurang gelap eksistensi manusia. Ia membayangkan tentang orang-orang yang digerogoti penyakit ganas, perlahan namun pasti merenggut vitalitas, hingga akhirnya membuat mereka dikirim ke tempat pembuangan terakhir ini. Tubuh-tubuh yang pernah perkasa, kini ringkih dan tak berdaya, menyerah pada invasi sel-sel jahat.

Ia membayangkan tentang orang-orang yang ditimpa kecelakaan tragis, dalam sekejap mata hidup mereka direnggut paksa. Rangkaian kejadian tak terduga, dentuman keras, pecahan kaca, derit rem, dan jeritan yang tak sempat terucap, hingga mereka dipaksa ditinggalkan di tempat yang sunyi ini, meninggalkan duka mendalam bagi yang ditinggalkan.

Lebih mengerikan lagi, Laura membayangkan tentang orang-orang yang dibunuh secara keji, yang nyawa mereka direnggut paksa oleh tangan-tangan tak bertanggung jawab. Mereka dipaksa berpindah alam secara menyedihkan, tanpa sempat mengucapkan selamat tinggal, tanpa sempat melawan. Dan bahkan tubuh mereka, yang sudah menderita saat nyawa dicabut, sebenarnya dibunuh dua kali. Satu tusukan pisau kecil sewaktu bernafas saja sudah cukup menyakitkan, sudah cukup membuat darah mengucur dan nyawa melayang. Tetapi kini, pedang kubur yang tak terlihat, pedang waktu dan pembusukan, membuat mereka tercincang menjadi tanah, atom demi atom, molekul demi molekul, menghilang dari wujud fisik, sebuah siksaan kedua yang jauh lebih membinasakan.

"Sebagian besar orang tidak mengetahui lebih jauh tentang realitas dunia arwah," gumamnya pelan, suaranya sangat lirih. "Mereka hanya melihat apa yang ada di permukaan, hanya menerima kematian sebagai akhir dari segalanya. Tetapi aku di sini, berdiri di antara kuburan-kuburan ini, dengan usaha penyelaman aksiologis, aku berusaha sebanyak mungkin menyerap berbagai hal yang membuat aku memiliki sandaran pengetahuan alegoris yang lebih kuat." Ada hasrat yang membara dalam diri Laura untuk memahami, untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi di balik tirai kematian, apa pesan yang ingin disampaikan oleh mereka yang telah pergi? Dan semua itu tiba-tiba muncul menjadi bagian napas pemikiran Laura semenjak ia ditinggalkan Doni, dan sejak ia mengalami beberapa hal aneh di mata dan pendengarannya.

Laura menyadari bahwa ia telah cukup lama berada di makam Roni. Waktu terus berjalan, dan ia masih memiliki satu tujuan lagi. Ia pun kembali mengemudikan mobilnya, kali ini kunjungan terakhirnya adalah makam Ariana, sahabatnya yang seringkali membuatnya tertawa. Laura mulai memacu kecepatan kendaraannya lebih tinggi dari sebelumnya, sebab jarak perjalanan kali ini sedikit lebih jauh.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!